Terpaksa Menikahi Pelacur

Terpaksa Menikahi Pelacur
Episod 37


__ADS_3

"Sayang, ini sudah malam. Kamu tidur, ya?" suruh Dania pada Syiera yang sedang asyik nonton televisi. Lalu Syiera mengangguk patuh, Syiera pergi ke kamarnya. Kini hanya ada Darren dan Dania di ruang TV itu.


Darren merapatkan duduknya pada istrinya, sambil menggesekan-gesekan bahunya pada bahu Dania. "Apa?" tanya Dania tanpa menoleh.


"Pindah, yuk? Nontonnya di kamar aja," ajak Darren sambil mengedip-ngedipkan kedua matanya.


"Tanggung, ini. Bentar lagi, tunggu iklan, ya?" jawabnya sambil tersenyum. Darren menghembuskan napasnya berat. Gini ni kalau punya istri korban sinetron. Pikir Darren.


Tak lama ia langsung membopong tubuh istrinya membawanya masuk ke dalam kamar. "Kamu tuh kenapa, sih?" Dania heran pada suaminya itu. Tanpa menjawab Darren terus saja berjalan sampai pada saatnya ia tiba di depan pintu kamarnya.


Darren agak ke susahan membuka pintunya, Dania hanya tertawa mengetahui suaminya itu kerepotan karena menggendongnya. "Sudah, aku turun saja," pinta Dania pada suaminya.


Darren pun akhirnya menurunkan istrinya, Setelah Dania turun, ia geleng-geleng kepala. "Ceritanya mau kaya di film-film, ya?" tanya Dania tersenyum sambil menutup mulutnya dengan telapak tangannya.


"Hmm ... Jangan ngeledek, deh." Darren membuka pintunya, lalu mereka pun masuk ke dalam. Dania langsung menyalakan TV yang ada di kamarnya, ia duduk manis di sofa yang ada di hadapan TV itu. Darren mengekori kemana istrinya pergi.


Bahkan ia sudah merebahkan kepalanya di paha istrinya, ia menjadikan bantalannya. Dania mengusap lembut rambut suaminya, namun pandangannya tetap pada acara yang ada di hadapannya.


"Honey ...?" panggil Darren.


"Hmm," jawab Dania singkat.


"Acara itu lebih penting, ya? Kok, aku di anggurin, sih," lirih Darren, ia mendekap pinggang istrinya.


"Aku hanya menonton sebentar, sayang," ucap Dania dengan sayang. Bahkan terdengar lembut di pendengaran Darren, suaminya.


"Matiin aja deh, TVnya," kekehnya kembali. Tak mau membuat kecewa suaminya, Dania pun menuruti apa yang di inginkan suaminya itu.


"Udah, tuh," sahutnya setelah memencat tombol warna merah pada remot control itu. Darren tersenyum penuh kemenangan, ternyata menyenangkan punya istri penurut sepertinya. "Sekarang, kita ngapain?" tanya Dania, pasalnya ia belum mengantuk, karena tadi tidur siang terlalu lama.


Darren bangkit dari posisinya, lalu mengajak istrinya untuk ikut berdiri dengannya. Ia langsung memeluk istrinya itu sesaat. "Kakinya naikin ke kaki aku," pinta Darren.

__ADS_1


Dania yang mengertipun langsung mengiyakan, kakinya langsung berpijak di atas kaki suaminya. Lalu Darren melangkahkan kakinya beriringan dengan tubuh istrinya, mendekati ke arah ranjang.


"Nakal, ya?" ucap Dania.


"Tapi suka 'kan?" elak Darren.


Mereka pun melakukan kembali apa yang terjadi pada siang tadi. Dania begitu kelelahan akibat suaminya. "Aku tidur duluan, ya?" Di angguki oleh suaminya. Dania tertidur dalam posisi membelakangi suaminya.


Darren pun ikut terlelap sambil memeluknya dari belakang.


***


Dan sekarang Darren sedang sarapan di temani oleh istrinya. Pagi tadi Mila dan ibu mertuanya sudah pamit pulang. Dan Dania mengijinkan itu. Disaat sedang sarapan Dania teringat akan ucapan Mila kemarin, ia pun memberanikan diri bertanya pada suaminya itu.


"Darren?" panggil Dania. Merasa istrinya memanggil namanya, Darren pun menoleh ke arah Dania.


"Apa?" jawabnya sambil mengunyah.


Darren langsung menghentikan aktivitasnya, lalu menyimpan sendok yang saat ini di pegangnya, dengan segera ia meraih gelas yang ada di samping kiri, dan langsung meminumnya. Setelah itu baru ia menjawab pertanyaan istrinya.


Sejenak ia menghirup okxigen sebanyak-banyaknya, dengan kasar ia menghembuskannya. "Tuan yang di maksud bi Mila adalah_" kata-katanya terputus karena mendengar teriakan Syiera dari dalam kamarnya.


Dania dan Darren saling melempar pandangan. "Syiera," ucapnya bersamaan. Dengan cepat Darren berlari ke arah Syiera. Di susul oleh Dania.


"Ada apa, sayang?" tanya Dania sesampainya di sana. Syiera menunjuk bawah ranjangnya, ia ingin menunjukkan ada sesuatu di bawah sana. Darren langsung melihat ke bawah ranjang itu, ada apa di sana?


"Ga ada apa-apa, kok," katanya setelah mengembalikan posisinya berdiri tegak.


"Tapi, tadi ada kecoa di sana, dad!" kekeh Syiera.


Darren menarik napasnya sejenak. "Kirain daddy, ada apa? Ternyata, kecoa. Udah, ah, daddy mau ke kantor. Sudah siang ini." Darren berjalan meninggalkan Dania dan Syiera.

__ADS_1


"Ya, sudah. Mending sekarang siap-siap, ya? Sekolah!" ujar Dania pada Syiera.


***


"Genik? Saya mau kamu cabut semua sahamku yang ada di perusahaan Leo!" suruh Darren pada Sekretarisnya.


"Kenapa, pak? Kalau saham Bapak di cabut sekarang, kita akan rugi Pak. Dia tidak akan membagi hasil yang bulan ini," jelas Genik panjang lebar.


"Masalah itu, tidak usah di pikirkanlah. Saya sudah tau resikonya, pokoknya kamu laksanakan perintahku!" Nada Darren naik satu tingkat. Membuat Genik langsung mengiyakan apa yang di perintahkan oleh atasannya itu.


"Ba_baik, Pak. Saya laksanakan." Dengan cepat Genik beranjak dari kursi yang ia dudukki di ruangan atasannya itu. Ia kembali ke ruangannya, dan langsung menelepon ke perusahaan Leo untuk segera mencabut saham nya.


Sementara Leo, ia sedang asyik bersama Lisa, wanita yang menjadi pelanggannya sekarang. Bahkan Lisa sering menginap di apartemen Leo untuk menemaninya sampai puas.


Untuk kali ini, Lisa menasehati Leo. Ia memintanya jangan terlalu banyak minum, Lisa melihat Leo nampak kacau dari dua hari kemarin. Setelah kejadian di rumah Darren, Leo langsung menghubungi Lisa agar datang ke apartemennya, ia meminta Lisa untuk mengobati lukanya yang kena pukulan dari sahabatnya itu.


"Tuan ... Anda harus jaga kesehatan Anda, Anda tidak bisa seperti ini terus. Untuk masalah Tuan Darren, tidak bisakah Anda mengikhlaskannya," lirih Lisa.


"Kamu jangan ikut campur untuk masalah ini, saya membayarmu untuk menghiburku, bukan untuk menasehatiku!" Leo kembali meneguk minuman itu. Tapi Lisa merebut botol yang ada di hadapan Leo.


"Kembalikan, Lisa!" teriak Leo. Namun Lisa tetap pada pendiriannya. Ia malah membuang botol minuman itu pada tempat sampah yang ada di pojokan.


Lisa lakukan itu karena perintah Dania, setelah kejadian waktu di rumah Darren, Dania menghubungi Lisa secara diam-diam, tanpa sepengetahuan suaminya. Ia meminta pada Lisa agar tidak ada dendam antar sahabat itu. Dania hanya tidak ingin membuat Leo menjadi gembel, kalau itu terjadi, maka rasa benci Leo akan lebih besar dari sebelumnya.


"Tuan sudah dua hari ini tidak ke kantor, dari pada seperti ini, lebih baik Tuan bekerja. Tuan harus membayar saya lebih mahal dari biasanya." Lisa mengatakan itu karena ia ingin Leo memperhatikan perusahaannya, Dania juga memberitahukan pada Lisa, bahwa Darren akan mencabut semua sahamnya yang ada perusahaan Leo.


Leo nampak berpikir. Benar apa yang dikatakan Lisa. Leo langsung beranjak dari posisinya, ia segera ke kamar mandi dan bersiap-siap pergi ke kantornya.


***


"Sudah kamu lakukan?" tanya Darren pada Genik. Genik mengangguk.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2