Terpaksa Menikahi Pelacur

Terpaksa Menikahi Pelacur
Episod 32


__ADS_3

Setelah merasa puas, Darren kembali menemani anaknya. Sementara Dania, ia mencuci mukanya karena kena semburan Anaconda milik suaminya. Merasa sudah bersih ia pun kembali menemui suaminya yang sedang duduk di brangker sebelah Syiera.


"Menurutmu siapa, yang sudah memberikan Syiera es krim?" tanya Dania sambil mengelap wajahnya menggunakan tisu.


"Apa mungkin, Leo?" Darren mencurigainya karena kemarin Leo sempat berada di sana. Darren juga tahu kalau Leo mengetahui bahwa Syiera mempunyai alergi terhadap es.


"Apa alasannya, kamu menyangka dia pelakunya?"


"Akhir-akhir ini, dia selalu membuat onar di keluarga kita," sahut Darren sambil menarik tangan istrinya untuk duduk di pangkuannya. "Kamu masih ingat 'kan, dengan kejadian di kantor waktu itu?" Dania menoleh kearah suaminya.


"Kamu tahu yang sebenarnya?" tanya Dania.


"Hmm ... Maafkan aku, ya?" Darren menyangga dagunya di pundak istrinya, karena posisi Dania sedang duduk di pangkuannya dengan membelakanginya.


"Udah, ah. Jangan bahas masalah itu. Itu membuatku sakit," jelas Dania. "Kalau benar Leo pelakunya, kamu mau apakan dia?"


"Cukup menarik semua sahamku yang ada di perusahaannya, simple 'kan?" ujarnya.


"Aku setuju saja, asal jangan ada kekerasan," Dania memperingati suaminya.


"Iya, itu tidak akan terjadi. Bagaimana pun Leo sahabatku," Darren mengeratkan tangannya memeluk istrinya.


Namun tak lama kemudian ia mendengar Syiera, dan memanggil Dania. "Momy," lirih Syiera. Dania langsung beranjak dari posisinya untuk menghampiri Syiera lebih dekat.


"Iya sayang, Momy di sini. Apa yang sakit?" tanya Dania dengan khawatir.


"Dingin, Mom," keluh Syiera. Dania langsung menarik selimut sampai dada Syiera, ia terus mengusap lembut kening anaknya. Darren pun langsung menghampiri istri dan anaknya.


"Sayang ... Siapa yang sudah memberimu es krim?" tanya Darren secara langsung. Namun dengan cepat Dania menggelengkan kepalanya pada suaminya yang menyatakan bahwa jangan sekarang ia mempertanyakan masalah itu.


"Tunggu Syiera sembuh, jangan tanya masalah ini sekarang. Syiera pasti masih takut." Dan benar saja Syiera langsung menangis setelah mendengar ayahnya menanyakan itu padanya.


"Cup, cup. Jangan nangis, jangan dengerin daddy," ucap Dania sambil menenangkan Syiera dengan pelukan. Sementara tangan yang satunya lagi memukul suaminya.


"Iya-iya, maaf," lirih Darren. "Kamu tidur bersama Syiera saja di sini," ujar Darren pada istrinya. Karena brangker lumayan luas, cukup untuk berdua. Dan di anggukki oleh Dania. Sementara ia memilih sofa untuk merebahkan tubuhnya. Dan kini mereka pun terlelap bersama.

__ADS_1


Keesokan harinya.


Darren terbangun lebih awal, terus ia membangunkan istrinya. Tak lama Dania pun terbangun secara perlahan karena ia takut membangunkan Syiera.


Tak lama kemudian, Dokter pun datang untuk memeriksa pasien yang bernama Syiera itu. "Bagaimana kondisinya sekarang, Dok?" tanya Darren pada Dokter itu.


"Kondisinya sudah membaik, demamnya juga sudah turun," jelas Dokter.


"Apa hari ini sudah bisa pulang, Dok?" Sekarang Dania yang bersuara. Dan di anggukki oleh Dokter itu. Tak lama Syiera pun terbangun karena mendengar perbincangan mereka yang sedikit berisik di pendengarannya.


"Asyik, aku sudah bisa pulang," kata Syiera sumringah.


"Tapi jangan makan es krim lagi, ya?" pinta Dokter. Di angguki oleh Syiera. " Ya sudah kalau begitu, saya pamit." Dokter pun pergi dari ruangan.


***


Karren berada di rumah, ia sedang sibuk memasak ditemani oleh asistentnya yang sengaja ia ajak ke rumah anaknya. Karena ia akan merayakan kebahagiaan putranya, dan menyambut kepulangan cucunya. Sebab tadi, Darren sudah memberitahukan padanya bahwa Syiera sudah boleh pulang hari ini.


Bahkan Karren mengundang Leo untuk datang ke rumahnya, tanpa sepengetahuan Darren. Karena Karren tak mengetahui permasalahan anaknya dengan Leo. Yang ia tahu, Leo adalah sahabatnya sejak kuliah dan sering nongkrong bareng. Tak ada kecurigaan Karren untuk Leo.


"Leo ... Sini," ajak Karren untuk ikut bergabung di dapur. Karena masakan mereka belum semuanya siap.


"Saya bantu apa nih, Tan?" Leo celingak-celinguk mencari mana yang bisa ia bantu. Leo cukup dekat dengan Karren, apa lagi beberapa tahun silam. Sebelum Darren menikah dengan Kania. Tapi setelah Darren menyandang status sebagai suami Kania, disaat itu pula Leo jarang menemui Darren sahabatnya. Karena rasa iri tumbuh begitu saja dalam dirinya.


***


"Apa ada yang perlu dibeli?" tawar Darren pada istrinya dalam perjalanan menuju pulang.


Dania menggeleng, tak ada yang diperlukan lagi karena Darren sudah menyiapkan segala sesuatunya. "Aku ingin cepat sampai," sahutnya sambil memejamkan matanya dengan kepala bersandar di sandaran jok kursi yang ia dudukki saat ini. Darren yang mengerti pun tak bersuara lagi. Mungkin saat ini yang dibutuhkan istrinya adalah istirahat. Pikir Darren.


Ia melihat kearah belakang melalui spion yang berada di depan, ia melihat Syiera di sana, Syiera pun tertidur di kursi belakang. Darren sedikit mengencangkan lajunya, agar cepat sampai. Membutuhkan waktu 45 menit untuk sampai di kediamannya.


Tak lama kemudian, mereka sampai di depan rumah. Ia juga melihat ada security yang membuka gerbang rumahnya. Darren berpikir, mungkin ini suruhan ibunya. Setelah berada di halaman rumahnya, ia melihat satu mobil yang tak asing baginya.


"Bocah tengik itu ada di sini, ngapain dia?" Lalu ia membangunkan istrinya. "Sayang, bangun." Darren mengelus pipi istrinya yang mulus itu. Dania mengerejapkan kedua matanya, terbangun dari tidurnya.

__ADS_1


"Sudah sampai, ya?" Dania mengarahkan pandangannya ke depan, ia melihat mobil lain di sana. Ia yakin bahwa itu bukan milik suaminya.


Darren memperhatikan pandangan istrinya. "Itu mobil si tengik." Dania menoleh pada suaminya. "Si tengik?" Siapa si tengik, pikir Dania.


"Iya, siapa lagi kalau bukan, Leo."


"Ngapain dia di sini?" tanya Dania.


"Paling Momy yang menyuruhnya ke sini. Momy 'kan gak tahu kalau Leo berulah pada kita," jelas Darren. "Leo cukup dekat sama Momy, ya udah yuk?" ajaknya untuk segara turun dari mobil.


Tak lupa Darren menggendong Syiera yang masih tertidur. Lalu mereka pun masuk ke dalam rumah. Setelah berada di dalam, Darren mencari keberadaan Leo di sana.


"Hay bro," sapa Leo. Darren yang mendengar pun langsung mengalihkan pandangannya ke sumber suara. Sementara Dania, langsung berlindung di balik tubuh suaminya, ia hanya takut adanya Leo di sini. Ini membuatnya merasa tidak nyaman.


"Kamu langsung ke atas saja," titah Darren. Lalu Dania mengambil alih Syiera, menggendongnya lalu dengan cepat ia langsung pergi meninggalkan suaminya yang sedang bersama Leo.


"Ngapain lo di sini?" ketus Darren.


"Nyokap lo yang nyuruh gue kesini," jelas Leo. "Gue juga gak bakalan kesini kalau gak ada yang nyuruh!" imbuhnya lagi.


Lalu Karren datang dari arah dapur, ia melihat anaknya yang bersama Leo. "Loh, ngapain berdiri di sini? Dania mana?" Karren tak melihat Dania.


"Dia sudah ke kamar, Syiera tidur," jawab Darren.


"Leo, kamu bantu Tante saja. Biarkan Darren beristirahat sebentar."


"Iya, Tante."


_


_


_


_

__ADS_1


Lanjut nanti.


__ADS_2