
Bukannya menjawab, Karren malah meneteskan air matanya. Semuanya menjadi serba salah. Tapi, ia tetap akan mencobanya membicarakan ini dengan Dania. Karren harus yakin, semuanya akan baik-baik saja.
"Nyonya, sebaiknya Anda juga istirahat," kata Dokter itu lagi.
Lalu Karren pun beranjak, pergi meninggalkan ruangan Dokter itu. Ia kembali ke kamar suaminya di rawat.
***
Apartemen Leo.
Lisa mengunjungi Leo. Secara diam-diam ia mengkhawatikan Leo. Sebejad-bejadnya Leo, di sisi itu ada kebaikan yang ia lakukan pada Lisa. Sehingga Lisa merasa berhutang budi padanya.
Lisa terkejut setibanya di apartemen Leo, ia melihat beberapa botol berserakan di lantai, ia mencari keberadaan Leo di sana. Tak lama, Lisa mendapati seseorang yang tergeletak di lantai, yang ia yakini itu pasti Leo.
Perlahan, Lisa menghampiri orang itu. Ia melihat bibir orang itu berbusa, Lisa mengecek keadaannya. Lisa merasakan masih ada hembusan napasnya. Dengan cepat, Lisa menelepon ambulance, tak lama para medis pun datang. Leo langsung dibawa ke rumah sakit.
Lisa terus ikut ke rumah sakit. Karena tak ada yang menemani Leo. Setibanya di sana, Lisa langsung di panggil oleh perawat. Agar Lisa mengurus administrasi terlebih dahulu.
"Tolong mbak isi formulirnya dulu," kata suster pada Lisa.
Lisa pun mengambil kertas itu, lalu mengisinya. Tidak susah bagi Lisa mengisi formulir itu, karena ia sudah sejak lama mengenalnya. Sedetail mungkin Lisa mengisinya. Setelah itu selesai, Lisa memberikan kertas itu kembali pada susternya.
"Silahkan di urus dulu administrasinya mbak," ucap susternya.
Lisa malah terdiam. "Gimana ini, aku 'kan gak punya uang. Bagaimana cara membayarnya?" Lisa langsung kepikiran tentang Dania. "ya, ya. Dania bisa membantuku." Lisa langsung mengambil ponselnya yang berada dalam tas kecil miliknya.
Lisa langsung menghubungi Dania. "Hallo, aku butuh bantuanmu. Temui aku di rumah sakit cempaka," kata Lisa pada Dania di sebrang sana.
***
"Siapa yang menelopon?" tanya Darren.
"Lisa," jawab Dania.
"Tumben, ada apa dia menghubungimu?" tanyanya lagi.
"Dia lagi di rumah sakit. Dia lagi butuh bantuanku, aku harus segera ke sana. Gak apa-apa 'kan kalau aku menemuinya." Dania minta ijin pada suaminya.
"Pergilah, tapi aku tidak bisa mengantarmu. Gak apa-apa 'kan? Aku akan pesankan taxi online untukmu." Dania tersenyum setelah mendengar jawaban suaminya.
__ADS_1
"Terima kasih, ya?" Dania mencium pipi suaminya.
"Kalau begitu, aku berangkat sekarang." Kaki Dania hendak melangkah. Namun Darren kembali memanggilnya.
"Apa?" tanya Dania.
Darren mengambil dompetnya yang berada dalam laci. Lalu ia mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya, ia memberikan uang itu pada istrinya.
"Ini untuk membayar taxi. Dan ini, kamu pegang ini." Darren memberikan salah satu kartu Black cart nya. Dania pun mengambilnya.
"Gunakan itu," kata Darren. Dania mengangguk mengerti.
"Terima kasih, ya? Aku pergi dulu." Lalu ia pun keluar dari ruangan suaminya. ia mendapati Genik yang sedang bekerja. Genik yang melihatnya pun langsung berdiri dan menundukkan wajahnya memberi hormat.
"Tidak usah seperti itu, aku bukan atasanmu. Kau bekerja dengan suamiku, bukan aku. Jadi bertingkah seperti biasalah," ucap Dania pada Genik.
Genik tersenyum lalu menjawab. "Iya, maaf."
Setelah mengatakan itu, baru Dania meneruskan perjalanannya menuju lobi. Ia sudah yakin bahwa pesanan taxinya sudah datang. Dan benar saja, taxi itu sudah terparkir di sana. Dania langsung saja menaiki mobil tersebut.
"Rumah sakit cemapaka, pak," katanya pada supir itu.
Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang. Tak lama, Dania sampai di rumah sakit cempaka. Ia membayar taxi terlebih dulu sebelum turun.
Dania langsung menghampiri Lisa. "Siapa yang sakit?" tanya Dania dengan panik. Setahu Dania, Lisa tidak memiliki kerabat atau teman dekat selain dirinya.
"Ikut aku, ayo," ajak Lisa. Lisa langsung menarik tangan Dania, ia membawa Dania ke bagian administrasi. "Sus, berapa jumlah yang harus dibayar?" tanya Lisa pada suster yang berjaga di bagian administrasi.
Suster itu pun menyodorkan selembar kertas, di sana tertulis jelas jumlah yang harus di bayar. "Bayarin," ucap Lisa pada Dania.
"Menyuruhku ke sini untuk ini, hah?" Dania geleng-geleng kepala. Dania mengeluarkan Black cart yang di berikan suaminya. "Dengan ini bisa, sus?" Dania memberikan kartunya pada suster. Suster pun mengambilnya, dan transaksi selesai.
Lisa membulatkan kedua matanya disaat melihat kartu yang di gunakan sahabatnya itu. "Wah, wah, wah ... Sahabatku jadi orang kaya ya rupanya," kata Lisa. "Aku penasaran sekaya apa suamimu?" ucapnya lagi.
"Ah, itu tidak penting. Yang penting sekarang, aku tanya padamu, siapa yang sakit? Apa kau membuat onar? Atau kau membuat celaka seseorang?" tanya Dania dengan sewot.
"Emang tampang 'ku tampang kriminal apa? Secantik ini mana mungkin aku menyakiti orang." ujar Lisa. Dania memutarkan bola matanya dengan jengah.
"Lalu siapa yang sakit?" tanya Dania kembali.
__ADS_1
"Jangan terkejut ya, kalau aku memberitahumu." Lisa menjeda ucapannya sebentar. "Di_dia ... Dia Leo," ucap Lisa terbata.
"Apa ...? Bagaimana bisa kamu yang membawanya kemari, apa yang terjadi padanya?"
Lisa memberitahukan apa yang diketahuinya. "Terus, bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Dania lagi.
"Aku belum tahu, soalnya aku harus membayar administrasi dulu. Makanya aku menghubungimu, perlu kamu tahu, Leo sekarang jatuh miskin."
"Aku yakin, ini pasti ada hubungannya dengan Darren," gumam Dania.
"Sekarang kita temui dia," ajak Dania.
Dan mereka berdua menemui Leo, Dania yakin, Leo pasti di ruangan IGD, dan benar saja, Leo berada di sana sedang ditangani oleh Dokter.
Tak lama, Dokter keluar dari ruangan IGD itu. "Keluarga pasien?" tanya Dokter.
Lisa menghadap Dokter itu. "Saya, Dok," jawab Lisa. Dokter menjelaskan apa yang terjadi dengan pasien pada Lisa.
"Terus, bagaimana keadaannya sekarang? Apa saya sudah boleh masuk?" tanya Lisa.
Dania melihat kekhawatiran pada diri Lisa. Ia yakin bahwa Lisa memiliki perasaan pada Leo. Tapi Dania tak langsung menanyakan perihal itu. Karena situasi yang tidak memungkin, ia akan menanyakan ini, nanti.
"Dania, apa kau mau ikut ke dalam?" tanya Lisa.
"Kau saja, aku tunggu di sini," jawab Dania.
Lisa pun masuk ke dalam ruangan itu. Sementara Dania, ia lebih memilih duduk di kursi besi yang tersedia di sana.
Disaat Dania sedang duduk, ia melihat seseorang yang tak asing baginya. "Itukan Darren, apa aku tidak salah lihat?" ucap Dania dalam hati.
Karena penasaran, akhirnya ia menghampiri suaminya. Tapi langkahnya terhenti, ia juga melihat ibu mertuanya di sana. Dania semakin penasaran dibuatnya, ditambah lagi ada beberapa polisi yang berjaga di depan pintu.
Dania terus memperhatikan dari kejauhan, tentu tanpa sepengetahuan suaminya. ia juga melihat ibu mertuanya mengajak Darren masuk ke dalam ruangan itu.
"Siapa yang sakit? Kenapa tidak ada yang memberitahuku akan masalah ini?" pikiran Dania semakin penasaran.
Hingga pada akhirnya ia terkejut disaat ada seseorang yang menepuk bahunya.
_
__ADS_1
Bagaimana Darren sampai ada di rumah sakit? Akan di jelaskan di part selanjutnya ya?
Jangan lupa kasih othor dukungan dengan vote setiap minggunya dan like setelah selesai membaca, biar othor semangat dalam meneruskan ceritanya.