Terpaksa Menikahi Pelacur

Terpaksa Menikahi Pelacur
Episode 73


__ADS_3

Tak ingin salah paham pada istrinya, Leo pun undur diri dari cafe, lebih baik ia menahan lapar dan sakit di bagian perutnya dari pada kena amukan macan betinanya. Akhinya ia pamit pada sahabatnya. Tak menunggu jawaban dari Darren ia langsung saja melipir pergi.


Kini Genik sudah kembali ke meja, ia tak melihat Leo di sana, apa sudah pulang atau ke toilet juga, pikirnya.


Darren terus saja memperhatikan gelagat sekretarisnya itu. Mencari siapa dia? Genik terus saja celingak-celinguk.


"Leo sudah pulang." Tanpa basa-basi, Darren langsung saja pada intinya.


Genik yang merasa itu ucapan untuknya langsung terdiam, dan kembali fokus pada makannnya. Baru saja jatuh cinta, ia sudah kembali patah hati. Tak ingin membuat atasannya itu curiga karena memiliki rasa pada sahabat atasannya itu, tiba-tiba saja ia meminta balik ke kantor duluan.


Tapi ditahan oleh Darren, karena ia rasa harus membicarakan tentang perasaan sekretarisnya itu pada sahabatnya. Karena dicegah, Genik kembali duduk. Hatinya sudah gelisah, sudah terasa duduk dikursi panas saja.


"Genik, saya tahu kamu memiliki perasaan pada Leo, iyakan?"


Yang tadinya tertunduk, kini Genik menatap bosnya itu. Kenapa bosnya itu bisa tahu akan isi hatinya.


"Tidak ada yang salah dengan perasaanmu. Hanya saja, kamu harus mengubur perasaan itu dalam-dalam. Leo sudah menikah, dan sekarang istrinya sedang mengndung darah dagingnya," jelas Darren panjang lebar, sangat hati-hati Darren menyampaikan ucapannya, tak ingin membuatnya semakin terluka. Tapi sudah jelas terlihat kekecewaan diraut wajahnya.


Tak ingin terciduk Genik berkelit dengan kecurigaan atasannya itu. Mencoba menepis perasaannya pada Leo yang terlanjur menyukainya karena perubahan didiri si Leo sangat memikat hati gadis yang kini usianya sudh menginjak kepala 3.


"Saya duluan ya, Pak?" Genik pergi begitu saja. Padahal makanannya hanya dimakan beberapa suap saja. Patah hati memang membuat selera napsu makan berkurang.


Ada rasa kasihan pada gadis tersebut. Ia melihat kepergiannya dengan nanar. Ia tahu, Genik selalu patah hati. Disaat Genik patah hati, dirinya pasti bikin status galau di aplikasi gambar berwarna hijau tersebut.


Tak ingin berlama-lama berada di sana. Ia pun kembali ke kantornya, ia melihat Genik dengan mata sembab, sudah dipastikan dirinya pasti habis menangis. Ia pun berlalu melewati meja sekretarisnya tersebut. Tak ingin mengganggu privasi orang ia memilih untuk mendiamkannya.


***


Akhirnya Leo sampai di rumahnya, waktu yang dijanjikan pada istrinya sudah lewat 15 menit yang lalu. Sebelum masuk, Leo menghela napasnya dalam-dalam. Ia sudah siap kena amukan macan betinanya, ibu hamil itu membuatnya takut. Bukan takut kena marah darinya, ia takut kalau Lisa stres, diingat kehamilannya yang masih sangat muda, seharusnya ia lebih menjaga perasaannya. Tapi apa mau dikata, inikan hanya salah paham. Ia juga tak sengaja bertemu dengan Genik hari ini.

__ADS_1


Diketuknya pintu olehnya, karena pintu terkunci dari dalam. Lisa masih enggan membukakan pintu untuk suaminya, rasa cemburunya terlalu besar pada suaminya. Orang bilang cemburu itu artinya sayang. Tapi tidak dengan Lisa, ia cemburu buta.


Karena pintu tak kunjung dibuka, Leo sedikit emosi, ditambah lagi harus menahan sakit karena menahan laparnya, alhasil lambungnya terasa perih.


"Lisa buka pintunya, kalau tidak. Aku dobrak pintunya!"


Mendengar suaminya akan mendobrak pintu, ia langsung saja membuka pintunya tanpa menatap wajah suaminya yang sudah terlihat pucat. Ia langsung membalikkan tubuhnya kembali masuk ke kamar.


Leo hanya bisa menghela napasnya melihat tingkah istrinya itu. Butuh tenaga untuknya membujuk istrinya, tapi ia tak punya tenaga karena rasa perih itu semakin menjadi. Buliran keringat membasahi keningnya. Lisa masih enggan untuk melihat wajah suaminya, jadi ia tak tahu keadaan suaminya sekarang.


Disaat terduduk di samping Lisa, Leo merasakan mual. Sepertinya asam lambungnya naik. Lisa yang tahu akan hal itu, langsung saja melihat ke arah suaminya. Wajahnya yang pucat ditambah keringat dingin, Lisa panik. Kenapa suaminya bisa seperti ini.


Lisa bergegas kedapur mengambilkan minum untuk suaminya, dilihatnya, Leo semakin gemetar.


"Apa ada makanan?" tanya Leo dengan suara paraunya, tak ada tenaga sama sekali dalam dirinya.


Lisa kembali kedapur, ia mencari makanan yang tersisa di sana. Untung, ia menemukan sebungkus biskuit. Langsung saja memberikan pada suaminya.


Melihat suaminya seperti itu, Lisa jadi kasihan.


"Istirahatlah, aku akan masak dulu." Sebelum Lisa pergi, sebuah tangan menghentikannya.


"Duduklah dulu." Leo menarik tangan istrinya untuk ikut duduk disampingnya. Ia mengambil sesuatu di balik jaket yang ia kenakan.


"Ini." Ia memberikan sebuah amplop coklat yang berisikan uang hasil pengambilannya tadi dari bank.


Tanpa bertanya, Lisa langsung saja membukanya. Ia terkejut melihat amplop itu.


"Ini uang apa?" tanya Lisa penasaran.

__ADS_1


"Hasil tabungan kita," jawabnya.


"Kenapa diambil, apa uangnya sudah cukup?" tanya Lisa. Ia memang tahu untuk apa hasil tabungannya, karena memang sudah direncanakan untuk membeli rumah.


Leo mengangguk, tak banyak kata yang ia keluarkan, biskuit saja tak cukup untuk mengembalikan tenaganya. Melihat suami yang masih seperti itu, Lisa kembali pada niatnya. Memasak makanan untuk suaminya.


Sebenarnya percakapan itu belum selesai, ia harus menjelaskan tentang amukan disambungan telepon tadi, ia tahu. Istrinya itu masih ada unek-unek yang masih dipendamnya. Terlalu egois bagi Lisa kalau harus membahas masalah itu.


Hingga pada akhirnya, Lisa kembali masuk kedalam kamarnya, ia membangunkan suaminya yang tertidur karena menunggunya yang sedikit lama dengan acara masaknya.


Lisa mengguncangkan tubuh suaminya dengan pelan, kalau tak ingat suaminya yang kelaparan, ia pasti membiarkan suaminya itu terlelap lebih lama.


Leo pun terbangun, ia mencium aroma masakan yang membuat perutnya meronta-ronta minta diisi. Ia langsung saja beranjak dari tidurnya, tapi Lisa menahannya karena ia sudah membawakan sepiring nasi lengkap dengan lauk pauknya.


"Aku suapi, ya?" Ia langsung saja menyedokkan makanan itu dan memasukkannya ke dalam mulut suaminya.


Karena memang sudah tak bisa menahan laparnya, Leo langsung membuka mulutnya. Ia menerima suapan itu, memang terasa nikmat jika hasil makanannya terbuat dari cinta.


"Enak?" tanya Lisa.


Leo mengangguk sambil mengunyah, tak terasa suapan terakhir sudah mendarat sempurna ke dalam mulutnya. Lisa memberikan minum sebagai penutup makan suaminya.


"Makasih ya, sayang?" ucap Leo.


Lisa mendelik, ia rasa suaminya itu sudah memiliki tenaga untuk menerima amukan darinya. Ia menyimpan piring terlebih dulu ke dapur, setelah itu ia kembali menemui suaminya. Ia akan mengintrogasi suaminya itu.


Belum juga tubuhnya mendarat di samping suaminya, ia sudah mengeluarkan rasa penasarannya yang ia bilang tadi suara Genik, bagaimana ceritanya ia bisa bertemu dengan sekretaris itu.


Setelah mendengar penjelasan dari suaminya, ia jadi malu sendiri. Apa rasa cintanya terlalu besar, hingga ia begitu takut ada wanita yang ingin merebut yang sudah jelas menjadi miliknya.

__ADS_1


Dan mereka pun berpelukan. Tak ada curiga atau merasa kesal lagi pada suaminya. Ia akan fokus pada janin yang ada dalam kandungannya.


__ADS_2