Terpaksa Menikahi Pelacur

Terpaksa Menikahi Pelacur
Episod 51


__ADS_3

Hingga beberapa jam kemudian. Lampu yang berada di atas pintu ruangan operasi itu sudah tidak menyala, itu menandakan operasi telah selesai.


Namun pada saat itu, Darren tertidur di kursi tunggu. Sampai Dokter keluar dari ruangan operasi, Darren tak mengetahuinya. Lalu Karren membangunkan anaknya, memberitahu bahwa Dokter sudah keluar.


Darren langsung mengerejapkan matanya setelah ibunya membangunkannya. Dengan cepat Darren langsung beranjak dari posisinya, ia menanyakan bagaimana dengan operasinya lancar atau tidak.


"Bagaimana, Dok?" tanya Darren


"Operasi berjalan dengan lancar," jawab Dokter sambil bernapas lega. "Tapi untuk saat ini, pasien belum bisa ditemui. Karena kondisinya belum memungkinkan," jelas Dokter.


Darren pun mengerti. "Lalu kapan saya bisa menemui istri saya, Dok?" tanya Darren kemudian.


"Jika kondisinya sudah membaik, pasien akan langsung dipindahkan di ruang rawat. Kalau begitu, saya permisi." Dokter pun pergi meninggalkan Darren dan ibunya.


Setelah kepergian Dokter.


"Mom, sebaiknya Momy pulang. Biar aku yang menjaga istriku! Atau tidak, Momy bisa menemani Pappy di rumah sakit."


Karena Davin di rawat di rumah sakit yang berbeda dengan Dania. Karren pun menuruti apa yang di perintahkan anaknya. Ada benarnya juga apa kata Darren, lebih baik Karren menemani suaminya yang masih terbaring lemas. Entah kapan dia bisa menghirup udara bebas. Semoga saja setelah Dania sembuh, menantunya itu mencabut tuntutannya.


Hingga hari semakin larut. Darren tetap nerada di rumah sakit. Darren melihat branker keluar dari ruangan operasi, ia yakin bahwa itu Dania, istrinya. Branker itu melintas tepat di hadapannya, dan ternyata benar bahwa itu memang Dania.


Darren terus mengikuti branker tersebut sampai masuk kedalam ruang rawat VVIV.


"Apa dia sudah sadar, Sus?" tanya Darren setibanya di sana.


"Iya, Tuan. Pasien saat ini sedang tidur," jawab Suster. "Sebaiknya, biarkan pasien istirahat, Tuan," sahutnya lagi.


"Saya tidak akan mengganggu. Saya akan menunggu sampai istri saya terbangun," jelas Darren. Lalu, Suster pun pergi meninggalkan pasien bersama sang suami.


Darren memejamkan kedua matanya, sambil menunggu istrinya bangun dari tidurnya, ia tengah duduk di sofa. Pada akhirnya ia malah tertidur karena merasakan lelah, seharian ini Darren belum sempat mengistirahatkan tubuhnya.


Pada pukul 23.15, Dania terjaga dari tidurnya. Ia merasakan haus di tenggorokannya. Ia arahkan pandangannya kesekeliling ruangan. Tatapannya menjumpai sosok yang sangat di cintainya, melihat Darren seperti itu, ia merasa kasihan.


"Pasti kamu lelah sudah menungguku seharian."


Lalu ia meraih gelas yang berada di atas nakas tepat di samping kepalanya. Dania hendak menyentuh gelas tersebut. Namun, sebelum Dania mencekalnya, gelas itu terjatuh ke lantai sampai mengeluarkan suara. Suara pecahan gelas itu sudah membangunkan Darren.


"Sayang." Darren langsung beranjak dari tempatnya, walau sedikit pusing, tapi ia bisa menyeimbangkan tubuhnya. "Kenapa tidak membangunkanku," kata Darren sambil mengambil pecahan itu satu persatu.


Seteleh selesai membereskan pecahan itu. Darren langsung mengambilkan minum untuk istrinya. Sangat hati-hati, Darren memberikan minum itu untuknya.

__ADS_1


"Apa ada yang kamu inginkan?"


Dania menggelengkan kepalanya. Lalu Darren ikut terduduk di samping istrinya, ia meraih tangan Dania. Menggenggam tangan itu dengan erat, sesekali ia menciumnya.


"Apa masih sakit?" tanya Darren.


Dania mengangguk. "Sedikit," jawabnya.


"Lebih baik kamu istirahat, ya. Ini sudah malam." Darren mencium kening istrinya, dan tak lupa ia mencium bibirnya sekilas. Darren menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya.


"Aku juga akan istirahat," terang Darren.


Disaat Darren akan membalikkan tubuhnya, Dania mencekal tangannya. Membuat Darren kembali menoleh kearahnya. "Ada apa?" Darren duduk kembali di branker.


"Yang menculikku kemarin__," Dania menjeda ucapannya, karena ia ragu untuk mengatakannya.


Darren memicingkan kedua matanya, sorotan itu menunjukkan rasa penasarannya tentang siapa yang sudah menculik istrinya itu.


"Tapi ... Aku mau kamu berjanji, tidak akan membalas apa pun terhadapnya." Pasalnya, Dania hanya takut kalau Leo akan menjadi lebih kasar jika Darren membalas perlakuannya.


"Iya, aku janji tidak akan macam-macam!"


"Kamu sudah janji padaku." Dania menatap tajam pada wajah suaminya.


"Aku tidak akan membalasnya." Dalam diam, Darren mengepalkan satu tangannya, karena tangan yang satunya lagi di pegang oleh Dania. "Akan aku pastikan, kau akan menanggung semuanya. Membusuk di penjara."


Dania menarik tangan suaminya, mencoba membuyarkan lamunannya.


"Iya, apa sayang?" Darren sedikit terkejut dengan aksi istrinya. "Lebih baik kamu segera istirahat. Aku tidur di sofa." Darren kembali mencium kening Dania sebelum ia beranjak ke sofa.


Dan mereka berdua beristirahat di tempat yang berbeda.


Keesokan harinya.


Leo sedang berbenah di cafe yang menjadi tempat usahanya sekarang, ia menyusun rapi bangku-bangku dengan mejanya. Disaat Leo sedang melakukan aktivitasnya, tiba-tiba sebuah tangan menangkup kedua matanya dari arah belakang.


Leo menyentuh tangan itu, ia tahu siapa pemilik tangan tersebut. "Siapa ini, jangan jahil, deh!" kata Leo berpura-pura tidak tahu siapa orang yang sudah menghalangi pandangannya.


Tidak ada jawaban darinya, Leo menarik tangan itu, sehingga pemiliknya hampir terjatuh. Namun dengan cepat, Leo menangkap tubuh itu agar tak terjatuh ke lantai.


Posisi mereka saling berhadapan, pancaran kedua matanya penuh cinta. Mereka berdua menjadi salah tingkah. Perlahan, Leo melepaskan tubuh Lisa.

__ADS_1


Ya, orang yang sudah menangkup matanya adalah Lisa.


Lisa tersenyum ke arah Leo, begitu pun Leo. Bahkan Leo menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Maaf, ya? Hampir saja kamu terjatuh," ucapnya basa-basi. Padahal ia memang sengaja melakukan itu.


"Harusnya aku yang minta maaf padamu. Aku sudah jahil padamu. Habisnya, kamu serius banget, sampai-sampai aku datang kamu tidak tahu," jelas Lisa panjang lebar.


"Aku terlalu bersemangat," imbuh Leo. "Semangat untuk mendapatkan cintamu," ucapnya pelan. Namun Lisa masih bisa mendengarnya dengan jelas.


"Cintamu siapa?" tanya Lisa. "Apa kamu mencintai seseorang?" tanya Lisa penasaran.


Leo mangangguk. "Iya, Lisa. Aku mencintainya, aku akan memperjuangkan cintaku. Maka dari itu, aku semangat untuk bekerja," jawaban Leo membuat Lisa berpikir, 'siapa yang sudah menaklukkan hati seorang Leo'


"Aku ke dapur dulu." Tanpa mendengar jawaban Leo, Lisa langsung pergi begitu saja.


Leo terkekeh melihat Lisa yang langsung berubah, begitu terlihat dari cara bicaranya yang sedikit ketus. Membuat Leo semakin gemas akan Lisa.


"Kelak, aku akan membahagiakanmu, Lisa. Akan kujadikan kau ratu dalam hidupku."


Sampai tak terasa, Leo melewati hari-harinya dengan penuh gembira. Cufe yang dulunya sepi, kini mulai ramai dikunjungi pengunjung. Bantuan Lisa, benar berpengaruh di cafe itu.


Kopi buatan Lisa menjadi menu utama di cafe tersebut. Cafe itu di juluki dengan sebutan cafe 'EOSA' alias Leo, Lisa.


***


Dania hari ini di perbolehkan pulang dari rumah sakit, pasca operasi pengangkatan rahimnya. Dania terdiam di tepi branker, lalu seseorang menyentuh pundaknya. Orang itu yang tak lain adalah Darren, suaminya.


"Sudah siap?" tanya Darren pada istrinya. Kerana saat ini mereka hendak meninggalkan rumah sakit. Namun Dania malah meneteskan air matanya.


"Kok, malah nangis, sih?" Darren menghapus cairan bening yang membasahi pipi mulus istrinya.


"Darren, apa perkataanmu benar, kalau kau tak akan meninggalkanku yang tak sempurna ini!" Dania sengaja menekankan kata 'tak semepurna' pada suaminya. Ia hanya ingin mengingatkan bahwa ia tak bisa memberikan keturunan pada suaminya.


Bersambung


Tinggalkan jejaknya, bantu novel othor dengan cara like komen dan vote setiap minggunya.


othor tunggu vote dari kalian.


Terima kasih, Love U somach😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2