Terpaksa Menikahi Pelacur

Terpaksa Menikahi Pelacur
Episod 14


__ADS_3

Karren sedang asyik bergelut dengan pekerjaannya di dapur. Ia sedang menyiapkan makam malam untuk pengantin baru, Karren merasa bahagia karena keinginannya terwujud.


Tiba-tiba Karren menghentikan aktifitasnya, ia mendengar suara kaki melangkah. Dengan cepat ia menoleh ke arah belakang. Lalu ia tersenyum karena Dania yang menghampirinya.


"Mom, sebaiknya Momy istirahat. Biarkan aku yang melanjutkan," ucap Dania setelah berada di samping ibu mertuanya.


"Sebentar lagi selesai, kamu duduk saja di sana. Tunggu semua siap," jawab Karren.


Dania menggelengkan kepalanya. Sungguh, ini membuat Dania merasa yakin bahwa suatu hari nanti Darren akan mencintainya. Orang tua adalah cerminan bagi anak-anaknya, karena Dania melihat kebaikan dalam diri Karren, yang pasti akan mewariskan pada anaknya.


Dania menemani ibu mertuanya sampai selesai, ini membuat Dania tak enak hati. Karren begitu baik padanya.


"Kamu panggil saja suamimu, suruh segara. Momy sudah lapar," ucapnya pada Dania. Dania mengangguk lalu pergi ke kamar suaminya.


"Momy?" panggil Syiera. Syiera berlari menghampiri Dania, anak itu merentangkan tangannya meminta Dania untuk menggendongnya.


Dengan senang hati Dania menuruti keinginan anak sambungnya itu. Dania ke kamar Darren sambil menggendong Syiera.


"Duh, anak Momy berat," kata Dania sambil menciumi pipi gembulnya. "Panggil daddy, ayo?" titahnya pada Syiera sesampainya depan pintu kamar yang di tempati oleh suaminya.


"Dad?" panggil Syiera. Karena tak ada jawaban Dania memilih untuk membuka pintunya. Tapi sebelumnya ia menurukan tubuh Syiera.


"Mom, aku ke bawah saja menemui Oma," ujar Syiera. Lalu anak itu pergi meninggalkan Dania.


Dania masuk ke dalam, namun tak ada siapa-siapa di sana. Lalu Dania melihat pintu menuju balkon terbuka, ia yakin bahwa suaminya pasti berada di sana.


Ternyata dugaannya benar, Darren sedang duduk di balkon sepertinya ia tengah melamun. Sehingga dirinya tak mengetahui kehadiran istrinya.


"Darren," panggil istrinya. Darren langsung menoleh ke arah suara tersebut, ia mendapati Dania yang tiba-tiba saja ada di sampingnya.


"Ada apa?" jawabnya singkat.


"Momy mengajak kita makam malam. Aku tunggu di bawah," ucap Dania sambil melangkah. Namun langkahnya terhenti kala Darren menahannya dengan cara langsung menggenggam tangannya. Seketika Dania menoleh pada tangannya yang tiba-tiba saja digenggam oleh suaminya.


"Kita bareng saja," kata Darren sambil melepaskan kembali genggaman itu.


Kini Dania mengekor dari arah belakang suaminya, tak ada percakapan jika tak ada yang terlalu penting diantara mereka.


Tak lama mereka pun sampai di ruang makan, sudah ada Karren dan Syiera di sana. Perlakuan ibu mertua yang baik membuat Dania merasa terharu, ia teringat akan orang tuanya.


Karren yang melihat pun bertanya, "kenapa melamun, sayang?" tanya Karren pada Dania.

__ADS_1


Dania menghela napasnya berat, "Aku teringat akan kedua orang tuaku," jawabnya lirih.


Mendengar jawaban Dania, Karren menghentikan kegiatannya yang sedang mengambilkan nasi pada setiap piring. Lalu Karren menghampiri Dania, mengelus punggungnya mencoba menenangkan. Tidak mudah baginya untuk melupakan kenangan saat bersama orang tuanya. Membuat Karren semakin bersalah.


Darren yang melihat ibunya seperti itu merasa aneh dengan sikap ibunya. Menerka-nerka apa yang terjadi antara ibunya dan Dania, "apa ini ada hubungannya dengan masa lalu Dania?" guamam Darren dalam hati.


"Sudah jangan bersedih lagi, sekarang makanlah," ujar ibu mertuanya pada Dania.


"Momy, jangan sedih. Di sinikan ada aku, Oma juga daddy," kata Syiera memberi semangat. Lalu Dania tersenyum mendengar penuturan anak itu. Dan mereka pun makan dengan hikmat.


***


"Ayo tidur?" ajak Darren pada Dania.


"Duluan saja, aku belum mengantuk," jawab Dania. Dania tengah asyik membaca novel yang berjudul "Daddy, Love Me Please!!!"


"Apa novel itu begitu penting? sampai begitunya?"


Lalu Dania menutup buku yang sedang dibacanya itu, menyimpannya di atas nakas.


"Mau kemana?" tanya sang suami kala melihat sang istri membawa bantal dan selimut.


"Aku tau, tapi mau tidur dimana?"


"Di sana." Tunjuk Dania ke arah sofa.


Darren berdiri lalu melangkah ke arah istrinya, ia mengambil kembali bantal dan selimutnya. Ia menyimpannya ditempat semula.


"Tidur di sana?" Darren mununjuk sebuah tempat tidur berukuran king size menggunakan wajahnya.


Dania hanya menuruti apa kata suaminya, ia mencoba menjadi istri yang patuh pada suaminya. Kini Dania merebahkan tubuhnya di atas kasur itu.


Lalu Darren pun sama, melakukan apa yang dilakukan istrinya. Mereka tidur saling membelakangi.


Darren tak dapat memejamkan matanya, karena ia merasakan getaran dari kasur yang ia tempati. Lalu Darren kembali terduduk, ia melihat ke arah istrinya. Dania sedari tadi tak dapat diam.


"Kamu kenapa?" tanya Darren.


"Gatel," jawab istrinya.


Dengan cepat Darren menyalakan kembali lampu yang sempat ia matikan tadi. Lalu menghampiri Dania, melihat kenapa istrinya merasakan gatal.

__ADS_1


Darren terkejut mendapati wajah istrinya yang memarah, lalu ia meraih tangan istrinya. Di sana juga pada memerah. Dania terus menggaruk tubuhnya.


"Jangan digaruk," ujarnya pada Dania.


Dania tersenyum, ia merasa bahwa suaminya tengah mengkhawatirkannya.


"Jangan digaruk, nanti lecet," ucapnya kembali. Dania semakin tersenyum lebar. Darren tak menyadari bahwa ia tengah perhatian pada istrinya.


"Apa ini gatal sekali?" tanya Darren, ia mendapati anggukkan dari istrinya.


"Sepertinya tadi aku makan seafood, aku ada alergi makanan yang berbau laut."


"Kalau tahu alergi kenapa tetap memakannya?" tanya saminya.


"Aku kira tidak akan seperti ini, aku hanya sedikit memakannya. Kasihan Momy, kalau aku tolak."


Darren turun dari kasurnya, lalu ia mengarahkan langkahnya pada kotak P3K yang berada di pojokan kamar. Ia mengambil salep dan obat lalu memberikannya pada Dania. Tak lupa ia juga memberikan segelas air yang berada di atas nakas.


"Nih," ucapnya sambil menyodorkan obat dan salep.


Dania pun langsung meminum obatnya tanpa bertanya lebih dulu. Dania mengoleskan salep pada tubuhnya, tangan, kaki serta tubuh yang lainnya yang masih bisa ia jangkau.


Pada saat bagian punggung Dania kesusahan melakukannya, dengan susah payah ia menggapainya. Namun hasilnya nihil ia tak bisa meraihnya.


Darren yang melihat pun berinisiatife membantunya. Darren meraih salep yang ada di genggaman istrinya, lalu ia memutarkan tubuh istrinya untuk membelaki tubuhnya.


Darren menatap punggung istrinya dengan nanar, sungguh ingin sekali rasanya ia menyentuhnya.


Lalu Darren menggelengkan kepalanya mencoba menolak setiap pikirannya. Dengan telaten ia mengobatinya.


Dirasa sudah cukup Darren kembali memberikan salep itu pada Dania.


"Jika sudah selesai, matikan lampunya. Aku mau tidur?" ucapnya setelah memberikan salep pada Dania.


"Terima kasih, ya?" Darren hanya mengangguk menanggapi.


Dania pun kembali membaringkan tubuhnya di samping suaminya. Namun kini Dania menghadapkan tubuhnya ke arah suaminya. Ingin rasanya Dania menggapai punggung suaminya, tapi ia menahan keinginannya.


Dania pun ikut terlelap menyusul mimpi indah suaminya.


Tinggalkan jejak gaes...😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2