
"Dad, kau melupakanku!" Syiera memanyunkan bibirnya. Lalu Darren menggendong Syiera, mengajaknya untuk masuk ke dalam.
Mereka sudah masuk ke dalam rumah, namun Dania terus melanjutkan langkah kakinya menaiki anak tangga. Karren hendak memanggil Dania, namun di larang oleh Darren.
Karren pun mengurungkan niatnya. Lalu ia beralih pada anaknya untuk bertanya. "Bisa kamu jelaskan apa yang sebenarnya terjadi? Momy lihat, Dania nampak pucat!" Pasalnya Karren tak mengetahui perihal Dania yang telah keguguran.
"Aku kehilangan calon anakku, Mom." Darren meneteskan air matanya, ia juga merasakan apa yang Dania rasakan. Kehilangan itu membuat Dania menjadi seperti ini.
Karren membulatkan kedua matanya, ia juga ikut bersedih. Bagaimana tidak, ia mendambakan cucu dalam pernikahan Darren dan Dania.
Sementara Dania, setelah berada di kamarnya.
Ia langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. Dania menangis sesegukan, cukup lama ia berada dalam posisi seperti itu. Tak lama, ia beranjak dari kasurnya.
Dania mengarahkan pandangannya ke sudut almari yang di sana ada koper miliknya. Lalu ia menghampiri koper itu, ia mengambilnya lalu meletakan koper itu di atas kasur. Ia juga mengambil semua bajunya yang berada dalam almari itu.
Ia membereskan baju-bajunya ke dalam koper miliknya, setelah selesai, Dania menyeret kopernya keluar kamar. Dania sudah membulatkan tekadnya untuk keluar dari rumah itu.
Disaat Dania akan memutar handle pintu, pintu itu terbuka karena Darren hendak masuk ke dalam kamarnya. Darren melihat Dania membawa koper tentu bertanya padanya. "Sayang, kamu mau kemana?" tanya Darren dengan bingung.
Namun Dania tak menjawab pertanyaan suaminya. Ia terus melangkahkan kakinya untuk keluar, dengan cepat Darren menghentikan langkah istrinya dengan mengambil alih koper tersebut.
"Dania, tak bisakah kamu menghargaiku sebagai suamimu!" bentak Darren yang mulai emosi. Dari kemarin ia mencoba bersabar menghadapi istrinya, tapi tidak kali ini. Darren tak bisa membiarkan istrinya pergi begitu saja.
"Aku tidak salah untuk pergi dari sini, sikapmu sudah jelas, Darren." Dania benar-benar salah paham pada suaminya, ia pikir bentakan suaminya itu sudah memperlihatkan kalau Darren benar tak mencintainya.
Darren menghela napasnya berat, ia sudah tak bisa berpikir lagi, bagaimana caranya membujuk Dania. "Aku tahu aku salah. Tidak bisakah kamu memberi kesempatan padaku untuk memperbaiki semuanya, termasuk dengan kedua orang tuaku!"
"Lalu aku harus apa? Kalau kau mau aku membebaskan Pappymu, akan aku urus semuanya, tapi tolong! Untuk kali ini saja biarkan aku pergi!" Tubuh Dania bergetar, ia menangis. Lalu Darren menarik tubuh istrinya kedalam pelukannya.
Mereka beradu mulut di luar kamar, sehingga Karren mendengar semuanya dengan jelas. "Syiera masuk kamar, ya? Oma mau menemui Momy dan daddy." Syiera meneruti perintah Karren.
Setelah Syiera masuk ke dalam kamarnya, Karren menghampiri dua insan itu. "Maaf kalau Momy ikut campur. Tapi Momy harus ikut tanggung jawab atas keributan dalam rumah tangga kalian, karena semua ini salah Momy," lirih Karren.
__ADS_1
Dania melepaskan pelukan suaminya, lalu ia menoleh pada ibu mertuanya, dan menghampirinya. "Ini takdir. Jadi berhentilah merasa bersalah!" Deraian air mata Dania tak bisa lagi terbendung, ia kembali menumpahkan air matanya untuk kesekian kalinya.
"Jadi, kamu pergi juga karena takdir? Takdir itu bisa di rubah jika kamu mau menuruti keinginanku untuk tidak meninggalkanku," timpal Darren.
"Dania, Momy mohon jangan pergi! Darren tak bisa hidup tanpamu," sahut Karren. Pasalnya Karren tahu akan bagaimana nasib anaknya kalau ia kembali ditinggalkan oleh istrinya apa lagi ini yang kedua kalinya, jika terjadi.
Mata Dania mulai berkunang-kunang, ia menyentuh keningnya merasakan pandangannya mulai gelap. Dania sudah kehilangan keseimbangan pada tubuhnya.
Darren langsung menangkap tubuh mungil istrinya itu agar tak terjatuh di lantai. Darren mengetahui itu karena ia tak melepaskan pandangannya dari istrinya.
Karren melihat Darah di pangkal paha Dania. "Darren, Dania pendarahan." Mendengar kalimat itu, Darren langsung panik. Apa yang terjadi pada istri tercintanya. Pikir Darren.
Lalu, Darren membopong tubuh Dania. Darren membawanya ke mobil untuk segera ke rumah sakit.
"Mila ...," panggil Karren dengan berteriak.
Mila langsung menemui Karren dengan cepat, tak biasanya ia memanggil Mila dengan cara seperti itu.
"Kamu jaga Syiera, saya akan kerumah sakit." Mila mengangguk, walau ia sedikit bingung karena ia tak tahu apa yang terjadi.
Karren sedikit berlari keluar, ia langsung naik ke dalam mobil Darren. Setelah itu, Darren langsung menancapkan gas mobilnya. Dalam perjalanan, sesekali ia melirik ke arah belakang dimana ada Dania di sana bersama ibunya.
"Cepat sedikit!" Karren panik karena ia melihat darah yang keluar begitu banyak.
Darren mempercepat lajunya, tak lama dari situ mereka sampai di rumah sakit. Suster langsung menghampiri mobil Darren yang terparkir tepat di depan pintu UGD yang berada di luar. Branker yang di bawa Suster langsung di tempati Dania, dengan cepat Suster itu mendorong pasien masuk ke dalam.
Sementara Darren, langsung mengurus administrasi. Setelah membayar administrasi, Darren langsung menuju ke ruangan IGD, sudah ada Karren di depan pintu IGD itu. Karren mondar-mandir dengan gelisah.
Setibanya Darren, Karren langsung bertanya. "Kamu tidak memberitahu Momy, siapa yang sudah menculik istrimu? Lalu kenapa Dania bisa keguguran kemarin?"
"Untuk itu, aku belum menyelidikinya. Setalah keadaan Dania membaik aku akan mencari siapa yang sudah menculik Dania." Darren mengepalkan tangannya karena geram.
***
__ADS_1
Sementara Leo, ia sedang belanja kebutuhan untuk usahanya. Setelah merasa cukup, Leo menyudahi kegiatannya yang sedang berbelanja. Namun tiba-tiba, seseorang menabraknya dari arah belakang, sampai ia sedikit merasa sakit di bagian punggungnya.
Belanjaan yang ia bawa berhamburan di lantai. "Maaf-maaf, saya tidak sengaja," kata seseorang itu.
Leo mengenali suara tersebut. "Lisa," ucap Leo.
Lisa langsung mendongakkan wajahnya ke arah suara tersebut. "Leo, sedang apa kamu di sini?" tanya Lisa dengan heran. "Ini semua belanjaanmu?" tanya Lisa kembali. Sesekali Lisa melihat ke arah belakangnya, karena ia tengah di kejar-kejar orang.
Leo melihat kepanikan di wajah Lisa. "Ada apa, Lisa? Kamu kelihatan panik sekali?" tanya Leo sambil melihat ke belakang Lisa.
Tak lama dari situ, muncul seorang laki-laki dari arah belakang Lisa. "Nah, akhirnya ketemu juga. Kamu tidak bisa kabur lagi, Lisa! Ayo ikut!" kata laki-laki itu sambil menarik tangan Lisa.
Lisa memberontak. "Lepaskan! Aku tidak mau ikut!" kata Lisa. "Tolong aku, Leo?"
Mendengar Lisa minta tolong, Leo langsung menghamipiri laki-laki yang menyeret Lisa. "Lepaskan dia!" teriak Leo.
"Siapa lo? Berani sekali memintaku untuk melepaskannya" ucap pria itu.
Tak banyak omong, Leo langsung menghajar laki-laki itu secara membabi buta. Ia pun kena pukulan dari pria yang sedang berkelahi dengannya.
Dengan cepat Leo kembali memukul laki-laki itu hingga terkapar. "Kamu tidak apa-apa?" tanya Lisa mengkawatirkan Leo.
Leo tersenyum pada Lisa, rasa sakit di bagian wajahnya pun tak ia rasakan. Seakan nyeri itu hilang begitu saja. "Aku tidak apa-apa," jawab Leo sambil memungut bahan-bahan yang ia beli masih berserakan di lantai. Di bantu oleh Lisa.
"Semua bahan ini untuk apa?" tanya Lisa.
"Ini untuk masa depanku."
Lisa mengerutkan kedua alisnya nyaris menyatu. "Masa depan," kata Lisa mengulangi perkataan Leo.
"Hmm, ini untuk usahaku," jawab Leo. "Kebetulan kita bertemu di sini, sebaiknya kamu ikut denganku. Ada yang ingin aku bicarakan." Lalu lisa pun mengekori Leo.
Bersambung
__ADS_1