
"Hai, dad?" Syiera tersenyum disaat sang ayah yang membukakan pintunya.
Syiera celingak-celinguk mencari keberadaan ibunya. "Momy, didalam," kata Darren tiba-tiba. Ia tahu bahwa yang dicari Syiera saat ini pasti ibunya. Syiera begitu dekat dengan Dania karena ia menyangka bahwa Dania adalah Kania.
"Mom ...?" panggil Syiera. Dania menoleh kearah suara tersebut.
"Ada apa, sayang?" jawab Dania.
"PRnya aku gak bisa, Momy bisakan mengajarkanku," ucapnya sedikit memelas agar Dania mau mengajarinya. Dania terkekeh melihat wajahnya yang sedih dibuat-buat.
"Iya, Momy ajarkan, ayo," ajak Dania sambil berdiri. Lalu bergegas pergi meninggalkan Darren yang sedari tadi berdiri di balik pintu. Darren hanya terdiam melihat kepergian sang istri. Ia menarik napasnya berat mau pelepasan kecebong ternyata gagal total.
***
Darren kini berada di balkon kamarnya ia menghirup udara di sana. Angin sepoy-sepoy membuatnya merasa sejuk, sore ini cuacanya sedikit mendung seperti hatinya yang sedang kecewa berat akibat kegagalan tadi.
Tiba-tiba saja Darren teringat akan perkataan ibunya yang mengatakan bahwa jika ia belum bisa mencintainya, lakukan ini demi ibunya. "Mom, aku penasaran dengan ceritamu yang dulu." Kini Darren kembali ke kamarnya karena hujan sudah turun membasahi bumi.
Hari pun berubah menjadi malam. Dania yang sejak tadi sudah berkutat di dapur untuk menyiapkan makan malam untuk kedua orang terkasihnya. Karena Karren seperti biasa ia tak ada di rumah. Dania sudah biasa dengan kepergian ibu mertuanya.
Tak lama Darren pun datang. Namun tiba-tiba saja ia memeluk istrinya dari belakang. Dania merasa heran akan tingkah suaminya yang tiba-tiba saja seperti itu. Seketika Dania membalikan tubuhnya, ia menyentuh kening suaminya dengan telapak tangannya. Mengecek suhu tubuhnya.
"Tidak panas, kamu kenapa? Apa kepalamu kepentok?" tanya Dania heran. Darren sendiri merasa bingung dengan dirinya. Entah kenapa semenjak ia melihat Dania telanjang tadi, ingin rasanya ia menyentuhnya. Menikmati setiap jengkal tubuhnya.
"Daddy ... Apa yang daddy lakukan? Momy sedang masak jangan ganggu Momy!" kata Syiera yang baru saja datang. Syiera menjauhkan Darren dari Dania, seakan tidak suka dengan kedekatan mereka. Syiera hanya iri karena ia takut kasih sayang Dania berpaling darinya.
Dania tertawa kecil melihat tingkah konyol mereka. "Sayang ... Daddy hanya memeluk Momy, jangan ganggu Daddy." Darren kembali memeluk Dania. Tiba-tiba saja Syiera menangis karena merasa kalah dari ayahnya.
Dania melepaskan pelukan suaminya. Lalu mengarah pada Syiera, Dania mensejajarkan tubuhnya dengan Syiera. "Jangan menangis. Momy tetap milikmu." Seketika Syiera terhenti dari tangisannya. Lalu mengejek sang ayah dengan menjulurkan lidahnya.
"Daddy kalah. Buktinya Momy lebih menyayangiku." Darren tergelak mendengarnya. Memasrahkan apa yang terjadi. Darren mengalah demi Syiera, toh nanti malam juga Dania menjadi miliknya. Pikir Darren.
"Sudah-sudah. Sebentar lagi Momy selesai, kalian tunggu saja di sana." Tunjuk Dania ke arah meja makan. Kini mereka bertiga sedang makan dengan hikmat. Syiera begitu lahap memakan makanannya.
__ADS_1
Sampai Dania geleng-geleng kepala. "Pelan-pelan sayang makannya," Dania menasehati.
***
Darren berada di kamar, sejak tadi ia menunggu kedatangan Dania, namun tak kunjung juga. Hingga ia sudah beberapa kali merubahkan posisinya dari miring, telentang bahkan tengkurap. Sampai pada akhirnya ia tertidur sendirian.
Malam pun berubah, cahaya mentari yang menerobos masuk kedalam kamar tepat pada wajahnya. Karena silau Darren pun terbangun. "Sudah pagi." Ia melihat sekeliling tempat tidur ia yak menyadari bahwa ternyata ia tidur sendiri. Sebelu mandi, ia mencari istrinya terlebih dahulu. Dan sekarang ia mendapati istrinya yang berada di meja makan sedang menata hasil masakannya.
Dania menyadari akan kedatangan seseorang hingga pada akhirnya ia mengetahui siapa yang menghampirinya. "Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Dania pada suaminya.
"Tega sekali membiarkanku tidur sendirian." Dania terkekeh.
"Kenapa akhir-akhir ini dia manja sekali," gumam Dania dalam hati.
Darren lebih dekat menghampirinya. "Bau, mandi dulu, sanah," kata Dania pada suaminya yang hendak menciumnya. Dengan nakalnya Darren tetap melanjutkan aksinya. Ia mencium bibir istrinya sekilas. Lalu berlari karena Dania hendak memukulnya.
"Dasar," ucap Dania sambil geleng-geleng kepala.
***
"Siang ini aku ingin kamu membawakan makan siang untukku," kata Darren pada istrinya.
"Siap Bos," jawab Dania sambil memberi hormat. Darren senang melihat keceriaan istrinya di pagi ini.
"Ya sudah, aku berangkat, ya?" ujar Darren pada istrinya. Dani mengangguk tersenyum.
Dania melambaikan tangannya pada mereka yang hendak berangkat. "Hati-hati," sahut Dania di depan pintu. Darren pun melajukan kendaraannya menuju sekolah mengantarkan Syiera terlebih dulu.
***
Dania sudah menyiapkan makan siang untuk suaminya. Bahkan ia sudah siap untuk berangkat, Dania terlihat sangat cantik sekali hari ini ia menggunakan baju berwarna dres berwarna hitam sangat pas di tubuhnya. ia berlenggok sedikit di depan cermin. Tak lama ia pun berangkat.
Setibanya di sana, ia menghubungi Darren terlebih dulu. Karena orang kantor belum ada yang mengenalnya siapa dirinya. Setelah memberitahukan keberadaannya pada suaminya tak lama seorang wanita menghampirinya. Ia adalah sekretarisnya Darren yang bernama Genik.
__ADS_1
"Dia 'kan perempuan kemarin, dia siapanya si Bos?" gumam Genik.
"Maaf, Nona yang bernama Dania?" tanya Genik setelah berada di depannya. Dania mengangguk.
"Mari ikut saya, Pak Bos sedang meeting, saya diperintahkan untuk menjemput Anda di sini." Dania pun mengikuti Genik.
"Nona tunggu saja di sini, Pak Bos mungkin sebentar lagi selesai." Lagi-lagi Dania mengangguk. Genik pun berlalu pergi.
Kini hanya Dania seorang diri di ruangan suaminya. Tak lama kemudian seseorang masuk ke dalam ruangan itu. Dania kira yang masuk adalah suaminya. Namun ternyata ...
"Kamu ... Sedang apa kamu di sini?" tanya Dania pada orang itu. Dania menatap tajam padanya.
Orang itu menghampiri Dania lebih dekat, bahkan sangat dekat. "Kamu mau apa?" tanya Dania kembali. Orang itu menyeringai penuh arti padanya.
"Jangan belaga suci, aku tahu kamu menginginkannya 'kan. Aku bisa memuaskanmu," ucapnya kurang ajar.
Dania mendorongnya hampir terjungkal. Orang itu pun dengan marahnya menyerang Dania nyaris menciumnya.
"Sayang ...," panggil Darren. Betapa terkejutnya Darren melihat istrinya yang sedang tertindih di bawah sana.
"Leo ... Apa yang kamu lakukan!" Darren murka melihat adegan itu.
Dengan santainya Leo bangkit dari posisinya, lalu merapihkan kerah kemajanya.
"Bro, dia yang menggodaku," jelas Leo berbohong. Darren dengan percayanya langsung menatap tajam ke arah Dania. Bahkan Dania membelalakkan matanya tak percaya pada apa yang diucapkan Leo barusan.
"Dania ..." Darren langsung mencekal lengan Dania dan menariknya secara kasar.
"Aku bisa jelaskan, ini tak seperti yang kamu kira." Dania meronta kesakitan cengkraman Darren begitu kuat di pergelangan Dania.
Sementara Leo tersenyum licik ke arah mereka. Ia pun pergi begitu saja, ini rencananya untuk menghancurkan Darren kembali.
Dengan kuat Darren menyeret Dania masuk ke dalam kamar yang ada di ruangan Darren. Ia menghempaskan Dania hingga Dania tersungkur di lantai.
__ADS_1
Bersambung