Terpaksa Menikahi Pelacur

Terpaksa Menikahi Pelacur
Episod 27


__ADS_3

Setelah merasa puas berbelanja, Dania pun meminta pada suaminya untuk segera kembali ke risort karena ingin beristirahat. Pasalnya ia baru sembuh dari tragedi kemarin. Darren yang mengerti pun langsung mengiyakan keinginan istrinya.


"Syiera ... Ayo kita kembali, nak. Momy sudah kelelahan?" ajak Darren pada anaknya. Syiera pun mengangguk mengiyakan.


"Momy cape?" tanya Syiera.


"Hmm, sedikit," jawab Dania sambil menuyun tangan anaknya.


"Sepertinya Momy sudah di risort, deh," ujar Darren dalam perjalanan menuju risort.


"Oh ya," sahut Dania " Cepat sedikit, sayang. Kasian Oma menunggu kita terlalu lama." Dengan cepat mereka kembali.


Ternyata dugaan Darren benar, ibunya sudah berada di sana. Duduk di kursi meja makan tadi yang sempat mereka duduki. Karren terseyum mendapati anak dan menantu beserta cucunya yang terlihat seperti keluarga yang harmonis. Semoga tidak terpisahkan apa pun yang terjadi. Pikirnya.


"Maaf ya, Mom. terlalu lama menunggu?" ujar Dania sesampainya di samping ibu mertuanya.


"Tidak. Momy baru sampai, ko " jawabnya sambil terseyum.


"Oma ...?" panggil sang cucu.


"Sini, sayang," ajak sang nene.


"Kalian istirahatlah, biar Syiera bersama Momy," sahut Karren pada anak dan menantunya.


"Ya udah, yuk? Katanya tadi cape mau istirahat," ajak Darren pada Dania.


"Mom, Dania ke kamar dulu, ya?" Ia mendapat anggukan dari ibu mertuanya.


***


"Mau aku buatkan minum?" tanya Darren pada istrinya. Setibanya di kamar. Pasilitas kamar lumayan lengkap ada sebuah dapur kecil untuk mereka. Dania mengangguk, bertanda ia mau.


Darren memberikan minuman yang telah dibuatkan untuk istrinya. Dania pun menerimanya.


"Mau tambah enak gak, rasa dari minuman itu?" Dania hanya melongo merespon perkataan suaminya.


"Maksudnya?" tanya Dania tak mengerti. Lalu Darren mengambil gelas yang di pegang oleh istrinya, ia menenggak minuman itu. Tapi ia tak menelannya. Darren memajukan wajahnya tepat di hadapan Dania hingga wajah mereka nyaris bersentuhan.


Darren menganggukkan wajahnya. Memberi isyarat agar Dania mau membuka mulutnya. Dania hanya berpura-pura tidak tahu apa maksud dari suaminya. Hingga Darren merasa sedikit kesal terhadapnya. Karena tak ada respon dari istrinya, dengan cepat Darren menarik ceruk leher istrinya. Sentuhan itu pun terjadi hingga cairan yang berada di dalam mulut Darren habis tak tersisa.


Mereka melepaskan sentuhan bibirnya. Mereka berdua terengah-engah karena oksigen mereka mulai habis akibat perpaduan kedua bibir mereka.


"Bagaimana? Nikmatkan rasanya?" tanya Darren pada istrinya. Dania mengulum senyum karena tak menyangka akan perbuatan Darren yang menurutnya akan senekad itu.


"Mulai nakal, ya?" ujar Dania sambil mencubit hidung suaminya.

__ADS_1


Dengan gemas Darren kembali mencium istrinya. Hingga sebuah ketukan pintu terdengar di pendengaran mereka.


"Mom ... Dad," panggil Syiera.


"Syiera," ucapnya bersamaan.


Dania merapihkan rambutnya yang sedikit acak-acakan. Sedangkan Darren mengusap bibirnya yang masih basah akibat peraduan barusan.


"Ya, sayang," jawab Dania setelah membuka pintu.


"Darren mana?" tanya Karren yang baru saja masuk. "Kamarnya, ok," ujarnya lagi sambil manggut-manggut.


"Ya, ada apa, Mom?" Darren tersenyum ke arah ibunya.


"Momy mau pulang, tapi Momy ajak Syiera ke rumah. Gak papakan?" ijin Karren pada putranya.


"Loh, ko pulang sih. Liburannya sebentar, dong." Dania sedikit memanyunkan bibirnya, karena ia masih merasa betah berada di sini.


"Kalau kalian masih ingin di sini, silahkan. Momy pulang sama Syiera aja, iyakan sayang?" kata Karren pada Syiera. Syiera mengangguk pasrah. Padahal Syiera masih ingin berada di sini. Tapi sang Nenek yang menyuruhnya untuk pulang. Dengan di iming-imingi akan punya dedek bayi kalau nanti dia pulang. Syiera antusias mendengar kata bayi, ia langsung menerima ajak Neneknya.


Padahal Karren memang sengaja menjemput Syiera, agar Darren dan Dania semakin dekat. Cepat-cepat agar mereka memiliki momongan. Itu tujuan Karren menjemput cucunya.


"Ada aku di sini yang nemenin kamu," seru Darren sambil merangkul pundak istrinya. Tapi, Darren malah mendengar Dania merintih kesakitan di bagian pundaknya. Dengan cepat Darren langsung memeriksanya. Ia melihat tanda memar itu masih ada, bahkan kejadiannya sudah dua hari yang lalu.


Tapi sebelum Dania menjawab, ibu mertuanya lebih dulu melihat pundak Dania.


"Ya, ampun ... Itu kenapa, Dania?" tanya Karren. Pasalnya Karren tidak tahu yang sebanarnya terjadi pada saat Dania sakit, bahkan ia tak tahu bahwa itu kelakuan anaknya.


"Sudah tidak apa-apa ko, Mom. Sedikit ngilu aja," jawab Dania sambil menatap ke arah suaminya.


"Sebaiknya kamu istirahat, ya? Momy pulang sekarang," pamit Karren pada mereka.


"Momy ... Syiera pulang, ya? Besok Syiera sekolah, jangan lupa pulangnya bawa dedek bayi, yang seperti Oma bilang." Karren malah belaga cuek seakan tak mendengar ucapan cucunya.


Dania hanya menggelengkan kepalanya, mengdengar keinginan anaknya. "Iya, sayang." Sebisa mungkin Dania menjawab, karena ia tak mau membuat Syiera kecewa.


***


"Hati-hati," ujar Dania saat mengantar anak dan ibu mertuanya ke mobil.


"Dadah ... Momy," kata Syiera sambil melambaikan tangannya dari dalam mobil tersebut. Dan mobil itu pun melaju hingga sudah tak terlihat baru Dania dan suaminya kembali ke kamar.


Setibanya di kamar.


"Buka bajumu," titah Darren pada Dania. Dania melototkan matanya tak percaya.

__ADS_1


"Ini masih siang," jawab Dania.


"Emang ada aturannya mengobati memar?" tanya Darren. Dania sempat berpikir, dia mengira suaminya mau berbuat mesum.


"Oh ... Aku kira apa?" Dengan senyum di paksakan.


"Pasti pikirannya mesum, iyakan?" tebak Darren. Hingga Dania sedikit malu dengan pikirannya sendiri. Tak lama Dania pun membuka bajunya, seperti apa yang disuruh suaminya. Hingga kini Dania hanya memakai bra saja.


Darren menelan salivanya dengan kasar karena ia melihat gunung kembar milik Dania di balik bra itu. Lalu ia menggelengkan kepalanya, menepis isi otaknya yang mulai berkelana.


"Maafkan aku, ya? Sudah membuatmu terluka," ucapnya sambil mengoles pundak istrinya dengan salep. Yang kini ia tengah mengobati istrinya.


Dania langsung merubahkan posisinya menjadi saling berhadapan dengan suaminya. Dania menangkup kedua pipi suaminya dan berkata.


"Jangan minta maaf terus. Aku gak papa." Dania mencium bibir suaminya sekilas lalu tersenyum. Dengan rasa bahagia Darren menerimanya.


"Makasih ya, sayang," ujarnya seraya memeluk istrinya.


"Coba ulangi lagi yang barusan," ledek Dania.


"Yang mana?" tanya Darren sambil melepaskan pelukannya.


"Barusan yang kamu bilang!"


"Iya maaf."


"Bukan itu! Yang sesudahnya."


"Yang mana, sih. Aku lupa," ujar Darren pura-pura.


Hingga Dania merasa jengkel dengan tingkah suaminya yang mulai nyebelin.


"Meyebalkan!" kata Dania sambil melipat kedua tangannya di dada dan memanyunkan bibirnya, sambil membelakangi tubuh suaminya.


"Cie ... Marah," goda Darren.


"Apa sih ... Gak jelas." Dania tambah memanyukan bibirnya. Darren terkekeh melihatnya. Lalu ia memeluk Dania dari arah belakang.


_


_


_


Tinggalkan jejak ya readers. Biasakan itu setelah membaca, dengan cara like dan komentar itu sudah membuat penulis menjadi lebih bersemangat dalam berkarya.

__ADS_1


__ADS_2