
Darren terlelap kembali, karena ia merasa tubuhnya lemas. Tak lama kemudian ia pun terbangun, karena ia harus ke kantor. Mungkin kalau tidak ingat dengan niatnya, ia akan melanjutkan kembali percintaan itu.
"Sayang, katanya mau ke kantor?" tanya Dania, Darren pun mengangguk.
"Kita mandi bersama, ya. Biar waktu kita tidak terlalu lama," kata Darren.
Dan mereka pun mandi bersama, tak lama kemudian acara mandi itu selesai. Dan mereka pun sudah memakai baju, tujuan mereka saat ini adalah meja makan. Karena ia harus sarapan terlebih dulu.
"Sepertinya Syiera sudah berangkat, ya?" ucapnya pada Dania.
"Sepertinya begitu," jawab Dania. Karena Mila dari kemarin ada di rumah Darren, perintah ibunya.
Setelah sarapan selesai. Mereka langsung berangkat menuju kantor. Dalam perjalanan, senyuman Dania selalu terpancar.
Begitu beda dengan Darren, Darren selalu kepikiran akan nasibnya ke depan. Di tambah lagi dengan mimpi buruk semalam.
"Kamu kenapa?" tanya Dania pada suaminya. "Hey ... Jangan melamun. Kamu 'kan lagi nyetir."
Darren terkesiap akan ucapan Dania, lalu ia menoleh ke arah istrinya dan tersenyum. "Aku tidak apa-apa, aku sedang memikirkan perkataan ku untuk nanti," ucpanya.
"Apa yang akan kamu ucapkan, sampai harus di pikirkan dari sekarang?" tanya Dania kembali.
"Aku akan mengumumkan tentang kita, dan aku hanya takut salah bicara saja." Pandangan Darren kembali ke depan, ia fokus dalam menyetirnya. Dania hanya tersenyum mengdengar penuturan suaminya. Bahwa Darren banar-benar membuktikan ucapannya.
Darren akan membahagiakan Dania, dan mulai dari mengenalkannya ke seluruh dunia bahwa ia adalah istri satu-satunya.
Setibanya di kantor.
Semua karyawan tertunduk hormat padanya. Sebagian para karyawan ada yang saling berbisik.
"Siapa ya, wanita yang bersama Pak Darren?" tanya salah satu karyawan pada karyawan yang lain. Karyawan itu hanya saling lempar pandangan, karena tak ada yang mengetahui siapa yang bersama Bosnya itu.
Dan kini Darren sudah sampai tepat di ruangannya, tak membutuhkan waktu lama baginya, karena ia menaiki lift khusus para pejabat.
"Pagi, Pak." Genik menunduk hormat. "Wanita itu, ada hubungan apa dengan pak Darren?" gumam Genik dalam hati. Dulu Genik pernah menanyakan siapa wanita itu pada Darren, tapi Darren tak menjawab. Karena waktu itu ia sedang marah pada Leo, setelah melihat CCTV waktu itu.
"Genik, hari ini adakan meeting ada yang saya ingin saya umumkan." Setelah mengatakan itu, Darren langsung pergi ke ruangannya. Sambil menggenggam tangan Dania.
__ADS_1
Genik semakin penasaran dengan perempuan itu. Ia juga melihat, Darren tak melepaskan genggamannya sama sekali. Tak lama ia pun mengumpulkan para staf di ruang meeting.
Setibanya di ruangan, Darren melepaskan pegangannya pada istrinya lalu ia mendudukkan tubuhnya di kursi kebesarannya. Sementara Dania, ia lebih memilih duduk di sofa.
Tak lama sebuah ketukan pintu terdengar di pendengaran Darren dan Dani.
"Masuk," kata Darren. Ternyata Genik yang masuk.
"Semua sudah kumpul di ruangan meeting, pak, ujar Genik setibanya di sana.
Darren bangkit dari duduknya, lalu menghampiri Dania, Dania mendongakkan wajahnya melihat suaminya. Darren mengangguk, mengatakan bahwa ia juga harus bangkit dari duduknya.
Dania yang mengerti pun langsung berdiri, dan mengikuti langkah suaminya.
Setibanya di ruang meeting, tanpa basa-basi, Darren langsung mengumumkan dan memperkenalkan bahwa yang bersamanya saat ini adalah istrinya.
Darren bernapas lega setelah mengatakan itu. Semua karyawan, mungkin tidak akan kalau tidak mendengarny secara langsung dari atasannya.
Hingga kabar itu langsung tersebar luas di media sosial.
***
"Aku harus mencari cara untuk menghancurkan semuanya."
***
"Sayang, aku bahagia sekali. Terima kasih, ya?" kata Dania.
"Terima kasih untuk apa?" tanya Darren pura-pura polos.
"Untuk semuanya, apa lagi yang barusan." Dania memeluk suaminya dengan penuh kasih sayang.
"Sudah 'ku bilang, aku akan membahagiakanmu." Darren mencium kening istrinya.
Sementara hatinya dan pikirannya, ia terus teringat akan kondisi sang ayah. Terbaring lemas tak berdaya di rumah sakit. Bagaimana caranya memberitahukan masalah ini pada istrinya.
Dania melihat suaminya melamun, ia pun memberanikan diri untuk bertanya. "Kok melamun sih, apa yang di pikirin?" tanya Dania sambil mengusap lembut tangannya. Darren menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Senyumnya ia tunjukan agar istrinya itu tak berpikiran yang tidak-tidak terhadapnya.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja, tak perlu mengkhawatirkanku," ucap Darren.
***
"Py, pappy bangunlah," kata Karren yang berada di samping suaminya.
Davin Alfian Narayan, ia belum sadarkan diri. Ia masih tergelatak lemas tak berdaya di atas branker. "Pappy yang kuat, ya. Momy yakin, anak kita pasti menolong pappy." Karren kembali menangis.
"Setelah Pappy bebas, Momy akan membawa Pappy ke luar Negri, Pappy harus sembuh. Pappy belum tahu kalau Pappy memiliki cucu yang sangat lucu. Momy juga berharap kalau Darren akan memberikan kita cucu lagi." Karren terus menggenggam tangan suaminya.
Lalu, Karren merasakan tangan suaminya bergerak, dengan cepat Karren langsung melihat ke arah wajahnya. Ia mendapati suaminya yang tersenyum ke arahnya.
"Pappy," ucap Karren. "Momy senang kalau Pappy sudah sadar, Momy panggilkan Dokter, ya?" Karren pun memanggil Dokter.
Tak lama Dokter pun datang, dan langsung memeriksa ke adaan pasien. Setelah Dokter selesai memeriksa. "Nyonya saya perlu bicara dengan Anda," kata Dokter itu. "Sebaiknya tidak di sini, mari ikut saya," kata Dokter itu lagi.
Karren pun mengekor dari arah belakang, dan kini mereka sudah ada di ruangan Dokter itu.
"Ada apa, Dok? Apa ada masalah?" tanya Karren kemudian.
"Kondisinya sangat lemah, saya sarankan untuk tidak kembali ke penjera. Maaf kalau saya lancang, Nyonya."
Karren pun berpikir mengenai hal itu. Tapi, apa Darren sudah membicarakan ini dengan menantunya. Karren malah melamun, sampai-sampai Dokter itu membuyarkan lamunannya.
"Nonya?" panggil Dokter itu
"Iya ,Dok. Maaf, saya melamun."
Dokter itu tersenyum, karena mengerti.
"Aku harus menanyakan masalah ini pada Darren, bila perlu aku akan memohon pada Dania, agar ia mau mengeluarkan Pappy," gumam Karren.
"Tapi, bagaimana kalau Dania tidak mau melakukan itu?" Karren pun sama memiliki pemikiran seperti Darren. Bagaimana kalau Dania malah membencinya dan meninggalkan anaknya.
Itu bisa menjadi masalah baru. Darren akan kembali terpukul jika harus di tinggalkan lagi dengan istrinya untuk yang kedua kalinya.
Karren menelusupkan wajahnya di kedua tanganannya.
__ADS_1
"Nyonya baik-baik saja 'kan?" tanya Dokter itu.
Bukannya menjawab, Karren malah meneteskan air matanya. Semuanya menjadi serba salah. Tapi, ia tetap akan mencobanya membicarakan ini dengan Dania. Karren harus yakin, semuanya akan baik-baik saja.