
Sesampainya di mansion.
"Ayo, masuk!" Titah Karren pada Dania yang baru saja turun dari mobil yang ditumpanginya. Sesaat Dania meregangkan otot-ototnya karena merasa pegal.
Dania melihat dengan tatapan takjub, dari luar saja sudah terlihat indah, bagaimana dengan seisinya?
Karren terkekeh melihat keluguan Dania. Kenapa dia bisa bertingkah seperti itu? Dania berlari kecil dan berputar dengan tangan melentang, menghirup udara segar di sana. Dania kira semua kota akan banyak polusi. Tapi tidak dengan di sini, di sini sejuk tak kalah seperti tempat yang ia datangi kemarin bersama Darren. Darren menggelengkan kepalanya melihat tingkah Dania. Polos atau emang kampungan?
Lalu Darren mendahului Dania dan ibunya. Darren menggendong Syiera yang tertidur. Dengan cepat ia memasuki rumahnya, diikuti oleh Dania.
"Waaahhh ..., ini rumah apa Istana?" ucapannya mampu membuat Darren tertawa. Dania yang polos malah melongo melihat Darren tertawa. Ternyata dia bisa tertawa juga ya? Semenjak Dania mengenal sesosok Darren, tak pernah ia melihatnya seperti barusan.
"Dasar," ucap Darren menggelangkan kepala sambil menaiki anak tangga menuju kamar Syiera berada.
"Nyonya, biar saya bantu." Seraya menghampiri Karren yang sedang menyeret koper.
"Rumah sebesar ini, apa tidak ada pembantunya?" Dania sejak tadi tak melihat security atau penghuni di rumah ini.
"Bukan tidak ada. Mereka semua ada di rumahku, mereka tidak tahu kalau kami akan pulang kesini," jawab Karren.
Dania terdiam seketika, kenapa wanita itu mendengar ucapan Dania? Pasalnya Dania berkata cukup pelan. Malah nyaris tak terdengar, apa wanita itu memiliki indra ke enam. Itulah pikiran Dania dengan polosnya.
"Ayo ...?" ucap Karren. Dania mengangguk.
"Koper itu bawa ke kamar Darren, ya? Kamarnya di atas," kata Karren menyuruh Dania. Lalu Karren pergi meninggalkannya.
Dania terus menyeret koper itu sampai tiba di atas. Dia bingung harus ke kamar yang mana? Di sana ada empat pintu. Dania membuka kamar itu satu persatu. Yang pertama ia buka kamar itu, terlihat banyak alat-alat olah raga. Pantas saja tubuhnya bagus seperti itu. Ternyata. Lalu Dania manggut-manggut seakan mengerti.
Kamar kedua, ia melihat seisi kamar itu. Kamar yang cantik berwarna pink Dania mengira ini pasti kamar anak itu, siapa lagi kalau bukan Syiera.
Tinggal dua pintu yang tersisa. Dania terus saja menunjuk pintu yang berdekatan itu.
"Kiri apa kanan, ya?" Seketika Dania tersungkur ke lantai, pasalnya ia akan membuka pintu yang sebelah kiri. Namun selagi akan membukanya, pintu itu malah terbuka karena Darren yang hendak keluar.
"Aaww ..., sakit," kata Dania yang masih tersimpuh di lantai.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Darren.
__ADS_1
"Bukannya membantu malah bertanya, ngapain? Ga lihat apa dengan koper itu!" sungut Dania kesal.
Darren hanya berlaga cuek terhadapnya.
Dengan cepat Dania berdiri seakan tidak terjadi apa-apa. Bukannya keluar dari kamar itu, Dania malah menerobos masuk tanpa permisi.
"Hey ..., mau kemana?" tanya Darren.
Dania tak menghiraukan pertanyaannya. Dia terus saja masuk ke dalam.
" Kamarmu bagus juga." Dania naik ke kasur terus dia meloncat-loncat bak anak kecil yang sedang bermain.
"Jangan norak! Ayo turun!" titahnya.
Dania malah cemberut. Dia benar-benar seperti anak kecil yang merajuk di saat sedang bermain terus dilarang orang tuanya.
"Usiamu berapa sih? Kaya anak kecil saja," sahut Darren setelah Dania turun dari kasurnya. Dari wajah, Dania memang terlihat lugu. Parasnya yang cantik dengan tubuh yang aduhai, pasti para pria dibuat tercengang olehnya. Tidak heran jika dia mampu menjadi seorang wanita penghibur.
"Umurku 23 tahun," jawab Dania jujur.
"Sejak lulus sekolah. Aku terpaksa."
Mendengar kata terpaksa, Darren berpikir bahwa ini bukan keinginan nya. Darren merasa kasihan apa yang telah menimpanya.
"Bagaimana dengan permintaanku dulu padamu?" tanya Darren.
Dania berpikir, permintaan mana yang telah di ucapkan lelaki itu? Bahkan Dania lupa.
"Itu ..., aku menyuruhmu berhenti dari pekerjaanmu!" Darren mengingatkan.
"Aku tidak bisa!" jawab Dania tegas
"Kenapa? Aku bisa membayarmu 2 kali lipat."
"Sudahlah aku tidak mau membahas masalah itu." Tidak semua Darren harus selalu tau bukan? Ini permasalahan hidupnya. Darren hanya orang asing yang mungkin hanya sesaat mengenali dirinya.
"Tapi, aku serius dengan perkataanku!" Ada nada keseriusan yang di ucapkannya membuat Dania berpikir, harus memberitahukan tentangnya menjadi seorang *******.
__ADS_1
"Aku sudah terikat kontrak, jadi aku tidak bisa berhenti begitu saja!" kata Dania apa adanya.
"Aku akan membayar kontrakmu, dan kau akan bekerja untukku, bagaimana?" tawar Darren padanya.
"Tapi aku tidak suka dengan kebohongan," jawab Dania.
Darren tak percaya bahwa Dania akan berkata seperti itu. Kata-kata itu membuat Darren teringat akan mendiang istrinya.
***
"Aku serius, kamu mau 'kan menikah denganku?" tanya Darren pada Kania.
"Aku tidak suka dengan kebohongan," jawab Kania. Waktu itu Kania melihat Darren bersama teman wanitanya, Kania menyangka Darren memiliki hubungan dengan wanita itu. Padahal itu hanya kesalah pahaman.
Dari situ Darren yakin bahwa Kania mencintainya. Disitulah Darren berjanji tidak akan membohonginya, karena Kania meminta pada Darren untuk tidak berbohong dan akan selalu jujur.
Kania pun menerima cintanya. Begitu besar cinta Darren pada Kania, tidak ada yang bisa menggantikan posisinya.
Tak lama dari situ hubungan mereka berakhir di pelaminan, hidup bahagia bersama orang yang kita cinta itu adalah mimpi setiap orang. Namun terkadang mimpi itu tak selalu jadi kenyataan. Seperti hidupnya yang kini malah ditinggalkan oleh istrinya untuk selama-lamanya. ***
"Hey ..., kenapa bengong?" Pertanyaan Dania mampu membuyarkan lamunannya. Sungguh sosok Kania yang tak bisa dilupakannya.
Ditambah lagi sekarang bertemu dengan wanita yang sama persis mendiang istrinya.
"Ti_tidak. Ayo kita turun ke bawah?" ajak Darren. Darren pergi dari sana lalu disusul oleh Dania.
"Mom, sedang apa?" Darren menghampiri ibunya yang sedang berkutat di dapur.
Karren hanya tersenyum menanggapi pertanyaan dari anaknya.
"Kenapa tak memanggil asistent ke sini?"
"Tidak perlu ada asistent, aku bisa membantunya," sahut Dania yang baru saja tiba. Dengan senyum di bibirnya membuat Karren lebih suka padanya.
"Ini yang bisa dibilang calon menantu," kata Karren begitu saja.
Dania menanggapinya hanya dengan senyuman. Karena tidak mungkin Darren mau bersanding dengannya. Dania cukup tahu diri akan hal itu, walau pun Darren memintanya untuk berpura-pura menjadi ibu dari anaknya. Namun Dania tak memanfaatkan itu.
__ADS_1