
Waw si Jalan Raya! Pekik Marissa. Lalu dengan tenang ia mendekati perempuan itu. Tapi Raya yang menyadari kedatangan mereka malah membuang muka walaupun dia juga mendapatkan rasa terkejut yang sama seperti halnya mereka.
Sambil berjalan mendekati Raya, tampak Marissa masih menarik senyum disebelah bibirnya. Dari wajahnya ia tampak menikmati pertemuan ini.
Dengan sengaja Marissa duduk dibelakang Raya.
Arya yang tak punya pilihan dan tak punya kata-kata hanya mengikuti Marissa. Laki-laki ini bingung harus bagaimana, ia terlalu canggung untuk menyapa Raya. Saking bingungnya sampai tak ada kata yang terucap. Lidahnya seolah kelu membeku.
"Ga nyangka ya kita bertemu setelah bertukar pasangan ditempat yang tak terduga ini. Lu pasti mau cek kondisi bayi dari hasil perzinahan lu sama si Kelvin ya?" nyinyir Marissa.
Ucapan Marissa tadi membuat jantung Arya berdebar kencang. Tujuan kalimat itu untuk Raya tapi entah mengapa hatinya menjadi sakit sekali saat mendengar ucapan tersebut.
Raya yang sadar pun tak kalah terkejut. Wajahnya tampak tak suka, kupingnya seolah menjadi panas memerah setelah mendengar perkataan Marissa, dengan geram ia pun membalas dengan menoleh sedikit ke belakang.
"Seenggaknya setelah bertukar pasangan, aku mengandung bayi dari pasanganku itu. Bukan bayi dari orang lain, parahnya lagi pasangan dari laki-laki yang sudah beristri, hehh." balas Raya meremehkan.
DEG.
Lagi.
Hati Arya lebih sakit dari sebelumnya. Perkataan itu berasal dari mulut Raya seolah bangga dan seperti tanpa penyesalan karena dia merasa perselingkuhannya lebih baik dari pada Marissa, apakah Raya harus berkata seperti itu padahal ia tau ada Arya disana.
Marissa yang tadi memancing Raya duluan kini ikut terpancing juga dengan ucapan Raya. Ia terlihat mengepalkan tangan sambil menggigit bibir bawahnya sebelum mulai bicara lagi.
"Seenggaknya bayi gue ada yang tanggungjawab dan sekarang status gue sudah menikah. Mau periksa kandungan juga ga sesedih elu, soalnya gue diantar sama suami gue yanggg.. Sahhhh." ucap Marissa setengah berbisik ditelinga Raya.
Raya membalikkan badannya memelototi Marissa dengan tajam.
"BTW mana laki lu kok ga keliatan? Jangan-jangan lu udah putus ya di campakkan sama dia? Hihihi." ledek Marissa sambil mengikik.
Arya yang hatinya terlanjur sakit kini hanya diam saja melihat kelakuan dua perempuan itu. Bukan karena ia senang menyaksikan perdebatan keduanya atau tidak mau mencegah Marissa berkata semaunya.
Dia sudah mencoba menghentikannya, memberi isyarat pada Marissa agar tidak melanjutkan ucapannya dan membuat masalah lebih jauh lagi, tapi Marissa malah merasa tertantang. Dan tak disangka Raya juga tak sungkan membalas perkataan Marissa yang membuat kepala Arya pusing dan jantungnya berdegup kencang saat mendengar perbincangan mereka.
Lalu bayangan tentang Raya di kafe bersama Kelvin yang tengah menertawakannya terlintas kembali dibenak Arya. Seperti tersadar bahwa dia sedang menginjak duri dengan kaki telanjang. Arya jadi merasa sedikit tidak bersalah mengingat perlakuan Raya padanya kaka itu. Ingatan dan kesakitannya seolah mampu memakan iba dalam hati Arya.
Marissa adalah pelakor dari laki-laki yang sudah menikah, dan Raya adalah pelakor dari laki-laki yang sudah memiliki pacar. Keduanya sama-sama pelakor dan juga sama-sama sedang mengandung. Untung saja yang menghamili dua wanita itu bukanlah pria yang sama. Meskipun begitu mengapa Arya yang harus ada disana, mengikuti perdebatan mereka seperti dialah yang bertanggung jawab atas kedua wanita itu.
Raya mengeram melotot pada Marissa. "Kamu tau apa tentangku? Kamu cemburu sekarang Kelvin sudah bahagia bersama denganku? Harusnya kamu sadar diri kenapa Kelvin mau sama aku bukannya kamu!" ujar Raya tapi omongannya tidak mengena di hati Marissa. Ucapan itu salah sasaran, bukan Marissa, tapi Arya yang jadi baper saat mendengar Raya seolah perkataan itu ditujukan untuknya.
"Gimana gimana? Coba terangkan mengapa gue harus sadar diri?" tanya Marissa sambil mendekatkan mukanya pada Raya "harusnya elu yang sadar diri kenapa lu dicampakkan si Kelvin sampai datang periksa kandungan seorang diri seperti ini? Lu ga tau kan kalau si Kelvin lagi mainin elu?"
"Maksud kamu apa bicara seperti itu?" tanya Raya kini dia berdiri.
"Maksud gue adalah... si Kelvin ga mau lagi sama elu. Sebelum gue nikah sama Arya dia bahkan sujud minta balikan lagi sama gue. Karena dia bilang udah males tuh sama lu. Tapi ya gue udah jijik sama manusia kayak dia terus gue tolak deh. Padahal udah bagus loh kalau kalian bersama, yang bekas sama yang bekas. Ahahaha" tawa Marissa renyah.
Mata Raya tampak merah. Arya rasa memang Marissa terlalu keras pada Raya, tapi apa yang dikatakan Marissa justru membuat hati Arya jadi membara, dan sudah diputuskan pembicaraan itu tidak akan Arya tentang. Karena menurutnya ucapan Marissa sudah pas pada tempatnya. Karena tak dapat dipungkiri kalau Arya masih marah pada Raya, walau hati kecilnya sedikit merindukan perempuan itu.
Arya juga ingat pada pengakuan Marissa dihari Raya pingsan dirumahnya. Kalau Kelvin mulai mengganggu lagi kehidupan Marissa. Sekarang dia dapat menarik kesimpulan, setelah Kelvin ditolak mentah-mentah oleh Marissa lalu ia mencari wanita baru, dan orang itu ada di instagram Kelvin yang dulu pernah ditunjukkan oleh Marissa.
Arya memang pria kaku tapi entah mengapa perasaannya jadi campur aduk sekarang, ada rasa kasihan pada Raya tapi juga tak dapat dipungkiri kalau hatinya kini senang karena Raya telah memulai ganjaran yang harus ia terima setelah menyakiti Arya. Dia juga berharap agar Raya mengerti perasaan ditinggalkan sama seperti yang dirasakan oleh dirinya setelah diperlakukan seperti ini oleh mantan dari kekasih yang sudah direbut Raya.
"Kurang ajar ya mulut kamu. Kamu berani sekali bicara Kelvin muak padaku padahal dia rela selingkuh denganku karena dia tidak bisa bahagia bersamamu." ucap Raya sambil menunjuk wajah Marissa.
"Loh loh. Buktinya sekarang dia ninggalin elu, apa itu juga karena dia tidak bisa bahagia sama elu?" tanya balik Marissa.
"Kamu ya bener-bener..." saat Raya ingin balik mengatai Marissa, sebuah suara menghentikannya
"Nomor antrian 24 silahkan masuk." panggil seorang perawat dari sebuah ruangan. Raya yang merasa nomor itu miliknya langsung meredam emosi pada Marissa.
Dengan tatapan sinis Raya membuang muka dari mereka lalu masuk kedalam ruangan sambil berjalan cepat.
"Ahahaha si Jalan Raya esmosiihh!" ledek Marissa saat Raya sudah pergi.
__ADS_1
"Marissa. Perkataan kamu tadi sudah cukup. Jangan menambah apapun lagi nanti saat Raya keluar." tegur Arya. Laki-laki itu tak ingin ada keributan ditempat umum jika mereka tak bisa mengontrol emosi satu sama lain.
"Kenapa?"
"Kita kesini buat periksa. Bukan buat berantem." jawab Arya tegas mengingatkan.
"Tapi lu suka kan ucapan gue barusan mewakili perasaan lu?" tanya Marissa mencermati wajah Arya.
Tapi yang ditanya diam saja enggan berkomentar.
"Ouhhh.. Apa lu sebenarnya ga suka gue ngomong kayak tadi?? Jangan-jangan lu masih cinta ya sama diaaa?!" selidik Marissa dengan ekspresi berlebihan kedua tangan dipipi sambil menganga.
Arya mengehela nafas. "Bukan gitu. Aku hanya mengingatkan tujuan kita datang kesini. Bertemu Raya hanyalah suatu kebetulan, jangan sampai kalian malah berantem ditempat ini, apalagi tadi aku lihat saat kamu komporin Raya, dia terlihat marah sekali, bahkan sepertinya juga sudah siap kalau harus adu fisik sama kamu."
"Wahhh.. Emang ya hebat yang pacaran 3 tahun mah udah ngerti karakter satu sama lain." puji Marissa menggoda.
Arya hanya geleng-geleng kepala malas. Ia menopang kaki kanan diatas kaki kirinya.
Bukan. Awalnya ku kira sudah mengenal Raya. Tapi nyatanya aku sama sekali tidak mengerti dia. Saat sudah menjadi orang asing aku baru bisa membaca sifat Raya, ditambah pengakuannya yang sanggup berakting dipernikahanku waktu itu. Mengingat semua itu rasanya ku kira Raya tidak akan peduli pada sekitarnya jika dia harus bergulat dengan Marissa.
Saat Arya termenung dalam lamunannya, sebuah notif pesan masuk pada smartphonenya dan betapa terkejutnya dia saat mengetahui itu dari Raya.
"Puas kamu lihat aku di perlakukan seperti ini sama si pelakor istri palsu kamu itu?"
Arya makin terkejut saat melihat isi pesannya.
Lalu sebuah notif masuk lagi.
"Sekarang kalian bisa menertawakan aku. Tapi lihat besok siapa yang akan tertawa. Dan jangan harap aku menyesal karena sudah membohongimu."
Arya terpuruk membaca pesan ini. Lalu sebuah notif muncul lagi.
"Kelvin lebih hebat segalanya dari kamu. Asal kamu tau, kamu itu hanya laki-laki pengecut! Aku juga tau kamu dulu nguping pembicaraan aku dengan Kelvin di kafe, iya kan? Dasar penguntit!"
DEG.
Arya baru ingat dulu dia sempat kirim pesan pada Raya waktu di kafe karena emosinya, dan karena itu ternyata Raya sadar akan kehadiran Arya disana.
"Kenapa muka lu pucat gitu?" tanya Marissa. Wajahnya sudah ada di bawah wajah Arya yang menunduk.
Arya cepat-cepat memasukan smartphone ke kantong celananya.
"Ga apa-apa." jawab Arya sekenanya.
"Serius? Tapi lu ga dengerin cerita gue dari tadi tau ga!" rengek Marissa manja seolah ia adalah istri yang dicintai oleh Arya.
"Emang kamu cerita apa?" tanya Arya.
"Tau ah bete gue! Malesin lu!" jawab Marissa merajuk.
Sesaat pintu ruangan yang dimasuki oleh Raya tadi terbuka dan tampak Raya keluar dari dalamnya lalu ia mendekati Arya dan Marissa.
"Arya," panggil Raya membuat degup jantung Arya tersentak.
"manusia munafik!"
Air muka Arya terlihat terpuruk mendengar itu.
"Dan kamu pelakor, aku ga pernah terima kamu perlakukan seperti tadi. Akan aku balas kamu, lihat saja nanti!" ancam Raya pada Marissa.
"Ah fucek lu, banyak gaya amat! Ngebacot doang. Lu beneran gila ya berkat ditinggalin mantan gue?" nyinyir Marissa sambil tersenyum sinis.
Raya tak menanggapi ocehan Marissa, dia hanya membalas dengan sebuah senyum meremehkan.
__ADS_1
"Lihat saja nanti!" ancam Raya lalu pergi begitu saja.
"Nomor antrian 25 silahkan masuk." panggil perawat tadi lagi. Marissa bergegas karena itu nomor miliknya, ia menggandeng lengan Arya masuk ke dalam ruangan itu. Arya masih menatap punggung Raya yang seolah kesepian.
"Mba, yang tadi baru masuk itu teman saya." kata Marissa tiba-tiba. Mendengar itu membuat Arya kaget. Mau apa sih Marissa?
"Oh, masa sih?" tanya perawat tadi yang sekarang sedang melakukan cek tensi pada Marissa.
"Iya, namanya Rayana. Kebetulan banget ketemu disini. Dia mau cek kandungan juga, ya?" tanya Marissa kepo.
"Iya, Mba." jawab perawat itu singkat.
"Tapi dia pernah cerita mau gugurin kandungannya, gara-gara ga punya suami." celetuk Marissa. Bukan hanya Arya yang terkejut tapi perawat itu pun sama terkejutnya.
"Loh Mba tau darimana tujuan dia kesini buat itu?" tanya perawat tadi keceplosan, dia sudah masuk perangkap Marissa.
"Tuh kan bener, Mba. Aduhh saya kasian sama anaknya punya ibu ga kuat iman gitu." nyinyir Marissa sambil menahan tawa tak percaya ucapan itu keluar dari mulutnya sendiri.
"Mba, jangan kenceng-kenceng ngomongnya nanti kedenger sama dokter disana." bisik si perawat.
"M.. Mbaa.. jadi bener tujuan Raya kesini buat itu?" tanya Arya terbata tak percaya.
"Iya Mas bener. Tapi kita tolak karena kami ga praktek hal seperti itu."
Perawat tadi menulis hasil tensi Raya. "Tapi jangan tanya-tanya dokter ya nanti saya kena semprot karena bocorin pasien lain." pesan perawat itu.
"Ohh oke Mba bisa diatur, rahasia aman." ujar Marissa sambil mengangkat jempolnya.
Setelah selesai periksa tensi diselingi perbincangan singkat itu Marissa langsung menuju dokter utama guna periksa kandungannya.
Arya termenung selama Marissa periksa. Apa sebenarnya yang terjadi pada Raya? Mengapa Marissa terlalu banyak tau tentangnya?
Bahkan setelah mereka lewati semua ini, Arya masih saja menjadi satu-satunya orang yang tertinggal tentang apapun diantara mereka.
Arya merasa bersalah sekarang karena tadi ia sempat berpikir bahwa Raya memang pantas untuk dibully oleh Marissa.
Tapi beban hidup yang sekarang sedang ditanggung Raya pasti sangatlah berat hingga ia ingin membunuh darah dagingnya sendiri yang sedang berjuang membentuk menjadi manusia seutuhnya.
Raya memang egois sekali, setelah dia menyakiti Arya tanpa rasa bersalah kini ia ingin melenyapkan anaknya demi kehidupannya yang nyaman.
"Ga punya hati banget ya si Jalan Raya!" sindir Marissa ditelinga Arya.
Arya diam saja. Hatinya terlalu gundah untuk menanggapi Marissa.
Setelah selesai periksa kandungan, mereka pun bersiap pulang, namun langkah Marissa terhenti oleh sesuatu yang muncul di hape nya.
"Udah ga waras nih orang!" ucap Marissa kesal.
Arya penasaran lalu diperlihatkan Marissa layar smartphone nya. Di layar itu ada sebuah pesan teks dari Mika.
"Mika? Istri Tio?" tanya Arya.
Marissa mengangguk. Dan betapa lebih tercengangnya lagi dia saat melihat isi pesannya.
Gue mau cerai sama Tio.
Gue minta 200juta kalau foto kalian ga mau kesebar. Kalau ngga gue ga menjamin foto itu aman karena ada orang yang ngincer foto asli yang viral itu dan nawarin kesepakatan uang.
Anggap aja gue masih berbaik hati sama lu.
Satu kata yang terlintas dalam benak Arya. Gila.
Ada apa ini sebenarnya dengan Mika tiba-tiba ingin cerai dengan Tio? Bukannya dulu dia yang terlihat ingin mempertahankan keluarga mereka?
__ADS_1
***