
Marissa keluar vila karena mendengar ribut-ribut di luar. Rupanya yang kepo akan keributan ini bukan dia saja tapi kedua orang tua Marissa juga kedua mertuanya.
"Maaf ya bapak dan ibu sekalian kalau kami datang mengganggu." Seorang lelaki paruh baya menggerakkan badannya sedikit membungkuk tak enak hati kepada mereka, sedangkan seorang anak laki-laki di sampingnya yang usianya diperkirakan masih belasan tahun menangis tersedu-sedu.
"Kedatangan kami ke sini karena ingin menanyakan apakah ada seekor kucing putih datang ke mari? Ciri-cirinya memakai kalung merah dengan bandulan lonceng keemasan. Maaf sebelumnya bukan maksud apa-apa, hanya saja kami khawatir bila kucing itu datang ke sini. Ini anak saya kehilangan dari kemarin siang sampai nangis-nangis dari semalaman karena sampai sekarang kucing itu belum juga pulang, barangkali dia mampir ke vila ini dan ada di antara penghuni vila ini yang melihatnya," ujar bapak tersebut dengan sopan.
"Wuaduh, saya kirain nangis kenapa toh, udah deg-degan jantung saya!" seru Pak Aga setengah bersyukur namun juga iba karena dia pikir anak itu menangis karena di ganggu oleh warga dalam vila ini meski Pak Aga tidak terlalu yakin juga sih.
"Iya, Om, Tante, maafkan atas kedatangan kami yang tiba-tiba dan bila mengganggu waktunya, tapi kami tidak punya pilihan selain menanyakan satu-satu rumah dan vila di daerah ini. Kami sedang berusaha mencari kucing itu sampai ketemu. Hiks.. Hikss.. Barangkali ada di antara Om dan Tante melihat kucing saya yang mungkin nyasar ke sini tolong beri tahu saya ya, Om, Tante," ucap si anak laki-laki dengan suara terbata-bata dan terisak.
Marissa sedih mendengar cerita kedua tamu itu apalagi si anak sampai menangis sedih seperti itu. Tiba-tiba otak Marissa bekerja dan dia tersadar, mungkinkah kucing yang di maksud itu adalah Cimol? Dari ciri-cirinya kok sama ya?
"Wah, jangan-jangan Cimol itu kucingmu, Dek?!" seru Marissa memberikan harapan.
Mata anak laki-laki itu membesar berbinar setelah mendengar keberadaan seekor kucing di tempat ini. "Ci-cimol?"
"Tunggu ya akan kakak bawakan ke mari, siapa tau itu kucingmu!" Marissa setengah berlari masuk ke dalam menuju dapur. Kucing yang dia usahakan untuk tidak ketahuan itu akhirnya harus ketahuan juga sebab kejadian ini bahkan terjadi di depan semua orang.
__ADS_1
Tak lama kemudian dia datang dengan menggendong seekor kucing berbulu putih lebat dengan kalung lonceng keemasan yang talinya berwarna merah. Selain suara kerincingnya yang berisik, suara mengeongnya pun tidak kalah berisik karena tau babunya datang menjemput.
Dari jauh anak laki-laki tersebut melihat kucing yang selama ini di carinya datang menghampirinya. Sambil di gendong Marissa, tangan kucing itu berusaha menggapai-gapai udara seolah akan melepas rindu. Anak laki-laki yang menangis itu pun terharu sambil berseru senang.
"Natassyyaaaaaaa..!" seru si anak laki-laki bahagia sambil berlari menghampiri kucing kesayangannya.
Cimol atau Natasya ini juga melompat pada pemiliknya tanpa ragu. Adegan ini sungguh terlihat mengharukan sekali bagi siapapun yang melihatnya. Kucing itu di gendong berputar-putar saking si pemiliknya sangat gembira. Rasanya seperti melihat kisah percintaan antara anak muda dengan siluman kucing betina, meskipun kucing ini jantan sih.
"Kamu kok bisa sampai di sini? Aku kan sedih kamu tinggalin! Nakal banget sih kamu! Gak tau apa kalau aku tuh gak bisa tidur semalaman gara-gara mikirin kamu?! Dari subuh buta aku dan Papa udah ke mana-mana mencari kamu! Eh kamu malah di sini bukannya pulang!" omel si anak laki-laki. Si Cimol atau Natasya ini cuma mengeong pasrah. Mungkin dalam hatinya berkata, 'maafin gue babu, huhuhu..'
Dunia yang di rasa milik berdua antara babu dan majikannya itu sudah kembali normal. Si anak laki-laki cepat tersadar kalau banyak pasang mata yang memperhatikannya. Sungguh menggelikan karena tatapan mata mereka berair semua alias mengharu biru.
Ayah dan anak laki-laki itu mulai menceritakan bagaimana kronologis kucingnya bisa sampai hilang.
"Kucing kami ini tadinya punya kekasih gelap yang suka ajak keluyuran, tapi suatu ketika Natasya ini mergokin pacarnya selingkuh. Dari sana dia depresi suka jalan-jalan sendiri, entah untuk memenangkan diri atau mencari pejantan lain. Dia sudah seminggu seperti itu, tapi baru sekarang saja mainnya bisa sejauh ini. Kami sampai kewalahan mencarinya, rupanya dia malah nyasar ke vila Bapak dan Ibu. Syukurlah Natasya bertemu orang-orang baik, terutama bertemu kakaknya yang sudah mau menjaga Natasya kami," puji bapak itu penuh syukur.
Marissa dan semua orang heran karena rupanya kucing ini mainnya jauh sekali sebab rute yang dia tempuh sudah beda blok dari rumah babunya yang ada di dataran lebih tinggi dari tempat ini.
__ADS_1
"Yah, si Cimol jauh amat mainnya, Mol!" ucap Marissa sambil mengelus kepala Cimol atau Natasya itu.
"Oh, iya. Maaf Pak, Dek. Waktu saya nemuin Cimol dia hampir tenggelam di kolam renang karena kakinya luka akibat nerobos pagar kawat di belakang vila. Maaf ya untuk itu, saya cuma bisa mengobati sekedarnya saja," jelas Marissa tak enak hati meski bukan dia yang melukainya.
Si anak laki-laki tersenyum tak mempermasalahkan karena itu terjadi akibat kesalahan kucingnya sendiri malah dia berulang kali berterima kasih pada Marissa karena sudah berkorban mau selamatkan kucingnya itu.
Setelah berbincang berapa lama mereka pun akhirnya pamit. Saat langkah makin menjauh, Cimol mencuri pandang ke arah Marissa seolah tak ingin berpisah. Marissa berkaca-kaca merasa tak ingin pisah juga tapi apa daya, dia tau Cimol itu bukan miliknya. Mau tak mau dia harus relakan kucing lucu yang baru ditemuinya itu untuk kembali kepada pemilik sesungguhnya.
Marissa mendesah lelah. Ah, habislah sudah! Tamat riwayatku, Papa pasti akan marah besar karena aku membawa kucing ke dalam vila ini.
Baru juga berpikir seperti itu, Papanya sudah bersin-bersin tak terkendali. Pak Aga punya alergi terhadap kucing, tapi uniknya alerginya tidak muncul saat itu juga melainkan setelah beberapa menit berdekatan dengan kucing. Karena itu dari kecil Marissa selalu di larang memiliki hewan peliharaan apapun terutama kucing meskipun Marissa sangat menyukainya.
"Maafkan Rissa ya, Pa. Karena Rissa bawa kucing itu masuk ke sini, alergi Papa jadi kumat lagi," sesal Marissa menatap lantai tidak berani langsung menatap wajah Pak Aga.
Tapi di luar ekspektasi sekali. Marissa yang menyangka akan di marahi malah di rangkul dan di peluk oleh Papa, "Kamu anak hebat! Papa bangga sama kamu karena mau selamatkan kucing di tengah malam seperti itu. Kamu tidak kena flu kan?" tanya Pak Aga memastikan tapi yang ada Pak Aga makin luar biasa bersinnya setelah memeluk Marissa karena di baju anaknya itu terdapat banyak sekali bulu kucing yang rontok.
Dekat kucing saja sudah alergi meski prosesnya lama. Ini malah langsung bersentuhan dengan bulu kucing yang menempel di baju Marissa.
__ADS_1
Uuhh, Pak Aga jadi bersin-bersin deh.
***