Terpaksa Menikahi Pelakor

Terpaksa Menikahi Pelakor
Taman Bunga Berdarah


__ADS_3

"Kenapa lu berbuat begini sama gue? Lu tau kan saat ini gue sedang hamil anak lu! Lagian gue juga ga tau apa-apa tentang kepergian Mika dan anak-anak kalian!" Marissa menangis tak tertahan.


Beberapa orang yang melihat pertengkaran Marissa mendekati mereka dengan usaha ingin melerai. Tapi nyatanya setelah mendekat, mereka jadi tak berkutik saat Tio mengehempas lengan seseorang yang mencoba menghentikannya.


"Mau apa lu semua? Mau sok-sokan jadi pahlawan kesiangan hah? Gue ga akan segan-segan ya buat ngelukain siapapun yang berani ikut campur urusan gue! Ngerti kalian?!" ancam Tio membuat mereka jadi berpikir dua kali. Bagaimanapun mereka juga takut terluka. Bukankah tujuan mereka ke rumah sakit ini adalah untuk mengobati orang yang sakit, mereka tak mau kalau jadinya malah membuat diri mereka sendiri jadi sakit!


Marissa yang telah kehilangan harapan akan pertolongan orang kini hanya bisa menangis pasrah. Yang penting baginya sekarang adalah bagaimana dia harus menjaga anak dalam perutnya.


"Lu pikir dengan lu nangis pegang-pegang perut gitu, terus gue bakal simpati sama lu, hah?! Asal lu tau ya, gue sama sekali ga peduli pada lu ataupun anak lu! Pelacur kayak lu mana bisa dipercaya! Lu mau bodohin gue dengan bilang itu anak gue hanya karena gak ada yang mau tanggung jawab kan! Bahkan saking frustasinya lu sampai nekat kawin kontrak sama orang lain! Harusnya lu senang dong sekarang udah ada yang mau tanggung jawab, harusnya lu jalanin hidup lu sendiri tapi kenapa lu malah ganggu keluarga gue?!" bentak Tio sambil mengguncang tubuh Marissa membuat siapapun yang melihat itu menjadi panik.


Seseorang tampak berlari menuju lorong rumah sakit guna mencari petugas keamanan.


Keributan ini memicu reaksi banyak orang. Banyak dari mereka yang menghujat Tio dan merasa iba pada Marissa, tapi tetap saja tak satupun dari mereka berani untuk melerai karena Tio terlihat seperti sedang kesetanan. Mereka takut jika ikut campur malah mereka yang bakal ikutan kena imbasnya, lagipula disana masing-masing dari mereka memiliki kerabat yang sedang sakit dan harus dijaga. Sulit rasanya untuk menerapkan sifat keprimanusiaan ditengah kelakuan Tio yang tidak berkeprimanusiaan.


"Lu bener ga mau jawab?" ancam Tio lagi makin memepeti Marissa di bibir anak tangga dan masih memegang kerahnya.


"Gue ga tau Tio! Sumpah gue ga tau dimana mereka berada!" Marisssa putus asa. Tanpa sadar dia memegang kantung infusannya dengan kencang. Marissa menoleh ke kakinya yang sudah di ujung, kakinya sudah tak punya pijakan lagi selain harus turun satu anak tangga ke bawah. Tapi karena badannya yang terdorong condong ke belakang sulit baginya untuk meraih pijakan tersebut.


"Lu tau? Mika mau cerai dari gue itu semua gara-gara lu! Dia sampai tega bawa semua anak gue! Ini semua karena lu kasih uang ke dia buat ninggalin gue! Lagian kenapa lu sampai hamil gini sih! Berapa banyak laki-laki yang tidur sama lu tapi lu malah ngarang cerita ngaku-ngaku itu anak gue! Gue tau itu bukan anak gue! Lu hanya mau balas dendam kan sama gue?! Gue ngerti akal busuk lu, lu kalau dendam cukup sama gue aja, ga perlu usik keluarga gue segala!" tuduh Tio menyebalkan merasa seolah jadi korban karena kehancuran rumah tangganya.


"Jadi sekarang gue minta lu ga usah pura-pura tolol lagi deh! Lu yang suruh mereka pergi artinya lu tau kan dimana mereka saat ini?!" Tio terus menekan Marissa dengan sebelah tangan mencekik kerah dan satunya lagi menunjuk-nunjuk wajah Marissa.


Mendengar itu ketakutan Marissa malah berubah jadi amarah. "Udah puas lu ngata-ngatain gue?! Kenapa lu jadi tutup mata gini sama semua perbuatan lu ke gue? Masalah keluarga lu pergi, itu urusan lu! Kenapa lu malah salahin gue? Harusnya lu ngaca! Mikir! Ini semua tuh karma buat lu! Lu yang dulu nipu gue, manfaatin gue, terus nanam janin di rahim gue, sekarang lu mau lepas tangan gitu aja tanpa ngerasa bersalah? Lu manusia apa iblis?" maki Marissa balik tak terima di pojokkan seperti ini.


"Kalau lu emang ga mau terima anak lu yang saat ini gue kandung, ya udah ga masalah! Biar gue sendiri nanti yang urus. Tapi tolonglah pakai otak, ga usah lu lampiasin amarah ke gue karena Mika pergi bawa semua anak lu! Ini kan salah lu, semua yang terjadi ini karena lu ga becus jadi kepala keluarga!" Marissa menatap Tio tajam.


"Lagipula bagus juga sih, akhirnya gue tau gimana pandangan lu sebenarnya tentang anak ini. Jadi gue bisa buat rencana dari sekarang, kalau nanti anak gue udah lahir, gue pastiin tidak akan sejengkal pun gue izinin lu buat lihat dia bahkan hingga dia tumbuh dewasa! Jadi gue minta sekarang lu lepasin gue atau lu bakal nyesal selamanya!" ancam Marissa sungguh-sungguh sambil melotot. Kini cintanya pada Tio pudar begitu mudahnya, kebencian yang dia tutupi rapat kini terbuka selebar-lebarnya.


Marissa tadinya ingin menutup mata dan memilih berdamai melupakan kebenciannya hanya semata-mata demi kebahagiaan anaknya itu ternyata salah. Kini dia harus menerima kenyataan pahit. Jangankan mendapatkan cinta sang ayah, menerima kehadiran anak itu dikehidupannya pun Tio tak sudi.


"Gue ga peduli sama semua omongan lu! Gue cuma minta lu kasih tau dimana keluarga gue berada sekarang!" ujar Tio terus menekan tidak peduli dengan amarah Marissa.


"Mesti berapa kali lagi sih gue bilang, kalau gue ga tau dimana keluarga brengsek lu itu berada! Ngerti?!"


Tio terkekeh menyeringai. "Oke! Kalau itu pilihan lu. Jangan salahin gue kalau lu juga bakal ngerasain kehilangan seperti apa yang gue rasakan sekarang!" ucap Tio.


Tanpa perasaan dan belas kasihan, dia melepas pegangan kerah Marissa secara tiba-tiba, membuat wanita itu kehilangan keseimbangan dan langsung jatuh berguling di lantai anak tangga, tangannya yang melambai di udara tidak sempat meraih Tio. Marissa terjatuh dengan suara yang cukup keras.


Darah segar mengalir membasahi lantai granit di taman itu. Selang infusan tampak terlepas dari lengannya dan akhirnya Marissa tak sadarkan diri seketika akibat benturan di kepalanya.


"Berani banget perempuan murahan kayak lu ancem-ancem gue dengan bilang gue ga bakalan bisa ketemu sama anak setan yang bahkan belum lahir itu. Sebelum lu larang dia ketemu gue, lu duluan yang ga akan pernah ketemu sama dia bahkan untuk satu detik tak akan pernah! Salah sendiri lu coba-coba besarin anak haram itu dan mengacaukan keluarga gue! Gara-gara lu, hidup gue jadi berantakan sekarang! Meskipun lu ga mau kasih tau dimana keluarga gue berada, gue bakal tetap cari mereka bahkan hingga ke ujung dunia sekalipun!" gumam Tio sambil memandangi tubuh Marissa yang terkulai bermandikan darah.

__ADS_1


Segala jeritan keluar dari orang-orang yang menyaksikannya. Tepat saat itu pula seorang petugas keamanan datang bersamaan orang yang memanggilnya tadi. Mereka berlarian menghampiri Tio. Petugas itu langsung meringkus Tio yang terlihat melakukan perlawanan. Banyak dari mereka yang menegerumuni Marissa untuk melihat keadaannya. Namun itu tidak berlangsung lama karena ada tiga orang perawat yang bergegas datang dengan membawa sebuah tandu, entah siapa yang memanggilnya.


Dengan sigap mereka membawa Marissa yang masih meneteskan darah segar menuju ruang IGD. Berberapa orang yang melihatnya bahkan sampai menangis.


Bu Aga yang sudah selesai dari toilet tampak bingung, dari kejauhan dia melihat keributan di taman. Bu Aga jadi khawatir pada Marissa. Dengan setengah berlari dia menuju tempat Marissa yang ia tinggalkan tadi. Namun, belum sampai sana tetiba saja Bu Aga berhenti bahkan hampir terjatuh saat melihat para perawat tersebut membawa seseorang di tandu dengan bermandikan darah dan orang itu adalah Marissa.


Bu Aga menjerit histeris memanggil nama anaknya. Seorang perawat perempuan memegangi Bu Aga dan menuntunnya untuk mengikuti kemana Marissa di bawa.


Sepanjang perjalanan Bu Aga menangis meraung-raung kesakitan. Ya, hatinya sakit sekali, bahkan nyawanya seperti hampir melayang. Ibu mana yang tidak akan merasa demikian bila melihat kondisi putri satu-satunya seperti itu. Dokter yang menangani Marissa di ruang IGD memutuskan untuk segera mengambil tindakan operasi. Mendengar itu Bu Aga menjadi sangat pusing dan lemas hingga kesadarannya benar-benar gelap dan hilang. Dia jatuh pingsan.


Setelah cukup lama Bu Aga membuka matanya dan ia tersadar sedang terbaring di sebuah ruangan. Kini dia tau bukan lagi Marissa yang dirawat di ruang IGD ini, melainkan dirinya sendiri. Selang infus mengalir di tangan kanan Bu Aga.


"Jangan banyak gerak dulu, Mbak. Nanti selang infusnya kecabut," seru Mama Arya dengan wajah sembap yang entah kapan sudah ada di sana menunggui Bu Aga. Di sebelahnya juga tampak Bibi yang sedang berurai air mata.


Bu Aga langsung tersadar, "Marissa! Marissa! Dimana Marissa! Di mana anakku?!" jerit Bu Aga histeris membuat pasien lain yang ada di ruangan itu terkejut karenanya.


Mama menenangkan Bu Aga. "Sabar Mbak sabar, tenang dulu Mbak!" pinta Mama mencoba menenangkan.


Di perlakukan seperti itu, Bu Aga malah jadi berpikir yang tidak-tidak.


"Sabar sabar kenapa Mbak? Marissa! Dia dimana? Dia kenapa? Dia baik-baik aja kan, Mbakkk? Biii.. Marissa Bi! Dimana Marissa Bi?!" tanya Bu Aga masih histeris pada kedua orang dihadapannya.


"Mbak, tenang dulu. Marissa sekarang sedang ditangani oleh dokter, dia sedang di ruang operasi Mbak," jawab Mama.


Mendengar itu Bu Aga jadi kalap. Dia menangis sejadinya sambil berusaha mencabut infusannya namun di cegah oleh Mamanya Arya.


"Mbak mau ngapain? Mbak yang sabar, Mbak. Jangan seperti ini, sudah Mbak tenang aja. Ada Pak Aga, Arya dan suami saya sedang menunggu di sana, Mbak. Jadi Mbak tenang ya, kasian Marissa kalau tahu mamanya seperti ini," ujar Mama Arya yang malah ikut meneteskan air mata.


Bu Aga akhirnya pasrah, dia mengerti ucapan Mama Arya dan kini hanya menangis kencang di tempatnya, badannya bahkan ikut berguncang.


Lama mereka terdiam sambil menunggu kabar operasi Marissa.


Mama, Bibi dan Bu Aga tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Tatapan mereka kosong, mungkin sebenarnya yang sedang dipikirkan oleh mereka itu adalah hal yang sama.


Bermacam doa teruntai dalam hati mereka untuk keselamatan Marissa dan berharap agar operasi itu dapat berjalan dengan lancar.


Sebuah nada dering menggema dalam ruangan itu. Ternyata sumber suara tersebut dari panggilan Arya yang menelepon Mamanya.


"Halo, Nak? Gimana? Kamu mau kasih kabar apa? Operasinya lancar? Marissa gak apa-apa kan?" tanya Mama menyerbu berbagai pertanyaan bahkan sebelum Arya berucap.


Bu Aga dan Bibi begitu antusias saat tahu Mama menerima telpon dari Arya.

__ADS_1


Bu Aga bahkan meremas tangan Bibi, berharap-harap cemas.


"Operasinya berjalan lancar, Ma. Tapi kondisi Marissa sekarang masih kritis akibat luka benturan di kepalanya. Dan..."


Mama mengulum bibirnya hingga bergetar menahan air mata agar tidak jatuh dan membuat khawatir dua orang yang sedang menungguinya untuk segera diberi tahu.


"Dan apa Arya?" tanya Mama cemas dengan jantung berdegup kencang.


Sama seperti Mama, Bu Aga dan Bibi juga jadi ikut tak tenang.


"Marissa kenapa Mbak?" tanya Bu Aga tak sabar, "biar saya saja yang bicara dengan Arya," Mama menatap Bu Aga nanar, dan melayangkan tangannya untuk memintanya menunggu sebentar.


Bu Aga tampak uring-uringan gelisah.


"Dan.. bayi Marissa tidak bisa diselamatkan karena benturan yang dialaminya saat jatuh dari tangga cukup keras," Mama menutup mulutnya menahan keterkejutan.


"Mbak, kenapa? Mbak kenapa Marissa, Mbak?!" tanya Bu Aga lagi tak kuasa untuk menahan sabar.


Mama menatap Bu Aga tak tega, "Marissa.. Marissa sekarang sedang kritis, dan... bayinya juga tidak bisa di selamatkan," ucap Mama menyesal dan tak dapat lagi membendung air mata.


Bu Aga seolah tak percaya, dia merasa seperti kehilangan nyawanya sesaat namun segera tersadar kalau ini bukanlah sekedar mimpi belaka. Bu Aga kemudian menjerit histeris tak tertahan, dia lalu melepas jarum infusnya tanpa peduli betapa sakit yang ia rasakan. Bibi dan Mama menahannya namun kekuatannya kalah karena Bu Aga yang sudah kalap. Bu Aga juga tak peduli bila harus jadi tontonan pasien lainnya yang berada di ruangan yang sama dengan mereka. Seorang dokter dan perawat pria masuk ke dalam ruangan itu dan memegangi Bu Aga supaya dia tenang. Bu Aga meraung-raung tak kuasa. Terpaksa dokter memerintahkan perawatnya itu untuk mengambil obat penenang dan menyuntikkannya supaya Bu Aga menjadi tenang.


Suasana yang ramai itu sampai ke telinga Arya yang mana ponselnya belum dimatikan. Dia memanggil mamanya namun tak menerima jawaban. Akhirnya dia bergegas ke tempat ini setelah menceritakan situasinya pada Papa dan Pak Aga.


Mama tahu perasaan hancur yang dirasakan oleh Bu Aga. Penyesalan dan harapan yang bertumbuk menjadi satu. Bu Aga kepayahan menahan sedih dan frustasinya saat mengetahui putri tercintanya itu sedang diambang hidup dan mati sekarang.


Bu Aga ingin pergi ke tempat Marissa berada, tapi mentalnya sekarang sedang tidak baik-baik saja. Dia tidak dapat berpikir jernih.


Bu Aga yang sudah menerima efek suntikan itu perlahan mulai tenang lalu perawat tadi menidurkan kembali Bu Aga di bangsalnya dan memasang lagi infusan yang tadi sempat dicabut olehnya.


Bibi terlihat sedih. Dia menangis dalam diam, sesenggukan hingga badannya ikut bergetar.


"Bi, sudah jangan menangis. Bibi tenang aja. Ibu ga kenapa-napa. Marissa juga pasti akan baik-baik saja kok. Dia kan anak yang kuat. Kita sama-sama doakan kesembuhannya ya," ucap Mama menenangkan padahal hatinya juga tak kuasa menahan sedih sama seperti yang mereka rasakan.


Meskipun Mama tidak dekat dengan Marissa, tapi tak dapat dipungkiri rasa sayang Mama terhadapnya perlahan mulai tumbuh sejak mereka tinggal bersama.


"Ma!" seru Arya sesampainya diruangan IGD.


"Arya, kok kamu malah ke sini bukannya nungguin Marissa?" tanya Mama heran.


Arya menghampiri Mamanya dan melihat Bu Aga tertidur di sebuah bangsal pasien dengan wajah yang pucat.

__ADS_1


Arya menatap Bu Aga yang tak sadarkan diri. "Kenapa Bu Aga?"


***


__ADS_2