
Arya menguap sangat lebar sambil bentangkan tangannya ke udara dan berjalan menuju dapur untuk mengambil minum. Dia menggaruk belakang kepalanya seperti orang kebingungan.
"Kamu ya enak-enakan bisa tidur sedangkan istri kamu kesakitan begitu," sentak Papa tetiba meletakan koran yang baru saja dibacanya lalu berdiri dari tempat duduk ruang keluarga yang sedari tadi ia lakukan sembari ngobrol santai dengan Mama.
Arya celingak-celinguk tak mengerti.
"Kamu cari siapa Nak? Marissa tidak ada di sini." kata Mama yang juga tiba-tiba nongol sambil membawa segelas teh untuk Papa.
"Loh maksudnya? Marissa emang ke mana?" tanya Arya linglung.
"Kemana kemana! Kamu tuh ya suami macam apa yang tidak peduli sama istrinya sendiri sampai seperti itu? Dia pulang ke rumah orang tuanya." kata Papa membuat Arya tersentak.
"Kenapa? Kok bisa?"
"Ya bisa lah. Orang kamu gak peduli sama dia!" jawab Papa lagi, melebih-lebihkan.
"Tadi Marissa sempat kesakitan karena lari-lari ngejar kamu. Tapi cuma sebentar sudah tak apa kok. Hanya saja dia tiba-tiba minta di antar ke rumah orang tuanya." Mama menjelaskan.
"Iya gimana gak minta pulang coba, orang kamu cuekin dia. Udah tau lagi sakit, tapi gak ada pedulinya sama sekali. Dia pasti kecewa banget sama kamu sampai minta pulang begitu!" protes Papa lagi.
"Siapa suruh nikahin dia sama Arya. Lagian ini kan hanya pernikahan kontrak, ngapain harus pake baper segala sih," sela Arya sambil mengambil minum.
Papa bertolak pinggang kesal. "Ini anak ya di bilangin!"
Arya menghabiskan minum lalu kembali ke kamar tanpa menggubris lagi Papanya yang masih mengomel di sana.
"Besok kamu jemput Marissa! Hey, Arya! Kamu dengar tidak?!" seru Papa namun tak Arya hiraukan.
"Sudah lah, Pa. Arya kan bukan anak kecil lagi. Kita juga yang salah nikahin dia tanpa keinginan dia sendiri, jangan terlalu berharap juga mereka punya perasaan yang sama nantinya. Sudah tahu anak kita tipe yang megang janji banget. Kalau kita bilang hanya sampe Marissa melahirkan, ya Arya akan bertahan sampai saat itu. Sekarang Marissa sudah keguguran, jadi Arya artikan sudah seharusnya kita melepas pernikahan mereka sekarang. Lebih baik Papa bicarakan lagi saja dengan Pak Aga. Jangan sampai kita merelakan kebahagiaan anak kita demi keegoisan Papa sendiri." Mama mencoba menasehati Papa.
"Apa? Mama bilang Papa egois? Ini semua Papa lakukan juga demi kebahagiaan Arya, Ma. Papa takut dia bertemu dengan wanita yang salah lagi. Kenapa Papa bersikeras dia dengan Marissa bukan semata karena bisnis Papa saja, tapi demi kebahagiaan Arya ke depannya. Kita sudah kenal Marissa dan keluarganya dengan baik. Papa hanya tidak ingin dia melakukan kesalahan yang sama lagi. Kasihan dia kalau tersakiti seperti yang sudah-sudah."
Mama mengelus punggung Papa. "Mama mengerti kecemasan Papa, tapi untuk saat ini biarkan Arya yang mengambil keputusannya sendiri. Beri dia kesempatan untuk memilih. Kalau dia memang berjodoh dengan Marissa, cepat atau lambat pasti Arya akan membuka pintu hatinya. Tapi kalau tidak, ya mau bagaimana lagi kan, Pa. Kita jangan memaksa kehendak kita padanya, karena Arya sendiri yang menjalani kehidupannya nanti."
Papa menghela nafas. Memikirkan matang-matang omongan Mama. Mungkin memang benar kalau semua ini harus dibicarakan lagi dengan keluarga Pak Aga. Rasanya akan sia-sia saja melanjutkan hubungan pernikahan anaknya tersebut jika orang yang bersangkutannya saja tak ada niat untuk melakukannya.
Besoknya pagi-pagi sekali saat semua orang sedang sarapan, suara roda menggelinding berputar-putar terdengar bertautan di atas lantai. Suaranya seperti membawa sesuatu yang berat.
__ADS_1
"Pagi semuaa..." sapa Marissa dari kejauhan sambil menarik sebuah koper besar berwarna pink fanta.
Semua tercengang. Mereka pikir Marissa minta pulang ke rumah Pak Aga karena marah pada Arya, tapi kenapa pagi-pagi begini dia sudah kembali dengan wajah ceria sambil menenteng koper segala? Dan apa isi di dalamnya?
Arya terpaku sambil memegang sendok sup tepat di depan mulutnya. Dia tersadar saat sendok itu tergelincir dari tangannya. Sup hangat dari sendok tadi memercik pada kemeja Arya yang akan dipakainya untuk kerja.
"K-kok kamu disini?" tanya Arya terbata.
"Kamu kok ngomong gitu sih Arya! Harusnya kamu senang Marissa sudah pulang bahkan tanpa kamu jemput!" sergah Papa "aduhh mantuku yang cantik ini, sini Nak. Sini, mari kita sarapan sama-sama," sambung Papa lagi mengajak Marissa dengan senang hati.
Marissa tersenyum ceria. Dia ikuti kata-kata mertuanya itu dan duduk di sebelah Arya.
"Kamu baik-baik saja, Nak? Sudah tidak sakit lagi?" tanya Mama sambil menyendok nasi ke piring Marissa.
"Rissa baik-baik aja kok, Ma."
"Oouhh.. Syukur lah kalau begitu. Ngomong-ngomong kamu bawa apa di kopermu itu? Besar sekali," tanya Mama kepo.
"Ooh itu pakaian Rissa, Ma. Kan sekarang Rissa sudah tinggal di sini. Bosen deh pakai bajunya itu-itu aja. Jadinya Rissa bawain aja semua baju Rissa dari rumah Papa." Senyumnya mengembang sangat polos.
'Padahal kemarin udah bagus ditolak mentah-mentah harusnya sadar! Bukannya bagus pulang ke rumah orang tuanya, eh ini malah balik lagi ke sini mana bawa baju banyak lagi!'
Arya menyuap lagi sesendok sup ke mulutnya. Namun saat Marissa melihat itu, dia terpekik "Ya ampun Arya! Yang bener dong kalau makan, itu kemeja kamu jadi kotor kan." Marissa mengambil serbet dan mengusap dada Arya.
Arya mencengkram lengan Marissa. "Tak perlu repot-repot dibersihkan. Lagipula aku mau ganti kemeja yang lain, mana mungkin aku ke kantor dengan kemeja yang kotor begini. Apa kata karyawan lain nanti kalau melihat aku seperti ini."
Setelah berkata seperti itu Arya berdiri, mendorong kursinya dan beranjak menuju kamar, namun dia balik lagi karena lupa minum air putih sebelumnya.
Saat Arya sudah kembali dengan kemeja barunya, suasana di ruang makan terasa riuh. Denting piring beradu dan suara tawa Marissa yang mendominasi memenuhi ruangan tersebut. Ditambah lagi Papa yang biasanya jarang bicara saat makan kini malah asyik bergosip bahkan tertawa terbahak-bahak. Mama dibuat kewalahan karena sibuk mengingatkan Papa supaya tidak tertawa saat makan. Takut tersedak.
"Arya berangkat duluan ya, Pa." Pamit Arya sambil membetulkan dasinya.
"Loh, tunggu bentar. Bareng Rissa aja, antarkan dulu istrimu ini ke kantor Pak Aga. Dia mau urus perpanjangan kontrak untuk brand ambassador salah satu produk perusahaan Pak Aga itu loh yang pernah kita bicarain waktu dulu,"
Arya berpikir sejenak. Ini Papa apa-apaan deh, sudah tahu Arya karyawan perusahaannya malah disuruh nganter Marissa dulu ke perusahaan lain, kan jadinya bikin dia telat nanti datang ke kantor Papa. Lagian Marissa kan anak Pak Aga mana kondisinya masih pemulihan begitu kok bisa-bisanya diminta datang ke sana cuma buat perpanjangan kontrak, padahal kan bisa dibawa aja ke sini.
"Papa lagi ke Shanghai sekarang, makanya gue gak bisa manja minta semua diurus masalah kontrak dan hal-hal yang berhubungan dengan itu di sini, jadi gue deh yang harus ke sana. Profesional kan gue?" tiba-tiba saja Marissa menjawab apa yang dipikirkan oleh Arya tanpa keluar kata yang terucap dari mulutnya lebih dahulu. Membuat Arya begidik ngeri seolah Marissa sudah tau apa saja yang Arya pikirkan.
__ADS_1
Arya memutar bola matanya. "Ya udah deh terserah."
"Yuk cus sekarang," ajak Marissa sambil berdiri. Lalu berpamitan pada kedua mertuanya.
"Sekalian lah tar disana gue mau pamerin suami gue tercintaahh ini sama orang-orang. Gak pernah kan kita ke kantor Papa duaan begini," goda Marissa terkekeh sambil menggandeng lengan Arya jalan bersama menuju pintu keluar rumah.
Saat akan naik ke mobil tiba-tiba Marissa teringat sesuatu.
"Eh bentar, gue lupa bawa tas! Tungguin bentar!"
"Iya buruan. Kalo lama aku tinggalin," ancam Arya sambil menahan senyum. Sebuah senyum penuh makna dan terkandung rencana.
Marissa terlihat setengah berlari masuk lagi ke dalam. Mungkin dia sudah tak sadar lagi perutnya terasa sakit atau tidak dengan guncangan seperti itu. Sama seperti halnya tadi, saking semangatnya akan berangkat dengan Arya sampai tas yang berisi dompet dan HP pun lupa ia bawa.
"Loh Nak kok balik lagi?" tanya Papa.
"Iya, Ma. Rissa kelupaan bawa tas," jawab Marissa sambil mengambil tasnya di atas kursi sebelahan dengan kursi yang ia tempati tadi.
"Mmhh.. pantesan Nak kamu lupa, orang tasnya di taruh di situ. Kita juga gak bisa lihat dari arah sini kalau ada tas di sana," kata Mama dan Marissa terkekeh dengan kecerobohannya.
"Ya udah, Ma, Pa. Rissa berangkat lagi ya.."
"Iya Nak hati-hati di jalan."
Baru saja berpamitan seperti itu tiba-tiba suara mobil Arya sudah berderum di ikuti suara pagar terbuka. Suara mobil itu terdengar semakin mengecil hingga hilang tak terdengar sama sekali.
"Itu tadi bukannya suara mobil Arya?" tanya Mama.
"Anak itu ya bener-bener!" ucap Papa geram.
Papa pergi keluar untuk mengecek keberadaan Arya diikuti Mama dan Marissa. Dan benar saja seperti yang Papa pikirkan. Arya dan mobilnya sudah tidak ada lagi di sana. Yang artinya Arya sudah pergi lebih dahulu meninggalkan Marissa.
Papa terlihat kesal sambil geleng-geleng kepala dan bertolak pinggang. Kesalnya itu semakin bertambah saat lihat wajah menantu satu-satunya itu tampak menunduk dan muram. :(
***
(Arya Arya kelakuan lu yaaa 😅)
__ADS_1