Terpaksa Menikahi Pelakor

Terpaksa Menikahi Pelakor
Perjalanan Malam


__ADS_3

Tanpa sadar, Arista terus menggaruk kepalanya selama jam pelajaran. Bukan karena gatal, melainkan karena bingung dan merasa aneh.


Tadi orang-orang kenapa ya? Kok bisa-bisanya nyangka gue sama Arya pacaran? Batinnya.


Di saat kebingungan seperti ini, dia malah menyalahkan dirinya sendiri. Kenapa tadi dia ga peka pada sekitar dan terlalu sibuk pada Arya? Kenapa dia terlalu cuek pada bisikan-bisikan setan, upss, maksudnya teman-teman sekelasnya! Dan kenapa juga sih mereka semua bisa salah paham ga jelas gini?


Apakah selama ini mereka belum puas ngehina gue sampai ngeluarin kata-kata jahat banget kayak tadi? Mereka ga kenyang ya ngejek gue terus? Batin Arista lagi.


Semua pikiran buruk jadi perdebatan di kepalanya.


Karena perasaan terhina inilah yang selama ini ia terima sehingga membuatnya menjadi pribadi yang cuek dan angkuh terhadap sekitar.


Dia sadar dia datang dari keluarga yang tidak berkecukupan. Teman-temannya pun tau itu. Tapi di sekolah, apa salahnya jika Arista selalu berusaha menjadi siswa unggulan? Karena keadaan ekonomi keluarga inilah alasan yang membuat dia ingin menjadi orang sukses kedepannya, sudut pandang yang ia yakini itu ternyata berbeda dengan teman-temannya.


Hal itulah yang membuat murid lainnya merasa kesal padanya. Sebenarnya mereka memaklumi pada awalnya, dan tak keberatan jika Arista bekerja keras di setiap pelajaran karena mereka pun sama-sama memiliki masa depan yang harus di kejar. Tapi mereka tidak paham dengan sikap dan cara Arista yang berlebihan. Contohnya jika ada ulangan atau PR yang terlupakan oleh guru, dia akan jadi yang pertama mengingatkan. Bahkan dia sering sekali menanyakan ulangan padahal BAB pelajaran belum tuntas dibahas.


Awalnya, teman-temannya itu biasa saja. Tapi mereka yang sudah muak melihat kelakuan Arista lama-lama menjauhinya bahkan ada beberapa anak orang kaya yang dengan sengaja tega mengatai fisik dan ekonomi keluarganya.


Masih teringat betul dalam kepala Arista kata-kata yang mereka ucapkan itu. Sudah hitam, jelek, rambutnya bau matahari kayak anak SD. Misikin pula! Tapi ko bisa-bisanya ya ga sadar diri di sekolah?! Belagu!


Sungguh menyakitkan. Kalimat itu selalu bermunculan dibenak Arista. Karena termakan omongan itu, akhirnya Arista selalu mandi dan sampoan setiap hari agar rambutnya tidak bau matahari seperti kata mereka, tapi percuma.


Alasannya itu bukan karena dia jorok atau jarang mandi. Tapi dia tidak punya kendaraan untuk pergi ke sekolah dan harus rela berjalan kaki berkilo-kilo meter dari rumahnya. Satu jam perjalanan sungguh menguras tenaganya sehingga dia harus bermandi lagi dengan keringat, juga matahari pagi itulah yang membuat rambutnya menjadi bau dan lempap, sudah cape badan ditambah cape pula dia harus mendengarkan omongan teman-temannya, sungguh sangat mernguras emosi dan tenaga.


Semua kesakitan yang ia terima inilah yang menjadi alasan dia jadi orang cuek, acuh tak acuh, jutek, sombong, angkuh, sok pintar. Sangat berubah dari kesan yang ia bawa pertama kali saat masuk sekolah, seorang yang humble, ceria, baik hati dan suka membantu sesama.


Bahkan teman yang dulu dekat dengannya pun kini mulai menjauhinya dan selalu berbicara seperlunya saja. Ketika ada pelajaran yang melibatkan kerja kelompok pun Arista selalu di asingkan, karena dia selalu ingin menjadi ketua tanpa memberi kesempatan pada yang lainnya.


Dan diantara semua teman yang tak baik itu, hanya Arya lah yang bersikap biasa saja padanya. Bahkan setelah hasutan yang ia dengar dari semua orang di kelasnya tetap tak mematahkan hubungan pertemanannya dengan Arista.


Itu semua karena ia tahu bagaimana kehidupan Arista yang sebenarnya. Dan alasan lainnya adalah karena kebaikan perempuan itu beberapa bulan yang lalu. Membuat kenangan yang selalu menggelikan perut Arya.


Ia masih ingat betul, waktu itu adalah saat-saat pertama masuk sekolah ketika menjadi murid baru, siswa SMA.


Sama seperti bayi yang baru lahir ke dunia, begitupula nasib anak remaja yang baru memasuki sekolah SMA nya.


Bengong, bingung, galau dan malu. Semua itu bercampur aduk bagi semua orang tak terkecuali Arya.


Walau dia mampu bersikap tenang, tapi tetap saja dalam hatinya ada ketakutan yang tak bisa dia utarakan, apalagi sifatnya yang memang tertutup dan pendiam membuatnya sulit bersosialisasi dengan lingkungan sekitar.


Dan semua perasaan itu tiba-tiba sirna saat ada seseorang yang ternyata mempedulikannya.


Dia masih ingat betul, malam pertama perkemahan pramuka yang di adakan sekolahnya. Tidak seperti orang lainnya yang mudah bergaul dan mendapatkan teman sepermainan, walau sudah beberapa bulan dia menjadi anak SMA, tapi sampai saat itu dia tetap saja tidak memiliki teman kecuali teman sebangkunya yang sama-sama pemalu. Tapi sangat disayangkan, temannya yang hanya satu inipun tak bisa hadir mengikuti perkemahan. Jadilah dia sendiri disana.


Hal itu membuatnya terasingkan dan seolah tak ada. Dan sangat terasa sekali ketika mereka harus mengikuti penjelahan malam dimana mereka membentuk kelompok yang tujuannya mempererat hubungan pertemanan, tapi cara ini tetap tidak cocok juga bagi Arya.


Sepanjang perjalanan dia hanya diam, dari pos menuju pos berikutnya dia tetap diam seolah hanya menjadi pelengkap anggota saja. Seperti hantu yang berjalan mengikuti kelompok itu.


Hingga suatu ketika, perutnya sakit. Hal itu membuat badannya tiba-tiba jadi panas dingin. Keringat keluar deras dari keningnya. Degup jantungnya begitu keras, dan jalannya mulai melambat.


Ada yang salah pada dirinya, tapi dia harus menahan gejolak ini. Berulang kali dia melirik kanan-kiri depan-belakang guna memastikan sesuatu.


Arya makin memperlambat jalannya. Dia sengaja membuat jarak membiarkan teman sekelompoknya jalan lebih dulu di depannya.


Saat dirasa situasi dan jarak dengan teman-temannya aman, Arya pun langsung melakukan aksinya.


DUTTT...


Ahhhh.. legaa!


Misi berhasil. Arya buang angin dengan sukses, setelah di tahan begitu lama sampai badan panas dingin. Walau sedikit meredakan sakit di perutnya tapi tetap saja keinginan untuk lebih dari sekedar kentut itu tetap ada, yaitu buang air besar. Tapi hal ini rasanya mustahil di lakukan mengingat dia masih harus melewati perjalanan malam dan juga tak ada tempat yang bisa digunakan untuk membuang hajatnya. Ga kebayang oleh pikirannya kalau harus buang 'itu' di semak-semak seperti di film-film.


Setelah dirasa misinya selesai, Arya pun mulai melangkah lagi untuk mengejar ketertinggalan dari teman-teman di depannya.

__ADS_1


Tapi baru saja selangkah ia jalan ada suara di belakang yang mengejutkannya dan sebuah tangan menepuk pundaknya.


"Gede banget!" Kata suara tersebut.


Arya terkejut sekaligus deg-degan. Siapakah pemilik suara tersebut? Apakah salah satu temannya? Apakah kakak kelas? Atau sesuatu yang tak terlihat? Apakah dia mendengar apa yang tadi Arya lakukan?


Rasanya sama seperti di film horror, bulu kuduknya berdiri seketika dan ia mencoba menoleh ke belakang pelan-pelan.


Dan betapa terkejutnya dia ternyata ada seorang perempuan berambut model 'curtain hair' berdiri disana. Rambutnya yang mirip gorden itu menutupi wajah perempuan tersebut. Membuatnya tampak seram.


Arya hampir teriak sesaat sebelum dia melihat bahwa kaki perempuan tersebut ternyata menginjak tanah. Sebuah kepastian pun muncul, bahwa perempuan itu adalah manusia.


Tapi siapa? Sebelum berpikir lagi, dia bernafas lega terlebih dahulu. Aduh, hampir saja dia teriak kencang karena ketakutan. Dan lebih bersyukur lagi dia tidak kencing di celana atau mungkin hal yang lebih parah dari itu mengingat perutnya sedang keroyokan akibat sakit tak tertahan.


"Kenapa syok gitu? Malu ya ada yang denger kentut elu?" Tanya perempuan itu sambil membetulkan posisi rambutnya, mengibaskan ke belakang.


Seketika wajah Arya pucat. Ternyata benar, ada yang mendengarnya, padahal Arya sudah berusaha untuk menutupi hal memalukan itu. Tapi bagaimana bisa dia mendengarnya dan Arya tak sadar kalau ada dia di belakang?


"Ayo, jalan lagi. Tar ketinggalan yang lainnya." Ajak perempuan itu.


Arya bengong, belum bisa menetralisir keadaan.


"Woy Arya! Buru ih, mau lu ketinggalan terus nyasar? Bisa-bisa di culik setan loh!" Kata perempuan itu lagi yang sudah berjalan lebih dulu didepan Arya.


Ucapannya kali ini membuat Arya tersadar, dan dia baru ngeh. Kok anak perempuan itu bisa tau namanya?


"I.. iya tunggu!" Arya menyusul langkah perempuan itu dan ragu-ragu bertanya.


"K-kok kamu bisa tau nama aku?" Tanya Arya terbata.


"Ya taulah, kan kita sekelas. Gue hapal semua nama anak di kelas termasuk orang pendiam seperti lu." Katanya sambil memasukan kedua tangannya ke dalam saku jaketnya karena suhu malam semakin dingin. "lu juga tau kan siapa gue." Katanya lagi.


Tak ada jawaban dari pertanyaan itu, perempuan itu menoleh pada Arya.


"Astaga, sudah berbulan-bulan kita satu kelas tapi lu ga tau nama gue? Apa jangan-jangan lu juga tau kalau gue sekelas sama elu?" Tanya perempuan itu.


Arya ragu untuk menjawab, tidak baik kalau ia jujur mengatakan kalau memang dia tidak tau kalau ada anak perempuan ini di kelasnya.


"Iye dah, ga usah di jawab juga gue tau sebenarnya lu gatau kan kalau kita sekelas. Gue Arista, yang mejanya kedua dari barisan kedua sebelah kanan." Kata Arista memperkenalkan diri tanpa diminta.


Setelah mendengar itu Arya tetap tidak ngeh, dia yang duduk di meja ke empat sebelah kiri di baris paling pojok seharusnya bisa melihat Arista tapi dia tetap tidak ngeh.


"Lu pasti masih ga tau juga kan kalau gue duduk di sana? Apa lu ga hapal teman-teman sekelas lu? Apa jangan-jangan lu juga gatau siapa wali kelas lu dan siapa teman sebangku lu?" Tanya Arista.


Mendengar itu Arya segera menyanggah "Taulah! Teman sebangku ku itu Rizal. Wali kelasku Pak Gala." Kata Arya berusaha membela diri karena omongan Arista merujuk seolah-olah Arya hidup dalam gua yang tak mengenal dunia.


"Ohh, baguslah gue pikir lu ga tau. Kirain ke sekolah cuma buat buka buku doang terus pulang." Ledeknya.


"Inget ya, nama gue Arista. Parah banget lu kalau sampe lupa lagi sama gue." Kata Arista lagi, menegaskan. Semburat senyum muncul di wajah Arya. Baginya Arista ini tipe anak yang lucu.


"Iya, aku bakal inget kok nama kamu Arista. Tapi, kalau boleh tau kok kamu ada di belakang aku tadi, kenapa ga bareng-bareng sama kelompok di depan?" Tanya Arya menguak rasa penasarannya.


"Lu inget ga tadi di pos sebelumnya ada angota kita yang sakit? Dia itu si Wiwi, teman sebangku gue. Gue tadinya di minta Wiwi buat temenin dia disana tapi kata kakak penjaga posnya ga perlu di tungguin jadi gue di suruh ngejar kelompok kita, nah lari-larilah gue karena takut ketinggalan, kan. Tapi tanpa sadar ternyata ikat rambut gue terjatuh entah dimana, dan terpaksa deh gue balik lagi buat nyari tapi ga ketemu. Karena gue takut ketinggalan makin jauh ya gue cepet-cepet kejar kalian, eh taunya malah nemuin pertunjukan. Pfftt.." Jelas Arista sambil menahan tawa.


Wajah Arya memerah karena tau arti dari pertunjukan itu apa.


"Jangan ceritain hal itu ke teman lainnya ya? Plis!" Mohon Arya.


"Kenapa? Malu lu ya?"


"Ya iyalah, masa hal kayak gituan di umbar-umbar." Jawab Arya.


"Iya ya, mana udah usaha sembunyi-sembunyi lagi ya kan? Ahaha." ledek Arista sambil cekikikan.

__ADS_1


Arya gondok, tapi ga mungkin juga dia marah. Bagaimanapun itu aibnya. Bahaya kalau dia sampai membuat Arista marah. Bisa-bisa perempuan ini cerita ke teman lainnya, betapa malu Arya nanti.


"Iya, tenang aja rahasia lu aman sama gue. Tapi lu ga apa-apa kan? Lu mules apa gimana?" Tanya Arista.


"Iya, sakit perut tapi bingung mau gimana. Ga mungkin kan aku buang disini. Jadi, ya tahan aja dulu lah sampe selesai perjalanan." Jawab Arya pasrah.


"Ya ampun! Ga baik loh nahan sakit perut gitu. Sekarang masih sakit apa gimana?"


Arya mengangguk.


Melihat itu, Arista inisiatif mengeluarkan kayu putih yang sengaja ia bawa dari dalam kantong jaketnya.


"Nih pake ini dulu buat angetin perutnya." Ujar Arista sambil menyerahkan kayu putih tersebut.


"Bener nih ga apa-apa aku pake?" Izin Arya memastikan.


"Yaelah, kalau gue kasih berarti gue izinin dong." Jawab Arista "sana pake dulu gue tungguin." Kata Arista membelakangi Arya.


Arya pun memakaikannya dengan cepat. Sambil mengusap kayu putih itu di perutnya, dia melihat Arista berjongkok memungut sesuatu.


"Udah belum?" Tanya Arista tak sabar.


"Iya udah." Jawab Arya berjalan mendekati Arista setelah merapikan kembali bajunya.


"Nih!" ucap mereka serempak.


Arya mengulurkan kayu putih milik Arista dan Arista mengulurkan sebuah batu kecil untuk Arya.


"Loh itu batu buat apa?" Tanya Arya heran.


"Nih kantongin batu. Niscaya lu bakal ketahan mulesnya. Kata Mama gue, kalau kita lagi sakit perut tapi kondisinya ga memungkinkan buat buang air besar, ini salah satu cara untuk menahannya. Kita harus kantongin batu." Terang Arista.


Arya merasa aneh. Baru kali ini dia mendengar ada kepercayaan seperti itu. Tapi karena melihat niat baik Arista yang ingin membantunya dia pun mengambil batu tersebut dan segera mengantonginya.


"Kayu putihnya juga lu kantongin aja, buat jaga-jaga tiap mules lu datang lagi, jadi gampang langsung pake." Kata Arista, dan Arya menurutinya lagi.


"Makasih ya." Ucap Arya malu.


"Iya kalem aja." Jawab Arista sambil berjalan beriringan dengan Arya.


Tiba-tiba sebuah cahaya menyorot dari depan mereka.


Asalnya ternyata dari lampu senter, cahaya itu mengarahkan pada muka Arya dan Arista secara bergantian.


"Woy dari mana aja kalian? Jangan mencar-mencar dong. Pacaran ya kalian?" Sebut sebuah suara dari pemilik senter yang di susul dengan suara tawa dari sekitarnya.


Ternyata itu teman-teman satu kelompok mereka sedang menunggu disana.


Setengah berlari Arya dan Arista pun bergegas menyusul kelompok tersebut.


"Yee pacaran aja ya kerjanya," ledek orang itu lagi "pacarannya di tunda dulu ya, kasian nih yang lain pada nungguin. Anggota kita kan harus lengkap sebelum masuk pos. Jadi jangan mencar-mencar." Sambungnya lagi mengingatkan, karena bagaimanapun si pemilik senter ini adalah ketua kelompok yang harus memastikan kelengkapan anggotanya dan bertanggungjawab membawa mereka hingga sampe pos terakhir.


"Iya maaf, kita bukan pacaran, tapi tadi gue kehilangan ikat rambut gue. Dan Arya bantu cari tapi ga ketemu." Jawab Arista berdusta walau tak sepenuhnya bohong.


"Ohhh pantesan rambut lu awut-awutan kayak kunti." Celetuk salah satu teman perempuan di kelompok itu.


Lalu temannya yang lain mencubit lengan orang tadi hingga dia kesakitan "Ssstt! Kalau ngomong tuh hati-hati tar yang asli yang lu sebutin tadi denger gimana?"


Seusai bicara seperti itu, suasana di kelompok tersebut menjadi tegang karena sudah mengungkit-ngungkit perihal setan. Karena memang mitosnya mereka yang tak terlihat itu akan ikut nimbrung ketika sedang dibicarakan.


Orang yang nyeletuk tadi tampak merasa bersalah, wajahnya kuyu lalu tiba-tiba pucat dan berteriak ketakutan setelah melihat sesuatu hingga membuat semua orang disana terkejut. Lalu tanpa aba-aba mereka pun serempak melihat sumber yang sama dan serempak juga mereka menjerit ketakutan dan berlari tunggang langgang saling mendahului satu sama lainnya sambil berteriak membahana.


"Aaaahhh SETTTAAANNNN!"

__ADS_1


__ADS_2