
"Kita mau ke mana sih? Jangan ke tempat aneh-aneh!"
"Kenapa? Kepala lu sekarang isinya aneh-aneh?"
Arya mendengus kesal. Tanpa punya kendali apa-apa dia hanya bisa pasrah. Entah mengapa dia tidak sadar tiba-tiba sudah terduduk begitu saja di kursi penumpang. Otaknya baru memberi tahu ketika mobil sudah jalan di kendalikan oleh Marissa.
Arya celingak-celinguk lalu melirik Marissa. "Hati-hati jangan ngebut, kamu kan masih sakit," kata Arya beralasan padahal dianya sendiri yang takut.
"Iihh, co cwit ada yang perhatiinn.. uncchh!" gemas Marissa sambil fokus menyetir. Arya cemas karena Marissa belum sepenuhnya pulih terus bagaimana jika dia mendadak pingsan ditengah jalan?!
"Loh, loh kok kita ke sini sih?" Arya kaget karena mereka ternyata pergi ke kafe ini. Sebuah tempat yang tidak asing bagi Arya.
"Ayo keluar!"
"Mau apa? Kamu ke sini gak mungkin tanpa tujuan kan?"
"Ya iyalah. Buang-buang waktu dan tenaga aja gue datang ke tempat begini jika tanpa tujuan."
"Aku tidak mau. Kamu tidak usah macam-macam Marissa kalau tujuan kamu itu hanya untuk membuat keributan!" seru Arya sambil mempertahankan sabuk pengaman yang masih melingkar di tubuhnya.
"Keributan apaan sih lu ga jelas deh. Orang tujuan kita ke sini kan buat kencan," terang Marissa manja sambil memberikan sebuah kedipan mata.
Arya memicingkan mata untuk menyelidiki kebohongan di mata Marissa tapi dia tetap tidak bisa membacanya. Hingga akhirnya Arya frustasi tak tahu harus bagaimana. Dia pikir untuk sekarang lebih baik ikuti saja dulu maunya Marissa apa. Soal keputusan baik buruknya Arya pertimbangkan nanti belakangan.
Saat mereka masuk awalnya sih biasa saja namun lama-lama Arya jadi risih tatkala seluruh pasang mata melihat ke arah mereka tepatnya pada Marissa. Pasti orang-orang ini kaget karena ada wanita viral di depan mereka secara nyata.
Saat sudah memilih tempat duduk, tiba-tiba saja ada beberapa orang perempuan datang kepada Marissa sambil meminta izin untuk mengambil foto. Marissa terlihat tidak keberatan, tapi ada sesuatu yang aneh. Setelah berfoto Marissa malah meminta balik nama, nomor telepon dan alamat mereka, beserta nama akun sosial media.
Dengan nada sedikit mengancam Marissa berkata supaya foto yang di ambil barusan haruslah di gunakan dengan baik. Jika ada yang membuatnya menjadi bahan gosip atau cerita buruk maka Marissa tidak akan segan-segan mencari orang yang cari masalah dengannya. Dengan gugup orang-orang itu mengangguk dan pergi seraya mengucap terimakasih namun faktanya setelah beberapa langkah menjauh terdengar bisik-bisik tak mengenakan tentang bagaimana sikap dan keangkuhan Marissa pada mereka.
"Anjir so ngartis banget!" umpat salah satunya yang terdengar oleh Arya.
Melihat sikap Marissa yang seperti itu membuat orang-orang yang tadinya ikut mengantri malah bubar sambil mengatai Marissa dengan sindiran.
__ADS_1
"Kamu tidak apa-apa dengan sikapmu yang begitu? Tidak masalah jika malah membuat orang-orang makin tidak suka padamu?"
"Ah biarin aja. Lagian gue udah gak peduli lagi dengan dunia per-sosmed-an. Akun gue aja sampai buluk gitu gak terurus mana tiap hari ribuan komen serta dm masuk, ganggu banget! Mending gue vakum dari dunia itu. Dan juga untuk urusan brand ambassador biar Papa yang urus cari gantinya."
Meski kadang Arya merasa hatinya cenat-cenut pada Marissa, tapi dengan sikapnya yang manja dan menjengkelkan seperti ini membuat Arya tidak ragu untuk ilfeel alias ilang feeling alias ilang perasaan.
Kok bisa-bisanya Marissa menggampangkan segala sesuatu? Arya berpikir aneh tapi mencoba mengerti. Mungkin karena cenat cenut yang tadinya seperti ditusuk jarum itu sudah membesar menjadi seperti ditusuk paku, dengan kata lain perasaan Arya yang dari sekecil jarum sudah membesar jadi sebesar paku maka dari itu hati kecil Arya meminta dirinya untuk lebih maklum.
Mau bagaimana lagi kan? Karena kalau enggak selengean maka bukan Marissa namanya!
Seorang pelayan mendekati mereka, "Si-silahkan Kak menunya," ucap pelayan tersebut sambil menyodorkan sebuah buku tebal berisikan menu kafe.
Betapa terkejutnya Arya saat melihat siapa pelayan kafe itu. Padahal dia sudah tahu orang tersebut dan tau juga kalau memang di sini tempat kerjanya. Tapi tetap saja kan Arya terkejut kalau berhadapan langsung seperti ini.
"Nah.. ini yang gue cari. Kiriain lu gak masuk kerja, Arista," ucap Marissa tersenyum. Tapi senyumannya menusuk penuh arti.
Dengan santai Marissa meminta Arya untuk memilih makanannya sedangkan Marissa sudah memesan. Sambil Arya memilih menu makanan, Marissa berbincang sesuatu dengan Arista.
"Gue tidak kebetulan datang ke sini bersama Arya." Arista melihat kedua orang itu bergantian merasa curiga.
"Lu.. masih suka sama Arya?"
Mata Arya serasa akan keluar dari tempatnya saking terkejutnya mendengar pertanyaan tajam Marissa.
Tapi anehnya, Arista malah bersikap tenang seperti pertanyaan ini tidak ada arti apapun baginya.
"Maaf Mas dan Mba, saya tidak menerima pertanyaan apapun selain yang berkaitan dengan urusan kafe, dan juga tidak wajib menjawab pertanyaan apapun di luar urusan pekerjaan saya. Jika sudah selesai, saya izin pamit untuk memproses makanannya. Terimakasih."
Marissa tersenyum sinis. Boleh juga nih cewek bisa profesional begitu, pikir Marissa.
"Oh. Kalau begitu lu izin saja dulu sama bos lu! Atau mau gue bantu untuk mewakili lu supaya bisa dapat izin dengan alasan karena salah satu pegawainya dicurigai sebagai pelakor suami gue," bisik Marissa supaya orang-orang di sekitarnya tidak dengar.
Arya menyikut lengan Marissa. "Kamu apa-apaan sih nanya gitu! Gak ada kerjaan banget! Tujuan kamu tuh apa? Gak usah cari gara-gara!" tegur Arya kesal.
__ADS_1
Arista yang sama kesalnya menatap Marissa dengan sinis. Saat hendak menjawab pertanyaan Marissa itu, tak disangka salah satu kursi pada meja mereka ditarik oleh seseorang lalu orang tersebut duduk di sana.
"Mana bisa seorang pelakor punya pacar ganteng seperti aku ini?" kata orang tersebut nimbrung dalam pembicaraan mereka.
"Indra? Ngapain kamu di sini?!" tanya Arista panik sambil celingak-celinguk takut rekan kerjanya ada yang melihat.
"Ya buat liat bidadari cantik lah! Apalagi alasannya.." jawab Indra mengangkat sebelah alisnya sambil cengengesan.
"Marissa kamu gak usah banyak gaya deh pakai gangguin pacarku segala! Dia itu bukan pelakor atau apapun seperti yang kamu tuduh. Lagian kamu aneh gak ada hujan gak ada badai, datang-datang buat nanya begituan! Asal kamu tau juga ya kalau Arista itu gak pernah ada perasaan apapun sama suami kamu!" jelas Indra membuat Arista salah tingkah. Dia kebingungan untuk meluruskan situasi aneh macam ini.
Arya terkejut. "Kalian pacaran?" tanya Arya. Sebuah pertanyaan yang ditanyakan terlebih dahulu tanpa peduli bagaimana Indra bisa tiba-tiba muncul dan duduk bersama di antara mereka.
Indra mengangguk senang. "Arista memang pacarku. Jadi Ibu Marissa tidak perlu khawatir kalau suami anda di rebut oleh Arista. Karena pacarku ini tipe yang setia. Lagian mana mungkin dia selingkuhin laki-laki langka sepertiku, iya kan Sayang?" tanya Indra pada Arista membuat gadis itu mendelik.
Seorang rekan kerja berdeham di kejauhan membuat Arista tersadar kalau dia sudah terlalu lama berdiri dan bicara dengan mereka.
"Jadi mau pesan apa saja, Mas, Mbak?" tanya Arista pura-pura tak kenal dan mendalami profesinya.
Mau tidak mau Arya asal memilih sedangkan Indra sibuk mencari apa yang dia inginkan. Arista langsung mencatat dan pergi ke dapur untuk menyerahkan pesanan mereka.
"Kok Pak Dokter bisa sih pacaran sama cewek kampungan itu?" tanya Marissa asal ceplos.
Arya menyikut lengan Marissa yang duduk di sebelahnya supaya dia tidak asal bicara. Tapi Marissa tidak terima dan malah sikut balik Arya. Gestur tubuh Marissa seolah berkata 'emangnya salah aku nanya?!'
Melihat kelakuan dua manusia itu membuat Indra tertawa. "Kalian ini seperti kucing dan tikus ya. Pantes aja cocok," ucap Indra sambil geleng kepala.
"Sejak kapan kalian pacaran?" kali ini Arya yang bertanya penuh selidik.
Indra begidik saat melihat tatapan mata Arya yang tajam. Apakah Arya tidak senang dengan hubungan Arista dan Indra?
"Sejak kami bertemu," jawab Indra singkat. Selain Arya yang penuh selidik terhadap Indra, dia pun tak ingin kalah dan melakukan hal yang sama untuk waspada dan balik menyelidiki Arya.
Dari cara bicara dan tatapan Arya saja Indra tau kalau Arya tidak suka dengan hubungannya dan Arista. Coba dia tau tentang kebenaran yang sesungguhnya. Apakah sikapnya masih akan terasa mengancam?
__ADS_1
***