Terpaksa Menikahi Pelakor

Terpaksa Menikahi Pelakor
Komentar Netizen


__ADS_3

Pak Aga mendekati Marissa. Putrinya tampak berwajah muram.


Pria itu lalu memegang kedua pipi Marissa dan menatapnya lembut.


"Ini adalah pilihan yang terbaik anakku. Papa memang sengaja melakukan ini untukmu. Karena bagi Papa hukuman penjara sungguh tidak layak untuk orang seperti dia. Bukan karena Papa kasihan atau merasa berperikemanusiaan pada Tio. Tapi, Papa pikir, dengan Papa memasukkan dia ke rumah sakit jiwa maka dendam Papa pada orang yang telah menyakiti putri Papa ini bisa terbalaskan,"


Marissa menatap Papanya dengan mata yang sayu "Maksud Papa apa? Rissa tidak mengerti,"


Papa melepaskan tangan dari pipi Marissa lalu duduk disebelahnya.


"Maksud Papa adalah, hukuman penjara itu memiliki waktu hanya sementara. Ketika Tio sudah menerima hukuman beberapa tahun sesuai putusan pengadilan dia pasti akan bebas suatu hari nanti, karena bagaimanapun hukuman yang akan diterima olehnya tidak akan sampai membuatnya dipenjara seumur hidup ataupun hukuman mati. Suatu hari setelah dia menyelesaikan hukumannya dia akan kembali bebas dan melanjutkan hidup sebagai manusia normal seperti yang lainnya. Tapi kamu, yang menjadi korban dapat apa? Hanya luka dari masa lalu yang akan selalu membayangi dan mungkin seumur hidup perasaan menyesal itu akan selalu ada untuk membuntutimu, karena itu memanglah sifat manusiawi yang tak bisa dilawan alias tak ada obatnya. Maka dari itu, Papa ingin membuatnya menjadi setimpal, dengan memasukkan Tio ke dalam rumah sakit jiwa. Karena tak ada alasan rumah sakit itu melepaskan orang dengan status ODGJ berkeliaran ditengah masyarakat, yang artinya dia akan menghabiskan sisa hidupnya dengan terkurung disana selamanya,"


"Tapi Tio tidak gila Pa. Percuma Papa masukkan dia ke sana. Pasti ada dokter ahli jiwa yang bakal menyadarinya. Bagaimana mungkin orang yang tidak gila malah dikurung di sana?" tanya Marissa tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya lalu menjadi khawatir karena menurutnya hal ini tidaklah masuk akal.


"Kamu tenang saja sayang. Papa sudah mengurus semuanya, pihak kepolisian, pihak rumah sakit jiwa bahkan pihak media. Papa sudah mengkoordinasikan semuanya, jadi tak ada yang perlu kamu khawatirkan! Papa bahkan akan memperkerjakan orang untuk menjaga Tio disana supaya dia tidak bisa kabur. Papa tidak ingin jika kita mengirimnya ke hukum negara, dia masih bisa memiliki kesempatan mengajukan banding nantinya supaya dia bisa meringankan hukumannya. Tapi kamu, lihatlah deritamu itu tidak bisa ditawar-tawar kan?! Dan, mungkin kamu belum tahu beritanya. Tapi Papa pikir mungkin tadi kamu ikut mendengar sedikit banyaknya cerita Papa soal video kejadian saat jatuhnya dirimu yang sekarang tengah viral di media sosial, video dan berita ini sudah menjadi konsumsi dan menjadi perhatian masyarakat,"


Marissa tampak berpikir sejenak namun tetap berusaha mendengarkan.


"Karena video ini viral, netizen jadi mengorek lagi masa lalumu. Papa takut Tio malah memanipulasi fakta karena citra buruk yang sudah kamu pegang sebelum kejadian, bagaimana jika dia membuat drama seolah kamulah disini satu-satunya orang yang bersalah karena telah merusak rumah tangga Tio dan dia menjadikan alasan itu untuk menyudutkanmu. Tapi bukankah akan beda lagi ceritanya kalau Tio ternyata dinyatakan depresi karena ulahnya sendiri hingga mengalami gangguan jiwa setelah ditinggal oleh keluarganya lalu menyerang kamu sebagai orang yang salah sasaran, dan akhirnya dengan statusnya sebagai orang dengan sakit jiwa maka akan lebih mudah membuat perhatian orang-orang jadi berpaling padamu karena mana ada orang normal yang akan percaya pada perkataan orang sakit jiwa,"


Marissa berpikir keras, rasanya tanpa Pak Aga menjadikan Tio sebagai ODGJ sekalipun, nyatanya dia memang sudah gila makanya nekat mencelakai Marissa. Lagipula alasan Tio mencari keluarganya yang pergi itu hanya alibi saja untuk dapat menumpahkan nafsu balas dendam pada Marissa yang dia pikir sudah merusak keutuhan rumah tangga Tio.


Setelah memikirkan kemungkinan itu, sedetik kemudian Marissa meminta ponselnya pada Mbak Ani. Dia jadi penasaran mengenai berita yang di maksud oleh Pak Aga. Marissa pun mulai berselancar di ranah media sosialnya mencari berita mengenai dirinya meskipun videonya sudah di banned tapi obrolan seputar dirinya masih menjadi perbincangan yang hangat. Marissa membaca komentar netizen di salah satu akun gosip instagram. Memang benar, sesuai apa yang dikatakan oleh Pak Aga. Netizen awalnya menyalahkan Marissa sepenuhnya, mereka bilang bahwa yang mendorong Marissa adalah cowok yang rumah tangganya dirusak oleh Marissa, dan pernikahan serta fotonya saat bersama Arya hanyalah kepalsuan belaka, bahkan dari komentar yang tertera mereka sama sekali tidak punya empati pada Marissa yang terluka padahal banyak dari mereka yang juga menonton bagaimana saat dia jatuh dari tangga, mereka bahkan mengaku melihat darah berceceran di video itu tapi masih sempat-sempatnya mengutuki Marissa. Dan semua komentar tersebut berubah ketika rumor tentang kegilaan Tio meruak di muka publik, anehnya mereka akhirnya berpaling menjadi membela Marissa. Seperti membalikkan telapak tangan, berubah sekejap mata.


"Apapun kelakuan buruk yang sudah dilakukan oleh Marissa itu bukan jadi tolak ukur buat kita membenci dia, jangan juga dijadikan alasan untuk mencemooh Marissa padahal kita tahu kalau dia sedang terluka, apalagi yang komentar buruk ini kebanyakan dilontarkan dari perempuan juga, dimana hati dan nurani kalian? Bagaimana kalau kamu ada di posisi dia jika di dorong seperti itu? Apakah kalian tidak kasihan?" tulis salah satu komentar positif dimana masih ada yang berebut sibuk mengutuk Marissa.


Marissa yang selesai membaca komentar-komentar itu akhirnya mengerti dan kini hanya bisa pasrah dengan apa yang barusan dijelaskan oleh Pak Aga.


"Papa yakin metode ini tak akan beresiko apapun pada kita semua nantinya?" tanya Bu Aga yang juga cemas.


"Jika Papa takut akan resikonya, Papa tidak mungkin mau melakukan semua ini Ma. Tapi karena ini menyangkut anak kita, Papa siap menanggung resiko apapun itu. Papa ga rela Tio hanya dihukum kurungan saja. Papa ingin dia merasakan hidup yang tak normal ditengah orang-orang yang tidak waras hingga membuatnya ikut menjadi gila dan ingin mati saja karena merasa putus asa. Lagian siapa tahu akhirnya dia memahami perasaan menyesal atas perbuatannya yang sudah melakukan hal keji pada anak kita,"


"Tapi Mama takut sesuatu yang buruk terjadi pada Papa, Pa," rengek Mama khawatir sekali.


"Mama tenang saja. Bahkan jika ada hal buruk terjadi sekalipun Papa pasti bisa mengatasinya. Percayalah pada Papa," jawab Pak Aga yakin sekali bahwa semua keputusannya ini adalah tepat.


Bu Aga menghela nafas berat. Dia tak punya pilihan lain selain mendukungnya. Bu Aga serahkan segala urusan tersebut pada suaminya dengan modal kepercayaan yang kuat walau hatinya ketir takut sesuatu yang buruk terjadi dikemudian hari nantinya.


Sedang mereka berbincang, sarapan yang disediakan oleh rumah sakit untuk Marissa dan Bu Aga telah tiba.

__ADS_1


Dengan damai Marissa melahap makanan yang dengan manja disuapi oleh Papanya. Sedangkan Bu Aga menghabiskan makanannya sendiri ditemani oleh Mbak Ani. Setelah itu Marissa mulai membasuh dirinya dengan kain hangat karena sebentar lagi akan dilakukan pemeriksaan rutin oleh dokter yang bertugas.


"Sudah mulai membaik ya sekarang. Jangan banyak gerak dan usahakan luka jangan sampai terkena yang basah ya biar cepat keringnya," pesan Pak Dokter.


Marissa menjawab sambil mengangguk ramah.


"Kamu hebat banget loh, bisa bertahan bahkan cepat sadar setelah luka parah begini, semangat untuk cepat sembuh yaa," ucapnya lagi mengakhiri kunjungannya pada Marissa lalu bergantian memeriksa Bu Aga.


Waktu terasa begitu lama dirasakan oleh Marissa saat harus terbaring di rumah sakit. Tak ada kegiatan lain selain bercerita, makan, tidur, nonton TV, main sosmed, main game.


Ditengah kebosanannya entah mengapa tiba-tiba saja ada Arya melintas dipikirannya.


Kenapa gue malah mikirin si Arya sih ih! batin Marissa. Cepat-cepat dia gelengkan kepala melarang dirinya untuk memiliki pikiran seperti itu, dia tak punya hak maupun alasan untuk memikirkan Arya.


Tapi dia tuh ngapain aja sih kok sampai sekarang ga datang kesini atau ngabarin nanya gue gimana kek, dasar manusia purba punya HP ga mau digunain! Marissa kesal sendiri, dia merasa sepi karena Arya cuek saja meski Marissa sedang terluka seperti ini.


Marissa melirik Mamanya yang sedang tertidur pulas. Begitupula dengan Pak Aga yang tertidur disamping Mama. Kedua orang tua itu tertidur diatas ranjang yang sama. Betapa romantisnya mereka, meski sempit-sempitan tapi keduanya terlihat nyaman tanpa masalah. Marissa jadi iri melihatnya. Andai dia tidak salah memilih cowok, mungkin dia sedang tertidur berpelukan di ranjang yang sama seperti kedua orang tuanya saat ini.


Marissa hanya bisa menghembuskan nafas berat. Percuma dia menyesali perbuatannya dulu, menyesal pun sudah terlambat, tidak akan bisa merubah apapun sekarang.


Mengingat Arya, dia malah jadi teringat lagi akan bullyan netizen yang mengatakan tentang kebohongannya bersama Arya dulu. Netizen sekarang memang pada pintar sudah seperti detektif saja rasanya, walaupun benar tapi Marissa tidak mungkin mengakuinya, dia malah ingin meluruskan hal itu supaya Arya tidak ikut kena hujatan seperti dirinya.


Waa..! Pikiran bodoh apa ini? Sadar Marissa! Kejauhan banget lu mikir! Peristiwa seperti itu hanya ada didrama saja! Tidak ada kejadian seperti itu di kehidupan nyata dimana bisnis bisa berubah jadi cinta! Sadar Marissa sadar! pekik Marissa dalam kepalanya.


Marissa hampir mengacak rambutnya saat teringat ada perban yang masih menggulung dikepalanya.


Lagian Arya tidak mungkin cinta sama gue, suka aja mungkin mustahil. Selama ini kan gue suka kasarin dia, sekarang malah ngarep Arya suka sama gue, ouhh betapa menjijikkannya dirimu Marissa! maki Marissa lagi dalam hati.


Tapi kan Arya mau bantuin gue bikin foto palsu buat alihin keviralan tentang foto gue dan Tio dulu. Apakah mungkin saat itu Arya sudah tumbuh bumbu cinta? Atau hanya memang sikap baiknya saja yang berjalan secara natural dengan niat ingin membantu? Jika memang begitu bukankah saat ini adalah saat yang tepat untuk membalas kebaikannya, gue ga mau dia terbawa lebih dalam ke masalah gue sampe harus menerima hujatan segala. Itu nggak adil rasanya!


Tapiii...


Argh! Peduli apa sih gue! Ngapain juga gue urusin si Arya. Lagian kan dulu emang kemauan dia sendiri buat ikut campur, sekarang kalo ketahuan gini ya resiko dialah kalau harus dihujat! Lagipula bukan gue yang awalnya ajak kerja sama, tapi dia sendiri yang menawarkan diri secara sukarela. Ya kan? Uh makin dipikirin makin pusing gue! Dah ah bodo amat!


Usai membatin seperti itu, Marissa meletakkan ponselnya kasar di samping kepalanya lalu memejamkan mata berusaha untuk tertidur supaya tidak memikirkan lagi tentang Arya atau sesuatu yang berhubungan dengannya.


Tapi ditunggu lama dan makin lama matanya tidak mau menurut. Apa karena dia sudah tertidur banyak dan merasa tidak mengantuk makanya untuk terpejam saja sulit rasanya.


Dilihatnya Mbak Ani yang sedang asyik cengengesan menonton sitkom di sofa depan televisi. Marissa menilai sitkom itu sepertinya seru maka dia pun mencoba diam-diam menontonnya tapi anehnya tidak ada hal yang lucu yang bisa membuatnya tertawa seperti yang dilakukan oleh Mbak Ani.

__ADS_1


Marissa bahkan bisa melihat Mbak Ani yang uring-uringan menahan gelak tawa hingga wajahnya memerah seperti kepiting rebus yang menahan kegelian karena tak mungkin dia tertawa ngakak sendirian diruangan ini.


Karena bingung entah apa yang harus dilakukan, akhirnya Marissa kembali lagi memainkan ponselnya dan membuka instagram.


Satu persatu dia baca kembali komentar-komentar netizen yang sedang bersukaria menggunjingnya. Sindiran nyinyir tak ada bedanya dengan labrakan yang blak-blakan disana.


"Jadi pelakor tapi jadi korban juga, itu sih namanya karma!" ketik seseorang di kolom komentar menggesek hati Marissa sakit sekali.


"Emang enak keguguran, mampus lu balasan buat lu itu mamam!"


"Dasar pelakor jalang udah hancurin keluarga orang sekarang malah bikin gila pacar selingkuhannya, freak!"


"Untung gila jadi ga dipenjara ye kan? Masih mending di rumah sakit jiwa diurus orang, coba kalo di penjara bisa aja digebukin napi di sana." salah satu komentar ini membuat Marissa jadi tak yakin keputusan Papanya itu sudah tepat. Bukankah lebih baik jika Tio dihajar napi lain dipenjara daripada menjadi gila bersama orang gila lainnya?


Marissa membaca komentar menyayat itu satu persatu. Meski sakit tapi dia tetap penasaran. Memang benar mereka tidak ada kontribusi apapun dalam hidup Marissa tapi tetap saja komentar mereka yang sok tahu ini sudah seperti Tuhan yang boleh menghakimi manusia. Mereka kan tidak tahu kejadian sebenarnya seperti apa tapi mengapa jari mereka kejam sekali asal ketik ngatain orang lain yang bahkan sama sekali tak mereka kenal.


Meskipun begitu masih banyak juga orang yang berempati dan mendukungnya.


"Semangat Kak Marissa, apapun masalahmu semoga cepat terselesaikan, oke?"


"Meskipun kamu adalah pelakor seperti yang mereka bilang, aku harap kedepannya kamu bisa berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi setelah mengalami musibah ini. Semangat yaa,,"


"Jangan dengerin omongan orang, fokus saja pada kesembuhanmu. Dan tata hati kembali untuk menjalani hidup. Meskipun kamu sedih karena keguguran tapi aku yakin anakmu sekarang sudah tenang disana. GBU."


"Kak, stay strong ya. Jangan ladenin netizen julid, mereka kan ga ada diposisi kakak makanya jadi seenaknya aja kalau bicara, focus on your health aja yah Kak. Love you.."


Air mata Marissa mengembang sebelum akhirnya terjatuh juga, dia berterima kasih sekali pada Tuhan karena seburuk-buruknya dia ternyata masih ada yang mau menyemangati dan berpikir positif tentangnya. Dia senang sekali karena tau ada orang yang mau menasehatinya tanpa harus menggunjing, menyabarkannya tanpa perlu menyalahi. Sungguh dari hati paling dalam dia berdoa untuk semua orang yang menebarkan kebaikan di kolom komentar tersebut.


Namun tanpa diduga haru birunya itu hanya bertahan sebentar saja, sekian detik saja dia rasakan sebelum dia membaca salah satu komentar yang membuatnya tersadar hingga dirinya menjadi resah.


"Eh btw suaminya yang sekarang gimana ya perasaannya? Udah kebongkar semua tuh kebusukan si betina, masa ntu pelakor ga di cereiin sih?"


DEG!


Entah mengapa setelah membaca itu rasanya jadi ada sebuah perasaan yang menghujam dada Marissa.


Dia getir setelah membaca kata cerai. Apakah seperti yang netizen tadi bilang, setelah ini Arya memang akan menceraikannya?


Hatinya yang resah membuatnya jadi bertanya-tanya.

__ADS_1


***


__ADS_2