
Arya menatap Marissa tepat dikedua matanya. "Cewek itu siapa? Maksudmu Arista? Kamu mau aku ke sana lagi?"
Marissa memutar bola matanya. "Helloow ya kali gue mau lu ke sana! Gue cuma nanya doang elah!"
Arya ini ngeselin ya! Iya sih gak tersinggung, gak marah, tapi jangan kasih bumerang pertanyaan gitu juga dong, ah!
"Aku akan ke sana kalau emang harus ke sana. Aku gak ke sana berarti memang gak ada urusan. Lagian semenjak turun dari mobil, aku langsung pergi ke kamar ini kok. Malah seharian ini aku belum dapat kabar lagi dari Arista selain pagi tadi saat aku bantu membawakan dus minumannya."
Sesungging senyum terlintas diwajah Marissa. "Bagus deh kalau gitu. Awas ya kalau lu ke sana lagi!"
"Udah puas laporannya?" sindir Arya setelah melihat senyum Marissa yang penuh makna.
"Laporan apa ih, orang gue cuma nanya doang! Ga boleh apa orang nanya!" dalih Marissa sambil memainkan ujung rambutnya.
Arya mulai menyendokkan makanan ke atas piringnya. "Kenapa? Kamu cemburu?" tanya Arya santai dan bermaksud bercanda.
Tapi Marissa menanggapinya dengan serius. "Ya kalau bukan cemburu apalagi alasan yang masuk akal gue ngelarang lu ke sana?"
Arya tersentak. "Loh, kok kamu cemburu sih? Kan kamu bukan siapa-siapa aku. Aku boleh dong deket atau suka sama cewek manapun, kita kan nikah juga ada batasnya. Kalau kontraknya selesai, artinya status palsu kita berakhir dan aku harus sudah siap dengan wanita baru yang kelak mendampingi hidupku ke depannya," jawab Arya logis. Tapi Marissa malah kesal mendengarnya.
"Dahlah terserah lu aja! Emang lu mah gak peka gak ngerti perasaan wanita!" ungkap Marissa kesal. Dia malas berbelit dengan Arya.
Arya melahap makanannya tanpa rasa bersalah telah mengucapkan kalimat barusan. Bahkan Bibi saja tak habis pikir kata-kata seperti itu bisa keluar dari mulut Arya.
"Nak.." bisik Bibi ditengah-tengah santapan mereka.
"Si Kakak itu sebenarnya suka sama Nak Arya, makanya dia gitu. Cemburuan, suka marah-marah gak jelas, itu tuh karena dia suka sama Nak Arya! Lihat sendiri kan kalau dia suka banget cari perhatiannya Nak Arya."
Arya berhenti mengunyah. Untung dia tidak tersedak lagi seperti kemarin.
"Masa sih Bi? Gak mungkin ah dia suka sama saya. Dia kan cinta mati sama si Tio Tio itu Bi," jawab Arya abai.
"Yeee ga percaya. Serius Nak, coba deh Nak Arya lebih peka dan lihat gerak-geriknya si Kakak. Bibi kasih sepuluh rebu deh sama Nak Arya kalau Bibi salah."
Arya tertawa terbahak mendengar taruhan dari Bibi kepadanya.
Marissa yang tak tahu apa yang sedang mereka bicarakan lalu mengomel sendiri karena dia merasa mereka sedang menertawainya.
"Lu sama Bibi lagi ngomongin gue ya! Ngomongin apa lu pake ngetawain segala!"
Arya dan Bibi saling menatap lalu menahan senyumnya tak menggubris ucapan Marissa dan lanjut makan.
"Apaan sih, kalau ngomongin tuh didepan muka jangan bisik-bisik gitu, gue ajak duel juga lu!" oceh Marissa dari tempat tidur.
Perut sudah kenyang, malam makin gelap. Saatnya rebahan bersantai. Yang awalnya hanya ingin berbaring sebentar, tanpa sadar Arya malah tertidur beneran. Ternyata Bibi juga sama. Marissa heran, jangan-jangan tuh makanan bikin mabok ya, semua orang jadi pada tepar gitu! Duh, mana kebelet pipis lagi!
Mau bangunin Bibi, gak tega, beliau terlihat tidurnya begitu nyenyak. Mau bangunin Arya, apalagi! Malu lah, masa dianter pipis sama dia?!
Terpaksa Marissa turun dari ranjangnya sendiri pelan-pelan seraya menurunkan infusan dan menentengnya. Berjalan pun dia terseok-seok. Dilihatnya satu persatu mereka yang tertidur di sofa. Bibi rupanya sudah menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Sementara Arya tidur menelungkup tanpa apapun yang menutupi tubuhnya selain baju yang dikenakan.
Marissa merasa kasihan melihat Arya. Dia terlihat kedinginan. Sebelum pergi ke toilet, dia ingin menyelimuti Arya terlebih dahulu. Karena selimut ada di rak penyimpanan disebelahnya jadi dia dengan mudah mengambil selimut tersebut kemudian menyelimuti Arya pelan-pelan karena tubuhnya juga tidak bisa melakukan gerakan yang cepat.
Selesai menyelimuti tubuh Arya dari kaki hingga dagunya, dia pun berbalik untuk segera pergi ke toilet.
Namun sebelum dia melangkah Marissa terkejut karena sesuatu menggenggam lengannya. Ternyata tangan Arya!
Marissa menoleh pada Arya. "Kenapa kamu ada disini dan menyelimutiku?"
"Gu-gue mau ke toilet, tapi ngeliat lu kayak anak kucing kedinginan gitu jadi gue selimutin."
"Kenapa kamu gak minta tolong aku atau Bibi buat nganter?"
"Kalian tidur nyenyak gitu udah kayak orang pingsan. Gue ga tega banguninnya, makanya gue pergi sendiri."
Arya berdecak, "Ouhh ternyata kamu bisa ga tega juga yaa rupanya." Marissa mengengus kesal. "Ya udah, biar aku temenin," tawar Arya.
"Eee-eh gak usah, gue bisa sendiri kok!"
__ADS_1
Tapi Arya menolak tolakan Marissa. Entah mengapa hal itu malah membuat Marissa senang. Meski dalam hati dia menolak tapi sebenarnya dia mau pake banget malah!
Pelan-pelan Arya memapah Marissa sambil membawakan kantung infusannya menuju toilet.
Bibi diam-diam ikut terbangun karena suara mereka tapi dia pura-pura tetap tidur saat melihat dua sejoli itu bermesraan. Dia merasa tak boleh mengganggu keduanya. Tapi bagaimanapun Bibi akan tetap terjaga hingga Marissa kembali lagi ke ranjangnya, memastikan dia sudah aman dan kembali tidur.
Marissa keluar toilet dengan berjalan pelan. Tapi anehnya dia meringis kesakitan.
"Kamu kenapa?" tanya Arya khawatir.
"Perutku yang bekas operasi ini sakit. Mungkin karena banyak gerak."
Arya mengulurkan tangan Marissa untuk kembali dipapah. Tapi keliatannya Marissa masih kesakitan, dia bahkan berjalan sambil membungkuk menahan sakit di perutnya. Dengan kepekaan menolong sesama manusia dan tanpa persetujuan dari istrinya, Arya menangkap kaki Marissa dengan satu tangannya dan satu tangan lagi meraih punggungnya.
Arya menggendong Marissa seperti pengantin baru. Marissa terkejut bukan main, dia melingkarkan tangannya erat di leher Arya sambil memegang kantung infusannya sendiri.
Meski kaget dan tengah kesakitan tapi Marissa sempat-sempatnya berpikir bahwa ini adalah kesempatan langka! Bau wangi menguar dari leher Arya membuat Marissa betah disana, dia bahkan mengendus-endua wanginya pelan, berharap wangi itu dapat bertahan dalam hidung dan kerongkongannya.
Mereka pun tiba di ranjang Marissa. Arya menurunkan istrinya untuk berbaring pelan. Tubuh Marissa sudah tergeletak diatas kasur, tapi saat Arya hendak berdiri dia malah ditahan oleh tangan Marissa.
Marissa bahkan menarik leher Arya untuk masuk dalam pelukannya.
Arya gelagapan menanggapi kelakuan Marissa seperti ini!
"Marissa lepas, kamu mau apa sih!"
"Gue mau lu diem sebentar."
"Kenapa?" Arya menautkan dua alisnya heran.
"Gak apa-apa. Gue cuma mau pelukan dari suami gue tercintaaa," katanya bercanda.
Arya setengah memaksa melepas lengan Marissa. "Lepasin Marissa. Malu ada Bibi!"
"Emangnya kenapa? Kan kita suami istri! Lagian Bibi juga udah tidur kok."
"Uhh, agresif sekali kamu ini ya! Kamu gak malu apa kalau Bibi sampai terbangun dan melihat kelakuanmu ini?" tanya Arya sambil membetulkan bajunya yang menyon-menyon.
"Ngapain malu? Kan kita sudah sah dalam pernikahan. Oia, kamu bilang tadi apa? Aku agresif?"
"Iya agresif! Gak tahu malu! Katanya perutnya sakit tapi ambil kesempatan dalam kesempitan!"
Marissa cekikian, "Kamu meskipun tidak pandai membaca isi hati wanita, ternyata kamu pandai membaca pikiranku yaaa," ledek Marissa dengan nada bicara seperti dalam film.
"Udah ah! Sekali lagi jangan seperti itu sama aku ya! Untung tadi gak ada orang yang lihat." Arya memberi peringatan secara tegas. Dia malu dengan kejadian barusan.
Marissa mengangguk-angguk. "Okee.. Tapi ga janji, hehe"
"Ck! Udah sekarang kamu tidur istirahat. Aku juga mau lanjut tidur, bye!"
"Eh Arya tunggu!" Arya berbalik lagi setelah menjejakkan kaki selangkah.
"Apalagi?" jawab Arya ketus.
"Gue mau kasih tau lu sesuatu, sini!" Marissa ingin berbisik ditelinga Arya. Dia mengayun-ayunkan lengannya seperti anak anjing supaya Arya mendekat padanya.
"Apaan sih! Sesuatu apa? Tinggal bilang aja dari sana," tolak Arya mentah-mentah.
"Gaaakk bissaaa Aryaaa! Lu mau nanti omongan penting gue didenger Bibi?" Marissa masih membujuknya untuk mendekat.
"Ya memangnya sesuatu apa?"
"Ya sini gue bisikan biar lu tahu!"
"Gak ah! Kamu ketik aja di handphone nanti kirim ke aku kalau memang sesuatu itu bersifat rahasia sampai Bibi gak boleh dengar."
"Yeeee ni anak susah amat dibilangin! Ini sesuatu yang bahkan gak bisa diketik di handphone!"
__ADS_1
"Apaan sih aneh banget!"
"Yaudah sini gue bilang juga apa, biar gue bisikin!"
Marissa yang terus memaksa Arya membuat laki-laki itu jadi penasaran. Dia ingin meninggalkan Marissa dan acuh pada sesuatu yang dimaksudnya itu, tapi dia takut kalau sesuatu itu ternyata penting dan menyangkut tentang dirinya, apalagi menurut Marissa sesuatu ini bersifat rahasia.
Akhirnya Arya mengalah dan mendekat pada Marissa.
Dia membungkukkan badannya dan memberi telinganya pada Marissa.
Marissa menelungkupkan kedua tangannya di telinga Arya dan mulai berbisik.
"Arya.. gue mau melakukan sesuatu.." bisik Marissa memenuhi ruang telinga Arya. Nafas Marissa membuat telinganya menjadi hangat.
Arya menoleh pada Marissa, keadaan refleks saat seseorang selesai dibisiki dan bergelagat seolah menanyakan sesuatu apa yang dimaksud.
Belum sempat Arya bertanya, secepat kilat Marissa mengambil kesempatan itu. Dia memegang kepala Arya dengan kedua tangannya lalu mengecupkan sebuah ciuman di kening Arya begitu saja, tanpa persetujuan dari yang punya.
Arya seperti tersetrum. Dia terkejut bukan main. Dia bahkan terlonjak mundur ke belakang. Gerak refleksnya hampir menubruk wajah Marissa.
Arya menatap Marissa nanar, seolah wanita itu baru saja merenggut kesuciannya. Tanpa sadar dia jatuh dan terduduk di lantai. Tatapan Arya kosong saat mendongak menatap Marissa.
"Kamu.." katanya lemah. "Apa yang sudah kamu lakukan?" sambungnya lagi setengah berbisik.
Marissa tersenyum. Dia ingin tertawa ngakak tapi dia tahan. Misinya berhasil!
"Yang ku lakukan hanyalah mencium suamiku. Tapi kenapa kamu berekspresi berlebihan seperti itu?" jawab Marissa dengan bahasa formal lagi-lagi seperti di drama pertelevisian.
Arya menguatkan dirinya, dia mencoba bangkit dari tempat terdamparnya sekarang.
"Lu bilang tadi gue agresif, kan? Itu belum seberapa Arya, makanya gue tunjukin ke elu apa arti agresif yang sesungguhnya, hmmh!" ucap Marissa setengah berbisik. Kini dia merasa senang dan menang. Apalagi saat melihat Arya gelagapan begini.
Arya mengusap-ngusap keningnya untuk menghilangkan bekas ciuman Marissa yang masih terus terngiang di benaknya.
"Yah malah dihapus bekas ciuman gue, parah banget lu! Mau ke mana heh!" tanya Marissa saat Arya pergi begitu saja tanpa sepatah kata apapun padanya.
Marissa tidak mengejar Arya, bukan karena kondisinya yang lemah dan sedang kesakitan. Tapi setelah melihat reaksi suaminya, dia tahu cowok kaku seperti Arya ini pasti baru merasakan hal begitu untuk pertama kalinya dan dia juga tahu Arya saat ini sedang butuh waktu untuk kembali tenang akibat adrenalin yang terpacu cepat secara mendadak.
Arya kembali ke sofanya berusaha tanpa membuat keributan. Dia juga tidak menoleh lagi pada Marissa dan langsung berbaring di sofa itu begitu saja lalu menarik selimut sampai menutupi seluruh tubuhnya.
Marissa ini apa-apaan sih, kok bisa-bisanya dia bertindak seenaknya aja! Apa tidak bisa dia ijin dulu atau bilang apa gitu padaku sebelumnya? Kenapa dia malah menipuku seperti tadi! Kok bangga banget ngatain diri sendiri agresif! Aneh! umpat Arya dalam hatinya.
Bagaimanapun, Arya tentu kesal. Tapi dia tidak bisa bohong kalau ternyata perasaan kesal itu bercampur dengan perasaan geli sekaligus malu. Semua itu bergumul dalam dadanya. Dia bahkan bisa merasakan darahnya naik ke otaknya.
Arya juga masih bisa merasakan perasaan saat Marissa mencium keningnya. Rasa hangat dan basah yang menyatu, bekas itu masih terngiang dibenaknya.
Malam makin pekat Arya berusaha memejamkan mata menuju alam bawah sadarnya. Dia ingin segera tertidur agar tidak terus memikirkan kejadian tadi. Tapi semakin dia berusaha, bayangan kelakuan Marissa tadi malah menjadi semakin nyata. Arya berusaha fokus, berfikir positif dan mencoba membuang semua obrolan diri sendiri dalam otaknya. Perlahan cara itu berhasil, matanya mulai menerawang gelap, dia mulai tertidur dan sesaat masuk ke dalam mimpinya.
Tapi... entah bagaimana setelah dia berhasil tertidur, kejadian tadi malah muncul lagi di dalam mimpinya! Arya ingin menolak dan menjauhi hal itu. Dia berusaha keras untuk bangun dari tidurnya.
Sebuah suara memanggil-manggil namanya. Dia kenal suara ini, milik Marissa.
Dalam mimpinya Marissa memanggil sambil mengejar Arya.
"Aryaaaa..Aryaaa.."
Arya bingung harus berlari kemana, harus seperti apa?! Segera dia mencoba tenang. Entah keyakinan dari mana dia jadi tahu kalau semua ini hanyalah situasi yang terjadi dalam mimpinya saja. Dengan kepercayaan itu dan suara memanggil Marissa yang semakin keras, dia membuat keputusan untuk mengakhiri mimpi tersebut. Dia tahu harus bangun saat ini juga! Otaknya pun menyuruh dia bangun dan secepatnya membuka mata.
Namun bagaimana ini bisa terjadi?! Tepat ketika matanya terbuka, dia kembali dikejutkan oleh wajah tak asing yang sudah dikenalnya yaitu wajah Marissa dan saat ini sedang berada persis di depan wajahnya Arya!
Kok bisa ada dia lagi sih? pikir Arya setengah panik.
Apakah dia belum benar-benar terbangun?
Apakah ini masih di alam mimpi?
***
__ADS_1