Terpaksa Menikahi Pelakor

Terpaksa Menikahi Pelakor
Tangis Penyesalan


__ADS_3

Tanpa pedulikan berbagai pertanyaan, Marissa langsung masuk ke kamarnya tak hiraukan satu orang pun juga disana. Dia seperti anak kecil yang ngambek karena tak dibelikan jajanan dan mengurung diri dikamar begitu saja.


"Marissa kenapa sih, Nak? Tadi dia semangat happy banget sekarang marah-marah ga jelas. Mama jadi aneh sama sikap dia," ucap Mama pada Arya sambil menaruh tas di sofa ruang tamu dan duduk tepat disamping tasnya.


"Mungkin ada yang bikin mood dia jadi jelek kali, Ma," jawab Arya sekedar menebak dan ikut duduk di sofa sebelah Mama.


Papa menepuk pundak Arya. "Biarin aja mungkin dia lelah. Kamu udah tenang sekarang, udah ga kenapa-napa?" tanya Papa memastikan kondisi Arya.


Arya memegang tangan Papa dipundaknya lalu tersenyum. "Ga apa-apa ko, Pa. Tadi Arya hanya kebawa suasana aja. Arya kecewa aja sama Raya."


Papa duduk di depan Arya, "Kalau kamu belum siap cerita sebaiknya kamu istirahat aja dulu, kasihan kamu juga pasti lelah," kata Papa penuh pengertian.


"Iya, Nak. Kamu istirahat sekarang, nanti aja ceritanya. Apalagi Marissa lagi bete gitu, padahal tadi dia yang paling semangat minta kamu buat cerita," timpal Mama.


"Udah biasa Ma Marissa hilang mood gitu. Dan sepertinya Arya mau cerita sekarang aja sama Papa dan Mama. Arya mau negasin juga didepan Papa dan Mama kalau Arya tidak akan pernah dan tidak akan mau lagi untuk kembali bersama Raya. Apalagi setelah Arya tahu, betapa mudahnya dia mempermainkan sebuah perasaan," kata Arya membuat keputusan lalu mulai menceritakan apa yang terjadi saat itu, setelah semua orang meninggalkan mereka berdua di dalam kamar Raya.


Tanpa sepatah katapun, Raya turun dari ranjangnya lalu dia jalan tertatih kemudian memeluk Arya, suatu hal yang membuat laki-laki itu terkejut karena perlakuan dari wanita dihadapannya yang begitu tiba-tiba. Itu adalah pelukan pertamanya dengan Raya bahkan hal yang tidak pernah dilakukan selama mereka pacaran.


Pelukan yang didapat ketika Raya bukan lagi pacarnya membuat Arya jadi sungkan. Saat pacaran saja segan apalagi sekarang dia tak ada hubungan apa-apa lagi dengan Raya, juga, meskipun Arya menikah kontrak dengan Marissa, tetap saja baginya tidak etis jika seorang pria yang sudah beristri berpelukan dengan wanita lain dengan membawa sebuah perasaan didalamnya.


Arya menghempaskan tangan Raya pelan, "Apa yang kamu lakukan? Mengapa memelukku tiba-tiba seperti ini?"


"Aku kangen kamu, Ay!" Mata Raya berbinar antara sedih dan senang.


"Aku bukan siapa-siapa kamu lagi, ga ada alasan bagi kamu untuk kangen sama aku apalagi sampai harus memelukku seperti tadi," jawab Arya tanpa ekspresi.


"Kamu juga kenapa asal main turun aja dari ranjang? Lukamu masih belum benar-benar kering kan? Bagaimana kalau lukamu terbuka lagi?" tanya Arya dengan tatapan penuh rasa kasihan. Arya lalu memapah Raya untuk kembali naik ke ranjangnya.


"Jadi kamu mau ngomongin apa sampai harus minta bicara empat mata saja denganku?" tanya Arya sambil duduk di sisi ranjang Raya tak mau berlama-lama di tempat ini.


"Aku.. aku nyesel, aku ngaku salah karena udah selingkuh, udah ninggalin kamu.. Udah sakitin kamu, aku salah! Maafin aku atas semua salahku! Aku ini perempuan yang berdosa sekali karena sudah melepaskan cowok sebaik kamu dihidupku. Waktu itu aku hanya ingin melihat kamu seperti apa mauku bukan seperti apa yang sebenarnya aku butuhkan. Aku benar-benar dibutakan cinta oleh Kelvin karena menurutku dia sudah sesuai dengan semua inginku. Tapi ternyata aku salah besar, aku menyesal sekarang setelah semua yang telah dia lakukan padaku. Aku mohon sama kamu tolong maafin aku Ay..." Raya menangis sambil bicara sesenggukan. Tapi entah mengapa hati Arya tak tergerak sama sekali saat mendengarnya.

__ADS_1


"Sudah jangan nangis. Aku udah maafin kamu dari jauh hari, kok!" jawab Arya membuat hati Raya cerah.


"Beneran kamu udah maafin aku? Apa kamu mau balikan lagi sama aku?" tanya Raya semangat, juga tak tahu malu.


Arya menghela nafas berat. "Aku emang udah maafin kamu, Raya. Tapi maaf, aku ga bisa kalau harus kembali lagi sama kamu. Kita sudah selesai. Dan kamu sendiri yang memutuskan hubungan kita, bahkan dengan cara yang menyakitkan."


"Aku tau akau salah. Tapi aku ingin kembali padamu, waktu itu kamu sendiri yang bilang kalau aku adalah satu-satunya wanita yang kamu cintai kan? Makanya kamu mau menikahiku, bahkan hingga saat ini aku tau kamu masih mencintaiku, iya kan Ay?!" rengek Raya sambil menggenggam lengan Arya.


Arya melepaskan genggaman itu sambil menggelengkan kepala. "Maaf," ujarnya lirih "aku ga bisa kembali lagi padamu."


"Bohong! Kamu bohong! Kamu hanya membohongi diri sendiri padahal sebenarnya kamu masih cinta sama aku, jawab jujur Arya!" pinta Raya menjerit histeris, "kalau kamu ga cinta sama aku, lalu mengapa kamu selamatkan aku bahkan sampai menghajar Kelvin segala? Kamu tau, Arya, itu karena kamu masih mencintaiku! Karena cintamu itu kamu sampai berani menghajar Kelvin, iya kan?!"


Arya memegang pundak Raya dengan kedua tangan dan sedikit mengguncangkannya.


"Raya, sadar! Apa kamu lupa kalau kamu sudah melukaiku dan sekarang dengan tanpa pedulikan perasaanku kamu tetap memikirkan dirimu sendiri, mengajakku untuk kembali bersama? Dengar, aku menolongmu itu hanya karena aku memang harus melakukannya, dan masalah aku menghajar Kelvin, siapapun akan kesal jika tahu situasinya kalau dia mendorong kamu yang tengah mengandung anaknya sendiri dan siapapun pasti tak akan habis pikir setelah melihat tindakannya yang sangat membahayakan kamu dan anakmu itu!" jelas Arya.


Raya geleng-geleng tak percaya, "Bohong! Bohong kamu Ay! Kamu tolongin aku pasti karena kamu masih cinta sama aku, dan kamu tidak mau melihat aku kenapa-napa kan Ay! Hiks! Hiks! Kamu masih sayang dan cinta padaku! Aku yakin itu!" Tangis Raya makin pecah.


"Jadi kamu pikir kewajibanmu menolongku itu adalah sebuah kebetulan? Kamu pikir hanya karena kamu sudah menolongku, jadi aku berhutang nyawa padamu maka dari itu kamu berhak mencampakkan aku seperti ini, hah?" tanya Raya menangis sambil marah.


Arya lagi-lagi menghela nafas. Berat sekali rasanya untuk menjelaskan bagaimana maksud hatinya pada Raya "Bukan gitu maksudku Raya. Aku tidak ada pikiran sama sekali untuk mencampakkan kamu atau semacamnya. Lagipula apa kamu lupa kalau kamu duluan lah yang mencampakkanku? Kamu bahkan tega selingkuh dengannya, lalu bukannya merasa bersalah kamu malah membandingkan aku dengan Kelvin, menyebutku pengecut, menyebutku tidak lebih hebat darinya, bahkan kamu menamaiku manusia munafik! Apakah kamu tidak ingat semua perkataanmu dahulu? Apakah aku harus kembali denganmu setelah semua perlakuanmu itu? Ga bisa Raya! Bahkan mengingatnya saja membuat hatiku pedih!"


"Jadi selama ini kamu ga terima semua perlakuanku makanya kamu ingin balas dendam padaku dengan cara seperti ini? Kamu menolakku hanya karena ingin balas dendam, iya?" tanya Raya tak sabar.


Arya menatap Raya nanar. "Raya, dengarkan aku. Jika aku ingin balas dendam padamu, pasti sudah kubiarkan kamu berantem dengan Kelvin saat itu bahkan aku tidak peduli dengan keselamatanmu dan anakmu, tapi nyatanya aku tidak bisa menuruti egoku, aku akan berdosa jika membiarkan semua terjadi begitu saja dan hanya menonton dari kejauhan, betapa bersalahnya aku jika aku tidak menolongmu apalagi setelah ku ingat dulu kamu punya niat ingin menggugurkan bayimu. Kasihan sekali anakmu, bahkan belum lahir saja sudah tak diinginkan oleh kedua orangtuanya." Raya membelalakkan mata tak percaya, bagaimana Arya bisa tahu kalau dia pernah ingin menggugurkan janinnya?


"Walaupun setelah semua yang kamu lakukan padaku, aku masih terus mencemaskanmu. Aku bahkan beberapa kali pergi ke klinik kandungan, tempat dimana kita pernah bertemu dulu guna memastikan kalau kamu tidak jadi menggugurkan anak itu, hingga aku mendapatkan jawaban bahwa kamu mulai menerimanya dan berniat melahirkan anak tersebut. Dan kamu juga nampaknya tengah berusaha untuk meyakinkan Kelvin agar mau menerimanya dan bahkan memintanya untuk segera menikahimu. Jujur saja aku sangat senang jika hal itu terjadi, artinya kamu sudah menemukan bahagiamu bersama Kelvin, memulai hidup baru menjadi keluarga kecil yang bahagia. Dan jujur saja aku pun ikut sakit saat melihatmu jadi seperti ini. Bukan karena aku masih mencintaimu, tapi harapanku agar kamu bahagia rasanya telah menjadi sirna. Doaku agar kamu bahagia rasanya sudah tak bermakna karena kamu sudah kehilangan seorang anak yang berharga. Aku sungguh ga tega melihatmu seperti ini, Raya. Hanya sebatas itu saja!" terang Arya memberi pengertian dengan lembut.


Raya meronta. "Tapi bagaimana bisa kamu menolakku? Apa kamu jijik denganku karena aku pernah hamil dengan orang lain?" jeritnya.


"Aku bukan jijik padamu. Hanya saja aku kecewa. Sangat kecewa. Kamu sudah menghancurkan kepercayaanku, kamu merobek hatiku. Andai pun aku kembali padamu, meskipun robekan hatiku disatukan kembali, tetap saja tidak bisa, karena mau diapakan juga pasti tetap ada bekas yang terlihat disana. Begitupun dengan hubungan kita, meskipun kita balikan tapi masa lalu yang menyakitkan itu akan tetap membayangiku. Aku tidak mau menjalani hubungan yang tidak sehat seperti itu, Raya."

__ADS_1


Raya menyeret kakinya, menekuknya agar dia bisa menangis tertunduk diranjangnya. Perempuan itu memeluk kedua kakinya dan menangis tersedu seperti anak kecil dipojokkan. Badannya berguncang. Tak ia pedulikan lagi rasa sakit bekas operasi diperutnya.


Arya menunduk sedih melihat Raya seperti itu. Ada rasa iba yang menyayat relung hatinya.


Raya mendongak buru-buru ia mencari kalung dibalik bajunya lalu memperlihatnya pada Arya. Sebuah kalung dengan bandulan bentuk hati pemberian Arya dulu.


"Kamu lihat kalung ini? Aku selalu memakainya saat aku dirawat disini. Apa kamu tahu sudah berapa kali aku mencoba kabur dan bunuh diri? Bagiku hidupku sudah hancur, tapi saat Ibu membawakanku kalung ini. Aku jadi berpikir kembali. Aku ingin hidup, aku ingin memulai semuanya dari awal bersamamu lagi. Kamu satu-satunya alasanku untuk hidup saat ini, tapi kenapa kamu tega sekali malah menolakku. Merenggut harapanku. Apa aku harus mati saja? Apakah aku memang pantas untuk mati?!"


Mata Arya berlinang. Hatinya tergores saat mendengar pernyataan Raya tentang keinginannya untuk mengakhiri hidup.


Dengan canggung Arya mengelus kepala Raya. "Sudah cukup Raya. Kamu harus menerima kenyataan ini, bahkan jika kamu tidak lagi bersama denganku bukan berarti hidupmu hancur. Ini bukan akhir hidupmu. Tapi jadikanlah pengalaman agar kamu bisa memulai kehidupan lagi yang baru tanpa salah melangkah seperti dahulu. Aku yakin suatu saat nanti akan ada laki-laki yang akan mencintai kamu apa adanya bahkan lebih baik dari aku. Dan maaf aku sudah bulat dengan keputusan ini bahwa aku ga bisa lagi kembali bersamamu. Aku sungguh tulus meminta maaf dari hatiku terdalam. Aku mohon kamu mengerti." Tanpa terasa air mata berderai di pipi Arya.


Raya menatap Arya dengan wajah sendu "Apa karena Marissa? Apa kamu mulai mencintainya sekarang?" tanya Raya sedih.


Arya tersenyum getir, "Marissa bukanlah alasan untukku menolakmu. Aku hanya tidak ingin kembali padamu dan mengingat semua kesakitan yang pernah kamu berikan padaku. Sungguh maafkan aku," pinta Arya lagi supaya Raya mau memahami.


Raya tetap tak terima, dia menggelengkan kepalanya keras. "Tapi aku sudah sadar sekarang kalau aku sebenarnya sangat mencintaimu. Kamu ingat kan dulu kamu pernah bilang kalau kita itu ditakdirkan untuk bersama. Bahkan nama kita sama, ARYA, RAYA. Salah satu yang menjadikan kita sebagai takdir. Aku juga masih ingat saat kamu bilang hanya aku satu-satunya wanita yang ingin kamu nikahi? Kamu ga mungkin melupakan itu kan?" tanya Raya tak putus asa menginginkan Arya.


"Aku ingat Raya, sangat ingat. Aku bahkan ingat saat-saat kita bersama dulu. Aku ingat semua kenangan indah itu, tapi sayangnya aku juga ingat semua kenangan buruk darimu. Hal itulah yang membuat kita tidak bisa bersama lagi, jadi tolong untuk mengerti Raya. Jangan sampai kamu menyesal nanti jika memaksakan kembali bersama lagi denganku, sikapku pasti akan berbeda padamu tidak bisa seperti dulu lagi, karena nantinya dalam hubungan kita pasti akan selalu ada bayang-bayang buruk dari masa lalu. Aku tidak mau hidup dengan perasaan seperti itu. Aku tidak bisa lagi mencintaimu maka dari itu kita tidak boleh lagi bersama agar aku tidak menyakitimu dikemudian hari," jelas Arya masih berlinang air mata lalu beranjak dari tempat tidur Raya.


Raya menarik lengan Arya tak mengizinkannya pergi. Tapi sebisa mungkin Arya menghempaskan tangan tersebut, tentu saja dengan usaha tanpa menyakiti Raya.


Raya meronta-ronta tak kuasa. Air mata berderai membasahi pipinya. Bahkan sampai terjatuh-jatuh pada pakaian yang dikenakannya menjadi basah.


Akhirnya dia mengerti apa artinya menyesal. Tangis penyesalan yang sedang dirasakannya kini tak ada artinya lagi. Tangisan itu tidak dapat menebus dosanya dimasa lalu, Arya tak akan pernah kembali lagi padanya.


Sebelum benar-benar keluar, Arya menoleh pada Raya dan memberikan sebuah pesan padanya.


"Raya, hidup ini hanya sekali. Jangan sampai kamu sia-siakan dengan melakukan hal bodoh untuk mengakhiri hidupmu lagi. Aku akan merasa bersalah seumur hidupku jika kamu melakukan itu, pahamilah aku jika kamu memang merasa bersalah padaku. Dan jalanilah hidupmu sebaik mungkin. Mulailah kehidupan baru dari sekarang, lupakan masa lalu dan raihlah kebahagiaan sesungguhnya yang benar-benar kamu butuhkan. Kamu pernah selingkuh dariku artinya kamu tidak menemukan bahagiamu dalamku. Kamu menangis tersiksa seperti ini hanya karena sebuah penyesalan bukan karena benar-benar menginginkanku. Jadi mulailah cari arti kebahagiaanmu sendiri, tentu saja tanpa menyakiti orang lain lagi. Jadikan semua yang terjadi diantara kita ini sebagai pelajaran berharga untukmu, dan carilah seseorang yang benar-benar membuatmu nyaman agar kamu tidak melakukan kesalahan seperti dulu lagi, dan katakan pada orang yang sudah kamu pilih jika ada sesuatu yang membuatmu tak suka padanya tanpa harus mencari pelarian yang akhirnya hanya akan menyakitinya. Aku yakin suatu saat nanti, hari bahagia itu akan datang menghampiri hidupmu. Jadi sabar dan semangatlah," kata Arya sambil tersenyum dan membersihkan wajahnya dari sisa air mata lalu mulai melangkah dan membuka pintu keluar. Walau Raya masih teriak memanggil namanya tapi Arya tak bisa tertahan lagi. Saat pintu itu terbuka, rasanya Arya benar-benar sudah meninggalkan masa lalunya. Tepat dengan wajah seseorang yang dia lihat didepannya, apakah wajah itu akan menjadi masa depannya? Arya tak tahu, yang pasti dia ingin memulai kehidupannya yang baru mulai saat ini.


***

__ADS_1


__ADS_2