
"Ada apa Marissa?" tanya Arya panik sesampainya di ruang keamanan sebuah mall.
"Nih, pak saya ga bohong, kan! Ini suami
gue. Perempuan gila ini terbukti fitnah!" ujar Marissa namun Arya tidak mengerti maksud dari perkataannya.
Di tempat itu sudah berkerumun beberapa orang, 2 orang security mall, seorang wanita yang mungkin seumuran dengan Marissa dan seorang pria dengan setelan kemeja.
Arya datang dengan kebingungan tak tahu menahu apa yang terjadi sebenarnya, dia hanya dikabari Marissa untuk segera datang ke tempat ini kalau tidak Marissa akan berakhir di penjara. Mendengar ucapannya itu Arya langsung tancap gas kemari. Arya sedikit banyak sudah tau sifat Marissa tukang pembuat onar, akan gawat jika ia mengabaikan Marissa.
Seolah membaca kebingungan di wajah Arya, salah seorang security menjelaskan situasi yang sedang terjadi.
"Benar ini istri bapak?" tanya security itu.
"Iya benar, ada apa ini sebenarnya, Pak?" tanya Arya gugup. Sepertinya bukan masalah sepele kalau sudah melibatkan petugas keamanan.
"Istri bapak tadi bertengkar dengan wanita yang bernama Bu Mika ini didalam toko tas sebelah sana." ujar security sambil menunjuk salah satu toko tas dengan merk internasional.
"Bukan hanya membuat keributan, tapi mereka juga merusak barang di toko kami." potong seorang pria dengan kemeja tadi yg ternyata adalah manajer toko tersebut.
Arya tercenung. Hanya satu kata yang terlintas dipikirannya. 'Gila'.
"Gue ngga mau bertanggung jawab karena yang memulai pertengkaran ini sudah jelas dia!" tuduh Marissa sambil menunjuk Mika. "jadi biarkan saya pergi dan minta dia yang menyelesaikan juga mengganti rugi atas semua kerusakannya."
"Kurang ajar kamu ya! Jelas-jelas kamu yang duluan malah melimpahkan semuanya sama saya? Dasar pelakor hina!" Bentak wanita bernama Mika.
Mendengar kata pelakor Arya jadi sedikit paham. Akankah orang ini adalah istri dari suami yang berselingkuh dengan Marissa?
"Hahh! Udah kasar, nuduh gue pelakor, nuduh rebut suami lu? Nih gue buktiin gue punya suami, jangan ngarang cerita lu! Coba kita lihat CCTV siapa duluan yang nyerang siapa!" tantang Marissa.
Tampak mata Mika berkaca-kaca menahan amarah dan kecewanya. Wajahnya jadi memerah.
Arya tau, kehadiran Arya sepertinya jadi menyudutkan Mika.
Seorang wanita dengan seragam toko datang membawa sebuah flashdisk dan diberikan pada manajer toko.
"Saya sudah punya rekaman CCTVnya agar kita bisa lihat bersama di ruangan ini." kata si manajer toko.
Tanpa menunggu lama security itu langsung segera mengecek CCTV dan sesuai perkataan Marissa tampaklah disana kalau memang Mika yang lebih dulu menyerangnya.
Dalam CCTV tersebut terlihat Mika datang dari arah belakang tiba-tiba menarik rambut Marissa.
Marissa yang terkejut hampir terjengkang karenanya.
"Tuh lihat lihat! Benar kan dia yang mulai, dia bahkan hampir mencelakai gue dan anak gue." jerit Marissa histeris. Benar-benar seperti korban yang teraniaya.
Tanpa sadar air mata jatuh di pipi Mika. "Memang benar saya duluan yang menjambak dia, tapi itu karena dia sudah memprovokasi saya. Tepat di depan toko itu saya bertemu dengannya, lalu dia bilang sedang hamil anak suami saya dan dia juga bilang akan pastikan kalau kami akan bercerai setelah anak itu lahir, bahkan dia bilang akan memenangkan suami saya atas hak asuh kedua anak kami dan tidak keberatan jika kedua anak saya dia urus nantinya. Dia juga merendahkan saya karena akan tinggal seorang diri, semua yang saya punya akan dia rebut. Wanita mana yang tidak emosi mendengar hal seperti itu?" jelas Mika.
Semua orang disana jadi terdiam kebingungan.
"Begini, saya tidak mau tau ada masalah apa diantara kalian. Yang jelas saya minta pertanggung jawabannya saja karena ada beberapa barang ditoko kami yang rusak karena keributan tadi." ungkap manajer toko.
"Yaudah, minta dia yang bayarin semua kerusakaannya, kan dia yang mulai." kata Marissa enteng.
"Tapi kamu yang lebih dulu melemparkan tas-tas di toko itu Marissa." kata Arya mengingatkan setelah ikut menonton adegan dalam CCTV "biar saya yang bayar semua kerusakaannya, dan saya harap hal ini tidak perlu diperpanjang lagi urusannya." kata Arya memberikan solusi.
"Baik, saya tidak peduli siapa yang akan membayar. Yang saya mau toko kami tidak rugi atas hal seperti ini." kata manajer toko senang.
"Tidak. Tunggu sebentar, seperti kata perempuan murahan ini. Saya yang akan membayarnya." potong Mika tiba-tiba.
Semua orang disana melihat Mika dengan tatapan heran. Masalah sudah akan selesai kok malah di cegah.
Marissa yang mendengar hal itu hampir tertawa dibuatnya, ia tau persis bagaimana keadaan ekonomi Mika. Tapi ternyata senyuman itu hanya bertahan sebentar.
"Suami saya sudah didepan sedang menuju tempat ini. Dia yang akan membayar semuanya." Kata Mika tersenyum tenang sambil melirik Marissa dengan tatapan sinis.
Dan benar saja, tidak berapa lama seorang laki-laki tiba di tempat itu.
"Ayah, tolong bunda. Tadi bunda bertengkar sama dia dan harus bayar denda karena udah ngerusakin barang." rengek Mika pada suaminya sambil merangkul lengannya.
"Tio, kamu ngapain kesini?" bisik Marissa terkejut tapi masih bisa terdengar oleh semua orang.
Tio salah tingkah, "Maaf atas perbuatan istri saya. Saya sudah tau ceritanya dari istri saya dan saya akan bertanggung jawab untuk membereskan semuanya.Tapi kira-kira berapa biaya yang harus saya bayar?" tanya Tio tanpa basa-basi ingin semua cepat selesai.
"Baiklah jika bapak sudah tau cerita sebenernya, jadi saya tidak perlu lagi menjelaskan. Juga karena istri bapak ini tadi bilang menyanggupi untuk membayar, jadi akan saya jabarkan total semuanya. Ada 5 barang yang rusak karena keributan tadi, totalnya adalah Rp. 112.000.000,-“ ujar si manajer membuat Tio membelalakkan mata.
"Bunda, memang barang apa yang rusak sampai mahal gini biayanya?" tanya Tio.
"Tas branded, Yah." bisik Mika.
Tio menelan ludah.
Yang benar saja, bagaimana aku bisa membayarnya. Bahkan tabunganku saja tidak sampai segitu banyaknya. Pikir Tio cemas.
"A-apa tidak bisa dikurangi?" tanya Tio ragu.
Manajer itu tertawa, "Anda pikir ini pasar bisa tawar menawar? Kami berikan total harga sesuai sistem. Yang artinya barang yang dirusak haruslah dibayar alias dibeli. Segitu saya masih murah hati hanya meminta uang untuk membeli saja sesuai harga sistem." kata si manajer menahan sabar.
Mata Marissa berkilatan mendengarnya, dia jadi ikut panik melihat Tio panik. Dia tau kalau Tio tidak akan sanggup membayarnya.
Lalu tiba-tiba Marissa berinisiatif. "Sudah sudah! Gue gak mau membuang waktu lebih lama lagi disini, biarkan suami gue aja yang membayarnya." kata Marissa akhirnya malah membuat semua orang menjadi semakin bingung.
Aneh sekali. Tadi dia yang kekeh tidak ingin membayar, sekarang dia dengan sukarela malah ingin membayarnya.
Arya merasa heran sekaligus lucu. Wanita ini benar-benar luar biasa, selalu menjadi terdepan saat orang yang dicintainya kesusahan.
"Tidak mau. Kan tadi Bu Mika sendiri yang bilang akan bertanggung jawab karena sudah menyerang istri saya terlebih dahulu." Kata Arya sambil merangkul Marissa membuat wanita itu kelabakan. Bukannya di iyakan saja, Arya malah memperburuk suasana.
__ADS_1
Begitu pun dengan Mika, bukannya khawatir, Mika malah tampak tersenyum senang. "Benar, anda tidak perlu khawatir karena kami yang akan bertanggungjawab." timpal Mika. Jawaban Mika membuat Tio gelagapan.
"Tapi bunda, Ayah dapat uang dari mana sebanyak itu?" tanya Tio cemas.
Mika mengangkat bahu sambil melirik Marissa. Menatapnya dari atas kepala sampai kaki naik lagi ke atas. Seolah mata Mika itu berkata 'aku sudah siap membuat laki-laki ini menderita'
"Dasar perempuan hina!" batin Marissa.
Mika memeluk Tio, tiba-tiba menangis di dadanya. "Maafin bunda, ayah." Mika sesenggukan, ia menangis "bunda udah bikin ayah susah." katanya merasa bersalah sambil disaksikan semua orang disana.
Perempuan ****** ini pandai sekali berakting rupanya. Coba tadi gue cakar aja mulut dia. Umpat Marissa dalam hati.
"Kalau anda tidak mampu membayar, mau tidak mau hal ini akan saya serahkan ke pihak yang berwajib. Karena kami tidak punya wewenang untuk tindakan selanjutnya." kata security membuat Tio semakin panik.
Tio menelan ludah. Masa hal seperti ini harus sampai dibawa ke ranah hukum? Harus berurusan dengan polisi?
Tio kebingungan, ditambah tangis Mika yang semakin kencang. Tio makin mendekap tubuh Mika sambil membelai rambutnya mencoba menenangkan.
"Sudah bunda jangan nangis, bunda tidak usah cemas. Ayah pasti akan membayarnya. Ayah akan mencari pinjaman untuk melunasinya." kata Tio lembut.
Marissa yang melihat itu menjadi panas. Ia melepaskan rangkulan Arya. "Ah, hidup kalian penuh drama. Buang-buang waktu saja. Biar saya yang bayar, dan kita anggap semua urusan ini selesai!" ujar Marissa sambil pergi menarik manajer toko untuk menyelesaikan pembayaran.
Semua orang disana jadi terheran-heran.
Tio menghapus air mata di pipi Mika. Seperti ada angin segar, Tio menjadi sedikit lega.
"Kita ikuti saja perkataan dia sekarang bunda, ayah tidak punya pilihan. Tidak apa-apa ya?" Mika diam tak menjawab.
Setelah berkata seperti itu Tio mengajak Mika untuk ikut berjalan mengekori Marissa. Termasuk Arya yang berjalan menyilangkan lengan, merasa lucu atas kepanikan Marissa. Sebuta itu cintanya pada suami orang.
Arya melirik Mika yang tampak mengusap pipinya, ada senyum yang mengembang disana. Dia berjalan mengikuti mereka dengan masih mendekap pada suaminya.
Wanita yang hebat, bisa membaca situasi dan sifat orang, dia bahkan tau tindakan Marissa akan seperti apa. Puji Arya dalam hatinya pada Mika.
Setelah selesai melakukan transaksi dan menandatangani secarik kertas perdamaian merekapun bubar.
"Tolong jaga istri bapak baik-baik. Dan untuk ibu mohon untuk lebih mengontrol emosi ya ibu. Saya harap kejadian ini tidak terulang lagi." pesan security tadi kepada Tio dan Mika. Sepasang suami-istri itu mengangguk juga berterima kasih pada security dan manajer toko. Mereka juga tidak lupa berpamitan pada Arya dan Marissa. Bahkan Tio berterimakasih juga meminta maaf secara formal atas nama istrinya kepada Marissa. Lalu pergi meninggalkan mereka menuju pintu keluar mall.
Tampak amarah Marissa melihat punggung suami istri itu dari belakang. Tio jalan sambil merangkul Mika dan istrinya itu merangkul pinggang Tio. Membuat api cemburu meledak di dada Marissa.
Setelah agak menjauh, Mika menoleh ke belakang sambil menyunggingkan sebelah bibirnya seolah sedang menertawakan Marissa.
Arya memegang bahu Marissa. "Kamu kalah telak sepertinya. Ayo pulang." Ajak Arya tapi Marissa malah menepis lengan Arya dengan kasar.
"Kamu sengaja kan? Kamu sengaja membiarkan Tio malu didepan semua orang karena tak sanggup membayar?" bentak Marissa, beberapa orang yang lewat memperhatikan mereka.
Arya menghela nafas. "Enggak. Aku hanya membiarkan orang itu mengikuti keinginannya. Perempuan bernama Mika itu sendiri yang bilang ingin bertanggung jawab kan? Di dunia ini ada loh tipe orang yang akan merasa bersalah jika tidak bertanggung jawab atas kesalahan yang dia buat. Aku juga tidak ingin ada orang yang merasa berhutang budi kepadaku nantinya." jelas Arya sengaja berbohong. Padahal tadi ia menikmati kepanikan Marissa, karena ia tau Marissa akan melakukan apa saja untuk orang yang dicintainya walau ia sudah dicampakkan.
Arya teringat seminggu lalu setelah pernikahan. Suatu malam ia terjaga dan susah sekali untuk tidur, ia pun memutuskan untuk jalan-jalan guna mencari angin segar agar ia lelah dan mengantuk, tapi saat hendak melewati kamar Marissa yang sebelahan dengan kamarnya, tak sengaja Arya mendengar percakapan Marissa lewat telepon dari celah pintu kamarnya yang sedikit terbuka. Karena kamar mereka sebelahan, Arya berhenti sebentar sebelum melewatinya. Ia penasaran hal apa yang dibicarakan wanita itu sampai Marissa membentak-bentak dengan lawan bicaranya.
"Gue ga mau kita putus! Lu sendiri yang bilang akan bercerai setelah anak kita lahir. Kenapa sekarang lu malah mau ninggalin gue?"
.......
.......
"Enak aja! Dia sudah tau dan mau memaafkan? Ga bisa! Lu tetap harus bercerai darinya!"
.......
"Gue ga perlu maaf dari lu. Gue maunya lu jadi milik gue seutuhnya!"
.......
"Suami gue apanya? Kita hanya kawin kontrak. Kita bakal cerai sampai ini lahir. Terus kita akan nikah! Lu yang paling tau kan kalo anak yang gue kandung itu anak lu!"
.......
"Ga bisa! Ga bisa! Ehhh *******! Brengsek! Dasar cowok ***** malah ditutup telpon gue?" Marissa kesal karena telponnya ditutup sepihak, ia pun mencoba menelpon lagi tapi tampaknya telpon yang ia hubungi sengaja dimatikan.
"Sialan!" umpat Marissa.
Arya yang mendengar itu mengurungkan niatnya pergi keluar dan memilih kembali ke kamar. Akan panjang urusannya jika dia kepergok Marissa setelah menguping tadi.
Setelah mengingat kejadian itu, Arya jadi berpikir inikah sebabnya pria yang bernama Tio itu dengan sengaja memampangkan kesetiaannya pada Mika tadi karena baginya hubungan dengan Marissa sudah selesai?
Tapi jika dipikir-pikir, memang brengsek juga dia ingin hidup damai dengan cara meninggalkan Marissa bersama anak yang dikandungnya. Seperti orang yang sedang menutup mata dari kesalahan yang dia perbuat.
"Tadi kamu kesini di antar supir?" tanya Arya.
"Yaiyalah, mana mau gue nyetir sendiri. Gue kan lagi hamil." Jawab Marissa ketus.
"Suruh supir jangan jemput kamu. Biar aku yang antar sekalian pulang."
"Mending gue naik taxi aja deh daripada semobil sama lu." Kata Marissa menolak ajakan Arya.
"Yaudah terserah kamu aja. Aku duluan ya." kata Arya sambil berjalan meninggalkan Marissa.
"Tunggu dulu woy!" kejar Marissa. "Lu gila ya? Gue lagi gini lu biarin sendiri? Kalau gue kenapa-kenapa gimana? Kalau gue ngomong gitu seenggaknya ajak lagi, paksa dikit kek apa gimana!" kata Marissa kesal lalu jalan mendahului Arya menuju mobil Arya diparkiran.
Arya geleng-geleng kepala. Dasar wanita gila kekanak-kanakan. Pikir Arya.
"Memang bagaimana kalian bisa bertengkar bahkan ditempat ramai seperti itu? Benar yang dikatakan Mika kalau kamu yang lebih dulu memprovokasi dia?" tanya Arya sesaat setelah mobilnya dijalankan.
Marissa menyilangkan lengannya. Dahinya mengerut kencang. Bibirnya monyong menahan kesal tak mau menjawab.
"Apa kamu emang sengaja buntutin dia hanya buat provakasi dia dan berantem disana?" tanya Arya mengintrogasi.
__ADS_1
"Lu ya? Serendah itu gue dimata lu? Ngapain gue buang-buang waktu buat buntutin orang. Daripada gue yang lakuin, mending gue nyuruh orang buat buntutin dia. Ga akan ketahuan juga, kan. Kalau gue yang buntutin sih cari mati namanya!" jawab Marissa kesal.
"Terus kenapa kalian bisa berantem bahkan di tempat keramaian seperti itu?" tanya Arya lagi masih mengintrogasi. Karena pernah menguping pembicaraan Marissa malam itu membuat pikiran Arya jadi menebak ke mana-mana. Bahkan parahnya Arya sempat berpikir mungkin Marissa ingin mencelakai Mika.
"Gue rencananya mau beli perlengkapan buat bayi gue saat lahiran nanti. Terus ga sengaja ketemu dia disana. Mungkin bawaan bayi ya, pas ketemu dia gue jadi eneg. Gue kata-katain aja dia persis sesuai yang dia bilang tadi." jawab Marissa jujur.
Arya ketawa kencang. "Masa eneg sama orang karena bawaan bayi? Awas loh nanti anak kamu malah mirip Mika."
"Idih amit-amit." kata Marissa ketus.
"Tapi kenapa malah nyasar ke toko tas? Bisa-bisanya berantem ditempat mahal kayak gitu." kata Arya heran.
"Ya orang pas ketemunya di depan toko itu, gue sebagai wanita elegan ya pura-pura ajalah masuk ke sana padahal lagi ga nafsu juga liat barang kayak gitu. Tanpa gue sangka itu perempuan gila ternyata nekat, bisa-bisanya dia jambak gue dari belakang." Jelas Marissa
"Tapi kamu ga apa-apa?" tanya Arya.
"Iuh.. Ada angin apa lu khawatir sama gue? Gue ga apa-apa ini, tapi duit jajan gue ludes gitu aja demi perempuan brengsek itu."
"Aku bukan khawatir sama kondisi kamu." kata Arya mematahkan kegeeran Marissa. "tapi kamu yakin ga apa-apa nanti kedepannya? Soalnya di rekaman CCTV tadi aku lihat ada orang yang videoin kalian waktu bertengkar lempar-lemparan tas."
Marissa menoleh kaget. "Masa sih?" Lalu ia membuka smartphone dan mengecek Instagram. Ternyata benar, di beberapa akun gosip sudah menyebarkan video itu dengan judul yang menggemaskan. "Pembalasan istri sah kepada pelakor".
'Masih panas baru aja terjadi nih. Marissa emang pelakor tadi ribut di mall xxx'
'*****, gue liat sendiri tadi. Proses damainya pake duit loh'
'Gila ya berani terang2an di muka umum. Dasar perempuan lontong'
'Bagus deh. Istri sah jangan mau tertindas mulu, kali2 hajar wanita murahan kayak gitu'
'Iya nih bener, puas banget gue liat di jambak, huhuhuu'
'Tapi sangar main lempar-lempar barang dagangan orang, wkwkw parah'
'Gile, dia lempar tas M****** K*** edisi terbatas itu kan ya?'
'Ebuset parah amat ya ni cewe. Jadi video dia dulu yang minta di nikahin suami orang itu bener?'
'Loh kan dulu dia udah klarifikasi kalo itu cuma candaan, orang dia udah nikah kan sekarang? Trus apaan dong foto dia nikah yang dipost di IG nya?'
'Ah paling foto boongan, biasa settingan hahaha'
'Woi ada yang tau masalahnya apa sampai ribut kayak gitu? Tolong kasih pencerahan.'
'Ada apa ini ribut-ribut? Gue kudet nih abis bertapa dari gua hiro, baru keluar cari udara segar malah dapat yang ginian wkwk'
dan masih banyak komentar lainnya yang membuat Marissa geram.
"Aaaaaaaaa!!" Marissa tiba-tiba teriak membuat Arya terkejut dan mengerem mendadak.
"Kamu kenapa sih? Jangan bikin orang kaget gitulah, aku kan lagi nyetir!" kata Arya kesal.
"Tadi kamu liat siapa yang videoin? Pegawai toko atau bukan?" tanya Marissa menggebu bukannya minta maaf.
Mobil di belakang Arya yang mungkin ikut terkejut karena Arya menginjak rem mendadak itu menekan klakson sangat panjang. Lalu mobil dibelakangnya terlihat mendahului mobil mereka. Untung supirnya tidak turun dan marah.
Tak berselang lama Arya pun melajukan kembali mobilnya. "Video tadi viral?" tanya Arya tapi tak di jawab Marissa.
Perempuan itu malah menjatuhkan tubuhnya di dashboard dengan sokongan sikut tangan sambil menjambak rambutnya sendiri. Ia tampak frustasi.
"Bukan pegawai toko. Orang yang rekam tadi pakai baju biasa, mungkin pengunjung juga." kata Arya tenang menjawab pertanyaan Marissa tadi.
"Bawa gue balik ke toko itu. Gue mau minta videonya. Gue harus cari pelaku penyebarannya." pinta Marissa, wajahnya pucat dan gugup.
"Untuk apa? Kalau kamu mencari dia dan suruh dia minta maaf karena telah menyebarkan, artinya kamu membenarkan kejadian tadi, kan. Percuma juga kamu cari orangnya kalau video kamu sudah viral dan bisa ditonton dimana-mana. Orang tidak akan tertarik dengan klarifikasi kamu, mereka hanya tertarik untuk menghujat dan menjadikan kamu sebagai hiburan bagi mereka. Untuk saat ini kamu diam saja jangan melakukan apa-apa. Video viral biasanya akan terlupakan seiring berjalannya waktu. Kalau kamu tidak klarifikasi apa-apa mereka sendiri yang akan merasa bosan nantinya." ujar Arya menenangkan.
Marissa seperti tak mendengarkan pendapat Arya. Dia sibuk merapihkan baju dan rambutnya.
Tiba-tiba Marissa mengambil smartphone dari tas miliknya. Layar smartphone itu kini tampak sedang menampilkan sosok Marissa yang sedang berada di mobil bersama dengan Arya.
Arya terkejut saat melihat layar itu ternyata sedang menyiarkan siaran langsung di instagram Marissa.
"Halo semuanya, ini gue Marissa. Di sebelah gue adalah suami gue tercinta, Yang, Yang liat kamera donggg, say haiiii.." Kata Marissa ceria.
Menyebalkan sekali, bukannya mendengar perkataan Arya, Marissa malah ambil keputusan sepihak. Dia siaran langsung tanpa izin dari Arya.
"Yang liat sini dong." kata Marissa lagi tapi Arya tidak menoleh sedikitpun, dia fokus menyetir.
"Dia sibuk nyetir gaes, hihi" Kata Marissa cekikikan.
"Siapa itu kak ganteng banget" salah satu komentar dibacakan Marissa.
"Ini suami gue tercinta, ganteng kaaannnn."
"Jadi kemarin nikah beneran kak? Wah suaminya lebih ganteng dari di foto ya ternyata" baca Marissa lagi lalu tertawa.
"Yailah beneran lu kira sinetron nikah boongan."
"Eh kak, video yang aku liat di akun gosip itu beneran kakak ya? Baju yang kakak pakai sekarang kok sama dengan yang divideo?" tanya seseorang yang juga di bacakan oleh Marissa.
Marissa terdiam sebentar. Ia melirik Arya.
Mendadak ada perasaan aneh yang menyergap dada Arya.
Kalau Marissa berani menyiarkan siaran langsung, berarti dia sudah siap dengan pertanyaan seperti ini kan? Jawaban apa yang akan diberikan oleh Marissa nanti?
Marissa berdeham sebentar lalu menjawab pertanyaan itu dengan santai. "Iya, itu memang gue."
__ADS_1
Arya membelalakkan matanya. Apa yang sedang direncanakan Marissa sampai dia mengaku seperti itu?
***