
"Gue suka sama dia.. tapi hanya sebagai teman! Gak lebih dari itu."
Marissa terkejut mendengarnya. Dia kecewa karena tidak mendapatkan jawaban yang dia inginkan.
"Gak mungkin! Lu pasti boong, gue yakin lu pasti suka sama Arya!" ucap Marissa ngotot penuh keyakinan.
"Apaan sih lu maksa banget! Orang gue beneran gak suka. Hanya suka sebatas teman aja!" ulang Arista lagi sama-sama penuh keyakinan juga.
"Mustahil Arista! Gue tau lu suka! Iya kan! Ngaku lu ngaku!" paksa Marissa lagi.
"Apaan sih lu ih! Lagian ngapain juga gue suka sama bapak-bapak, bekas suami orang!"
"Bekas? Kalau lu pikir dia bekas gue, sumpah lu salah besar! Kami bahkan tidak melakukan apa-apa selama pernikahan ini!" ucap Marissa polos mencoba meyakinkan kembali.
Arista menahan tawa namun tumpah juga. "Menggelikan banget sih lu Marissa! Gak nyangka gue ternyata lu senaif ini!"
Marissa mengerutkan alisnya bingung. "Maksud lu?"
"Gak ada maksud apa-apa sih. Hanya saja lu kayaknya sedikit geser deh otaknya! Kok bisa-bisanya kasih suami lu ke orang lain? Lagipula gue gak peduli lu itu mau apa kek sama dia selama pernikahan kalian karena gak ada urusannya juga kan sama gue!"
Marissa mendengus kesal. Lagi-lagi jawaban Arista tidak bisa memuaskannya. "Terus kenapa lu gak suka sama Arya?"
"Berapa kali sih harus gue jelasin? Gue itu suka sama dia hanya sebatas teman! Tidak bisa lebih dari itu!"
"Gak bisa lebih?" tawar Marissa seperti dagang keripik kiloan.
"Gak bisa! Masalahnya gue udah nyaman hanya berteman dengan dia. Arya itu sahabat sejati gue. Hanya sebatas itu aja udah cukup buat gue."
"Tapi lu bisa loh jadi sahabat sehidup semati juga dengannya," rayu Marissa masih berusaha.
Arista melirik Marissa tajam. Otaknya tak bisa mencapai kedalaman cara berpikir Marissa. Kok bisa-bisanya dia jodohin suaminya dengan orang lain?
__ADS_1
Arista heran kenapa Marissa bisa berpikir kalau Arya itu suka pada dirinya, padahal Arista sendiri tau orang yang di sukai Arya adalah Marissa, istrinya sendiri.
Entah kenapa Arista yakin sekali. Dia sudah mengenal Arya cukup lama, meski bertahun-tahun tidak berjumpa tapi dia tau bagaimana cara Arya menatap orang yang di sukainya. Itu karena Arista pernah mendapatkan tatapan yang sama ketika dia masih sekolah SMA di mana pada waktu itu Arista tau kalau Arya suka pada dirinya. Tapi kini? Tatapan itu tidak lagi di dapatkan oleh Arista. Tatapan mata Arya yang diberikan hanya menyiratkan kekhawatiran dan iba sebagai teman saja. Dan tatapan mata hangat di mana Arya menyukai seorang wanita itu malah Arista temukan ketika Arya melihat Marissa.
'Aneh sekali pasangan ini, bisa-bisanya mereka tidak mengenal hati satu sama lain!' batin Arista.
"Lu gak usah banyak mikir cerai cerai segala deh! Udahlah kalian jalani aja dulu hubungan ini. Lu kan bisa mulai pedekate lagi dengan Arya! Gak usah mikir negatif tentang ini itu karena lu cocok dan layak kok untuk Arya meski masa lalu lu amburadul gimana juga gue yakin Arya pasti terima," ucap Arista memberi masukan, "dah lah urusan kita sampai di sini! Pokonya abis dari sini lu jelasin semua situasi dari sikap yang lu lakuin tadi sama Arya dan Indra supaya tidak ada salah paham di antara kita. Paham?"
Marissa tampak cemberut mendengar penuturan Arista. Masalahnya di pikiran Marissa semua persoalan ini tidaklah mudah. Marissa benar-benar merasa harus meninggalkan Arya demi kebaikan Arya sendiri nantinya.
"Satu hal lagi kalau gue boleh saran. Mulai saat ini lu jangan terlalu fokus sama perasaan lu sendiri, tapi coba rasakan juga bagaimana perasaan Arya terhadap lu. Bukannya memancing cinta, kerjaan lu malah selalu mancing perkara!" kata Arista menutup percakapan mereka lalu pergi meninggalkan Marissa sendiri di sana.
Marissa melihat punggung Arista masuk lagi ke dalam ruangan. Perasaannya kini jadi kesal. Niatnya datang ke sini buat jadi perantara untuk menghubungkan perasaan Arya dan Arista! Bukannya malah jadi diceramahin kayak gini!
Dengan menahan kesal Marissa menghirup nafas kuat-kuat.
"Uhuk.. Uhukk.. Hoeekkk!"
(Hadeuhh aya-aya wae neng Rissa -_-)
Marissa lari-lari menuju toilet untuk mencuci hidungnya. Lalu di semprotknnya banyak-banyak parfum ke seluruh tubuh. Dia menghirup wangi parfum itu kuat-kuat guna menggantikan sisa bau aneh di hidungnya.
Seorang wanita yang baru saja keluar dari salah satu bilik toilet menatap Marissa dengan aneh, dia mencuci tangannya sambil sesekali menutup hidung. Lalu pergi begitu saja tanpa membetulkan riasan seperti tak tahan.
"Apakah gue sebau itu? Uh ini gara-gara Arista bawa gue ke tempat begituan!" oceh Marissa sambil terus semprotkan parfum karena dia pikir tubuhnya bau sisa makanan di tempat pembuangan tadi padahal wanita yang menutup hidung itu sebenarnya hanyalah risih dengan bau parfum Marissa yang terkesan lebay alias kebanyakan sampai bikin pusing dan mual.
"Kamu dari mana aja sih kok lama? Males nih ngobrol sama orang yang ngebosenin sendirian," ucap Arya.
"Kamu nyindir aku?" tanya Indra peka.
Tak menjawab Arya malah menutup hidungnya ketika Marissa duduk. Tingkahnya di ikuti oleh Indra. Melihat kedua orang itu kompak menutup hidung membuat Marissa jadi panik dan malu.
__ADS_1
Apa gue bau banget yaaa?! jerit Marissa dalam hati.
"Kamu pakai parfum sebotol apa gimana sih?" tanya Arya heran sambil mengibaskan tangan di depan hidung berharap udara berganti.
Marissa membelalakan matanya bingung, "Loh, emang kenapa?"
"Kamu lebay banget itu semprotin parfumnya bikin eneg," jawab Indra mendahului Arya.
Kali ini Arya sependapat dengan Indra jadi dia tidak perlu menyela ucapannya.
Marissa mendadak terharu. Entah harus senang atau sedih. Rupanya dia tidak bau busuk tapi bau parfum.
Oh Tuhan, gue udah berpikiran negatif terhadap diri sendiri, renungnya dalam hati.
Tapi kok parfum mahal baunya bisa lebay ya? Apa ini KW? Wah jangan-jangan KW super lagi? Duh! Gue mesti komplain nih besok ke pihak toko! Padahal nih parfum kan branded kok bisa begini sih baunya bikin mual?! pikiran Marissa berkecamuk membuat rencana mendatangi toko langganannya.
Tapi saat melihat dua orang didepannya ini hanya diam-diam saja tanpa topik pembicaraan membuat Marissa mengalihkan pikiran dan tiba-tiba saja dirinya jadi tersentil untuk memancing Indra.
"Dokter Indra masih mau stay disini tungguin ayang?" tanya Marissa ingin menyergap keraguan Indra.
"Ekhm.." Indra berdeham salah tingkah, "I-iyalah, mumpung besok aku libur, sekalian nunggu dia ganti shift, itung-itung jagain sampai nganter pulang nantinya kan," jawab Indra tampak mendalami peran.
Marissa memutar bola matanya. Seluruh wajahnya terasa ngilu mendengar ucapan Indra. Ingin tertawa tapi kasihan dengan usaha Pak Dokter yang sedang beralih profesi jadi aktor.
"Yah.. jagain ayangnya baik-baik ya Pak Dokter! Kami pulang duluan yaa," pamit Marissa menarik lengan Arya.
Terlihat Arya masih enggan bangun dari duduknya tapi Marissa menariknya sedikit memaksa, mau tak mau Arya bangkit berdiri daripada jadi tontonan banyak orang. Lagi-lagi dia harus mengalah dan ikut pulang. Sambil menunggu Marissa membayar di meja kasir Arya menoleh pada Indra sambil menunjuk dua matanya dengan jari tengah dan telunjuk lalu di tujukan pada wajah Indra.
Indra terkekeh melihat kelakuan Arya yang seperti anak kecil. Ingin sekali dia bilang "urus saja istrimu yang bar bar itu supaya dia tidak mengganggu calon istri ku!" tapi yah apa daya tangan tak sampai. Pengennya sih bisa bilang calon istri, tapi punya status pacaran aja gak ada! Karena kebenarannya mereka memang tidak ada hubungan apa-apa.
***
__ADS_1