
"Marissa benar-benar sudah dapat kamar baru kali ya makanya tidak kembali lagi ke sini?" tanya Arya sambil berguling ke kanan dan kiri masih belum bisa tidur.
"Aku jadi tidak enak hati pada Marissa, kesannya seolah aku mengusir dia dari kamar ini. Padahal kan bukan begitu maksudku. Tapi, ya sudah lah. Sudah kejadian ini!" ujar Arya sambil guling-guling mencari posisi nyaman tapi tetap saja sulit untuk tertidur.
Karena di rasa sulit sekali untuk tidur, Arya pun memutuskan untuk jalan-jalan sebentar menghirup udara malam sampai matanya perih dan mengantuk.
Arya mengambil jaket sweater karena daerah ini sangatlah dingin. Dia keluar pintu hampir terantuk oleh koper Marissa yang di parkir sembarangan.
"Loh kok koper ini ada di sini? Bukannya tadi sudah di bawa oleh Marissa?" tanya Arya pada diri sendiri, "biarkanlah. Mungkin dia masih sibuk memilih kamar atau mungkin membereskan kamar, nanti juga dia kembali lagi untuk mengambil kopernya," ucap Arya santai sambil terus melanjutkan langkahnya. Dia berusaha untuk tidak kepo terlalu jauh atau nanti malah datang perkara baru. Repot juga kan kalau mereka bertengkar di malam hari saat liburan begini pula.
Arya turun ke bawah. Entah kenapa hatinya terus mengajak dia ke taman belakang. Arya hanya berpikir di sana ada kolam renang, mungkin akan cukup menenangkan pikirannya jika melihat genangan air di bawah sinar bulan.
Dia pun mulai meniti jalan setapak yang terbuat dari batu alam satu persatu sambil sesekali menghirup udara malam yang segar dengan santai tak lupa juga menggeliatkan tubuh dan melemaskan otot-otot tangannya dengan nyaman.
Otot Arya mulai relaks seketika namun mendadak jadi tegang kembali ketika matanya menangkap sesuatu yang bergerak di ujung kolam. Setengah berlari Arya mendekati kolam tersebut sambil mengamati lebih dekat apa yang ada di dalam sana. Apakah itu manusia?
"Marissa!" pekik Arya terkejut ketika mengenali sosok di dalam kolam. Meski wajahnya tampak suram tapi dia kenal pada pakaian yang di kenakan Marissa malam ini. Mengetahui Marissa akan tenggelam rasanya seluruh darah di kaki Arya langsung pindah ke kepala saat itu juga!
Tanpa pikir panjang bahkan Arya tidak berpikir sama sekali, dia langsung melompat dan berenang ke tempat Marissa berada. Sendal yang tadi dia pakai ikut masuk ke kolam namun terlepas dan mengapung ke sembarang arah.
Secepatnya Arya mengayuh tangan dan kaki demi menjemput Marissa.
Arya sudah takut setengah mati! Ini orang tidak bisa berenang kenapa nekat masuk kolam?! Jangan bilang dia jatuh lagi seperti waktu itu?
Di tengah kepanikannya ini tampak sekelebat bayangan di masa lalu ketika dia memberikan nafas buatan. Apakah kali ini dia akan melakukan hal itu lagi? Ini bukan waktu yang tepat untuk berpikir begitu! Di tepisnya pikiran aneh itu sambil sekuat tenaga berenang ke arah Marissa.
Setelah dirasa sudah ada di posisi yang tepat lantas Arya melingkarkan lengannya di dada lalu menarik tubuh Marissa untuk membawanya kembali ke daratan. Tapi Marissa malah berontak meronta-ronta sehingga sulit untuk di tarik oleh Arya. Lebih baik Marissa pingsan saja seperti waktu itu dari pada sadar tapi panik tidak bisa berenang seperti ini!
__ADS_1
Walaupun begitu Arya tetap berusaha menarik Marissa. Dia bahkan makin mendekap Marissa dengan melingkarkan tangannya kembali di dada Marissa supaya wanita itu bisa bernafas saat nanti di bawa ke darat oleh Arya.
Arya terus berusaha mendapatkan tubuh Marissa. Ketika Arya mulai menariknya lagi Marissa malah memukul kepala Arya.
"Bego lu!" jerit Marissa mencoba bernafas meski kepakan air masuk ke dalam mulut dan hidungnya.
Arya terkejut sambil menatap Marissa heran. Terlihat Marissa mengambang di atas air dengan kaki sedikit bergerak menjaga keseimbangan. Sama halnya dengan apa yang di lakukan Arya sekarang.
Masih dengan posisi bengong Marissa berenang menuju tepian sambil mengais kucing di pundaknya. Arya yang masih mengapung di kolam sedalam 2 meter itu hanya bisa diam terkesima.
"Loh rupanya dia bisa berenang?" gumam Arya terheran-heran.
Kenapa dia harus meronta seperti mau tenggelam kalau sebenarnya bisa berenang? Lalu apa itu yang dia bawa? Seekor kucing? Kok dia bisa bersama kucing? Dengan banyak pertanyaan yang ingin di lontarkan, Arya putuskan untuk mengejar Marissa ke tepian.
"Lu apa-apaan sih tadi?!" bentak Marissa marah.
"Loh? Apa-apaan gimana? Kamu yang apa-apaan di tengah kolam malam-malam begini? Ku pikir kamu tenggelam tidak bisa berenang makanya aku jadi nyebur untuk menyelamatkan.."
Otak Arya loading seperti lingkaran menunggu ketika sinyal internet lemah.
"Kamu bicara apa sih sebenarnya? Kesempatan dalam kesempitan apa maksudmu?" tanya Arya tidak mengerti.
Muka Marissa memerah seketika. "Lu tuh ya! Jangan pura-pura bego bisa gak sih?!"
Arya diam kehabisan kata. Dia sumpah demi apapun juga kalau dirinya tidak tau apa-apa! Malah di katai pura-pura bego segala.
Marissa menangkap wajah Arya yang melongo seperti benar-benar tidak mengerti.
__ADS_1
"Tadi lu sengaja kan pegang-pegang bagian sensitif di dada gue, tau gak!"
Arya syok seketika. Hah! Pegang-pegang dari mananya?
"A-aku tidak menyentuh apapun selain mencoba menarik tubuhmu," jawab Arya jujur.
"Tapi tadi lu ambil kesempatan itu buat narik tubuh gue tepat di dada! Iya kan?!"
Ucapan Marissa menancap di jantung Arya. Dia sudah beku duluan sebelum angin malam membekukan dirinya yang kuyub. Jangankan ingin menyentuh, punya pikiran ke arah sana pun tidak sempat terlintas sama sekali!
"Sumpah demi apapun juga aku tidak punya niat seperti itu, Marissa!"
"Ah! Banyak alasan lu! Mentang-mentang gue bekas orang jadi bisa seenaknya lu sama gue?! Lu pikir gue gak punya harga diri lagi? Iya?!" omel Marissa asal menuduh sembarangan.
Tapi kok aneh tiba-tiba Marissa menitikkan air matanya.
Marissa menangis tapi dia sendiri pun bingung ini air mata ini untuk apa? Apakah dia sedih karena Arya menyentuh area sensitifnya atau dia terharu karena Arya menolongnya atau mungkin karena dia salah paham berpikir Arya ingin melecehkan dirinya yang sudah jadi bekas orang? Marissa pasti sensitif sekali setelah semua kejadian yang di alaminya sampai menangis seperti ini.
Dia yang berpikir tidak pantas untuk Arya tapi kenapa Arya malah bertindak seperti itu padanya? Walaupun salah paham tapi hal itu membuat Marissa merasa dirinya hina dan malu pada dirinya sendiri.
"Maafkan aku kalau begitu, entah kamu percaya atau tidak tapi yang jelas aku sungguh tidak ada pikiran buruk terhadapmu apalagi mencuri kesempatan dalam kesempitan seperti yang kamu bilang barusan," ucap Arya menyesal, wajahnya tampak lesu di tambah rintik air yang menetes dari rambutnya menambah kesan rasa bersalah yang sangat besar.
Lama-lama, Marissa jadi menyesal atas ucapannya sendiri. Kenapa dirinya harus mempermasalahkan kesalah pahaman seperti ini sih? Bukannya mau pisah? Kan bisa tutup mata seolah-olah tidak tau saja! Atau pura-pura pingsan, mungkin?
Tapi ya mau gimana lagi kalau dari awal pikiran Marissa sudah berburuk sangka terlebih dahulu, apalagi hatinya yang sensitif karena akan meminta perceraian membuatnya jadi sedih tidak bisa melupakan Arya!
Marissa sudah di ujung tanduk. Bagaimana ini? Apakah Marissa harus memaklumi ketidak sengajaan itu lalu memafkan Arya atau memperpanjang masalah yang harusnya tidak ada?
__ADS_1
Entahlah, yang jelas semua perasaan yang Marissa rasakan sekarang sudah bercampur menjadi satu seperti adonan bolu yang siap di panggang. Dia kebingungan harus bersikap seperti apa nantinya.
***