
"Selamat pagi semuanya," sapa Marissa dengan wajah lesu. Mukanya tampak lelah. Terlihat lingkaran hitam dan kantung mata yang sedikit bengkak tampak jelas di bawah matanya. Rupanya setelah mimpi buruk itu dia kebanyakan berpikir sampai tidak bisa tidur kembali.
"Rissa, kamu kurang tidur ya? Kok wajahmu loyo begitu?" tanya Papa peka.
Marissa hanya tersenyum tipis, "Iya, Pa. Marissa kebangun waktu subuh terus gak bisa tidur lagi."
"Kenapa bisa kebangun? Kamu abis mimpi buruk?" tanya Papa lagi.
"Enggak kok, Pa. Hanya haus saja," jawab Marissa bohong supaya Papa tidak khawatir atau mungkin dia enggan di tanya-tanya lagi.
Setelah obrolan singkat itu mereka pun menyantap makanan dengan khidmat. Suara sendok beradu dengan piring memenuhi ruang makan membuat Marissa sungkan untuk mengutarakan keinginannya.
Tapi kalau terus menerus di urungkan mungkin sampai selesai makan pun dia tidak punya kesempatan untuk bicara. Mau tidak mau Marissa harus bicara sekarang!
Baru saja Marissa hendak membuka mulut untuk mengatakan keinginannya ternyata berbarengan dengan Papa yang juga membuka mulut hendak bicara.
"Kamu mau mengatakan sesuatu, Nak?" tanya Papa berhenti untuk memberikan kesempatan bagi Marissa.
"Oh iya, Pa. Tapi nanti saja setelah Papa," ucap Marissa mengalah.
"Baiklah. Jadi begini, Papa mau mengumumkan kalau salah satu merk kita yang bekerja sama dengan perusahaan Pak Aga berhasil tembus pasar internasional. Nah, untuk merayakannya Papa dan Pak Aga sepakat untuk membuat pesta di Villa keluarga Pak Aga akhir pekan ini. Gimana? Seru kan? Kalian pasti setuju dong..?"
Marissa menelan ludah. Ini bertolak belakang dengan rencananya! Mengapa di saat dia akan meminta perceraian tapi keluarga mereka malah jadi semakin dekat? Marissa jadi takut dampak perceraian ini malah akan berimbas pada bisnis mereka yang baru merintis di kancah internasional. Kalau sampai hal itu terjadi, hubungan mereka pasti jadi longgar! Sepertinya Marissa bisa memperoleh rekor MURI sebagai pembawa masalah dalam keluarga.
"Wah, ide yang bagus tuh Pa. Udah lama Mama tidak healing jalan-jalan keluarga. Gak sabar deh jadinya," ucap Mama senang.
Bukan main! Sekarang malah ada yang mengharapkan kegiatan tersebut? Kalau Marissa bicara sekarang, pasti akan mematahkan hati Mama mertuanya yang udah terlanjur girang!
"Gimana Arya dan Rissa? Kalian setuju juga kan?" tanya Papa lagi minta pendapat mereka.
"Arya sih setuju setuju aja sih, Pa," jawab Arya.
"Lalu Rissa setuju juga kan? Apa kamu ada acara lain akhir pekan ini?"
__ADS_1
"Ti-tidak kok, Pa. Rissa juga setuju," jawab Marissa bingung namun akhirnya pasrah.
"Baiklah kalau begitu sudah kita putuskan akhir pekan ini semua berangkat! Jadi tolong kepada siapapun jangan ada yang membuat jadwal lain di hari tersebut ya!" seru Papa mengingatkan supaya tidak bentrok jadwal supaya semua orang dapat berkumpul di hari tersebut.
Semua menjawab setuju dan Marissa ikut manggut-manggut pasrah.
"Oh iya, Nak. Apa yang ingin kamu bicarakan tadi?" tanya Papa teringat.
"Oh, i-itu bukan apa-apa, Pa. Rissa sudah lupa tadi mau ngomong apa, hehe," dalihnya tampak sungkan. Karena tidak mungkin kan Marissa bicarakan soal perceraian ketika mereka sudah sepakat untuk liburan bersama?
Marissa harus mengulur waktu lagi sampai dia dapat moment yang tepat untuk bicarakan keinginannya itu.
"Baiklah. Kamu boleh bicara apapun kalau sudah ingat ya," ucap Papa pada Marissa yang di balas dengan anggukan dan senyuman manisnya.
*
Tanpa terasa waktu yang ditunggu akhir pekan ini pun tiba. Marissa mengemasi pakaian dan beberapa perlengkapannya ke dalam koper yang dulu pernah dia bawa untuk mengangkut semua baju dari rumah Mamanya.
Saat Marissa membuka pintu, rupanya pintu di kamar sebelah juga terbuka. Arya memperhatikan Marissa dari ujung kepala sampai ujung kaki, lalu matanya tertarik pada koper yang di tarik oleh Marissa.
"Terserah gue!" jawab Marissa ketus lalu melangkah mendahului Arya.
Arya yang penasaran di cueki mulu jadinya mengejar Marissa.
"Kamu kenapa sih? Karena tidak bisa ganggu Arista waktu itu jadi keterusan ngambek gini sama aku? Memangnya aku salah apa?"
Marissa menghentikan langkahnya mendadak, hampir saja Arya menabrak tubuh Marissa dari belakang.
Marissa menoleh, "Harus banget ya lu bahas Arista lagi, Arista lagi? Lu suka sama dia? Kawinin aja sekalian sana!" ujar Marissa kesal lalu membalikan lagi mukanya sambil berjalan cepat supaya tidak di kejar oleh Arya.
Arya menghela nafas dengan berat. "Ini orang lagi PMS atau apa ya? Kok galak banget udah macam singa lepas aja. Jadi sungkan tiap ajak ngomong," gumam Arya ikut berjalan namun kesannya seperti menyindir Marissa karena semua ucapannya tadi sampai ke telinga istrinya itu.
Marissa tak mau ambil pusing dan tetap melongos berjalan cepat. Arya tak mau ketinggalan jadi ikut jalan cepat juga sambil sesekali membetulkan letak tali ransel di bahunya. Pasangan tersebut kesannya jadi terlihat seperti sedang lomba jalan cepat sambil masing-masing membawa beban, siapa yang duluan tiba ke dalam mobil, itulah pemenangnya! Yahh.. Kesannya seperti itu sih!
__ADS_1
Kedua orang itu masuk ke dalam mobil yang berbeda dengan Mama dan Papa, karena mereka membawa dua mobil sebab mengajak dua ART juga yang nantinha akan membantu mereka selama di sana.
Tibalah disini sebagai puncaknya! Ketika mereka sampai dan memasuki kamar, mau Arya ataupun Marissa sama-sama menelan ludah ketika mereka tau ternyata keduanya di satukan dalam kamar yang sama!
"Kok kita di suruh sekamar sih?!" Marissa merajuk, "aku akan minta Papa supaya menyiapkan satu kamar lagi!" saat Marissa akan pergi, Arya menarik lengan Marissa untuk mencegahnya.
"Sudahlah Marissa, tidak apa-apa. Lagipula kita hanya sebentar di sini, aku bisa tidur di bawah kalau kamu keberatan kita satu ranjang. Kamu tidak perlu bilang siapapun kalau tidak mau panjang urusannya! Repot kan kalau nanti kita dapat ceramah ini itu dari orangtua kita. Lebih baik kita mengalah," ucap Arya. Tapi dari sorot matanya Arya itu seperti alasannya saja, seolah Arya memang seperti ingin sekamar dengan Marissa.
Marissa menghempas genggaman Arya. "Gak usah sentuh-sentuh gue!" ucapnya jutek lalu pergi lagi ke bawah meninggalkan kopernya dan Arya sendirian.
Mereka berpesta sampai malam. Barbeque telah siap ketika Marissa telah selesai mandi, yang artinya dia tidak melakukan apapun kecuali tinggal makan doang.
Waktu berlalu begitu cepat, sepanjang hari mereka hanya berkegiatan santai saja. Ketika orang tua mereka dan Arya pergi main golf, Marissa hanya rebahan doang sambil baca Noveltoon. Sampai ketika malam hari tiba di mana pesta sebenarnya terlaksana yaitu pesta barbeque! Terlihat suasana senda gurau antara Papa dan Pak Aga begitupun dengan istri mereka yang nyambung membicarakan gosip seputar selebritas. Hanya Arya yang sibuk memanggang daging sendiri.
Marissa yang baru selesai mandi bergabung dengan mereka lalu mengambil segelas anggur merah dan meneguknya sambil perhatikan cara Arya memanggang.
Arya yang dari tadi enjoy dengan kesibukannya lama-lama merasa tak nyaman seolah ada sepasang mata yang sedang mengawasi dirinya. Ketika dia mencari sumber tatapan tersebut ternyata datang dari Marissa sehingga membuat mereka beradu pandang namun Marissa langsung membuang pandangan itu cepat-cepat.
"Uh, pake ketahuan lagi pas gue liatin!" gumam Marissa salah tingkah.
Eh, eh kok Arya malah datang ke sini sih? Marissa panik, hatinya jadi berdegup kencang.
Arya tampak menghampiri Marissa. Dia jadi salting sampai menghabiskan semua isi anggur merah dalam gelasnya dan hendak beranjak pergi tapi sayangnya Arya sudah keburu ada di hadapan dia.
"Kamu lama banget sih mandinya! Ini aku mau kasih hasil karyaku! Coba kamu cicipi deh dagingnya udah enak apa kurang matang?" tanya Arya menyodorkan sebuah piring kecil berisi daging hasil panggangannya.
Marissa tidak punya alasan untuk menolak kemudian memakan daging itu cepat-cepat. Tapi tidak ada rasa! Soalnya Marissa memakan daging tersebut dalam keadaan masih panas!
"Enak kok enak!" ucap Marissa memuji padahal berusaha tegar karena lidahnya terbakar! Dia bahkan memberikan dua jempol lalu pergi gitu aja menuju arah Mamanya pura-pura tertarik dengan obrolan mereka sambil celingak-celinguk mencari air putih.
Arya tampak puas lalu kembali lagi pada kesibukannya tadi.
'Dia kenapa sih akhir-akhir ini ngintilin gue mulu?! Kalau gini caranya kan gue jadi baper! Yang ada gak bisa lupain Arya dan malah makin berat kalau harus bercerai darinya! Giliran di dekatin malah menjauh, giliran di jauhin malah mendekat. Jadi orang gak pernah peka banget sih!' gerutu Marissa dalam hati sambil pura-pura ikut bergosip dengan Mama dan mertuanya meski tak ada satupun kalimat yang dia perhatikan dari keduanya.
__ADS_1
***