Terpaksa Menikahi Pelakor

Terpaksa Menikahi Pelakor
Bidadari


__ADS_3

"Kenapa kamu bengong begitu?" tanya Arya mulai menjalankan mobil kembali setelah melilitkan sabuk pengaman di tubuh Marissa.


Marissa berkedip lalu menelan ludah. Luar biasa! Imajinasinya tadi sangatlah liar. Untung dia bisa kembali mengendalikan diri. Kalau tidak, mungkin hal seperti apa yang ada dipikirannya barusan sangat mungkin bisa terjadi! Tapi masalahnya, apakah akan sesuai dengan bayangannya di mana Arya mau menerima dan melakukan hal yang sama dengan penuh hasrat atau mungkin malah menolaknya mentah-mentah sampai membuat Marissa jadi malu.


Mengingat sikap Arya yang mirip kutub utara membuat Marissa jadi yakin kalau kemungkinan kedua lah yang akan terjadi yaitu terjadinya penolakan hingga harga diri Marissa jatuh menggelinding tak karuan.


"Di tanya kok malah diam. Kamu kenapa sih mukanya pucat begitu? Sakit?" tanya Arya penasaran.


"Gak apa-apa," jawab Marissa singkat. Tentu saja tidak apa-apa! Kalau Marissa bicara tentang khayalan nya tentang berciuman dengan Arya mau di taruh di mana muka dia nanti?! Bisa kebayang kan ekspresi Arya akan jadi seperti apa!


"Udah ah jangan ganggu gue! Nanti kalau udah sampai rumah bangunin, gue mau tidur!" ucap Marissa mengalihkan pembicaraan. Bahaya kan kalau Arya memaksa untuk menceritakan halusinasinya.


Arya yang tak tahu menahu hanya angkat bahu.


Ya sudahlah jika itu maunya Marissa, yang penting aku bisa fokus nyetir. Kalau dia tidur kan gak akan gesrek otaknya dan banyak tingkah sampai membahayakan lagi seperti tadi, pikir Arya.


Begitulah keadaan mereka hingga sampai rumah. Bahkan Marissa langsung masuk kamarnya begitu saja tanpa mengatakan sepatah katapun lagi pada Arya.


Sedangkan di tempat lain Indra masih sibuk menyeruput kopi yang sudah ke dua kalinya dia pesan sambil sesekali memperhatikan Arista kerja.


Indra juga sadar kalau dari tadi Arista meliriknya terus. Karena penasaran Indra memanggil Arista berpura-pura pesan lagi makanan.


Memang benar sih pada akhirnya Indra memesan cemilan untuk teman kopinya itu. Tapi lebih dari itu sebenarnya Indra ingin bertanya perihal sikap Arista yang terus melirik Indra.


Apakah kali ini Arista telah terpesona oleh ketampananku? tanya dirinya sendiri sambil Indra merapihkan rambut setengah berponi ala oppa korea.


Arista datang setelah Indra meminta buku menu lagi. "Kenapa kamu terus memperhatikan aku? Kamu naksir padaku?" tanya Indra dengan mata so cool memilih-milih menu yang akan dia pesan.

__ADS_1


Arista mengangkat sebelah bibirnya kesal. "Harusnya di negeri ini ada tempat untuk tukang pangkas kepedean, dan pelanggannya itu kamu!" ucap Arista yang malah mengundang tawa Indra.


"Kamu tuh kenapa sih selalu bikin aku tertawa. Benar-benar yah kamu tuh seperti bidadari yang dikirimkan oleh Tuhan, bisa saja selalu jadi penghiburan untukku," goda Indra tak kenal tempat.


Arista menyeh-menyeh. "Seenaknya aja jadiin aku tempat penghiburan! Wanita penghibur aja di bayar, kenapa aku harus kasih cuma-cuma?! Aku gak mau jadi tempat seperti itu untukmu!" ucap Arista sarkas, "sudah selesai pesanannya?"


Indra tersenyum gemas. "Kamu tuh lucu yah? Dulu awal kita bertemu kamu masih baik-baik loh sama aku. Apalagi setelah aku obati lukamu. Tapi sekarang kok begini ya? Kamu perlakukan aku seperti orang lain. Mmmh.. malah rasanya seperti pengganggu. Kenapa ya?"


"Ya kan kamu memang pengganggu! Masa tiap hari datang ke sini terus apalagi dengan sengaja sok dekat denganku di depan karyawan lainnya! Apa bukan pengganggu itu namanya?"


"Yahh.. namanya juga usaha," kekeh Indra terus menggoda. Arista melotot dan setengah bibirnya naik seolah memberi ancaman.


"Kamu dari tadi kenapa lirik-lirik aku coba?" selidik Indra lagi, "apalagi kalau bukan suka kan?"


"Enak aja!" Arista sedikit mendekatkan wajahnya lalu berbisik, "apakah tadi Marissa menjelaskan sesuatu pada kalian?"


Arista mengangguk sambil celingak-celinguk melihat situasi.


"Tidak tuh. Dia gak bicara apa-apa selain bertanya tentang kita, hehehe." Lagi-lagi Indra cengengesan membuat hidung Arista kembang kempis


menahan sabar.


"Ya sudah," jawab Arista singkat sambil membawa tulisan dari pesanan Indra begitu saja.


"Jutek amat ya ni cewek satu. Benar-benar harus pakai usaha ekstra untuk mendapatkannya," gumam Indra sambil memandangi langkah Arista dengan senyuman.


Arista yang tidak mempan dengan segala upaya Indra tampak tak meladeni laki-laki tersebut yang ada dipikirannya hanya penuh dengan drama Marissa sampai dia mengoceh dalam hatinya sendiri. 'Emang ya ini cewek liar satu itu gak bisa diharapin sama sekali! Sungguh tidak bisa di andalin! Nyesel sudah percaya sama dia untuk suruh jelasin ini itu! Bukannya jelasin kesalahpahaman ini malah dibiarin gitu aja! Benar-benar trouble maker sekali si Marissa!' umpat Arista sambil sedikit menjambak rambutnya sendiri.

__ADS_1


Setelah sedikit lama menunggu, pesanan Indra akhirnya datang dan betapa girangnya dia ternyata yang membawakannya itu adalah Arista sendiri.


Sebenarnya bukan keinginan Arista sih untuk membawakan itu tapi semua dia lakukan karena dorongan dari teman satu shift nya yang sok sokan jadi Mak Comblang. Padahal Arista sudah pernah menjelaskan situasinya seperti apa, tapi yang ada makin dijelaskan malah Arista semakin di dorong untuk mendekati Indra. Setiap hal yang berhubungan dengan Indra pasti ada saja yang memberikan alasan. Ada yang pura-pura sibuk melayani pelanggan lain lah, ada yang pura-pura sibuk cek dapur lah, ada yang pura-pura sibuk bantuin kasir lah. Ada aja alasannya setiap pesanan Indra siap di ambil ataupun siap di antarkan. Intinya apapun yang berhubungan dengan Indra harus Arista sendiri yang layani. Meskipun begitu mereka juga sportif dalam kerjaan, jika Arista di rasa terlalu lama di tempat Indra mereka tidak akan segan-segan memberi kode seperti berdeham dan lainnya.


Apakah boleh mereka bekerja seperti itu? Tentu saja tidak boleh. Tapi kondisinya kalau malam rata-rata kafe ini selalu minim pelanggan. Maka dari itu terlepas dari apa urusan Indra ada di kafe ini tidak ada masalah untuk mereka karena selain melihat kisah percintaan dalam dunia nyata, hal penting lainnya bagi mereka adalah cuan yang mengalir dari Indra. Karena hampir setiap malam saat jam kerja Arista laki-laki itu selalu datang dan kadang menunggunya seperti sekarang.


"Pesanannya sudah lengkap ya. Selamat menikmati," ucap Arista ramah lalu berbalik akan kembali ke tempatnya.


"Tunggu, Mbak!" Arista menoleh tajam lalu mimik wajahnya berubah 180' dari senyuman ramah menjadi sebuah senyuman terpaksa. Bagi Indra senyuman itu tidak ada bedanya dari senyuman pertama karena sama-sama manis seperti gula yang banyak semutnya. Benar-benar menarik perhatian.


"Iya, Kak. Ada lagi yang ingin ditambahkan?" tanya Arista penuh penekanan.


Indra lirik kanan-kiri lalu berbisik, "kamu lupa terimakasih sama aku?" tanya Indra memasang muka pahlawan.


Arista bingung lalu dengan wajah datar mengangkat bahu.


"Itu loh soal kita pura-pura pacaran!"


Mendengar itu hampir saja refleks Arista menutup mulut Indra dengan tangannya. Lalu memberikan kode satu jari di bibirnya supaya Indra diam.


"Tidak bisakah kamu membahas ini nanti?" tanya Arista gelisah.


Indra tersenyum penuh kemenangan, "baiklah. Kita bahas hal ini nanti setelah kamu pulang kerja. Berterimakasih lah padaku dengan mentraktir ku sarapan. Dan perlu kamu tau kalau aku tidak menerima penolakan dalam bentuk apapun. Oke?"


Arista hampir mengeram. Ini cowok banyak sekali maunya! Tapi dia sadar posisinya memang tidak bisa menolak karena faktanya sekali lagi dia telah dibantu oleh Indra. Mau tidak mau Arista harus mengiyakan ajakan Indra tersebut. Iya kan?


***

__ADS_1


__ADS_2