Terpaksa Menikahi Pelakor

Terpaksa Menikahi Pelakor
Mimpi Buruk Arista


__ADS_3

Arista tampak terkejut. Dia tidak berpikiran sampai sejauh itu. Apakah benar ini memang kesalah pahamannya saja karena terlalu berpikir berlebihan dan menilai diri sendiri dengan tidak baik?


"Dan juga, aku sangat menyesal dengan kejadian di pesta waktu itu. Aku juga tidak menyangka kalau Mamiku akan melakukan hal begitu padamu. Karena seperti kataku sebelumnya Mamiku aslinya bukan sosok yang menyebalkan seperti yang kamu lihat di pesta itu. Mungkin ini sisi lainnya saja yang masih belum bisa melihat dunia dari sudut pandang lain. Penglihatannya terhadap lingkungan sekitarnya tidak benar-benar berwarna karena dari kecil Mamiku tumbuh dari lingkungan yang tidak pernah kekurangan jadi dia tidak bisa melihat hal yang tidak pernah dia rasakan dari orang lain. Tapi aku yakin jika Mamiku sudah membuka mata lebih lebar lagi dia pasti akan mengerti dan tidak semena-mena lagi padamu. Dan jika kamu mau lebih mengenalnya, akan ku pastikan kalau sebenarnya Mamiku adalah sosok yang hangat dan.."


"Sudah hentikan! Hentikan menceritakan Mami tersayangmu itu. Aku sudah tidak peduli dengan ibumu atau apapun yang berhubungan dengan pesta waktu itu. Sesuai isi suratku beserta uang yang ku kembalikan. Aku tidak ada hubungan apapun lagi denganmu. Maka dari itu, aku tegaskan sekali lagi. Sudah cukup kamu menggangguku dan jangan datang tiba-tiba lagi seperti hari ini. Kamu hanya akan merusak hidupku kalau terus begini! Andai aku beritahu rekan kerjaku kalau kamu adalah kenalanku entah apa yang akan mereka katakan setelah melihat orang aneh di restoran yang hanya duduk gak jelas selama dua jam. Itu sungguh sangat menggagu dan memuakkan. Jadi tolong pergi saja dan jangan hubungi aku lagi," Arista melepas sabuk pengamannya dan berusaha keluar dari mobil tapi Indra menahan lengannya.


"Tapi aku gak mau kamu pergi. Aku suka sama kamu! Aku beneran suka sama kamu!" Arista terdiam. Pernyataan rasa dari Indra benar-benar membuatnya merinding. Amarah Arista sangat menggebu-gebu. Tetapi saat melihat dua bola mata Indra yang berkaca-kaca membuat hati kecil yang sebenarnya mengagumi sosok Indra itu jadi rapuh seperti merontokkan segala kekesalan dan muaknya terhadap laki-laki di depan wajah perempuan itu.


"Semua yang ku lakukan padamu mungkin salah. Tapi aku melakukan itu demi bisa mendekatimu. Aku benar-benar suka padamu. Dan masalah waktu aku perkenalkan kamu di pesta kakekku, aku benar-benar melakukan itu seolah kamu memang pacarku, bukan sebuah kepura-puraan belaka. Aku bahkan meyakinkan kakekku setelah pesta kalau aku akan menikahimu. Aku hanya perlu waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaanku dan menjadikan semua pernyataanku itu jadi nyata. Aku hanya menunggu waktu sampai kamu bisa membuka diri padaku, tapi aku tidak sangka kalau kesalah pahaman ini malah terjadi tanpa aku sadari. Aku akui aku sangat egois hanya memikirkan diri sendiri tanpa tau perasaanmu sesungguhnya, aku mohon maafkan aku dan beri aku kesempatan satu kali lagi," mohon Indra mengiba.


Meski hatinya bergejolak kasihan, tapi gengsi yang bersarang di hati Arista membuatnya jadi tidak mau kalah. "Bukankah memang terbukti kalau buah itu jatuh tidak jauh dari pohonnya? Sekarang kamu sadar kalau kamu tidak berbeda dengan mamimu yang egois dan suka meremehkan orang lain itu? Lalu kesempatan apa yang kamu maksud? Untuk apa aku berikan kesempatan seolah-olah kita memiliki hubungan. Ingat, kita bahkan tidak saling mengenal. Kita bertemu pun tanpa sengaja, kenapa sekarang repot-repot minta kesempatan? Aku tidak ingin mendengar apapun lagi darimu. Aku anggap kita tidak pernah bertemu baik dulu maupun sekarang, jadi bersikaplah seperti kita tidak pernah mengenal sama seperti sebelumnya saat kamu tidak tau siapa aku dan aku tidak tak tau siapa kamu!"


Arista keluar dari mobil tanpa bisa Indra cegah lagi. Indra juga sadar kalau dia tidak punya alasan untuk meminta Arista tetap disana.

__ADS_1


Tidak berapa lama setelah itu Arista menghentikan sebuah taxi dan langsung masuk ke dalamnya.


Arista menoleh ke belakang, rupanya Indra juga sudah menjalankan mobilnya bahkan dengan kecepatan tinggi menyalip taxi yang di tumpangi Arista. Dari kaca dashboard Arista bisa melihat mobil Indra yang melaju kencang dan terkesan ugal-ugalan. Dia paham kalau Indra pasti marah sekarang.


Meski Arista kecewa tapi dia berharap kalau Indra akan baik-baik saja membawa mobil seperti itu.


Baru saja Arista berdoa tiba-tiba sang supir taxi menginjak remnya secara mendadak hingga Arista terlonjak dari duduknya.


Arista langsung teriak ketika melihat mobil yang Indra tumpangi terseret sebuah truk besar dari persimpangan lampu merah. Rupanya Indra terus menginjak gasnya tanpa sadar ketika lampu sudah berganti warna merah dan tanpa di duga sebuah truk melintas dari persimpangan sebelah kiri tepat ketika Indra menyebrang. Truk itu menyeret mobil Indra beberapa meter ke tengah jalan perempatan. Suara benturan besi memekakan telinga. Arista yang juga melihat kejadian itu meski ada beberapa mobil didepannya langsung mematung di tempat dengan bibir terbuka. Rasanya seperti mimpi buruk yang mencekam. Ini tidak mungkin kan? Tanyanya dalam hati merasa linglung.


Padahal baru saja dia bicara dengan Indra, beberapa menit yang lalu!


Tapi kenapa sekarang, hal mengerikan yang tidak di sangkanya itu malah terjadi tepat di depan mata!

__ADS_1


Seketika itu juga air mata mengalir deras di pipi Arista. Tanpa pikir panjang Arista langsung turun dari taxi dan berlari sekencang mungkin menuju tempat kecelakaan.


"Mbak, Mbak mau ke mana?!" teriak si supir taxi namun tak dihiraukan oleh Arista. Pikirannya sudah tertuju pada Indra dan bayangan mengerikan bergantian memenuhi kepalanya membuat lututnya lemas untuk dibawa berlari.


Di sana tampak pengemudi truk sudah turun dan berdiri di samping mobil Indra untuk melihat keadaannya. Dia terlihat mengetuk-ngetuk kaca mobil Indra yang masih utuh karena sebelah kanan mobil Indra tidak mengalami kerusakan parah. Tapi tetap saja mobil Indra mendapat tubrukan keras dari sebelah kiri sampai mobilnya ikut terseret beberapa meter ke tengah jalan membuat siapapun panik dengan kondisi mobil ringsek sebelah. Semua yang menyaksikan juga tampak harap-harap cemas, khawatir dengan nasib penumpang. Beberapa orang juga memarkirkan mobil di sisi jalan dan ikut mendekat memastikan situasi di sana. Keramaian memenuhi jalanan itu sampai membuat macet.


Saat Arista sampai, pemandangan mengerikan terpampang nyata di depan matanya.


Ini..


Ini tidak mungkin terjadi kan?


Bagaimana bisa jadi begini? Bukankah baru saja mereka berdua bicara? Kenapa jadi seperti ini?!

__ADS_1


Andai waktu bisa diulang kembali! Andai Arista mengendurkan gengsinya pasti semua ini tidak akan terjadi, kan?!


***


__ADS_2