
Khayalan Marissa jadi mengembang sepersekian detik mengingat kejadian itu. Apakah sebenarnya tadi Mika membuntuti mereka?
"Ohh.. tentang itu. Tunggu! Perkataan ini juga lu masih belum jelas? Lu ga ingat pernah ngomong gini sama orang? Ga ngaca lu?" ledek Mika membuat emosi Marissa meluap.
"Maksud lu apa hah? Lu tadi buntutin gue? Lu stalker gue di klinik, kan?" tanya Marissa ngegas.
Mika malah tertawa-tawa melihat tingkah Marissa. "Jadi lu inget kejadian tadi? Jangan-jangan lu merasa bersalah karena udah ngomong gitu ke orang tapi lupa ngaca ya?"
"Brengsek lu!" Marissa berdiri dari duduknya untuk menarik rambut Mika tapi ditahan oleh Arya. Tangan Marissa yang berhasil meraup beberapa helai rambut Mika di lepas paksa oleh Arya.
"Kamu jangan kesetanan gini, coba tenang." pinta Arya pada istrinya.
Mika yang mendengar itu kembali tertawa bahkan lebih keras. Kini dia sibuk merapikan kembali rambutnya yang sedikit awutan setelah terlepas dari kebringasan Marissa.
"Kenapa kamu ketawa, apa ada yang lucu disini? Dan juga, apa benar tadi kamu membuntuti kami?" tanya Arya.
"Gue ketawa karena lu bilang dia kesetanan. Gimana ga lucu, mana ada setan yang kesetanan hahaha." tawa Mika lagi. "tapi sorry aja gue ga serendah itu untuk membuntuti kalian."
Arya dan Marissa terdiam karena bingung dengan ucapan Mika. Kalau bukan membuntuti, lalu dia tau dari mana ucapan yang dituju untuk Raya tadi bisa ia tirukan untuk Marissa?
"Sore tadi, orang yang bernama Raya datang kerumah gue. Dia cerita ini itu tapi gue ga peduli masalah kalian apa, karena gue sih udah ga heran ya kalau kalian itu emang biang masalah." Mika menaikan sebelah bibirnya sebelum melanjutkan ucapannya. "asal lu tau, dia tadi menawarkan banyak hal untuk kerja sama dengan gue. Dia bahkan nawarin sejumlah uang buat beli bukti perselingkuhan lu sama Tio. Tapi gue ga tertarik. Hal rendahan seperti itu malah bikin gue cape dan buang-buang waktu! Jadi gue cari cara yang gampang.. juga adil. Gue butuh uang dan lu butuh Tio kan? Jadi tujuan gue datang kesini untuk buat kesepakatan itu. Kalau lu setuju semua bukti perselingkuhan kalian bakal gue hancurin. Gue dapat uang, dan lu dapat Tio."
"Gimana caranya gue percaya kalau lu hancurin bukti perselingkuhan? Lagian gue ga masalah kalau bukti itu muncul ke permukaan publik, lagian foto viral itu udah basi sekarang, ditambah gue udah berhasil buat giring opini tentang foto itu." balas Marissa menyombongkan diri.
"Yakin lu ga masalah semua bukti perselingkuhan kalian mencuat ke media?" tanya Mika lagi, memastikan.
Marissa menaikan sebelah alisnya. "Apaan sih cuma foto doang ini."
Mika menatap marissa tajam lalu tertawa dengan puasnya. "Ahahaaha! Lu emang cupu ya? Bener apa yang Tio bilang, lu itu hanya orang kaya bodoh yang mau dibego-begoin oleh cinta. Gue tanya seberapa percaya sih lu sama Tio?"
"Gue bakal bicara blak-blakan. Asal lu tau, rumah tangga gue udah sekarat sebelumnya sama Tio karena ekonomi pas-pasan. Awalnya gue memang marah pas tau lu selingkuh sama dia, tapi karena dengan mudahnya Tio dapetin uang dari lu ya mau gimana lagi, itung-itung nafkahin keluarga kan. Dia bilang lu itu lemah sama tipu daya cinta. Tio hanya manfaatin lu, dia bilang hanya pura-pura pacaran sama lu dan gue ga masalah dengan itu, tapi semuanya berakhir setelah gue tau kalo lu hamil anaknya Tio."
"Omong kosong lu! Sempet ya lu ngarang cerita kayak gini?!" sentak Marissa tak percaya.
"Dia bahkan sujud di kaki gue minta maaf dan janji ini itu, bahkan dia janji ninggalin lu dan anak haramnya agar kami bisa bersama lagi seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Tapi gue udah terlanjur jijik sama orang yang selingkuh sampai hamil." ungkap Mika lagi.
"Hentikan! Gue ga mau denger karangan lu lagi!" bentak Marissa lagi.
"Terserah lu mau anggap ini sebagai karangan atau bukan, mau terima atau engga tapi inilah kenyataannya." ujar Mika.
"Es jeruknya 3. Pesanan sudah lengkap ya." tiba-tiba seseorang berbicara diantara mereka tanpa terdengar langkah kakinya, Arista sudah ada dimeja mereka mengantarkan pesanan.
Namun tiba-tiba juga hal yang tidak di inginkan terjadi saat itu. Es jeruk yang Arista taruh diatas meja itu salah satunya di ambil Marissa lalu di siramkanya pada wajah Mika.
Mika dengan wajah terkejut dan kuyup tampak kesal. Arya berdiri melihat sikap Marissa. Sedangkan Arista mundur karena ikut terkena cipratannya.
"Marissa, apa yang kamu lakukan?!" tanya Arya terkejut.
Sebelum Marissa menjawab, Mika mengambil juga salah satu es jeruk yang ada dimeja lalu membalas siram pada wajah Marissa. Arya yang disamping Marissa ikut basah, sedang Arista yang berdiri di tengah-tengah mereka lagi-lagi ikut terkena cipratan hingga wajahnya, bahkan dia bisa merasakan air jeruk menetes dibibir lalu masuk kedalam mulutnya. Rasa manis menjalar dilidahnya tapi rasa itu jadi getir manakala Marissa secepat kilat balas siram lagi gelas terakhir pada wajah Mika. Bahkan Arya kalah cepat menghentikan gerakan Marissa, membuat situasi disana jadi tampak kacau.
"Dasar pelakor iblis!" umpat Mika.
__ADS_1
"Lu yang iblis! Iblis betina lu!" Lawan Marissa.
Arista mundur dengan gerakan cepat kala Marissa menghampiri Mika untuk baku hantam. Tapi Arya keburu menarik tubuh Marissa, alhasil Mika duluan yang maju untuk berduel hendak menampar Marissa.
Namun siapa sangka, seperti layaknya adegan sinetron, belum sempat menempel di pipi Marissa, Arya dengan sigap menahan lengan Mika yang sudah siap memukul di udara.
"Sudah cukup, Mika! Marissa! Lihat kelakuan kalian ini hanya menjadi tontonan orang." ujar Arya geram. Menyadari perkataan Arya, dengan mata jelalatan kedua wanita itu melihat sekitar dan benar saja semua pengunjung kafe disana memperhatikan mereka sambil berbisik-bisik. Bahkan karena ini kafe malam dengan pengunjung tidak sebanyak siang jadi suara bisikan mereka lebih terdengar jelas, samar-samar mereka bisa menangkap kata 'gila' di telinga mereka.
Dan tepat ketika Arya mengatakan itu, segerombolan remaja yang hendak melaksanakan pesta ulang tahun datang berhamburan masuk ke dalam kafe.
Saat itulah salah satu dari mereka menyadari kekacauan ini dan langsung berkicau kepada temannya yg lain.
"Woi gaes liat liat! Itu Marissa selebgram, kan?" katanya berteriak kegirangan seolah menertawai Marissa dan keadaannya.
Lalu seorang lainnya menimpali "Anjim lagi berantem siram-siraman! Rekam coy buruan rekam!" kata orang itu sambil mengeluarkan smartphonenya dan mulai merekam.
Namun rencana orang tadi itu tidak mulus saat Arya menghampiri dan merebut smartphonenya.
"Kamu punya banyak uang?" tanya Arya tiba-tiba sambil menggengam smartphone dan menutup kamera dengan telapak tangannya. Tapi sayang teman-temannya yang lain tak peduli dan ikut melakukan hal yang sama, merekam mereka.
"Kalau kalian punya uang banyak, silahkan rekam kami tapi ingat, bersiaplah cari pengacara mulai dari sekarang, karena kalau sampai kejadian yang sekarang kalian rekam ini sampai menyebar, saya pastikan kita akan bertemu lagi di pengadilan karena kalian sudah merekam tanpa ijin dan usaha pencemaran nama baik!" ancam Arya, semua orang yang mendengar hal itu serentak menurunkan kameranya.
"Kalau ada dari kalian yang menyebarkan isu dari kejadian ini, kalianlah pelaku utama yang akan kami buru karena saya anggap kalian sudah menyebar issue tak berdasar juga merekam tanpa seizin dari kami, dan saya yakin CCTV di kafe ini sudah menyimpan wajah kalian!" ancam Arya dengan suara lantang sambil menunjuk letak CCTV yang sedang menyala.
Setelah puas berbicara, Arya menarik lengan Marissa dan mengambil tasnya lalu berbisik pada Mika.
"Termasuk kamu Mika. Kalau kamu siap mengurusi mental anak-anakmu. Lakukanlah apapun sesuka hatimu." ancam Arya lagi membuat kepala dan mata Mika menjadi panas seolah ia tahu kelemahan Mika adalah kedua buah hatinya.
Mereka pergi dari kafe itu di iringi bisik-bisik pengunjung disana.
Mika yang ditinggalkan begitu saja langsung terduduk lemas. Rasanya seperti memiliki bisul di pantatnya. Semakin ia terkulai lemas dalam duduknya, maka semakin terasa sakitnya.
Hal ini membuatnya teringat lagi. Andai anaknya tidak mengalami kesulitan seperti sekarang. Enggan juga Mika melakukan hal kotor seperti ini.
Tapi bagaimanapun, Mika tidak bisa diam jika itu menyangkut anaknya. Karena bagaimanapun hal seperti ini sudah sangatlah wajar untuk dilakukan setelah mental anaknya rusak akibat perbuatan ayahnya sendiri juga pelakor Marissa.
Hal itu dimulai ketika suatu hari anaknya yang paling besar baru masuk SMP, tidak sengaja menerima sebuah pesan saat sedang bermain game di ponsel ayahnya.
Saat ia membuka pesan itu, menjeritlah ia lalu menangis sesenggukan. Mika yang kala itu sedang meniduri anak keduanya di kamar langsung berlari menuju sumber suara, begitupun Tio yang sedang mandi langsung berlari mengenakan handuk dengan sampo yang masih menempel di rambutnya.
Saat ditanya mengapa, anak itu enggan menjawab. Dengan khawatir Mika menatap ponsel ayahnya yang tergeletak dilantai tapi masih memainkan sebuah video. Dan betapa terkejutnya Mika saat melihat isi video itu. Ternyata.. itu adalah video mesum Tio dan Marissa yang sedang melakukan hubungan suami istri, Tio yang menyadari langsung merebut dan mematikannya.
Mika menatap Tio dengan penuh kebencian dan rasa tak percaya, namun ia langsung tersadar oleh tangisan anak pertamanya dan langsung memeluk anak itu dengan erat.
Mungkin karena suara tangisan itu begitu keras, akhirnya anak kedua Mika terbangun dan ikut menangis juga.
Gelagapan menghadapi Mika dan anak pertamanya, maka Tio pun inisiatif pergi menuju anaknya yang lain dikamar seolah ingin menenangkan tangisnya walau sampo di rambutnya berjatuhan membuat matanya perih.
Meski begitu, perih yang dirasakan Tio tidak sebanding dengan apa yang dirasakan Mika dan anak pertamanya. Anak malang itu sungguh kasihan harus melihat kebrengsekan ayahnya sendiri.
Setelah kejadian itu, hubungan diantara keluarga mereka menjadi renggang, terutama anak pertamanya itu kini menjadi pendiam. Biasanya ia selalu menanyakan kepulangan Tio, kini dia berani bersumpah serapah agar Tio tidak kembali lagi ke rumah mereka.
__ADS_1
Melihat semua itu membuat hati Mika meringis, tak dapat dipungkiri lagi kalau keluarga mereka sudah hancur. Seperti gelas pecah, tak dapat di perbaiki lagi. Jika pun dirapatkan kembali akan tetap terlihat bekas retakannya.
Mika jadi dendam pada keadaan ini. Memang dia juga licik karena setuju Tio berpacaran dengan Marissa untuk memanfaatkan perempuan itu dengan cara morotin hartanya, tapi tolonglah, yang diharapkan Mika hanyalah sebatas kencan buta tidak lebih dari itu apalagi sampai melakukan hubungan badan. Benar-benar sakit sekali hati Mika saat mengetahui itu, apalagi saat ia mengingat kenangan menyenangkan keluarga kecilnya yang harus hancur akibat ulah Tio, sungguh sangat menyiksa batinnya.
Dan karena Mika tahu, dia bukanlah Tuhan yang begitu mudah memberikan maaf. Maka Mika yakin bahwa hal ini adalah cara yang tepat.
Dan ia juga tahu kalau setiap dosa pasti ada bayarannya.
Bagi Mika, dosa Marissa bisa dibayar oleh banyak hal. Entah bayarannya karma atau uang. Tapi jika bisa keduanya mengapa tidak. Mika bisa menguras uang Marissa dan menyerahkan hukum karma pada alam dan sang pencipta.
Dan karma bagi Mika sendiri? Sudah tentu apa yang ia terima sekarang, yaitu kehancuran keluarga dan sakit mental anaknya.
Rasanya kini Mika sudah kebal dari perasaan dan harapan akan suaminya. Ia sudah memutuskan akan menjadikan suami tukang selingkuh itu sebagai masa lalu dan memulai hidup baru meskipun dengan uang hasil bayaran dosa Marissa. Itu tak masalah selama ia bisa membahagiakan kedua anaknya.
Perselingkuhan mereka memang sudah merusak mental anak pertamanya, tapi dengan uang suap dari hasil tutup aib itu ia ingin menggunakannya untuk membuka lembar baru dan memulai kehidupannya lagi dari awal.
Bagaimanapun ancaman Mika itu hanya gertakan semata, karena Mika juga masih pikir panjang akan nasib kedua anaknya jika video vulgar ayahnya tersebar ke publik.
Dan Mika yakin 100% hal ini akan berhasil melihat Marissa sangat membutuhkan ayah kandung dari bayi dalam perutnya, ayah yang sesungguhnya bukan ayah bohongan dalam sebuah kontrak. Tinggal menghitung waktu saja sampai semua berjalan sesuai rencana. Dan ia berjanji pada diri sendiri jika dia sudah mendapatkan uang itu ia tak sudi berurusan lagi dengan mereka. Ia tak ingin kehidupan barunya terkotori oleh masa lalu, seperti halnya reinkarnasi yang sempurna.
Beda halnya dengan yang Mika memikirkan banyak hal, tampak Arista terburu-buru dengan kain kering di tangannya, dengan lincah ia membersihkan sisa tumpahan. Bahkan dengan sopan ia menunduk pada Mika yang masih duduk melamun di tempat perang tadi terjadi.
"Hei pacar Arya, gue pesen kopi pandan dingin satu." Ucap Mika memesan sebuah minuman dingin yang dia hapal karena menjadi terfavorit di kafe itu, tanpa peduli berapa pasang mata dan bisikan-bisikan yang sedang membicarakan dirinya disana, ia perlakukan orang-orang itu seperti tak terlihat. Cuek saja.
"Iya Mba, kopi pandan dingin satu, ya? Ada lagi?" tanya Arista tak berdaya untuk menyanggah panggilan 'pacar Arya' itu apalagi mengingat kejadian yang baru saja terjadi.
Dalam hati Arista, tidak baik jika berurusan dengan perempuan ganas didepannya itu.
Selesai membersihkan meja dan lantai yang becek Arista langsung segera pamit untuk membuat pesanan Mika.
Mika sekarang sibuk dengan smartphonenya tanpa mengganti meja ke meja pelanggan yang masih kosong dan bersih. Ia tampak cengegesan dengan sesuatu didalam layar putih yang memenuhi wajahnya, kakinya bahkan bersilang dengan santai.
"Pesanannya Mba, kopi pandan dingin." Ujar Arista.
Mika mengangguk sambil tersenyum. "Kamu lapar ga?" tanya Mika.
Arista yang ditanya celingak-celinguk karena bingung apakah pertanyaan itu untuknya, tapi setelah lihat situasi sekitar tak ada siapapun.
"Ng.. nggak Mba." Jawab Arista sopan.
"Abis berantem bikin laper ya, kirain lu laper jadinya bisa temenin gue makan." ucap Mika ramah sambil tersenyum benar-benar berbeda dari dirinya yang tadi.
"Tolong bawain menu listnya ya, gue mau pesen makan juga." Pinta Mika.
"I.. iya Mba. Tunggu sebentar. Saya ambilkan dulu." Jawab Arista sambil pergi mengambil apa yang dipinta pelanggannya.
***
Haiii semua pembaca setia~
maaf ya updatenya lamaaaðŸ˜ðŸ˜
__ADS_1
happy reading 😊🥰