Terpaksa Menikahi Pelakor

Terpaksa Menikahi Pelakor
Si Jalan Raya Di Pinggir Jalan Raya


__ADS_3

Arya tak menggubris celotehan Marissa, dia buru-buru menepikan mobilnya sambil mempertajam penglihatannya untuk memastikan seseorang yang berada dipinggir jalan. Karena alasan orang inilah yang membuat Arya memberhentikan mobilnya secara mendadak. Marissa yang penasaran mengekori tatapan Arya dan betapa terkejutnya dia melihat orang yang dikenalinya itu. Sedangkan mobil dibelakang Arya yang sedari tadi mengklaksoninya sudah pergi entah kemana.


Di pinggir jalan raya itu tampak berjejer bangunan ruko. Dan tepat di depan sebuah toko pakaian pengantin salah satu ruko tersebut, nampak seorang wanita yang tak asing bagi Arya juga Marissa. Wanita itu terlihat seperti sedang bertengkar dengan seorang pria.


Sambil menangis si wanita mencoba menghalangi si pria yang hendak pergi meninggalkannya. Tapi pria itu seolah tak peduli, dia bahkan mendorong wanita tersebut sampai terjatuh.


Arya yang melihat itu langsung buru-buru turun dari mobilnya dan menghampiri si wanita yang tersungkur di tanah dan meringis kesakitan. Sedangkan pria yang tadi bertengkar dengannya hanya bertolak pinggan enggan membantunya, bahkan dia terlihat merasa tak bersalah dan masih marah-marah.


"Kan udah gue bilang dari dulu, lu gugurin aja anak itu! Gue ga mau nikah sama lu, harus berapa ribu kali sih gue bilang!" bentak pria itu.


"Tapi kan ini anak kamu, Kelvin!" tangis si wanita terseok sambil meraih pergelangan kaki si pria.


Arya berjalan mulai mendekat dan kini dapat mendengar omongan mereka dengan jelas.


"Ya terus masalahnya sama gue apa? Karena itu anak gue makanya gue minta lu gugurin! Gitu aja kok repot!" jawab si pria sambil menghempaskan pegangan wanita tersebut.


Arya yang sudah sangat dekat dan tidak suka dengan omongan pria itu langsung menarik pundaknya lalu menonjoknya hingga dia jatuh tersungkur ke tanah.


"Brengsek ya lu, Kelvin. Bisa-bisanya lu kayak gini sama cewek! Biarpun dia selingkuhan lu, seenggaknya lu tanggung jawab dong sama bayi yang dia kandung!" bentak Marissa yang sedari tadi mengekori Arya. Dia bahkan sambil menunjuk-nunjuk wajah pria itu.


Beberapa orang yang ada di lokasi tersebut hanya dapat menonton tanpa berbuat apa-apa. Mungkin mereka enggan jika harus terlibat masalah.


"Raya, kamu ga apa-apa?" tanya Arya penuh kekhawatiran sambil merangkul pundak Raya.


"Waw. Ada acara apa ini? Kok tepat sekali mantan gue dan mantannya pacar gue bisa ada disini?" tanya Kelvin sambil menyeka bibirnya yang bengkak dan berdarah.


"Kalian barisan para mantan lagi stalkingin kita ya? Belum bisa move on, hah?! Ahahah," kata Kelvin mengejek bikin kesal.


"Ih najis banget gue stalkingin lu! Sorry ya kita bukan pengangguran kayak elu! Kita cuma lewat dan ga sengaja liat kalian berantem di sini, bego!" jawab Marissa kasar.


"Bisa-bisanya kamu dorong Raya. Padahal kamu tau dia sedang hamil gini!" bentak Arya.


Orang-orang disekitar mulai bisik-bisik karena terkejut. Bahkan beberapa pegawai toko dari jejeran ruko itu ada yang sampai keluar untuk menyaksikan. Ada juga yang cuma sekedar mengintip dari kaca etalase.


Raya yang tau Arya datang untuk menolongnya tanpa sadar menjatuhkan air mata.


"Kamu ada yang sakit? Ayo aku bantu berdiri," ajak Arya memapah Raya untuk berdiri.


"Sini gue bawain tasnya," tawar Marissa ikut membantu hal kecil karena kondisinya yang juga sedang hamil, mustahil dia ikut bantu bopong Raya.


Namun hal yang tidak di duga terjadi. Saat Arya membantu Raya berdiri, darah segar mengalir dikaki Raya.


Orang-orang yang melihat itu tampak terkejut tak terkecuali Arya dan Marissa. Begitu pula dengan Kelvin.


Kelvin yang tau masalah ini sudah sangat gawat tanpa ambil pusing langsung pergi begitu saja, dia kabur meninggalkan mereka tanpa peduli pada kondisi Raya maupun bayinya.


"Pak tolong bawa ke dokter, Pak!" teriak beberapa orang disana yang kasihan pada Raya.


Seorang karyawan cowok salah satu ruko disana yang menyaksikan langsung inisiatif membantu Arya membopong Raya menuju mobil mereka.


Kepanikan dan tatapan simpati juga teriakan heboh terjadi di lokasi itu karena darah Raya berceceran dimana-mana.


Raya dimasukkan di kursi belakang sambil terlentang, sedangkan Marissa dengan cepat masuk ke kursi depan di samping Arya. Setelahnya Arya langsung menancap gas menuju rumah sakit terdekat guna menolong nyawa Raya dan bayinya. Dia tak lupa mengucapakan terimakasih pada orang yang membantunya tadi.


Wajah Arya tampak panik. Sesekali dia melihat Raya di belakang yang meringis kesakitan memegangi perutnya.


"Arya pelan-pelan bawa mobilnya, bisa jantungan nih gue!" pinta Marissa yang sedikit mual karena Arya membawa mobilnya begitu cepat seperti di arena balap.

__ADS_1


Arya tidak menjawab, dia hanya fokus menyetir saja.


Marissa yang tegang ikut memegang perutnya. Melihat Raya yang seperti itu membuatnya takut sesuatu terjadi juga pada anaknya.


"Ha-ha, Arya kalem. Kalem aja kalem, Aryaaaa..." ucap Marissa merasa pusing.


Sebelumnya dia juga suka balap-balapan ketika bawa mobil sendiri. Tapi anehnya saat hamil dia jadi tak menyukainya, ada perasaan aneh dan takut yang muncul dalam dirinya.


Marissa memejamkan matanya pasrah. Dia hanya berharap agar nyawanya dan bayinya selamat di tangan Arya.


"Ya Tuhan. Tolong kami, niat kami hanya ingin menolong orang lain untuk menyelamatkan nyawanya, jadi tolong lihat niat kami, selamatkanlah nyawa kami juga, Tuhan!" Doa Marissa keras-keras. "jika ada yang harus mati biarkan aja si Jalan Raya yang mati sendirian Tuhan, sesuai pintaku dulu, karena dia selingkuh dengan Kelvin," celetuk Marissa tanpa sadar.


"Tapi aku percaya, dia ga akan mati Tuhan, soalnya dia sedang menuai karmanya kan, Tuhan? Makanya kau hukum dulu dia untuk kasih kesempatan bertobat ya kan, Tuhan?" katanya lagi masih dengan mata terpejam. Tidak seperti doa sebelumnya, rasanya doa kali ini dia amat sangat sadar saat mengucap.


Arya melirik Marissa tajam. Bisa-bisanya Marissa berceloteh seperti itu di saat genting begini.


"Arya, kok bisa gini ya? Kita tadi kan lagi ngomongin si Jalan Raya. Eh malah ketemu dia di pinggir jalan raya. Kebetulan macam apa ini ya, hihihi," ujar Marissa mengikik mencoba menetralisir keadaan.


Mungkin rasa pusing dan mual Marissa tadi membuatnya berpikir tentang sebuah kebetulan aneh ini. Entahlah.


"Marissa, kalau bicara tolong lihat situasi! Masih bisa kamu bercanda di saat ada orang kesakitan seperti itu?" tanya Arya sambil melirik Raya dari kaca spion tengah mobilnya.


"Kesakitan? Apa dia tau artinya kesakitan? Saat dia selingkuh dari kamu apa dia tau kalau dia sudah menyakiti orang lain, menyakiti kamu dan aku? Kalau aku jadi kamu, udah aku tinggalin aja dia disana gampar-gamparan sama si Kelvin! Mau mati sekalian juga bodo amat!" celetuk Marissa geram.


Arya heran. Beberapa saat lalu Marissa ikut panik melihat Raya kesakitan, bahkan dia dengan sukarela mau membantu membawa tasnya. Sekarang dia malah ngatain Raya bahkan terang-terangan di depan orangnya.


'Benar-benar punya kepribadian ganda sepertinya nih orang.' Pikir Arya sambil tetap fokus pada laju mobilnya.


Sesampainya di rumah sakit Raya langsung di bawa menuju IGD. Arya dan Marissa menunggu dengan cemas, mungkin lebih tepatnya hanya Arya saja yang cemas.


Bagaimanapun walau Raya telah mencampakkannya, tetapi hatinya tetap saja tak tega melihat wanita yang pernah di cintainya itu kesakitan.


"Saya walinya, Dok. Saya temannya. Keluarganya sudah saya hubungi dan sedang di jalan menuju ke sini. Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Arya khawatir sekali.


Dokter itu menggeleng, lalu meminta maaf.


"Janinnya terlalu lemah. Hanya ibunya saja yang dapat kami selamatkan. Mohon segera hubungi keluarganya lagi agar kami bisa melakukan tindakan operasi guna mengeluarkan janin dalam perutnya." ujar dokter itu sambil masuk lagi ke dalam ruangan dimana Raya berada.


Seperti terjatuh dari tempat tidur saat tidur, Arya sangat terkejut. Tanpa terduga entah mengapa hatinya pun merasa kesakitan setelah mendengar kenyataan pahit itu.


Anak yang malang, pikir Arya.


Arya tidak dapat membayangkan bagaimana perasaan Raya ketika dia tau telah kehilangan anak yang dicintainya. Apalagi dengan cara yang tidak adil seperti ini, karena ayahnya sendiri yang telah membunuh anak itu. Sesuai keinginan Kelvin, dia ingin sekali anak itu tidak hidup.


Tak berapa lama Om Randy datang bersama istrinya serta Raka, adik Raya.


Istri Om Randy tampak memegang tangan Raka erat. Anak itu tampak terseret berlari-lari mengikuti langkah cepat mamanya yang panik.


"Nak Arya, apa yang terjadi pada Raya? Dia ga apa-apa kan?" tanya Om Randy.


Arya pun menjelaskan secara detail, betapa terkejutnya orang tua Raya mendengar hal memilukan itu.


Ibu Raya bahkan sampai menangis tersedu. Om Randy yang terlihat lebih tegar dari istrinya itu pun dengan sigap segera mengurus administrasi persetujuan operasi seperti yang dikatakan dokter tadi.


"Sebetulnya Om berat sekali ingin mengatakan ini, tapi dari hati terdalam Om ingin berterimakasih pada Nak Arya karena sudah menolong anak kami walaupun sebelumnya dia telah menyakiti Nak Arya. Om minta maaf atas kelakuannya dulu, ini pasti balasan dari Tuhan untuknya," ucap Om Randy menahan sedih juga malu.


"Tidak apa-apa, Om. Kami juga tidak menyangka akan bertemu Raya dengan kondisi seperti ini. Dan masa lalu biarkan berlalu, Om tidak perlu meminta maaf atau mengungkitnya lagi dan jangan ada anggapan kalau ini sebagai balasan Tuhan atau semacamnya. Saya benar-benar niat ingin menolong saja, Om." Arya menjelaskan sekaligus merasa tak enak.

__ADS_1


"Ya iyalah jelas balasan dari Tuhan!" gumam Marissa terdengar jelas oleh semuanya lalu di sikut oleh lengan Arya.


Om Randy dan istrinya yang mendengar itu langsung menunduk sedalamnya seolah malu untuk menunjukkan wajah dihadapan mereka.


"Arya ayo kita pulang, lagian disini udah ada keluarganya si Jalan Raya kan yang nungguin dia," ajak Marissa sambil menggaet lengan Arya.


Arya menghempaskannya pelan. "Kamu jangan bicara sembarangan gitu!" bisik Arya segan pada orangtua Raya, "lagian kita belum tau kondisi dia bagaimana," kata Arya lagi.


"Kenapa sih? Kan bukan urusan lu. Gue mau pulang sekarang! Cape nih gue!" rengek Marissa.


"Nak Arya karena kami sudah disini sebaiknya kalian pulang saja. Nak Arya dan Nak Marissa sudah membantu membawanya ke sini saja Om sudah sangat bersyukur. Nak Arya tidak perlu khawatir, akan Om hubungi jika ada kabar terbaru dari Raya," ucap Om Randy sambil menepuk pundak Arya.


"Tuh kan! Apa gue bilang! Lu khawatirin anak orang tapi ga khawatirin istri lu sendiri sih! Ayo pulang cepetan!" rengek Marissa semakin menjadi sambil menyeret lengan Arya.


Arya menatap nanar pada kedua orangtua Raya. "Maaf ya Om kami tidak bisa menunggui Raya dan harus pulang sekarang. Tolong kabari saya kalau ada apa-apa ya, Om." pinta Arya lalu berpamitan pada keduanya juga Raka.


Arya pun pergi bersama Marissa yang masih menggaet lengan Arya di sampingnya.


"Dasar anak bodoh! Bisa-bisanya kamu lepasin anak sebaik Arya demi laki-laki biadab yang kini bahkan ninggalin kamu. Andai kamu tidak selingkuh, hingga beberapa bulan lagi saja kamu pasti akan menikah dengan Arya dan pasti kamu akan menjadi salah satu wanita paling bahagia di dunia ini karena memiliki suami sebaik dia," sesal Om Randy pada anaknya sendiri. Istri Om Randy mengelus pundak suaminya dengan mata berlinang. Sedangkan Raka memeluk pinggang ibunya sambil menanyakan dimana kakaknya berada.


Dalam perjalanan pulang Arya terus kepikiran Raya, apakah operasinya lancar? Apakah dia bisa menerima perihnya kenyataan saat dia sudah sadar?


Arya juga berharap Raya tidak akan bertindak gegabah setelah mengetahui bahwa anaknya sudah tiada.


"Kenapa muka lu sedih gitu? Harusnya lu tuh seneng dia udah dapat balasannya sekarang karena dulu selingkuhin elu," kata Marissa membuka suara di tengah kegalauan Arya.


"Tapi aku ga sampai hati dendam pada Raya apalagi harus menyebut ini balasan dari perbuatannya padaku. Kasihan sekali dia harus mengalami hal pahit seperti ini," ucap Arya dengan air muka lelah.


"Ah munafik lu! Kalo gue sih bakal bikin party saat tau orang yang nyakiti gue sengsara kayak gitu," cemoohnya lagi.


"Yang munafik itu kamu, Marissa," kata Arya mengejutkan.


Marissa kaget juga kesal "What?! Munafik apanya gue? Gila lu ngasal aja ngomong," ujarnya marah.


"Kalau ga munafik, ga mungkin kamu mau bantuin Raya walau hanya bawain tasnya aja. Bagaimanapun tanpa kamu sadari hati kecil kamu tetap iba padanya, kan!" jelas Arya.


"Ngga tuh! Idiihh ga banget lah gue kasihan sama dia!" jawab Marissa membohongi dirinya sendiri karena Marissa tau ada benarnya juga omongan Arya.


"Lantas, bagaimana jika kamu ada di posisi dia? Bagi kamu, Raya itu pelakor yang merebut Kelvin, tapi bagi orang lain kamu juga adalah seorang pelakor yang merebut suami juga ayah dari orang lain."


"Tapi itu beda ceritanya kali! Mereka berpacaran karena memang atas dasar kemauan sendiri dengan sadar, dan mereka tau satu sama lain bahwa masing-masing dari mereka sudah memiliki pacar. Tapi Tio, dia itu nipu gue bilang single taunya udh beristri dan punya buntut. Keadaanlah yang bikin gue jadi kayak pelakor gini, padahal lu tau kan kalo sebenarnya gue juga korban disini," terang Marissa sambil emosi.


"Ya, aku tau kok. Tapi tetap saja asumsi dari mereka yang melihat kamu seperti ini akan tetap menganggap kamu sebagai pelakor. Bahkan jika kamu sudah menjelaskan bagaimana detailnya. Cap pelakor akan menempel terus padamu."


"Udah lah bacot lu! Terus aja lu bela si Jalan Raya brengsek itu! Mentang-mentang kita cuma nikah kontrak, lu sampe ga mau ngasih kepedulian lu sama gue! Udah gue bilang gue korban di sini! Ga usah lu samain gue sama mantan brengsek lu itu!" Kata Marissa makin tersulut emosi.


Lagi-lagi mereka berantem seperti ini disaat suasana baik-baik saja sebelumnya.


"Aku bukannya ga peduli sama kamu, hanya aja.."


"Udah stop! Gue jijik dengerin bacotan lu!" cegah Marissa agar tak mendengar lagi kata-kata yang hendak keluar dari mulut Arya.


"Pelangi pelangi pala lu! Percuma lu sok-sokan kasih gue es krim pelangi apalah namanya ujungnya malah kayak gini!" dumel Marissa mengungkit soal es krim pelangi yang di gadang-gadang memberi kebahagiaan dan menghapus kesedihannya.


Arya menghela nafas. Dia melirik Marissa yang sedang sibuk menatap lurus ke arah jalan sambil menyilangkan lengannya di depan dada. Dia juga tampak cemberut, bibirnya terlihat maju beberapa senti dari tempatnya.


Arya menahan senyum melihat kelakuan Marissa yang baginya lucu itu.

__ADS_1


Macan ngamuk, batin Arya.


***


__ADS_2