
"Bu-bukan apa-apa kok, Bu. Cuma ngomongin hal random aja," jawab Arya cari alasan.
"Arya, Arya.. Masih aja kamu panggil saya Bu. Kamu kan sudah resmi jadi mantu saya, ini tuh bukan pernikahan bohongan lagi. Bisa dong panggil saya Mama, sama seperti Marissa yang panggil Mama sama ibu mertuanya," Bu Aga protes tapi Arya tidak keberatan. Ini malah bagus karena dia bisa mengalihkan topik pembicaraan.
"Ba-baik, Bu, eh maksudnya Ma," Arya canggung rasanya sungkan sekali karena belum terbiasa.
"Hari ini kami rencananya mau pulang. Gak bagus kan kalau kerjaan kantor di tinggal lama-lama. Apalagi klien udah mulai nanyain soal kerjaan. Kalian mau ikut pulang atau masih mau di sini?" tanya Papa Arya.
"Tentu saja ikut pulang, Pa. Arya juga kan punya banyak kerjaan di kantor yang masih numpuk. Adaww!" Arya meringis kesakitan karena betisnya di tendang Marissa.
Marissa menatap Arya tajam seolah berkata 'Dasar cowok gak guna. Gak bisa peka sedikit apa?'
"Kenapa, Nak?" tanya Mama cemas.
"Gak apa-apa kok, Ma. Cuma kram aja ini kaki tiba-tiba," jawab Arya sambil melirik Marissa dengan tatapan mengancam.
"Ya ampun. Kamu kecapean kali makanya sampai kram begitu. Ya sudah kamu di sini saja istirahat sampai kondisi tubuhmu fit kembali," ujar Papa Arya setelah melihat gelagat aneh pasutri di depanya itu. Walah-walah kok malah jadi Papa Arya yang peka ya?
"Gak usah, Pa. Arya gak apa-apa, kok. Kalau Arya di sini terus gimana dengan klien kita yang dari Singapura nanti?"
"Ya ampun, Arya, Papamu itu bos besar. Beliau sendiri yang sudah suruh kamu istirahat loh. Harusnya kamu manut dong!" sela Bu Aga agak kesal karena Arya masih saja bersikap polos tidak mengerti suasana.
"Iya, Nak. Lagian klien Singapura kalian juga kan terhubung dengan perusahaan kami. Nanti bisa lah Papamu dan saya yang urus klien tersebut," kali ini Pak Aga ikut mendukung.
"Iya, Sayang. Kamu istirahat saja, apalagi kaki kamu masih kram, kan. Aku temenin kok kamu di sini sampai sembuh," kata Marissa manja sok perhatian.
Arya mengerjapkan mata tak mengerti apa-apa, tapi baiklah kalau begitu daripada urusan menjadi panjang.
Selepas sarapan semua berkemas untuk kembali ke rumah masing-masing sebelum matahari benar-benar tepat ada di atas kepala.
Baru setengah jam setelah semuanya pulang, keadaan villa jadi terasa kosong dan hampa.
Marissa celingak-celinguk ke sana ke mari. Sedangkan Arya dengan kaku duduk di sebelahnya sambil makan snack dan nonton netflix.
Suasana sangat sepi. Yang biasanya suara orang-orang di sana begitu ramai kini hanya suara TV saja yang mengitari seisi ruangan. Di villa sebesar ini hanya ada Marissa dan Arya berdua. Bahkan Mbak Ani dan Mbak Dina pun ikut di bawa pulang.
"Bosen banget nih. Ngapain gitu kek," Marissa mengoceh sambil bibirnya cemberut tak lupa kedua tangannya bersila di depan dada.
__ADS_1
"Kamu mau ngapain memangnya? Aku sih ayok ayok aja," jawab Arya tapi matanya tetap fokus ke TV.
"Beneran nih?"
"Iya.."
"Ya udah. Bikin anak yuk?!"
"Ohokkk!" sampai tersedak Arya mendengar ucapan polos Marissa. Gampang banget ya asal ngomong begitu?
"Ayoolaahh.. Ayoo.." bukannya peka, Marissa malah makin menjadi bahkan sengaja bermanja-manja.
"Kamu minta begituan kayak minta jajan permen aja! Gampang banget ngomongnya? Gak malu apa?" tanya Arya heran sambil mukanya merah.
"Kenapa mesti malu? Kan kamu suami aku," ucap Marissa mengerjap-ngerjapkan matanya dengan genit. Dan tumben-tumbenan juga dia bilang aku-kamu.
Arya menghela nafas. Kepalanya otomatis menggeleng, dia jadi takut sama Marissa yang bertingkah agresif.
"Kenapa sih gak mau?" Marissa melingkarkan tangan di leher Arya bahkan duduk di pahanya. Keduanya saling berhadapan namun Marissa kini lebih tinggi dari Arya.
Tanpa bisa Arya tolak, tau-tau bibir Marissa sudah mendarat sempurna di bibir Arya. Dia terkejut tapi tapi tidak melawan. Arya malah bisa merasakannya. Rasa manis dan gurih bercampur jadi satu. Pokoknya tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.
Belum puas Arya menerima ciuman di bibirnya itu tapi Marissa sudah beralih ke leher Arya bahkan dengan sengaja bernafas di telinganya membuat bulu kuduk Arya meremang hingga menimbulkan perasaan menggelitik di sekujur tubuhnya. Tanpa bisa Arya tahan, rupanya ada sesuatu juga yang terasa mendesak di bawah sana.
"Aku saaayaangg banget sama kamu, Arya.. Aku juga cinta sama kamu.."
Mendengar pengakuan Marissa yang seperti itu membuat Arya merasa harus bersikap gentleman seperti lelaki pada umumnya. Dia tidak mau di kendalikan lagi oleh Marissa. Arya mengambil pinggang Marissa dan menidurkannya di atas sofa. Secepat kilat Arya mengambil alih kendali dan kini dia yang berada di atas Marissa.
"Kenapa kamu melakukan itu tanpa persetujuanku? Harusnya kamu bilang dulu karena ini pertama kalinya bagiku, aku tidak mau kamu menikmatinya sendiri!" Arya langsung mencium bibir Marissa dengan beringas. Marissa bukannya menolak dia malah kesenangan sampai tidak sadar mengacak-acak rambut Arya.
Keduanya melepas bibir mereka sambil mencoba mengatur nafas yang sama-sama memburu.
"Aku juga sayang dan cinta sama kamu, Marissa.."
Marissa yang mendengar itu seperti mabuk kepayang. Dia ingin menarik Arya lagi, namun laki-laki itu menepis lengan Marissa. Tanpa persetujuan istrinya tersebut, Arya menggendong Marissa dan memegangnya dengan kuat kemudian membawa Marissa naik ke atas tangga dan masuk ke dalam kamar.
Dan di dalam kamar itu, semuanya terjadi~
__ADS_1
(gak usah di jelasin yee.. udah pada gede)
Arya yang tidak berpengalaman namun bisa melakukannya dengan baik. Memang naluri lelaki sangatlah luar biasa. Dan yang terpenting mereka melakukan semua ini atas dasar sama-sama cinta.
Lucu ya, baru sama-sama mengatakan cinta udah bobo bersama. Untung udah sah.
Akhirnya mereka bersatu dalam cinta, bersatu di atas kasur yang sama dan bersatu di dalam selimut yang sama.
"Sayang? Tadi sakit enggak? Apa aku ada melakukan sesuatu yang menyakitimu?" tanya Arya sambil memeluk Marissa di dalam selimut.
"Ihh co cweet manggil Sayang.." ledek Marissa geli.
"Gak boleh ya?" tanya Arya dengan wajah polos penuh rasa bersalah.
"Iihh ya boleh lah, boleh banget malahan.. tadi gak sakit apa-apa, kok. Aku malah happy. Akhirnya kita benar-benar terasa seperti suami istri beneran. Aku malah takut kamu merasa gak nyaman sama aku karena aku melakukan ini bukan untuk yang pertama kalinya, tidak sama seperti kamu," jawab Marissa merasa insecure pada dirinya sendiri.
"Sttt.." Arya meletakkan jari di bibir Marissa, "aku kan sudah pernah bilang aku gak peduli dengan masa lalumu. Jadi jangan kamu ungkit-ungkit hal seperti itu lagi, apalagi saat kita melakukan ini. Yang ada kamu malah menyakiti hatiku.." ujar Arya sedih.
Melihat mata Arya berkaca-kaca Marissa jadi tak tega dan langsung memeluknya, "Maafkan aku ya.. Aku udah bikin kamu gak nyaman. Aku janji gak akan bahas hal ini lagi. Dan aku sangat berterima kasih sama kamu karena kamu udah mau terima aku apa adanya dan kasih kesempatan juga untuk aku supaya jadi orang yang lebih baik lagi. Tolong bantu aku juga nanti ke depannya supaya bisa jadi istri yang baik dan ibu yang baik untuk anak-anak kita kelak," Marissa makin mengencangkan pelukannya sambil diam-diam menitikkan air mata. Arya balas memeluk Marissa dan ikut tersentuh dengan ucapan Marissa barusan.
"Aku juga mohon bantuannya supaya bisa jadi suami yang baik untuk kamu dan juga bisa jadi ayah yang baik untuk anak-anak kita nanti," ucap Arya lalu mengusap kepala Marissa, tak lupa mengecupnya.
"Sayang, kalau yang kita lakukan ini membuahkan hasil dan aku hamil. Kira-kira gimana ya nanti tanggapan Papa dan Papa mertua? Kan di antara semuanya, mereka berdua lah yang paling repot ingin punya cucu, pasti heboh banget ya? Gak kebayang deh, hihi.." tanya Marissa menerka-nerka.
"Pastinya bakalan heboh banget! Apalagi nanti Papaku bakal berkelakar kalau cucunya bakal mirip dia yang ganteng. Tapi anaknya ini juga ganteng sih, hehe.." ujar Arya memuji dirinya sendiri.
"Ih, bisa-bisanya kepedean begitu.." ledek Marissa sambil mencubit hidung Arya gemas.
Di tempat lain telinga Papa Arya terasa gatal. "Ini kayaknya ada yang ngomongin saya nih.." ujar Papa Arya sambil mengorek telinga dengan kelingking tangannya.
***
(holaa para readers~ apa kabar?
Nungguin yeeaacchhh?
Kalian tenang aja ya, episode ini bukan hoax kok apalagi sekedar khayalan Marissa sama seperti sebelumnya. Hanya saja semua ini cuma khayalan author doang hehehe..) 😁😁
__ADS_1