Terpaksa Menikahi Pelakor

Terpaksa Menikahi Pelakor
Transaksi


__ADS_3

"Kurang ajar lu! Awas ya kalau sampai rambut gue pada rontok! Gue kurangin 100 juta per helai rambutnya!" ancam Marissa tak terima diperlakukan kasar begitu.


"Halah! Lu botak juga pasti gue bakal tetap dapat duit itu! Gak usah banyak tingkah lu! Nyawa lu kan ditangan gue sekarang!" jawab Mika merasa berkuasa.


"Gue udah suruh suami boongan lu itu buat antar duitnya ke tempat janjian. Setelah gue dapat ceknya dan juga memastikan kalau diri gue aman, baru deh gue kasih tau tempat lu sekarang sama dia," sambung Mika lagi, santai.


Marissa membuang muka. Entah mengapa, perbuatan Mika ini tentu saja tidak bisa dibenarkan olehnya, tapi ada sesuatu yang mengatakan kalau ini jalan satu-satunya supaya dia tidak berhubungan dengan Mika lagi. Dengan kata lain bayaran untuk memutuskan sebuah hubungan!


Entah sudah berapa lama waktu berlalu, yang jelas langit sudah mulai memudar cahayanya, artinya hari sedang merangkak ke waktu sore. Mika enak-enakan dengan handphonenya, tertawa-tawa sangat keras. Entah apa yang dia lihat atau dia tonton. Sedang Marissa, hanya melamun berdiam diri dengan kedua tangan masih terikat. Jangan tanya betapa kebas semua ototnya. Rasanya sudah benar-benar mati rasa!


Suara dering ponsel Mika membuyarkan lamunan Marissa. Dari sana dia bisa menangkap percakapan Mika dengan seseorang di ujung telepon yang tak lain adalah Arya. Rupanya Arya sudah menyiapkan semua yang dia minta. Setelah menutup telepon Mika jalan menuju arah Marissa lalu berpamitan dengan angkuh.


"Gak nyangka banget sih suami boongan lu sampe segitunya demi lu ya! Marah-marah gak jelas bikin budeg kuping gue aja! Tapii.. kasian gak sih dia jadi ikut keseret-seret tiap semua urusan lu, apapun itu! Padahal cuma jadi suami pura-pura tapi tingkahnya udah kayak suami nyata aja ahahaha!" ledek Mika, "abis gue ambil duit gue artinya kita gak akan ketemu lagi ye kan! Nah, jadii.. babayyy.. Lu jangan ganggu gue dan gue janji deh gak akan ganggu lu lagi." ucap Mika lagi sembari tertawa.


"Terus, gimana dengan Tio? Bagaimana kalau mereka cari lu lewat gue lagi?"


"Itu sih urusan lu! Gue gak peduli sih sama manusia satu itu. Lu nikahin aja dia, biar kalian bahagia dunia akhirat!"


"Hoeekk!" Marissa mual mendengar itu, "gue juga gak mau tau jika suatu hari nanti saat Tio bebas dan dia nyari keberadaan lu juga anak-anak lu, ya! Andai dia menemukan kalian, itu bukan campur tangan gue lagi, jadi jangan pernah berpikiran untuk mengganggu gue lagi dengan alasan apapun! Lu harus ikuti peraturan seperti dalam surat perjanjian itu, apapun alasannya!"


"Kenapa lu yakin banget Tio bakal nyari gue, seolah-olah lu udah siapain rencana?" tanya Mika curiga. Dia menyelidiki mata Marissa dalam-dalam, "ada belek tuh!" kata Mika lagi mengejek Marissa. Meski ada belek atau kotoran kambing di matanya memang mau di apain? Sudah tahu Marissa tidak bisa berbuat apa-apa karena terikat!


Marissa membuang wajah. Malu sekaligus malas meladeni Mika.


"Lu gak bisa ya mikir positif dikit aja tentang gue! Mana ada gue rencanain hal receh kayak gitu! Udah kayak orang gak ada kerjaan banget!" jawab Marissa kesal.


"Halah, gimana gue mau pikir positif sama pelakor macam lu!"


"Eh jaga ya mulut lu! Yang ngebentuk gue jadi karakter pelakor kan lu sendiri! Lu yang kerjasama dengan Tio buat manfaatin gue! Dan sekarang terang-terangan sandera gue seolah lagi balas dendam sama gue, seakan-akan lu jadi korban! Enak banget idup lu mau duit tinggal pakai cara kotor begini!"

__ADS_1


"Whatever lu mau ngomong apa gue gak peduli!" Mika berlalu pergi meninggalkan Marissa.


"Eh, tunggu dulu woi! Lepasin gue!" teriak Marissa panik.


"Tenang aja keles, tar setelah duit itu udah benar-benar di tangan gue, baru gue kasih tau lokasi lu sama si Arya. Anggap aja itu bonus dari gue biar kalian so sweet, so sweet-an kayak di drakor-drakor gitu ahahaha! Gila kali gue kasih tau lokasi lu saat ini, yang ada gue di kepung polisi!"


"Lu gak percayaan banget sih jadi orang! Gue udah bilang kan gak akan lapor polisi ini!"


Mika berhenti melangkah, sambil sedikit menoleh pada Marissa. "Lu kan bilang gue itu sama bajingannya kayak lu, otomatis gue tau dong jalan pikiran lu kayak apa! Gue gak sebodoh itu say!"


Marissa mendengus kesal, Mika terlalu keras kepala. "Cape gue ngomong sama lu! Buruan dah lu sana! Suruh Arya ke sini! Pegel gue tau gak!"


"Iih bawel amat! Ngatur-ngatur! Ngapain gue dengerin lu buat buru-buru? Mau gue jalan kayak kura-kura juga itu urusan gue dong!" dan benar saja, saat melangkah lagi, dengan sengaja Mika jalan pelan-pelan persis kura-kura yang baru saja dikatakannya tadi.


Melihat itu Marissa makin gondok hatinya, mau marah pun percuma karena Mika memang sengaja mempermainkannya. Marissa biarkan saja dia begitu sampai menghilang dengan sendirinya.


Sedang di tempat lain, di sebuah restoran yang penuh sesak manusia, Arya menunggu kedatangan Mika. Dia bingung dengan pilihan tempat transaksi ini, kenapa harus di tempat ramai? Apakah Mika sengaja untuk mengelabui jika ada polisi yang ikut andil dalam pertemuan mereka, dengan begitu lebih memudahkan Mika kabur karena disini terlalu banyak orang? Sepertinya sih iya, mungkin Mika masih belum percaya. Hal itu bisa dilihat dari perilakunya yang serba terlihat sangat hati-hati.


Ah, dari jauh Arya bisa melihat siluet Mika karena dia sudah pernah bertemu dengan wanita itu sebelumnya. Arya melambaikan tangan dengan refleks supaya Mika dapat mengenalinya dengan cepat, namun yang ada Mika pun refleks mencari entah apa, kepalanya celingak-celinguk gelisah seperti orang sedang ketangkap basah. Mungkin dia panik, dia mungkin berpikir itu adalah kode Arya untuk polisi atau semacamnya.


Mika mendekat sambil mengomel, "Lu gila ya! Ngapain lu tunjukin gerak-gerik gitu! Gue gak buta, bisa liat lu duduk dimana!"


Arya tak menggubris omelan Mika, tapi langsung mencari keberadaan istrinya. "Di mana Marissa?!"


"Mana uangnya?" tanya Mika yang juga to the point.


Arya menghentakkan sebuah amplop di atas meja yang langsung di ambil Mika dan buka isi di dalamnya. Ternyata ada tiga buah lembar cek berisi masing-masing 1 Miliyar sesuai yang dia minta. Mika menyunggingkan sebuah senyum senang.


"Oke gue Terima cek ini. Bye!"

__ADS_1


"Tunggu!" cegah Arya pada Mika yang hendak berdiri.


"Dimana Marissa? Kamu tidak bisa pergi begitu saja tanpa memberi tahu keberadaannya!"


Mika mengambil sebuah kertas dari dalam tasnya. Di atas kertas itu sudah tertulis sebuah nomor telepon.


"Nih, akan gue kabarin keberadaan dia saat gue udah ada di dalam pesawat!"


"Hah?!" Arya tak kuasa menahan keterkejutannya.


"Maksud kamu apa? Kamu mau pergi gitu aja tanpa peduli Marissa sendirian di tempat kamu sekap?"


"Gue gak peduli! Gue harus pastikan dulu keselamatan gue dan anak-anak gue! Saat kita akan berangkat baru gue kasih tau lu!"


Arya panik langsung menarik lengan Mika. "Tunggu Mika!"


Mika menghentakan genggaman Arya yang kuat. "Lepas!" hardiknya.


Tapi Arya meraih lagi lengan itu. "Kamu gila ya! Cepat beri tahu di mana keberadaan Marissa! Bukannya kamu sudah terima apa yang kamu mau?!"


Mika memutar bola matanya. "Kalau lu peduli dengan keselamatan Marissa, berhenti merengek kayak gini! Sudah gue bilang akan gue beri tahu jika sudah saatnya! Lagian tidak ada jaminan kan kalau kalian memang tidak lapor polisi?"


Arya melonggarkan pegangannya. "Baiklah kalau itu mau mu. Pukul berapa kamu berangkat?" tanya Arya.


"Mungkin 2 jam dari sekarang."


Arya mengusap wajahnya kesal tapi tak bisa lagi protes.


"Kenapa kamu melakukan ini? Kamu bahkan tidak percaya pada kami yang sudah mengikuti permintaanmu untuk tidak melapor polisi!"

__ADS_1


Mika mengangkat bahunya cuek. Lalu pergi begitu saja sambil mengipas-ngipas amplop itu pada wajahnya.


***


__ADS_2