
Makanan pun datang tapi kali ini bukan Arista yang antar. Mereka makan dengan sedikit berbincang. Indra pun basa-basi menanyakan kondisi Marissa karena baru kali ini lagi mereka bertemu setelah keluar dari rumah sakit.
"Bagaimana bisa dokter pacaran dengan Arista sejak pertama bertemu?" tanya Marissa penasaran.
"Entahlah. Terjadi begitu saja. Namanya juga suka sama suka, hehe," jawab Indra malu-malu.
Sampai tak terasa makanan mereka habis Marissa izin ke toilet.
"Kalian tidak benaran pacaran kan?" selidik Arya membuat Indra terbatuk saat minum.
"Kenapa kamu berasumsi seperti itu? Kami pacaran betulan kok!"
"Aku tidak percaya! Arista bukan perempuan yang mudah jatuh cinta apalagi pacaran sama orang narsis seperti kamu! Kamu itu bukan tipe dia banget!" sela Arya sambil duduk menyilangkan kaki dan tangannya. Matanya tidak berkedip saat menelisik mata Indra.
Indra angkat bahu tak mau tahu. "Ya terserah kalau kamu tidak mau percaya, gak ada yang maksa juga. Tapi yang jelas kami memang pacaran! Kamu kenapa sanksi seperti itu? Jangan bilang kamu cemburu?"
Arya membetulkan posisi duduknya lagi. "Jangan asal bicara. Mana mungkin aku cemburu pada Arista dengan status ku yang seperti ini. Yang ada aku malah akan menyakiti Arista nantinya jika aku menaruh perasaan terhadapnya!"
"Lalu mengapa kamu bersikap begini kalau bukan karena cemburu? Dan cemburu itu karena suka. Kamu suka Arista, iya kan?" kini Indra yang bersikap sok kuasa. Berbalik dari yang sebelumnya diselidiki kini Indra yang menyelidiki Arya.
"Itu.. Karena aku peduli padanya."
"Hahhh?"
Arya mendelik. "Aku peduli padanya sebagai sahabat! Aku hanya tidak mau dia tersakiti untuk kesekian kalinya! Hidupnya sudah cukup sulit. Aku tidak mau kamu pacaran dengan Arista hanya untuk mempermainkannya!" ucap Arya tegas.
"Tapi aku memang serius dengan Arista! Mana ada aku niat mempermainkan perempuan sebaik dia."
"Tapi aku tidak percaya dengan tampangmu!"
Indra terkekeh tak mengerti jalan pikiran Arya. "Memang ada apa dengan tampangku? Kamu tidak suka Arista pacaran dengan pria yang lebih tampan darimu?" tanya dia kembali narsis.
Arya menekan bibirnya menahan geram. "Aku tidak melihat kalau kamu lebih tampan dariku! Tapi yang kulihat, di mataku ini kamu hanyalah sesosok playboy tukang tipu wanita! Karena itu aku tidak mau kamu dekati Arista hanya untuk permainkan perasaannya saja!"
Indra berdecak. "Sudah ku bilang aku tidak ada niat untuk mempermainkan perasaannya! Aku benar-benar suka Arista! Meski wajahku tampan dan rupawan bukan berarti aku ini playboy seperti yang kamu katakan!"
"Tapi aku pernah melihat kamu genit sana sini sama banyak perempuan sewaktu di rumah sakit! Apa itu bukan playboy namanya?"
Indra terkekeh sambil menutup mata dengan telapak tangannya. "Kamu ini lucu sekali kok bisa mempermasalahkan hal kecil seperti ini? Aku kan memang populer di rumah sakit. Bukan berarti aku genit, itu hanya sebuah kedekatan antar rekan kerja saja. Kenapa sih kamu gak bisa bedain?"
__ADS_1
Arya membuang muka kesal. "Pokoknya awas saja kalau kamu sakiti Arista! Aku tidak akan tinggal diam!" ancam Arya penuh arti.
"Ku harap ancaman itu benar-benar dalam bentuk kekhawatiran seorang sahabat dan tidak lebih dari itu. Lagipula kamu tidak perlu ragu karena ancaman itu tidak akan berarti lagi karena aku tidak akan berbuat suatu hal buruk pada Arista seperti yang kamu khawatirkan, Arya."
"Ku pegang ucapanmu!" ucap Arya menekan kata-kata Indra.
Marissa keluar dari toilet setelah mencuci tangan dan membetulkan riasannya. Saat dia keluar dari pintu tiba-tiba sebuah tangan menariknya dan membawa tubuh Marissa keluar kafe lewat pintu belakang. Marissa tampak jijik karena di sana banyak tumpukan sampah berserakan dan bau tak sedap menelisik masuk ke hidungnya tanpa permisi ditambah lagi sumber cahaya minim hanya dari lampu 8 watt saja, hal itu membuat Marissa begidik ngeri.
"Apa-apaan sih lu gak sopan banget bawa gue ke tempat ginian!" protes Marissa.
Arista menekan tubuh Marissa ke tembok di belakang tempat Marissa bersandar sambil satu tangan terjulur ke tembok tersebut untuk menahan tubuhnya sendiri. "Lu yang apa-apaan! Lu juga yang gak sopan! Kenapa tiba-tiba datang ke sini dan bicara asal kayak tadi! Lu anggap gue apa hah?!" bentak Arista tak suka dengan perlakuan Marissa yang semena-mena.
Marissa menggeser lengan Arista yang terjulur ke tembok itu. "Gue hanya ingin memastikan sesuatu aja kalau Arya itu beneran suka sama lu atau enggak, begitupun sebaliknya! Dengan begitu gue gak akan ragu buat lanjutin hubungan pernikahan gue ini. Daripada ujung-ujungnya bermasalah kalau ada pihak ketiga apalagi orangnya macam lu! Repot kan nantinya!"
"Gila ya lu! Bisa-bisanya perlakukan orang seenak itu! Hanya demi keuntungan dan tujuan lu sendiri sampai mempermalukan orang kayak gini?" ucap Arista frustasi. Dia tampak kesal sekali, ingin rasanya mencabut rambut Marissa sampai ke akarnya tapi dia tau itu tidak mungkin. Dia tidak boleh melakukan hal itu. Apalagi dengan statusnya yang tidak ber-Uang.
"Setelah dari sini lu jelasin hal sebenarnya tentang sikap lu ini! Jangan bikin orang lain salah paham! Apalagi di sana ada Arya dan Indra!" pinta Arista kesal.
"Kenapa kalau ada Indra? Lu takut pacar boongan lu itu ilfeel sama lu? Lagian kan cuma pura-pura pacaran ngapain harus jaga perasaan?" ledek Marissa.
"Apa maksud lu? Dia itu.. pacar gue betulan!"
Kali ini kesabaran Arista telah memberikan alarm, mungkin sebentar lagi dia bakal benar-benar menggunduli Marissa.
"Cukup omong kosongnya!" ucap Arista penuh penekanan, "yang gue minta lu jelasin aja situasinya lalu pergi dari tempat kerja gue!"
"Kalau gue gak mau gimana?"
"Apa lu bilang! Mau gue cabik-cabik mulut lu biar makin viral?" ucap Arista menunjukkan sisi garangnya.
Marissa membuang muka. Berpikir sejenak lalu lambat laun dia sadar akan sikapnya sendiri dan lelah untuk terus berpura-pura.
"Maaf."
Arista membelalakan matanya. Apakah aku salah dengar? Pikir Arista heran.
"Apa lu bilang barusan?" tanya Arista. Kedua alisnya mengkerut.
"Gue bilang maaf!"
__ADS_1
"Secepat itu? Kalau ujungnya lu minta maaf dengan begitu mudahnya, kenapa dari awal lu lakukan hal ini ke gue?" bentak Arista.
"Terpaksa gue melakukannya."
"Terpaksa? Lu mau bilang kalau lu itu terpaksa menyeret gue ke dalam masalah lu? Gitu?!"
Marissa mengangguk pasrah. "Ada alasannya kenapa gue bawa-bawa lu!"
"Kenapa emangnya? Lu mau hancurin hidup gue juga? Mau jadiin konten buat pencitraan lu ke publik sebagai istri tersakiti?"
Marissa menggeleng cepat. "Bukan gitu woy! Lu mah nething mulu ama gue!"
"Terus alasan apalagi yang masuk akal kalau bukan itu?"
"Gue mau cerai!"
"Apa?!"
"Iya, gue mau cerai sama Arya tapi gue gak mau kalau gue yang mutusin itu. Gue maunya Arya yang ceraiin gue," ungkap Marissa akhirnya memberikan kebenaran atas aksinya tadi.
"Cerai?" tanya Arista tak habis pikir, "terus apa hubungannya sama gue?"
"Ya karena gue mau deketin lu sama Arya. Gue tau lu cewek baik-baik, meskipun sedikit kampungan sih," bisik Marissa di ujung kalimatnya, "tapi seenggaknya gue gak akan khawatir kalau nanti gue jadi tinggalin Arya karena gue tau Arya sudah bersanding dengan wanita yang baik. Dan bagi gue wanita yang tepat untuk Arya itu adalah lu Arista! Karena itu, gue bawa dia ke sini biar gue liat dengan mata kepala gue sendiri kalau memang Arya itu masih suka sama lu, dan begitu pun lu suka sama Arya."
"Dasar gila lu!"
"Gue gak gila! Gue waras sewaras-warasnya! Karena kewarasan inilah yang menuntun gue untuk bikin rencana seperti ini!"
"Tapi lu emang gila! Bisa-bisanya punya pikiran kayak gitu! Lu mau cerai ya cerai aja ngapain libatin gue?" Arista mengangkat tangannya dari tembok dan menyilangkan di depan dada.
"Itu karena gue tau Arya suka sama lu, dan gue juga yakin, lu.. pasti suka juga kan sama Arya?"
"Lu dukun atau apa? Bahkan jika lu belah dada gue dan lihat hati gue apa lu bisa tau kalau gue suka sama Arya?"
"Emang lu gak suka Arya?" tanya Marissa mendalami mata Arista berusaha mencari kebenaran meski di tengah cahaya remang.
"Gue suka sama dia.."
***
__ADS_1