
"Ha-hamil? Kamu hamil, Nak?" tanya Papa Arya syok. Kepalanya terasa panas seolah aliran darah mengumpul semua di sana saking senangnya mendengar kabar bahagia ini.
Pak Aga yang juga tak kalah senang bahkan tidak sadar melompat dari duduknya dan langsung meraih lengan Marissa mengajaknya berjingkrak-jingkrak memutar kegirangan.
Marissa yang gembira juga ikut berjingkrak senang namun segera dihentikan oleh Bu Aga.
"Ya ampun! Ya ampun, Papaaaa! Udah tau anak kita lagi hamil, kok bisa-bisanya malah diajak lompat-lompat begitu iihhh!" omel Bu Aga sambil menarik lengan baju Pak Aga. Ocehannya benar-benar ocehan khas mamak-mamak Indonesia.
"Habisnya Papa bangga, Ma!" seru Pak Aga sambil memeluk putri kesayangannya itu.
"Kok bilang bangga sih, Pa? Emangnya ini kejuaraan?"
"Apaan sih, Mama?! Siapa juga yang bilang bangga? Orang Papa bilang senang!" sela Pak Aga tak mau tau kalau tadi dia salah bicara. Pak Aga masih fokus memeluk dan mencium kening Marissa.
"Idih, orang tadi salah ngomong juga!" sembur Bu Aga kesal.
"Selamat ya, Nak. Akhirnya kalian punya momongan juga.." ucap Mama Arya sangat terharu bergantian memeluk Arya lalu Marissa.
"Nah gitu dong! Kan enak kalau sama-sama saling mencintai dan dicintai. Jadi ada hasilnya," ledek Papa Arya masih saja menggoda anak dan mantunya itu.
Setelah beberapa bulan berlalu pelan-pelan Arya dan Marissa mulai menunjukkan rasa cintanya kepada satu sama lain bahkan tak jarang mereka perlihatkan dihadapan orang tua mereka.
Orang tua Arya maupun orang tua Marissa tidak mau banyak komentar dalam proses pendekatan mereka. Semuanya sama-sama tau kalau kedua sejoli itu masih butuh ruang untuk saling mengenal. Papa Arya yang biasanya gatel ledekin anak dan mantunya itu juga mendadak berhenti melakukan kebiasaan tersebut. Padahal gatel banget itu mulut sebenarnya pengen ledekin. Tapi ya mau gimana lagi, daripada ledekannya malah bikin anak mantunya kesel ya udah mending diam aja. Untung ada istri sigap yang bisa cosplay jadi rem kalau Papa Arya gak bisa nahan diri.
"Nak Arya, Mama minta tolong ya selama Rissa hamil, tolong kamu berikan apa yang dia butuhkan, apapun itu meski ngidamnya nanti bakal aneh-aneh," pesan Bu Aga khawatir karena tidak bisa tinggal bersama anaknya untuk memenuhi kebutuhan yang Marissa inginkan selama masa kehamilan.
"Tapi gak termasuk naik ke bulan kan, Ma? Gimana kalau Marissa minta Arya memetik bulan?" tawa keluarga besar itu saling bertumpukan, renyah sekali. Bisa-bisanya Arya kepikiran hal itu.
"Ya harus tetap dikabulin lah kan demi anak kita. Sayang kan bisa jadi astronot dulu ih.." ucap Marissa manja.
"Oohh, gitu.. Kamu mau aku jadi astronot dan ninggalin kamu di sini sendirian gitu? Yakin gak akan kesepian?" goda Arya memegang kuasa yang tidak bisa dibantah oleh istrinya itu.
__ADS_1
"Uluh.. Uluh co cweeettt.." ucap Papa Arya ceplos gitu aja yang tanpa di duga malah ditanggapi tawa oleh semuanya.
"Jangan ke bulan deh, nanti aku kesepian tanpa Ayang.." balas Marissa yang malah makin menggelikan semua orang.
Keseruan tersebut juga bahkan bisa dirasakan oleh para pegawai di sana yang sengaja atau tidak sengaja mendengar percakapan mereka. Termasuk Mbak Ani yang langsung heboh keliling rumah untuk ngerumpi memberitakan kabar kehamilan Marissa ke orang-orang seisi rumah bahkan sampai pos jaga di luar sana.
Hampir setiap hari Bu Aga bolak balik ke rumah Marissa. Meski sebelumnya sudah bilang untuk menitipkan putrinya pada Arya tapi tetap saja namanya juga seorang ibu mana bisa tenang dan berdiam diri saja tanpa kasih perhatian pada putri satu-satunya itu. Padahal ini bukan kehamilan pertama bagi Marissa, tapi perlakuan Bu Aga lebih posesif dari sebelumnya yang mana saat Marissa hamil dulu sikap Bu Aga cuek-cuek saja gak berlebihan seperti sekarang.
Arya sih senang-senang aja kalau Mama Mertuanya ada perhatian dan bisa nemanin istrinya saat dia harus pergi kerja, tapi malah Marissa sendiri yang suka risih dan kadang tak segan meminta Bu Aga pulang dengan dalih istirahat karena terlalu sering mengunjungi Marissa. Tapi lagi-lagi namanya juga ibu sekaligus calon nenek, mana bisa pergi gitu aja orang semangat banget nungguin cucu pertamanya padahal brojol juga masih lama. Tapi Bu Aga pengen aja gitu kalau kasih Marissa perhatian dari awal kehamilan sampai lahiran nanti saking antusiasnya dia. Hal serupa juga dirasakan Mama Arya tapi tidak terlalu menunjukkan gelagatnya, mungkin karena sungkan. Tapi karena seringnya Bu Aga datang ke rumah mereka membuat hubungan Mama Arya dan Bu Aga jadi semakin dekat dari sebelumnya.
"Loh, kamu mau ke mana Nak?" tanya Bu Aga menutup majalah di pangkuannya saat melihat Marissa menggandeng lengan Arya dengan baju rapi khas ibu hamil.
"Ada janji dokter? Kok jam segini?" tanya Mama Arya yang juga penasaran.
"Enggak kok, Ma. Kita mau jalan-jalan sebentar. Ini Marissa ngidam es krim, kita mau ke mall di daerah utara," jawab Arya.
"Loh kok jauh-jauh banget dari selatan ke utara? Es krim apaan emang? Gak ada di sini gitu?" tanya Bu Aga kepo.
Bu Aga makin bingung. Ngapain juga beli jauh-jauh kalau di sini ada. "Merk-nya sama?"
Marissa mengangguk.
"Loh kok rasanya bisa beda kalau merk sama?"
Marissa angkat bahu.
"Udah ah, keburu malem tar gak sempet beli!" jawab Marissa melengos begitu saja bersikap tak acuh pada mamanya.
Arya berpamitan dengan sopan pada Bu Aga serta mamanya sendiri. Sebagai suami sigap Arya langsung mengitakan untuk menemani Marissa pergi mencari es krim tersebut meski baru pulang kerja, belum mandi juga.
"Anak itu ya bener-bener random banget hidupnya!" oceh Bu Aga mengomentari anaknya sendiri.
__ADS_1
"Sudahlah, biarkan saja ya. Mungkin bawaan bayi, lagi pengen duaan juga kali si Rissa sama suaminya," kata Mama Arya lembut penuh perhatian.
Bu Aga cuma pasang muka mesem, mau menyangkal tapi ada benarnya juga. Gak apa deh yang penting anaknya happy dia juga bakal ikut senang.
Di dalam mall Marissa buru-buru menarik lengan Arya dengan tidak sabar.
"Sabar, Sayang.. Hati-hati nanti kamu jatuh loh," Arya was-was menghadapi istrinya yang ngebet itu.
"Itu, itu! Ayoo cepeettt!" seret Marissa tergesa. Tapi saat dia menuju ke stand es krim yang dimaksud tidak sengaja ekor matanya melihat sesuatu yang tak asing.
"Sayang, coba tengok deh. Bukannya itu Arista?" tanya Marissa minta kepastian takut salah lihat.
Marissa memicingkan matanya mengamati seorang pelayan restoran yang mereka lewati barusan. Tapi kok bisa-bisanya Arista ada disitu?
"Loh, iya! Itu kan Arista!" seru Arya tak percaya.
"Oh, gitu ya! Bisa-bisanya kamu mengenali dia dari jarak sejauh ini?!"
"Ya ampuunn.. Yang awalnya mengenali dia kan kamu. Iiihh kamu cemburu yaa.." goda Arya bikin tambah kesal.
"Tapi ngapain ya dia di sana? Kok kerjanya jauh banget sampai ke sini?" tanya Arya heran. Marissa mengangkat bahu tak tahu menahu.
"Tau deh. Udah ah bukan urusan kita juga! Cepetan kita beli es krim ih!" rengek Marissa manja.
"Iya, iya ayoo," Arya merangkul Marissa sambil berjalan menuju stand es krim tersebut.
"Papa kamu nih sengaja lama-lamain jalannya biar bisa lihat mantan," ucap Marissa kesal sambil elus perutnya sendiri.
"Idih, idih apaan sih Mama kamu ini gak jelas banget. Bilang aja kalau cemburu karena Papa ganteng," balas Arya terkekeh karena Marissa tiba-tiba bisa cemburu begitu tanpa sebab. Lagian mantan dari mana, orang Arista gak pernah punya status yang spesial dengan Arya baik di masa lalu atau pun sekarang.
Emang nih Marissa caper banget orangnya. Hmmmm..
__ADS_1
***