Terpaksa Menikahi Pelakor

Terpaksa Menikahi Pelakor
Sini Bobo!


__ADS_3

Arya semakin mendekat, makin mendekat.. dan... bukannya mencium Marissa, dia malah menamplokan telapak tangannya di kening Marissa.


"Awww!" pekik Marissa kaget.


Semua juga kaget, seperti kilat para orang tua disana mulai bergantian menceramahi Arya.


"Kamu apa-apaan sih Nak, bukannya di cium malah di keplok!"


"Arya, kasihan kan Marissa kepalanya masih sakit malah kamu gitukan!"


"Ya ampun Nak, bisa-bisanya kamu seperti itu sama istri kamu sendiri."


"Wahh Arya kurang romantis nih, padahal gak usah malu-malu kucing gitu gak apa-apa kaliiii.."


Seperti itulah keluhan yang dia dengar karena tidak jadi mencium Marissa.


"Sudahlah, Arya tidak mau cium-ciuman didepan banyak orang, kalau urusan seperti itu kan bisa saat kita berduaan nanti," dalih Arya memberi alasan, bukan untuk benar-benar dilakukan tetapi hanya sebagai alasan dia saja supaya yang lain tidak memperpanjang urusan.


"Cieee.. maunya berduaan nih ye..." ledek Papa Arya sambil cengar-cengir.


"Iya nih Pak, mungkin Arya maunya duaan aja, setelah cium kening bisa ke yang lain-lain.." goda Pak Aga menimpali.


"Apaan tuh yang lain-laiiinn?" tanya Papa Arya lagi ikut menggoda, pura-pura tidak tahu.


"Apaaan yaa... Yaitu dehh pokoknyaa..." Pak Aga cengengesan sambil menyikut Arya.


"Hush Papa, kasian tuh anak-anak kan jadi malu!" tegur Bu Aga setelah melihat wajah Arya dan Marissa yang sama-sama memerah.


"Sudah.. sudah.. Tidak apa-apa kalau Arya tidak ingin mencium Marissa sekarang. Mungkin malu kalau diliatin. Nah, sekarang Nak Rissa tiup lilinnya ya sebelum abis, nih udah meleleh banyak," kata Mama Arya menengahi.


Setelah berbicara seperti itu akhirnya sudah tidak ada lagi yang menggoda Arya. Mereka sepakat agar tiup lilin segera dilaksanakan.


Marissa menghampiri kue tart yang dipegang Papa Arya. Sebelum meniup lilin, dia tak lupa membuat doa terlebih dahulu.


"Semoga semua keluarga diberi kesehatan. Semoga kehidupan kedua ini bisa lebih baik lagi kedepannya. Semoga Arya bisa jatuh cinta sama gue," doa Marissa yang ia panjatkan diam-diam. Lalu meniup lilin segera. Semua proses memotong dan membagikan kue pun terlaksana. Tak lupa semua pekerja dirumah Arya pun kebagian kue tart Marissa. Setelahnya dilanjutkan makan bersama.


Tanpa terasa waktu cepat berlalu, malam mulai menampakan diri. Menyadari ini, Pak Aga dan istrinya pamit pulang setelah memastikan Marissa tampak merasa nyaman kembali ke rumah ini. Mereka juga tak lupa berpesan supaya Marissa tak ragu menghubungi jika perlu sesuatu.


Sebelum Marissa pergi ke kamar, dia berhenti sejenak.


"Kenapa Nak? Apa ada yang tertinggal?" tanya Papa Arya.

__ADS_1


"Mmhh, Rissa takut tidur sendiri Pa. Gimana kalau Rissa perlu apa-apa? Untuk berdiri saja masih sulit rasanya," kode Marissa yang disengaja.


Papa berpikir sejenak dan seperti sebuah cahaya ilahi diatas kepalanya, Papa pun langsung peka, dia mengerti keinginan menantunya tersebut. "Baiklah, bagaimana kalau kamu tidur ditemani Arya? Lagian dia kan suami kamu, kalian mestilah tidur bersama," ujar Papa membuat terkejut Arya.


Arya bergeleng kepala cepat-cepat. "Gak mau Pa! Arya gak bisa tidur dengan dia!"


"Loh kenapa Nak? Kalian ini kan suami istri dan tak ada larangan yang menyatakan kalau kalian tidak boleh tidur bersama!" ucap Papa bersikeras.


"Apa Papa lupa kalau pernikahan Arya ini hanyalah sebatas kontrak? Apapun yang Papa katakan Arya tidak mau dengar lagi!" ujar Arya kesal lalu pergi begitu saja menuju kamarnya tanpa pedulikan mereka semua.


Arya menutup pintu kamarnya rapat-rapat. Dia duduk di ujung kasur sambil menenangkan diri. Sambil meluapkan emosi dan daya pikir yang menjengkelkan, Arya merenung sendirian.


Bukan ini yang dia inginkan, rasanya Arya benar-benar sudah di tipu mentah-mentah. Dulu dia terpaksa menikahi Marissa karena sebuah kontrak, sekarang sudah saatnya kontrak itu berakhir tapi mengapa kedua orang tuanya malah mendorong dia untuk menjadikan pernikahan Arya dan Marissa menjadi sungguhan? Arya sungguh tak ingin membangun rumah tangga dengan wanita yang tidak di cintainya.


Tok Tok Tok!


Sebuah ketukan membuyarkan lamunan Arya. Awalnya dia tak peduli, namun ketukan itu terus mengganggunya, sekarang bahkan berirama.


Arya yang kesal tak menggubrisnya sama sekali. Bahkan jika sampai jari pengetuk pintu itu patah dia tak akan peduli sama sekali!


Suara di luar tiba-tiba menjadi hening. Arya menunggu panggilan Marissa guna memastikan dia sudah pergi dari sana.


"Aryaa... Arghh.. Sakit!"


Arya terkesiap, dia memasang kuping lebar-lebar mendengarkannya dengan seksama. Apakah dia salah dengar?


"Darah.. Darahh!" pekik Marissa setengah berteriak.


Arya yang mendengar kata darah langsung berdiri dari duduknya. Rupanya dia tidak salah dengar rintihan Marissa barusan. Sambil mendekati pintu samar-samar masih terdengar suara Marissa yang kesakitan.


Arya panik setengah mati. Tanpa sadar dia berlari menuju pintu dan langsung membukanya secepat kilat.


"Tadaaa..!" seru Marissa mengejutkan Arya.


Tangan kiri Marissa menumpu tubuhnya sendiri. Salah satu telapak tangannya ada di kepala sambil sikunya bersandar di bingkai pintu, sedang kaki kirinya menyilang pada kaki kanannya dengan santai.


"Surprise!!" seru Marissa lagi, "hehehe.. impas kan kita sama-sama bikin surprise?" seringai Marissa membuat darah naik ke kepala Arya.


Arya marah. Bisa-bisanya Marissa menipu Arya dengan pura-pura kesakitan seperti itu!


"Kelakuan kamu ini keterlaluan. Bisa-bisanya kamu jadikan lelucon dengan teriak kesakitan seperti itu!" Arya balik ke kamar hendak menutup pintunya tapi ditahan Marissa.

__ADS_1


"Lepas Marissa!"


"Gak!"


"Kalau kamu gak mau lepas terpaksa aku tutup ini dengan kasar!"


"Coba aja kalau bisa!" tantang Marissa.


Arya yang kesal benar-benar hendak menutup pintu dengan kasar, namun sebelum tertutup dia tertahan lagi ketika Marissa berteriak saat pintu tersebut hampir menjepit jemarinya.


Arya yang tidak tega menahan lagi itu pintu. Marissa melihat peluang besar dan langsung mendorong pintu tersebut dengan kuat lalu berlari masuk ke kamar Arya tanpa peduli bekas luka yang terasa di perutnya.


Arya terperangah tak habis pikir. Dia juga ikut masuk kamar, meneriaki Marissa agar keluar dari kamarnya.


"Gak mau!" jawab Marissa nyebelin dan malah tiduran di kasur Arya. Dan lebih mengesalkan lagi adalah saat dia meminta Arya berbaring di sampingnya.


"Sini bobo.." ucap Marissa manja.


Arya bertolak pinggang, menatap langit, bergeleng-geleng kepala lalu mengusap wajahnya dengan sebelah tangan.


Tanpa berkata apa-apa dia pergi dari kamarnya. Terlalu lelah rasanya harus berdebat dengan Marissa untuk memperebutkan kamarnya. Toh Arya pikir paling Marissa akan bosan nanti dan kembali ke kamarnya sendiri.


Arya pergi ke ruang tamu, di sana ada Mamanya sedang menonton televisi sambil di pijit oleh seorang asisten rumah tangga bernama Atik.


"Loh kok kamu bukannya temenin Marissa malah ke sini?" tanya Mama makin membuat panas hawa di hati Arya.


Tanpa menggubris perkataan Mama, Arya menjatuhkan diri di sebuah sofa panjang lalu berbaring di atasnya. Namun segera terduduk lagi untuk meluapkan hatinya dengan berbicara pada Mama.


"Ma, kenapa sih kontrak Arya dan Marissa tidak selesai? Kalau begini caranya Arya benar-benar ditipu. Bahkan oleh orang tua sendiri!" rengek Arya sebal.


"Mama tidak ada niat untuk menipu kamu, sama sekali tak ada sedikitpun terbesit pikiran seperti itu! Tapi, pihak keluarga Marissa dan Papamu sepertinya merasa kalau kalian ini sudah cocok dan saling melengkapi. Jadi kami pikir apa salahnya kalau kalian itu di jodohin beneran saja."


"Itu kan kalian yang merasa cocok bukan Arya! Mama tahu sendiri kan Marissa itu seperti apa, tahu juga masa lalunya sangat buruk. Entah itu jujur atau hanya alasannya saja bilang tidak mengetahui status cowoknya yang sudah beristri atau apalah itu, tapi sampai hamil di luar nikah? Bagi Arya itu adalah suatu kesalahan besar! Asal Mama tahu, Arya bahkan tidak berani mencium wanita yang belum suci dalam pernikahan, lalu sekarang orang tua Arya sendiri malah menjodohkan anaknya dengan perempuan yang seperti itu?! Apakah untuk memuaskan Mama dan Papa, Arya harus berkewajiban untuk memakluminya juga? Tidak bisakah Arya menikahi wanita pilihan Arya sendiri?"


"Terakhir kamu jelas-jelas di tipu oleh wanita pilihanmu sendiri! Apa salahnya sekarang kamu mencoba menjalani hubungan dengan wanita pilihan kami?" tiba-tiba Papa sudah berdiri di belakang sofa yang diduduki oleh Arya.


Arya mematung mendengar suara Papa yang entah kapan datangnya, dan tak kalah terkejutnya Arya, mengapa Papa mengungkit soal wanita pilihannya dulu? Raya memang membuat kesalahan pada dia dan keluarganya. Dan mungkin Arya salah telah memilih Raya, tapi bagaimana pun dia pernah merasakan cinta dengan Raya meski akhirnya kecewa. Tapi dengan Marissa,entah mengapa perasaan itu sulit sekali untuk digapainya.


Apakah Arya harus pasrah saja menerima keadaan yang menyulitkannya? Apakah tak ada lagi kesempatan untuk benar-benar mencari wanita yang dia cintai dan sebaliknya tulus mencintainya?


***

__ADS_1


__ADS_2