Terpaksa Menikahi Pelakor

Terpaksa Menikahi Pelakor
Handphone


__ADS_3

Di sofa, Arya bukan hanya berbaring saja tapi dia juga memejamkan matanya. Meski begitu dia tidak benar-benar tertidur, dia masih bisa mendengar obrolan mereka.


"Rissa, kamu kok gitu sih. Kenapa malah bahas hal itu lagi? Kasihan loh Arya padahal dari tadi dia jagain kamu, eh sekarang malah kamu giniin," sesal Bu Aga akan kelakuan anaknya.


"Iya loh Kak! Nak Arya dari tadi ngusapin terus wajah Kakak, nyeka keringat. Dia jagain Kakak sendirian, malah minta Bibi dan Ibu buat tidur," timpal Bibi ikut menyayangkan sikap Marissa.


Ah kacau! pikir Marissa.


Mana gue tau kalau Arya sampai segitunya tadi, gue demam mana sadar ya kan?! Kalau gini caranya sampai kapan juga cinta gue gak bakal terbalaskan sama Arya! Bego sih lu Marissa bego bego begooo! umpat Marissa memaki dirinya sendiri.


"Udah Rissa sekarang kamu istirahat lagi aja. Benar juga kata Arya, walau sudah diberi obat tapi siapa tau kalau nanti demamnya bakal datang lagi. Dan untuk masalah Arya lebih baik biarkan saja dulu. Besok kamu bicara lagi dengannya baik-baik dan jangan lupa untuk minta maaf juga padanya,"


"Haahh? Maaf?! Emang Rissa salah apa sampai harus minta maaf segala?!" protes Marissa pada Mamanya.


"Salah kamu bikin Arya kesal dan terus saja ajak berdebat, tidak mau menerima penjelasan Arya."


Bu Aga menatap mata putrinya sangat dalam. "Nak.. Kamu kan sudah menikah dengan Arya. Sudah jadi istrinya Arya. Meskipun statusnya kontrak tapi tetap saja kamu harus menghormatinya selayaknya dia suami kamu sungguhan. Dengan begitu, dia juga akan balik menghormati juga menjaga kamu. Dan tak mustahil dengan begitu mungkin suatu hari nanti kalian akan saling menyukai hingga saling mencintai satu sama lain."


Marissa manyun mendengar itu, tapi dia juga menyadari setelah dipikir-pikir kalau apa yang dikatakan oleh Bu Aga itu memang benar juga.


Apa Marissa terlalu keras ya pada Arya?


Argh!


Tapi kan emang stylenya Marissa tuh begitu! Mana mungkin dia tiba-tiba jadi wanita lemah lembut hanya demi terlihat menghormati Arya sebagai suaminya. Arya juga pasti akan merasa aneh bila melihat perubahan mendadak pada Marissa seperti ini.


Marissa masih terjaga di saat semua orang dalam ruangan itu terlelap masuk dalam mimpi masing-masing. Sesekali dia mengintipi Arya dari kejauhan barangkali Arya hanya terpejam saja bukan tertidur. Tapi suaminya tidak menunjukkan tanda-tanda sedang terjaga seperti yang dia harapkan.


Marissa yang kepo akut ingin mengetes Arya. Dia ambil ponselnya lalu mengetik sebuah pesan.


'Lu udah tidur?' Marissa baru selesai mengetik tapi dilihatnya lagi pesan itu, rasanya aneh ya kalau tiba-tiba bertanya gini sama Arya? Lalu dia menghapus pesan tadi dan mulai mengetik kalimat baru.


'Maafin aku udah bikin lu kesel tadi!' lalu tinggal tekan kirim. Tapi lagi-lagi Marissa menahan jarinya. Dia kok ngerasa malu ya harus minta maaf begini, kan pertengkaran tadi juga bukan sepenuhnya salah Marissa!


Harusnya kan Arya yang duluan minta maaf bukan gue! Pikir Marissa masih dengan gengsinya.


Lalu dia menghapus kembali pesan itu.


Dia kembali memikirkan kalimat apa yang pantas dan harus dia kirimkan.


Lagi, lagi dan lagi dia ketik tapi tiap selesai mengetik, saat itu juga dia menghapusnya kembali. Terus saja memakan waktu seperti itu sampai akhirnya tak ada satupun yang terkirim pada Arya dan tanpa terasa Marissa ketiduran dengan sendirinya.


Pagi telah tiba, dua orang petugas membawakan sarapan pagi untuk Marissa dan Bu Aga.


Bu Aga dengan lembut perlahan membangunkan putrinya. Marissa kaget karena seingat dia baru saja tidur beberapa saat lalu tapi sekarang tiba-tiba matahari sudah naik dan makanan sudah ada di hadapannya.


Marissa berusaha sadar sepenuhnya, dia celingak-celinguk mencari Arya tapi laki-laki itu tidak ada disana. Hanya ada Bibi yang sedang rapih-rapih dan bersiap untuk pulang ganti jadwal dengan Mbak Ani lagi.


"Pasti si Arya pergi ke tempat cewek kampungan itu lagi!" umpat Marissa geram.


"Tuh kan kebiasaan! Coba biasakan jangan berburuk sangka mulu. Arya udah pulang, baru saja. Papanya telpon tadi ada masalah urgent di kantornya."


Marissa terdiam seolah mulutnya terkunci rapat oleh ucapan Bu Aga. Dia melengos malu, tapi penasaran juga. "Ada urusan penting apa? Kok ga bilang-bilang sama Rissa dulu sih kalau mau pulang?"

__ADS_1


"Ya gimana mau bilang orang kamu tidurnya kayak kebo gitu," ledek Bu Aga disambut tawa Bibi yang diam-diam mendengar percakapan mereka.


"Tuh lihat Bibi aja sampai ketawa, tanya aja sama Bibi saksinya kalau kamu ga percaya,"


Bibi mendekati Marissa untuk membantunya makan, "Iya Kak. Tadi kata Nak Arya ga perlu bangunin Kakak, abis tidurnya lelap," jawab Bibi berkata jujur karena memang Arya tidak mau pamitan pada istrinya. Mungkin karena kasihan atau mungkin juga karena masih kesal akibat pertengkaran semalam.


Tapi berbeda dengan Marissa, dia malah jadi gede rasa. Dia pikir Arya enggan membangunkannya karena itu salah satu bentuk perhatian Arya terhadap Marissa yang tidak ingin mengganggu dia bersama mimpi indahnya. Mana waktu tidur dia memang sedang memimpikan Arya, duduk berdua senderan di kursi taman entah di mana tempatnya. Tapi dia ingat sekali bagaimana momen mesra di mimpi tersebut. Yahh.. memang sayang sih cuma mimpi saja, tapi baginya itu cukup manis dan berkesan.


Saat Marissa sedang asyik menikmati sarapannya, tak disangka seseorang datang mengejutkan mereka.


Arista mengetuk pintu kamar Marissa lalu membukanya. Dia celingak-celinguk penuh keraguan.


Marissa melotot hampir tersedak.


"Ngapain lu ke sini!" bentak Marissa tanpa sebab entah mengapa dia kesal melihat wajah Arista yang saat ini tepat berada di depan matanya.


Arista melangkah masuk. "Ma-maaf. Saya hanya mau mengembalikan handphone milik Arya yang tertinggal di ruangan teman saya dirawat tadi." Arista memperlihatkan ponsel Arya di tangannya.


"Apakah Aryanya ada?"


"Gak ada! Udah pergi!" jawab Marissa ketus.


"Pergi? Pergi ke mana ya? Saya pikir dia kembali ke sini, makanya saya datang mengem..."


"Udah sih, lu banyak bacot ya! Emang ada urusannya sama lu dia mau pergi kemana? Gue mesti laporan gitu?!" sentak Marissa garang, "Bi, tolong ambilin handphone Arya biar dia pergi dari sini," pinta Marissa.


Bibi mengikuti perintah Marissa dengan kaku lalu mengambil ponsel Arya itu dengan canggung.


Arista bingung juga takut. Kenapa Marissa tiba-tiba marah ga jelas gini padanya? Emangnya salah kalau dia mengembalikan ponsel Arya?


"Kalau begitu saya permisi pamit dulu. Terimakasih sebelumnya," pamit Arista berusaha tetap sopan lalu pergi meninggalkan kamar Marissa dan tak lupa menutup kembali pintunya.


Marissa terdiam. Duduk sambil mengeraskan wajahnya. Terlihat kesal. Bu Aga dan Bibi juga sama terdiam bingung ingin berkata apa.


Terutama Bu Aga yang kini merasa bersalah karena tadi sempat melarang putrinya untuk tidak berpikir negatif pada Arya.


Ternyata omongan Marissa memang benar. Arya pergi ke tempat Arista lagi. Kali ini Bu Aga benar-benar kecewa pada menantunya itu.


Bu Aga meminta Marissa untuk melanjutkan sarapannya lagi, tapi dia sudah tidak bernafsu. Nafsunya sekarang adalah untuk melampiaskan amarahnya di depan Arya lalu memaki laki-laki itu sepuasnya.


Apakah Arya menganggap Marissa bodoh dan bisa memperlakukan dia seenaknya saja? Diam-diam pergi ke tempat Arista, untuk apa? Untuk mengadu tentang pertengkaran mereka semalam, hah?!


Pintu kamar Marissa terbuka sekali lagi. Dan tampak Arya masuk dengan napas terengah-engah.


"Bi, tadi ada cewek yang datang ke sini kasih hanphoneku kan?" Arya menghampiri Bibi dan membicarakan Arista.


Bibi langsung paham dan memberikan ponsel itu pada Arya namun dicegah oleh Bu Aga.


"Tunggu sebentar Bi. Berikan handphone itu pada saya."


Bibi bingung, suasana tampaknya sedang mendidih. Bibi tak punya pilihan selain memberikan ponsel itu pada majikannya.


Arya juga ikut bingung, kenapa Bu Aga menginginkan ponselnya? Dia kan butuh ponsel itu segera karena itu adalah sarana komunikasinya bersama klien. Arya tidak punya waktu banyak dia harus secepatnya pergi ke kantor!

__ADS_1


"Loh ada apa dengan handphone saya Bu? Tolong berikan pada saya karena saya butuh itu untuk menghubungi klien!"


"Klien siapa? Klien wanita simpananmu si Arista itu?"


Setengah mati Arya sakit kepala mendengar ucapan Bu Aga yang tak berdasar. Simpanan apa sih maksudnya? Kenapa sih Bu Aga sensi begitu? Ditambah Marissa yang juga terlihat kesal memendam amarah.


"Simpanan apa maksud Ibu? Saya kan sudah pernah bilang saya tidak punya hubungan apa-apa dengan Arista, hanya teman biasa. Teman lama! Lalu ada apa ini sebenarnya, mengapa Ibu sampai menahan handphone saya segala dan mengatai Arista seperti itu?!"


"Kamu masih tanya ada apa? Dengarkan saya baik-baik, kalau kamu tidak ada hubungan apa-apa, mengapa handphone kamu ada sama dia? Dan kenapa wanita itu lancang sekali pergi ke ruangan ini buat nyari kamu? Kalian ingin menunjukkan kemesraan kalian di hadapan kami? Gitu?" Bu Aga tak mampu meredam emosinya dan mengeluarkan semua kekesalan yang ada di kepalanya.


Arya menarik napas berat. "Dia ke sini hanya murni ingin mengembalikan handphone saya. Dan mengapa handphone saya bisa di tangannya itu karena ada alasannya, Bu."


"Alasan apa selain kalian habis berduaan, iya kan?!"


"Kami tidak berdua, kami bertiga dengan Chicha temannya Arista. Tadi tuh saya kebetulan ketemu dia sewaktu dijalan mau pulang tepat saat akan keluar dari rumah sakit ini. Dia hanya sendirian membawa sekardus air minum beserta sekresek snack dan makanan. Saya yang lihat dia kerepotan merasa kasihan lalu menawarkan diri untuk membantu membawakan dus minuman itu ke kamar rawat Chicha. Dan kebetulan saya juga sempat meminjam toilet mereka dan lupa kalau saya menaruh handphone saya di meja. Dan selesai dari toilet saya pergi, tanpa sadar kalau handphone saya ketinggalan. Karena tidak mungkin Chicha yang sedang sakit mengantar jadi Arista yang pergi membawakannya. Seperti itulah kronologi sebenarnya bagaimana dia bisa membawa handphone saya ke sini karena dia tidak tahu kalau saya akan pulang ke rumah."


Bu Aga membuang muka dengan juteknya masih sangsi dengan cerita Arya.


"Bukannya lu harus pergi ke kantor karena ada masalah urgent? Tapi kenapa lu malah pergi ke tempat cewek itu? Sempet-sempetnya lu kesana sok bantuin bukannya langsung pergi ngantor!"


"Memang ada masalah urgent, tapi bukan berarti aku harus lari-lari datang ke kantor seperti dikejar-kejar anjing juga kan? Masalah urgent itu karena ada client yang minta jadwal meetingnya diundur, yang harusnya lusa jadi hari ini. Tadinya aku mau ambil cuti lagi hari ini tapi karena ada perubahan jadwal makanya Papa minta aku ke kantor sekarang."


Arya menatap Marissa dan Bu Aga bergantian. "Saya sudah menjelaskan semuanya tanpa ada satupun yang saya tutupi. Sekarang saya minta kembalikan handphone saya. Memang meetingnya itu siang nanti, tapi saya harus pulang sekarang dan mempersiapkan segala berkas yang dibutuhkan untuk meeting," Arya mengulurkan tangannya untuk meminta ponsel miliknya.


Bu Aga mendengus kesal. Mau tak mau dia berikan apa yang diminta oleh menantunya. Bu Aga memberikan itu bukan karena percaya begitu saja pada Arya, tapi dia takut alih-alih menahan Arya untuk introgasi malah nanti dia kena semprot suaminya karena sudah mengulur waktu Arya untuk bekerja.


"Awas lu kalau sekali lagi ketahuan ketemu lagi sama tuh cewek, liat aja gue ga akan tinggal diam!" Marissa mengancam Arya sungguh-sungguh.


Tapi Arya yang tak peduli melengos begitu saja. Dia pun pamitan pada Bu Aga juga Bibi tapi tidak dengan Marissa, dia memperlakukan istrinya seperti tidak ada.


Marissa melihat punggung Arya yang keluar dari kamarnya, dia merasa terabaikan lalu melempar bantal sampai keluar pintu. Lengannya terguncang hingga darah naik dalam selang infusan.


Arya berhenti dalam langkahnya, lalu menengok ke belakang melihat bantal putih Marissa tergeletak di lantai. Bukannya memungut dan mengembalikannya, dia malah tak acuh sama sekali. Langsung pergi begitu saja.


Setelah tahu tak ada pergerakan dari Arya, Bibi berlari memungut bantal tersebut. Menepuk-nepuk membersihkan kotoran dari lantai yang menempel di bantal kemudian menaruhnya kembali di ujung kasur dekat kaki Marissa dengan segan. Sedangkan Marissa terbaring selonjoran tanpa bantal. Dia uring-uringan tak jelas saking kesalnya.


Bu Aga meminta anaknya itu bersikap normal tapi tak dihiraukan. Melihat tingkah putrinya itu Bu Aga meminta Bibi memanggil dokter atau perawat siapapun yang ada untuk menenangkan Marissa dan membetulkan kembali infusannya yang tercampur darah.


Dan tak lama dari itu seorang perawat datang. Dengan sabar dia meminta Marissa untuk tenang dan tidak bergerak berlebihan. Dia juga membetulkan infusannya, dan mengingatkan supaya tidak banyak bergerak agar luka di kepala dan perutnya tidak terbuka. Dia juga tak lupa memberi tahu mereka kalau sebentar lagi akan dilakukan jadwal pemeriksaan berkala dan ganti perban.


Marissa yang entah menurut atau mungkin kehabisan tenaga hanya terdiam saja. Dia juga sudah mau memakai kembali bantal yang sempat dilemparnya tadi.


Bu Aga menghela nafas berat melihat betapa berantakannya anaknya itu. Rambutnya acakan, bajunya juga sama berantakan. Mukanya kusut masai, pucat dan datar.


Telpon Bibi berdering beberapa kali. Setelah dirasa Marissa sudah tenang dia mengangkat telepon itu, ternyata dari Mbak Ani yang sudah menunggunya di lobby.


Tak lama setelah menutup telepon Bibi pamit pada Bu Aga dan Marissa supaya berganti jaga.


Setelah ditinggal oleh Bibi. Suasana dikamar itu semakin suram. Marissa enggan menjawab setiap omongan Bu Aga. Dia hanya diam dan mengomel tak jelas.


Mbak Ani datang dengan riang menyapa kedua orang itu satu persatu, tapi tak ada yang menyambutnya satupun.


Mbak Ani kebingungan sendiri. Sekali lagi dia menyapa keduanya, dan sekali lagi juga tak ada yang menjawabnya.

__ADS_1


"Loh, apa saya salah masuk kamar ya? Jangan-jangan saya masuk ke dimensi lain! Kok disini suram amat kayak ga ada kehidupan?!"


***


__ADS_2