
Sinar mentari menembus kamar Marissa membuat ruangan itu terasa jadi hangat. Alat filter udara tampak mengepulkan uapnya seperti air pancuran di atas meja pojok ruangan.
Bu Aga membelai rambut anaknya pelan dia duduk di ranjang yang berada disamping ranjang Marissa. Selang infus masih menjalar di lengannya. Tiang infusan Bu Aga pun sengaja ditaruh sejajar dengan milik Marissa.
Marissa yang merasakan belaian itu membuka matanya pelan lalu tersenyum pada mamanya. Meskipun wajahnya masih pucat tapi Marissa tak menunjukkan ekspresi sedih atau semacamnya walau dia tahu sudah kehilangan anaknya dan masih ingat betul kejadian kemarin ketika Tio mencelakainya.
Bu Aga masih ingat betul tepat tengah malam tadi dia tersadar dan terkejut saat pertama kalinya membuka mata dia sudah berada di kamar itu, dimana ada Marissa terbaring disampingnya. Dia hampir berteriak histeris sebelum Pak Aga datang menenangkannya.
Pak Aga menceritakan kondisi Marissa dan meminta istrinya itu untuk tidak terlalu khawatir lagi lalu membujuknya untuk kembali istirahat guna memikirkan kesehatannya sendiri karena Bu Aga juga sedang mendapatkan perawatan.
Bu Aga yang sudah diberi tahu perihal kondisi Marissa itu jadi tenang walau awalnya sempat khawatir ketika ia melihat perban yang menggulung dikepala Marissa. Bu Aga takut jika anaknya tidak akan mengenalinya lagi.
Pak Aga kemudian menjelaskan kalau Marissa tidak apa-apa, Marissa hanya mendapatkan cedera diluar dan otaknya masih berfungsi sebagai mana mestinya. Anak itu tidak kehilangan ingatan atau semacamnya bahkan saat Marissa sadar tadi dia sempat mencari mamanya, dan benar saja betapa sedihnya dia saat mendengar kondisi Mamanya yang down dan harus dirawat. Pak Aga juga tak lupa memberi tahu kalau Marissa mendapatkan 6 jahitan di kepalanya. Dan untungnya tak ada tulang yang patah sewaktu terjatuh ditangga walau sangat disayangkan bayi dalam perut Marissa tidak selamat.
Bu Aga memandangi anaknya yang tertidur di samping ranjangnya, tanpa sadar ia menjatuhkan air mata. Tak kuasa ia menahan sedih melihat wajah putrinya tampak kuyu di hiasi luka. Dibawah mata Marissa tampak lebam yang membiru seperti habis ditonjok orang, di tangan dan kakinya juga tampak luka-luka lecet berbalut plester.
Pagi ini ketika mata mereka saling menatap, kesedihan meraup kembali dalam pikiran Bu Aga. Hatinya terasa sakit lagi.
Kasihan sekali anak malang ini, pikir Bu Aga sedih.
"Mama kenapa nangis? Jangan nangis dong Ma, kan nanti Rissa jadinya sedih terus malah ikutan nangis juga, Mama mau lihat Rissa sedih?" kata Marissa lemah.
"Iya sayang, maafin Mama ya. Mama ga tega lihat keadaan kamu begini makanya Mama ga kuat buat tahan nangis. Jujur aja Mama sedih sekali karena Rissa mengalami semua hal ini. Kasihan kamu Nak, wajah cantikmu jadi penuh luka seperti ini," Mama mengusap air matanya berusaha tegar.
"Udahh..Mama tenang aja. Nanti juga hilang kan, Ma? Kalau ga hilang Mama siapin aja uang yang banyak buat Rissa oplas di Korea atau thailand," canda Marissa dengan suara kecilnya.
Mama tertawa sambil menangis mendengarnya.
"Kamu mau oplas kemanapun bahkan ke kutub utara juga bakal Mama siapin kok uangnya yang banyak," balas Mama ikut bercanda.
"Iiiihh Mama, mana ada dokter bedah kecantikan di Kutub Utara Ma? Yang ada Rissa di bedah sama beruang kutub nanti di sana!" Mama tertawa lagi, Marissa pun sama. Mereka menyeringai senang walau bibir tampak tak berwarna.
"Bibi sama Papa ke mana Ma?" tanya Marissa melihat kekosongan di ruangan itu.
"Mama suruh Bibi pulang dulu untuk istirahat. Kasihan kan dia sudah menemani kita seharian kemarin, mungkin nanti yang datang jagain Mbak Ani biar gantian. Kalau Papa pulang dulu sebentar buat ngurusin urusan kantor supaya bisa ga masuk kerja dulu beberapa hari ini biar ada yang handle perusahaan nantinya," jawab Bu Aga.
Marissa membalasnya hanya dengan senyuman.
Lalu dia pandangi Mamanya dengan mata berlinang.
"Mama kenapa kok sampai kayak gini sih. Rissa ga suka loh kalau mama sakit," ujar Rissa melihat Mamanya yang sama sedang menggunakan selang infus meski sebelumnya dia sudah diceritakan oleh Pak Aga saat masuk ke ruangan kamar ini soal Mamanya. Pak Aga memberi pengertian yang mudah di pahami Marissa supaya dia tidak terlalu khawatir pada Mamanya.
"Maafin Mama ya Nak kalau udah bikin kamu khawatir. Mama sedih sekali, gak tahu harus gimana saat di beri tahu kamu sedang dioperasi. Mama merasa jadi orang tua yang tidak berguna karena ga bisa lindungin kamu dan Mama juga ga ada saat kamu sedang di jahatin orang, bahkan Mama juga ga bisa menunggui kamu ketika sedang diobati. Maafin Mama ya Rissa, semua ini karena Mama yang ga bisa ngawasin kamu dengan baik," ujar Bu Aga kini tangisnya pecah.
Marissa mengusap air mata di pipi Bu Aga. Tangannya lalu terbuka lebar dengan hati-hati agar tak mengenai luka bekas operasi di perutnya, dia berusaha memeluk Bu Aga. Bu Aga menyambutnya dan ia pun balik memeluk Marissa dengan lembut.
__ADS_1
"Ini bukan salah Mama kok, Ma. Kita semua kan tau penyebab semua ini adalah Tio, harusnya dia yang merasa bersalah sekarang. Mama tidak perlu merasa bersalah akibat kesalahan yang dilakukan oleh orang lain!"
Marissa melepas pelukannya lalu menatap Bu Aga hingga kedua pasang mata mereka beradu. "Ma, sebenarnya Rissa pikir ini juga salah Rissa. Karena Rissalah yang awalnya membawa masalah ke dalam keluarga kita. Jadi yang harusnya minta maaf itu Rissa bukan Mama. Oleh karena itu Rissa mohon Mama jangan pernah merasa bersalah seperti itu lagi ya, Rissa ga mau Mama jadi sakit seperti sekarang. Kalau Mama sakit Rissa malah makin merasa bersalah dan sedih," jawab Marissa tetiba bijaksana tidak seperti dia yang biasanya.
Bu Aga tersenyum dalam tangisan melihat putrinya yang tak terasa sudah tumbuh dewasa.
Memang benar. Bu Aga mengerti jika kelakuan putrinya itu adalah salah. Tapi tetap saja itu anaknya, meski Marissa mengandung dengan cara yang salah, tapi tak dapat dipungkiri kalau Bu Aga sebelumnya memang merasa bahagia karena akan segera menjadi nenek diusianya sekarang. Bagaimana pun anak Marissa dan Tio itu akan jadi cucu pertama baginya. Marissa sudah memutuskan untuk melahirkannya, hal inilah yang membuat Bu Aga mau tak mau jadi menerimanya. Tanpa di disadari penantiannya terhadap cucu pertamanya itu sangat ia harapkan. Namun semua harapan itu mendadak sirna, ternyata takdir berkata lain. Meski hati sedih tapi mungkin inilah jalan cerita yang terbaik bagi semuanya. Jika kejadiannya sudah seperti ini apa lagi yang bisa mereka lakukan selain menerima keadaan yang sudah terjadi.
Marissa tampak gusar. Gelagatnya seperti hendak menanyakan sesuatu namun urung.
Mama yang mengerti kelakuan anaknya langsung bertanya ada apa gerangan.
"Itu Ma... Apakah Tio sudah di tangkap polisi sekarang? Apakah dia akan di penjara?" tanya Marissa ragu.
"Kenapa Nak? Kamu masih memikirkan laki-laki tak bereperasaan itu lagi?" tanya Mama khawatir.
Marissa menunduk lalu menggeleng sambil tersenyum. "Nggak kok, Ma. Rissa cuma ingin tahu saja. Dia sedang apa dan dimana. Apakah dia merasa bersalah telah berbuat seperti ini pada Rissa," ungkap Marissa sedih membuat hati Bu Aga menciut sakit mendengarnya.
Bu Aga menggenggam kedua lengan anaknya, "Nak.. kamu tidak perlu memikirkan rasa bersalahnya Tio. Sekalipun dia merasa bersalah, tetap tidak akan ada hal yang berubah. Semua yang telah menimpamu tak akan kembali lagi seperti semula. Kebahagiaanmu.. bahkan.., anakmu," Mama hati-hati mengucapkan soal anak. Semenjak Marissa sadar dia tak berkata apapun soal anaknya baik itu ke Pak Aga maupun Bu Aga. Karena Marissa tak mengatakan apa-apa maka mereka pun jadi segan untuk mengungkitnya duluan.
"Rissa ngerti kok pikiran Mama yang mengira Rissa mengkhawatirkan Tio. Tapi bukan seperti itu, Ma. Rissa hanya tahu apakah dia benar-benar sudah menerima ganjaran atas perbuatannya pada Rissa dan juga.. anaknya.."
Air mata tampak membendung di kedua pelupuk mata Marissa. Hampir terjatuh namun dia tahan.
Marissa benar-benar tidak mengerti jalan pikiran Tio. Jika memang dia ingin kembali ke keluarganya harusnya dia hanya perlu mencari saja, tanpa harus mencelakai orang. Tangisan Marissa ini bukan untuk menyayangkan kehidupan Tio. Tapi dia menyayangkan kelakuan Tio yang sudah merenggut kehidupan buah hatinya.
Lagipula setelah melihat arogansi Tio yang menolak kehadiran anak yang dahulu dikandung Marissa membuat perempuan itu jadi memutuskan hasrat cintanya hingga dia bisa memiliki pikiran yang lebih terbuka. Dia lebih baik mengalah memutuskan hubungan dengan Tio meski resikonya nanti dia harus menjaga dan membesarkan anaknya sendiri.
Namun sekarang..
Semua cita-cita itu telah sirna.
Tio sudah terlanjur dia benci. Anaknya pun kini sudah pergi. Yang tersisa hanyalah kehampaan kosong dengan bayangan penyesalan dan pemikiran kelam untuk memaki diri sendiri sebagai manusia yang begitu bodoh.
Marissa mengusap air matanya tertahan. Bu Aga yang melihat anaknya menangis ikut merasakan kesedihan juga hingga akhirnya mereka menangis bersama.
Marissa terenyuh sekaligus malu, siapa sangka drama korea yang dulu pernah ditontonnya kini menampilkan hal serupa dengan apa yang terjadi pada dirinya saat ini.
Bu Aga kembali memeluk putrinya pelan-pelan. Mengelus dan sedikit menepuk punggung menenangkannya. Anak bodoh, anak malang, anak kesayangan, putri kecil yang manis tapi sembrono. Semua kata-kata itu terlintas patas di benak Bu Aga.
Sebisa mungkin Bu Aga ingin mencurahkan semua kasih sayang pada anaknya yang sedang bersedih itu.
Tanpa terasa Marissa yang lelah menangis kini tertidur kembali. Bu Aga yang juga lelah hanya memandangi putri kecilnya yang sedang terlelap.
Saat keheningan menyelimuti, tetiba suara pintu masuk terdengar bergeser lalu terbuka. Sesosok pria yang sudah tak asing lagi masuk ke dalam sana dengan kartu wali pasien yang mengalung di lehernya.
__ADS_1
"Pa, sudah datang? Kenapa ga agak siangan aja biar istirahat dulu di rumah," sapa Bu Aga pada suaminya yang ditemani oleh Mbak Ani yang mengekorinya sambil membawa peralatan sehari-hari Bu Aga dan Marissa.
Mbak Ani meletakkan perlatan itu dan mulai menyusunnya.
"Ga apa-apa Ma, lagian mana bisa Papa enak-enak istirahat di rumah sedangkan kalian sakit di sini,"
Bu Aga menatap wajah suaminya nanar. Dia terharu sekali atas perhatian pria itu.
Pak Aga mendekati Marissa, "Rissa tidur Ma?" tanya Pak Aga pelan.
Bu Aga mengangguk, "Iya baru aja Pa. Nanti Mama bangunin kalau sarapannya udah datang,"
"Ma, anak kita ga main handphone kan?" tanya Pak Aga aneh.
Bu Aga menjawab tidak karena setau Bu Aga Marissa belum bangun semenjak Bu Aga sadar anaknya sudah ada di kamar ini.
Pak Aga tersenyum mengerti, "Baguslah. Jangan sampai dia lihat videonya itu,"
Bu Aga mengernyitkan dahinya "Video apa, Pa?"
"Video kejadian kemarin. Apa Mama belum lihat beritanya?" tanya Pak Aga tiba-tiba membuat Bu Aga makin tak mengerti.
Melihat gelagat ketidakpahaman itu memunculkan inisiatif Pak Aga untuk menyalakan televisi yang tampak menempel di dinding.
Setelah televisi itu menyala dengan cekatan Pak Aga mencari chanel berita yang ingin ia tunjukkan.
"Sebuah berita dari rumah sakit XX dimana pasien A mendorong seorang wanita hamil pasien B yang diketahui sebagai seorang selebgram hingga terluka parah. Dilaporkan bahwa korban B selain mengalami luka parah juga mengalami keguguran akibat dorongan keras yang dilakukan oleh pelaku A yang diduga sebagai ODGJ (orang dengan gangguan jiwa). Hingga saat ini polisi masih mengusut kasus tersebut dan sudah mengkonfirmasi bahwa pelaku untuk saat ini sedang dirawat di salah satu rumah sakit jiwa. Adapula hasil video amatir saat kejadian diambil oleh seorang pasien lain di rumah sakit tersebut yang merekam kejadian itu hingga viral dan merebak di ranah media sosial namun saat ini video tersebut sudah dibatasi bahkan dihapus. Dan diinformasikan bahwa pihak korban akan mencari tau serta melacak keberadaan orang yang pertama kali menyebarkannya," suara pembawa berita di televisi itu mengejutkan Bu Aga.
"Pa, kok begini? Kenapa laki-laki kurang ajar itu tidak di penjara? Bagaimana bisa dia lolos hukum bahkan dinyatakan gila?" tanya Bu Aga kecewa tak percaya.
Namun wajah Pak Aga malah menyiratkan kepuasan. Rupanya inilah rencana Pak Aga yang sedang direalisasikannya saat ini.
"Memang Papa yang sengaja melakukannya Ma," jawab Pak Aga seolah bangga pada dirinya sendiri.
Mata Bu Aga berkaca-kaca menahan luka. Ada apa ini sebenarnya?
"Mama tenang aja. Papa lakukan semua ini demi Marissa. Dan Papa pastikan orang seperti Tio itu seumur hidup akan selalu menyesali perbuatannya,"
Saat Papa ingin menjelaskan detailnya lebih lanjut, sebuah suara terdengar hingga mengejutkan kedua orang tersebut.
"Tio ngga di penjara Pa? Dia tidak di hukum?" tanya suara lemah Marissa.
"Kenapa, Pa?"
***
__ADS_1