
Marissa membuka matanya dengan berat. 'Ada dimana aku sekarang?'
Dia melihat langit-langit beton kusam tak terawat. Dengan bersusah payah dia menggerakan kepalanya melihat kiri dan kanan. Ruangan kosong yang remang. Bau lapuk menguar di mana-mana. Saat hendak berdiri, dia merasa sesuatu menahannya. Lalu tersadar ada sebuah tali melilit badannya, mengikat dirinya pada sebuah kursi besi tua. Dia juga dapat merasakan pegal yang luar biasa karena pergelangan tangannya terikat di belakang badan.
"Dah bangun lu?!" sentak suara seorang wanita. Suara itu tak asing lagi di telinga Marissa. Dia menoleh pada asal suara tersebut.
Mika menarik sebuah kursi dan duduk di depan Marissa.
"Gila lu ya perempuan ******! Lu apain gue hah! Ngapain iket-iket gue begini? Stress lu ya?! Lu mau ngapain sih? Lepasin gue sekarang juga!"
"Tenang dulu tenanggg.. Kita bicara dulu pelan-pelan. Santaiiiii...."
"Tenang, tenang mata lu! Lu mau apa sebenarnya! Berani-beraninya lu bohongin gue! Lu tadi bilang minta tolong sama gue karena anak lu sakit, tapi sewaktu udah masuk mobil lu sengaja suntikin sesuatu ke leher gue biar gue ga sadar kan?" Marissa gelisah matanya tampak mencari ke sana ke mari, "mana tas gue?!"
"Udah gue buang," jawab Mika dengan begitu polosnya.
"Sumpah ya lu sakit! Main buang-buang aja barang orang. Emang apa yang lu mau dari gue sampai lakuin hal kurang ajar begini, hah?!"
Plak!
"Banyak juga bacot lu ya! Udah gue bilang kita bicara dulu pelan-pelan!"
__ADS_1
Sebuah tamparan mendarat di pipi Marissa. Meski sakit, dia tidak bisa mengusapnya. Yang bisa ia lakukan adalah merasakan sebuah sensasi sakit dan panas yang menjadi satu, tak dipungkiri kalau hatinya juga ikut terluka karena itu. Meski begitu lama-lama ada muncul perasaan baru di bekas tamparan tadi, rasanya seperti buih-buih di dalam kulit pipinya seperti rasa sakit barusan itu kian lama kian menghilang.
"Denger! Gue juga gak akan lakuin ini kalau bukan tanpa alasan! Dan gue juga gak ada ya yang namanya ngebohongi lu karena memang benar anak gue lagi sakit. Dan sakitnya anak gue itu.... disebabkan karena lu bajingan!"
Marissa tersentak. Mika menunjuk-nunjuk dirinya dengan tatapan geram. Dia tak mengerti sama sekali apa maksud ucapan Mika barusan. Apa yang sudah dilakukan Marissa sehingga Mika menuduh orang lain sebagai penyebab sakit anaknya? Jangankan menyentuh sehelai rambut milik anaknya Mika, kenal dan tahu wajahnya saja tidak.
"Masih belum ngerti juga?" tanya Mika.
Marissa yang benci basa-basi langsung menyentak orang di depannya itu. "Ya iyalah tolol! Kalau ngomong jangan nanggung! Lu jelasin juga enggak pake nanya belum ngerti apa enggaknya segala!"
Mika menarik nafas begitu dalam lalu menghempaskannya dengan kencang. Seolah sengaja menunjukkan kefrustasian pada lawan bicaranya.
Marissa menganga. Dia terkejut sampai tengkuknya merasa tegang. Bagaimana bisa anak sekecil itu menderita penyakit jiwa?
"Anak itu diperlakukan buruk di sekolah, dia bilang murid lain mengatakan bahwa ayahnya tukang selingkuh, lalu ada yang menyebut bahwa ayahnya membuat wanita simpanannya terluka hingga mandi darah, lalu anak gue disuruh ganti darah itu tapi teman lainnya bilang kalau anakku bahkan tidak pantas menggantinya karena darah yang mengalir dalam tubuh anakku adalah darah kotor yang diwariskan oleh ayahnya. Dan lu tau, hal dimana gue memutuskan untuk membawanya berobat adalah ketika dia melukai dirinya sendiri tanpa sadar. Suatu hari saat dia akan pergi ke sekolah, dia keluar dari kamar mandi sambil menangis dengan luka cakar di sekujur tubuhnya. Gue sangat panik saat itu, dan menanyakan apa yang terjadi dengan tubuhnya? Dan dia jawab, aku harus bersihin tubuh aku biar gak kotor. Dan.. Lu tau gimana perasaan gue saat mendengar itu hah?!" Mika menceritakan semua dengan penuh emosi bahkan dia menangis tanpa sadar.
"Sakit! Hati gue sakit! Saat ini yang gue rasakan hanyalah sakit hati semata, tapi apa yang dirasakan oleh anak gue itu nyatanya berkali-kali kali lipat, bukan hanya hatinya saja, tapi mental juga fisik!"
Mata Marissa panas mendengar itu, entah mengapa perasaan simpati terus berebut tempat di hatinya. "Terus lu maunya apa? Mau salahin gue? Lu gak sadar kalau semua ini pun ada campur tangan lu, ngebiarin laki lu nipu gue dan selingkuh dengan gue! Giliran anak lu kena akibatnya, sekarang lu malah hanya nyalahin gue seorang!"
"Jelas salah lu lah!" bentak Mika berteriak, "kita udah sepakat buat tukar laki brengsek itu dengan uang kan! Tapi kenapa lu bukannya nikah kek atau apa kek sama Tio, yang ada malah bikin berita viral! Lu gak mikirin perasaan anak-anak gue kalau suatu saat melihatnya hah?!"
__ADS_1
"Ssst.. sstt.. Hey! Hey! Tenang! Emang lu pikir siapa yang mau viral? Siapa yang menyebabkan semua ini! Harusnya yang lu salahin itu mantan suami lu sendiri, kenapa malah jadi nyerang gue?! Dia bertindak seperti itu atas kemauannya sendiri! Kelakuan dia udah jelas ngancam nyawa gue bahkan udah merenggut bayi dalam kandungan gue! Di sini gue tegasin bahwa gue itu korban yah korban! Gue korban dari kebiadaban lu berdua, tapi mengapa sekarang malah lu yang playing victim seolah lu yang paling teraniaya atas semua kejadian ini sampai berani culik-culik gue begini segala?"
Marissa asyik mengeluarkan pendapat dan uneg-unegnya yang tumpah ruah itu langsung terhenti saat sebilah pisau mengancam tepat di batang lehernya.
"Gi-gila lu, sejak kapan lu punya barang ginian!" Marissa melirik ngeri ke arah lehernya. Salah gerak dikit saja entah bagaimana nasibnya nanti.
"Gue playing victim? Andai gue seperti kata lu barusan mungkin gue gak akan minta kesepakatan waktu dulu," Marissa menelan ludah. Suara Mika menjadi dingin.
"Lu ingat video lu sama Tio? Perlu gue ungkit lagi sekarang? Asal lu tau, saat ini gue punya rencana yang amat sangat busuk buat hancurin hidup lu. Apa lu mau dengar?" Marissa tak menjawab, dia sibuk dengan perasaan merinding karena pisau di leher tadi kini sedang bermain di pipinya.
"Lu gak jawab bakal gue artiin 'ya'. Lu mau dengar. Jadi rencana gue adalah... Gue bakal sebarin video itu, dan gue bakal buat lu seolah-olah bunuh diri karena frustasi setelah tau video senonoh itu tersebar. Licik banget kan gue? Ah, tidak! Ini bukan licik! Tapi cerdasss.." Mika mengangkat pisaunya tiba-tiba lalu tertawa cekikikan seperti orang gila. Marissa terkejut dengan semua tindakannya itu. Di tambah Mika tampak seram apalagi sedang tertawa begitu membuat ruang lapuk ini jadi menggema aneh.
"Tenang Marissa tenangg... Fokus, jangan takut. Tetap fokus!!" support Marissa pada dirinya sendiri.
Prang!
Nyatanya Marissa tidak bisa fokus apalagi tenang. Pisau yang dipegang Mika tadi dilemparkan begitu saja ke sembarang arah.
"Oke. Gue udah bosan bermain-main sekarang. Bagaimana kalau kita langsung pada intinya aja?"
***
__ADS_1