Terpaksa Menikahi Pelakor

Terpaksa Menikahi Pelakor
Pertunjukan Gratis


__ADS_3

"Baaaa! Good morning my husbaaand!" sapa Marissa.


Arya sadar. Ternyata dia ada di dunia nyata dan beneran sudah bangun, jadi ini bukanlah mimpi seperti yang dia kira sebelumnya. Arya bahkan bisa merasakan hangatnya sinar matahari pagi menembus dari jendela yang gordennya sudah terbuka.


Entah bagaimana hari sudah pagi saja padahal rasanya dia baru menutup mata dan tertidur beberapa menit yang lalu.


Mendadak dia tersadar lagi akan sesuatu ketika dia mengingat mimpinya barusan.


Wajah Marissa.


Wajah itu sekarang ada dihadapannya!


Apalagi ini?!


Jangan-jangan Marissa ingin melakukan sesuatu lagi!! Atau mungkin... sudah?


Arya buru-buru bangun dari tidurnya dan memundurkan diri dari wajah Marissa.


"Kamu ngapain ada disini dan dekat-dekat dengan mukaku? Jangan bilang kamu habis melakukan sesuatu yang buruk terhadapku?!" Arya seperti bocah histeris yang takut di suntik.


Marissa terkekeh, Bibi juga sama.


"Ya ampun Nak. Kok sampai ketakutan gitu, emangnya kalau si Kakak melakukan sesuatu itu kenapa, kan Nak Arya suaminya."


"Iya nih geer banget, orang gue gak ngelakuin apa-apa juga!" ledek Marissa menimpali Bibi.


Arya mengembang-kempiskan hidungnya tak percaya begitu saja. Dia masih berpikir jangan-jangan mimpi anehnya tadi adalah efek dari kenyataan yang tidak dia ketahui kejadiannya. Mungkin saja kan memang Marissa sudah melakukan sesuatu padanya saat dia tidur tadi?


Ketakutan Arya yang saat ini muncul dalam benaknya adalah persis seperti bagaimana dia membayangkan sebuah gambaran dimana Marissa diam-diam memperlakukannya bak putri salju dalam cerita-cerita dongeng, kemudian tanpa sepengetahuan sangat putri, dia memberikan ciuman bibir untuk membuat putri salju itu terbangun dari tidurnya.


Memikirkan itu membuat Arya mual. Masa sih Marissa melakukan itu?! Itu tidak boleh terjadi! Dia tidak mau kehilangan moment pertama seperti itu tanpa dia sadari, dia ingin melakukannya untuk pertama kali saat pernikahan resminya nanti, dan tentu ingin dia lakukan bersama dengan orang yang dia cintai.


'Tapi, kalau dipikir-pikir lagi, kayaknya mustahil Marissa melakukan itu. Kan ada Bibi! Mana mungkin dia mau melakukan hal memalukan seperti itu di depan Bibi? Ha-ha, iyaa.. iyaa ada Bibi, benar juga ya ada Bibi, ha-ha.' Otak Arya yang logis sedang menghibur dirinya sendiri untuk tetap berpikir positif.


"Temenin gue jalan-jalan yuk!" ajak Marissa membuyarkan lamunannya.


"Hah?" kata Arya masih loading. "Jalan-jalan, kemana?"


"Ya ke mana aja. Ke taman kek atau keliling ke mana gitu, gue suntuk di sini terus."


"Kan perut kamu masih sakit, emang kuat jalan-jalan?"


"Kan pakai kursi roda bisa, Aryaaa."


Arya berpikir sejenak mencoba mencerna. "Oo Iya ya iya. Ada kursi roda ya? Tunggu aku mandi dulu ya,"


Akhirnya Arya paham dan beranjak dari tempatnya menuju toilet.


Saat Arya hendak masuk ke dalam, Marissa dari kejauhan setengah berteriak, "Lu kalau mau cuci bekas tanda cinta gue semalam gak apa-apa cuci aja ga usah sungkan dan takut hilang, nanti kan bisa gue buatin lagi."


Arya tersentak, diam mematung. Dia menoleh pada Marissa yang sedang cengengesan. Bisa-bisanya dia mengatakan begitu dengan mudahnya disaat Arya berusaha keras melupakan kejadian semalam.


Bibi yang sebenarnya tahu karena malam itu masih terjaga dan ikut mendengar obrolan mereka hanya bisa pura-pura penasaran.


"Emang bekas tanda cinta apa Kak?" tanya Bibi setengah meledek menggoda Arya.


"Ada deh, Bi. Tanya aja sama Arya, hehe.." jawab Marissa masih cekikikan.


"Memangnya bekas tanda cinta apa, Nak?" Bibi berpura-pura lagi memojokkan Arya.


Arya yang ditembaki pertanyaan seperti itu langsung masuk dalam toilet seolah-olah dia tak mendengar pertanyaan Bibi barusan.


Wangi khas Arya menusuk hidung Marissa, apalagi setelah mandi. Marissa mendongak pada Arya yang sibuk mendorong kursi rodanya dari belakang.


"Semangat dong dorongnya!" perintah Marissa.

__ADS_1


"Mau kamu gimana sih dorongnya? Mau aku seluncurin kayak perosotan disana?" tanya Arya sambil menunjuk lorong dengan jalan menurun disebelah kanan yang dilewati oleh mereka.


"Ya gak gitu juga kali! Maksudnya jangan lesu gitu kenapa sih,"


"Iya, iya, bawel!"


Sepanjang perjalanan Marissa bersenandung ria, sedangkan Arya memasang wajah suram masih mengingat kejadian semalam, mana sekarang Marissa tak memberikan tanggapan apapun tentang hal itu.


Ketika mereka sudah dekat ke pintu keluar menuju taman, pada jarak posisi mereka berada terdengar suara keributan dari luar.


"Kenapa tuh? Ribut apa ya? Arya ayo, ayo, buruan dorong gue ke sana! Gue kepo nihh!" perintah Marissa lagi tak ingin ketinggalan berita.


Arya hanya bisa menuruti sambil geleng-geleng kepala pasrah.


Diluar tampak seorang ibu setengah baya sedang menunjuk-nunjuk wajah seorang gadis muda.


"Pake mata dong kalau jalan! Masa bisa-bisanya nubruk orang? Kamu sengaja ya!"


Gadis itu menunduk meminta maaf, temannya yang berdiri bertopang pada tiang infusan berusaha melerai mereka dan ikut meminta maaf. Tapi apalah daya ibu-ibu itu tetap kalap tak mau mendengar dan seolah mencari perhatian orang sekitar, dia masih saja memarahi si gadis dan temannya itu.


"Loh, itu kan si cewek kampungan selingkuhan lu Arya!" seru Marissa senang.


"Wah asyik ada pertunjukan gratis nih!" katanya lagi, kini wajahnya berbinar sangat ceria.


Arya memaksimalkan pandangannya memastikan kalau yang dimaksud Marissa cewek kampungan itu adalah Arista. Dan benar, dia memang Arista dan disebelahnya ada Chicha. Melihat mereka ditengah keributan seperti itu membuat jantung Arya berdegup kencang.


"Ibu maunya apa? Teman saya kan tidak sengaja menyenggol Ibu, dan dia tadi kan sudah minta maaf! Ibu mau apalagi?" Chicha mulai naik pitam melihat ibu-ibu tersebut masih saja memperpanjang perkara.


"Hah? Menyenggol katamu? Heh pakai mata! Ku gak lihat makanan anak saya sampai jatuh berserakan? Jelas-jelas dia nubruk saya, mau cari gara-gara! Kamu masih bilang ini tidak sengaja?"


"Ya terus? Maksud Ibu teman saya sengaja gitu jatuhin makanan anak Ibu? Kan tadi dia sudah minta maaf dan sudah jelaskan pula kalau dia tidak sengaja menyenggol Ibu karena kakinya tersandung kaki tiang infusan saya!" Chicha makin ngotot dan tak peduli dengan orang-orang disekitar yang menyaksikan mereka.


Arista berusaha menenangkan Chicha. Dia tidak ingin keadaan semakin rumit.


"Sudah Chicha, jangan diperpanjang lagi," pinta Arista, lalu menoleh pada Ibu tersebut, "saya tahu kami memang salah, tolong maafkan saya dan teman saya, Bu."


Plak!


Emosi ibu itu meluap-luap seketika. Tanpa tebang pilih dia menampar Arista dengan begitu mudahnya!


"Maaf, maaf! Enak aja bilang maaf! Setelah nantang baru minta maaf? Kalian pikir dengan minta maaf masalah bisa selesai? Mulut kalian gak pernah diajarin sekolah apa? Tidak sopan ya kalian sama orang yang lebih tua!" bentak si Ibu. Bukannya minta maaf karena telah memukul Arista tapi dia semakin galak dan makin menghina mereka seolah perbuatannya adalah hal yang wajar.


Arista memegang pipi yang kena tamparan si Ibu.


Arya yang melihat kejadian itu segera melangkahkan kaki menuju Arista, tapi tangannya keburu dicegah oleh Marissa.


"Lebih baik lu gak usah ikut campur sama urusan mereka."


Chicha yang tidak Terima Arista diperlakukan seperti itu balas memaki si Ibu. "Harusnya anda berkaca lihat diri sendiri, Bu! Berani-beraninya menampar orang yang bahkan tidak anda kenal!"


Si Ibu yang diperlakukan seperti itu malah makin tertantang, seolah tidak takut apapun, dia juga maju menuju Chicha hingga jarak keduanya tepat bertatapan muka.


Anak si Ibu yang usianya diperkirakan masih 10 tahun duduk di kursi rodanya sambil menangis memanggil mamanya, tapi si Ibu tak menggubris. Dia lebih peduli untuk berkelahi dengan Chicha.


"Kamu berani dengan saya? Kamu tidak tahu kalau saya ini istri polisi hah?!" tanya si Ibu dengan angkuhnya menakut-nakuti Chicha, tapi sayang gadis itu tak bergeming. Dia tidak takut sama sekali pada ancaman si Ibu. Berbeda dengan Arista yang sudah menggigil sekujur tubuhnya, mendengar itu dia menjadi ngeri dan tidak munafik kalau dia memang ketakutan. Bagaimana jadinya kalau memang benar Ibu ini istri polisi bakal makin panjang urusannya kelak.


Arista menarik Chicha mundur dan sekali lagi meminta maaf pada Ibu tersebut. Tapi Chicha tak mau, dia tetap kekeh di tempatnya. Akhirnya Arista berhadapan dengan si Ibu dan sekali lagi memohon maaf dan meminta berdamai tapi si Ibu juga tak peduli dia malah mendorong Arista hingga gadis itu tersungkur jatuh.


Arista mengaduh kesakitan, siku tangannya berdarah hingga menetes ke lantai.


Arya yang melihat kejadian itu membelalakan matanya. Dia menoleh menatap istrinya lalu menghempas tangan Marissa sekuat tenaga.


"Kamu lihat Arista terluka kan? Apa kamu harus tinggal diam saja saat orang yang kita kenal sedang dalam kesulitan di depan mata kita sendiri?" tanya Arya lalu pergi berlari menuju Arista tanpa menunggu jawaban Marissa.


Marissa mendengus nafas pasrah sambil memijat keningnya.

__ADS_1


Melihat Arista kesakitan membuat Chicha mengamuk. "Are you crazy huh! What a stupid person! Lets fight with me!" teriak Chicha lalu menjambak si Ibu itu hingga tiang infusannya jatuh. Bunyi logam tiang itu beradu dengan lantai granit, menimbulkan suara yang tedengar nyaring.


Si Ibu yang tak terima balas menjambak Chicha. Mereka beradu tanpa pandang bulu. Si Ibu juga dengan ganasnya mencakar wajah Chicha.


Arista yang melihat perkelahian itu berusaha bangun untuk memisahkan mereka.


Usaha Arista tak sia-sia. Mereka akhirnya terpisah. Keduanya saling ngos-ngosan di jarak dua meter bersebrangan.


"Chicha kamu gak apa-apa?" tanya Arista sambil memeriksa kulit lengannya yang robek karena jarum infusan Chicha terlepas dengan kasar. Lalu dia juga periksa bekas cakaran pada wajah Chicha. Untung tidak berdarah hanya seperti goresan berwarna merah.


Tanpa mereka sadari si Ibu ternyata mencuri kesempatan untuk kembali menyerang, batinnya merasa masih belum puas. Arista yang sedang mengecek kondisi Chicha tidak menyadari terkaman musuhnya dari belakang. Dia menjambak rambut Arista, menariknya dengan kejam membuat Arista hampir terjengkang. Arista tak bisa menoleh, dia hanya bisa teriak sambil menarik kedua tangan si Ibu supaya cengkraman pada rambutnya dilepaskan.


Chicha membantu Arista, dia menarik tubuh si Ibu, melingkarkan kedua tangannya pada tubuh si Ibu, tapi si Ibu yang mengamuk seolah memiliki kekuatan berlapis-lapis dari sebelumnya, hanya dengan satu tangan dia bisa menghempaskan Chicha hingga jatuh ke lantai.


Si Ibu mendorong kepala dan badan Arista hingga jatuh tertelungkup. "Gara-gara kamu saya harus ribut seperti ini! Berani-beraninya bikin malu saya di muka umum dan jadi tontonan banyak orang!" teriak si Ibu sambil menunjuk orang-orang yang menyaksikan perseteruan mereka.


Arista melawan hingga dia bisa membalikkan badannya. Dari kejauhan dia bisa melihat Arya berlari menujunya. Si Ibu yang gesit mengambil lebih banyak lagi rambut Arista, dan dia berancang-ancang untuk siap memukul.


Saat si Ibu sudah melayangkan tinjunya di udara, posisi Arya berlari masih jauh. Perut Arya melilit, dia tiba-tiba kecewa pada dirinya sendiri karena tahu rasanya dia akan gagal untuk menghentikan aksi Ibu tersebut.


Arista pun sudah pasrah, dia menutup mata saat akan menerima pukulan.


Rasa sakit teramat sangat sudah terbayang dan ia rasakan hingga memenuhi otak Arista. Dia berpikir sudah pasti akan pingsan setelah kena bogem mentah si Ibu. Tapi siapa sangka, dia menunggu sepersekian detik tetapi tak ada apapun yang mengenai wajahnya.


Saat dia membuka mata, ada sebuah tangan yang ditutupi kain longgar berwarna putih sedang memegangi lengan si Ibu sebelum benar-benar mengenai wajah Arista.


Arya sudah telat, dia menghentikan langkahnya saat melihat seseorang menghalangi pukulan si Ibu. Tapi dia cukup bersyukur karenanya.


"Ibu sedang apa? Bagaimana bisa Ibu malah asyik bertengkar saat anak Ibu sesak nafas seperti itu?" tunjuk orang itu pada anaknya yang dilarikan cepat oleh seorang perawat. Anak tersebut terlihat megap-megap kesulitan bernafas, asmanya pasti kambuh.


Si Ibu melemaskan tangannya, rambutnya yang acakan menempel di pipi yang kini basah tersentuh oleh tangisan.


"Anak saya kenapa, Dok?!" tanyanya histeris.


Dengan buru-buru dia melepas genggaman seorang Dokter yang tadi sempat menggagalkan aksi tinjunya. Dia juga berlari mencari sendalnya yang terlepas tak jauh dari tempatnya berada. Kemudian berlari terseok-seok sambil berusaha memakai sendalnya dan menuju anak yang sedang dibawa oleh perawat barusan.


Orang-orang yang dari tadi menyaksikan kejadian itu langsung menyerbu menyoraki si Ibu. Dan perlahan-lahan bubar meski masih ada yang ingin tahu kelanjutan dari reaksi Arista.


Dokter itu mengulurkan lengannya pada Arista dan membantunya berdiri.


Arya mendekati Arista. "Kamu tidak apa-apa?" tanya Arya dan siapa sangka pertanyaan yang sama juga berbarengan diutarakan oleh si Dokter. Kekompakan itu membuat keduanya sama-sama terkejut dan saling tatap.


Tapi Dokter itu tak ambil pusing. "Maaf, saya harus pergi memeriksa keadaan anak tadi. Permisi." Dokter pahlawan yang membantu Arista pergi mengejar si Ibu dan anaknya.


Arya meraih lengan Arista yang berdarah. "Lukamu harus diobati! Biar ku carikan perban."


Tanpa terdengar kedatangannya Marissa mengambil lengan Arya dari arah belakang.


Arya menoleh Marissa yang duduk di kursi roda dengan wajah garang.


"Dia bukan anak kecil. Biar dia sendiri yang mengurusnya!"


Arista gelisah dengan kehadiran istri Arya. "I-iya biar ku cari sendiri perbannya, dan ku obati nanti."


Arista melihat sekelilingnya yang ramai ditambah Chicha masih terduduk lemah dilantai. Dia menghampiri Chicha membantunya berdiri. Arya membantu mengambil tiang infus yang terjatuh beserta infusannya lalu menyerahkan benda tersebut pada Arista.


"Aku mau kembali ke kamar Chicha, kasihan dia kulit tangannya robek. Terimakasih sudah datang membantuku." ujar Arista berpamitan.


"Gue juga mau kembali ke kamar." ucap Marissa sinis. Dia sengaja mengatakan itu karena tidak ingin Arya mengambil alih kata duluan dengan menawarkan bantuan lagi pada kedua gadis tersebut.


Karena istrinya sudah berkata seperti itu, tak punya pilihan Arya kembali lagi pada Marissa.


Dari kejauhan Arya hanya bisa melihat punggung Arista yang berjalan lemah. Tangan kanannya merangkul Chicha dan tangan kirinya membawa tiang infusan. Kedua gadis itu sama-sama berjalan terseok seolah baru kembali dari medan perang.


***

__ADS_1


__ADS_2