
Marissa diam saja. Sebenarnya dia tegang menunggu tapi dia juga tidak tahu Arya harus membuktikan apa padanya.
Arya tampak berpikir keras. Dia mencoba mengingat-ingat apa yang dilakukan aktor pria dalam film maupun drama pada wanita yang dicintainya untuk membuktikan kalau pria itu mencintai si wanita?
Fiuuhhh!
Wajah Arya mendadak kaku ketika menyadari sesuatu. Apa aku harus melakukan hal memalukan seperti itu? tanya Arya dalam hati.
Pelan-pelan Arya membelokan tubuhnya dan mendekatkan dirinya pada Marissa yang masih membuang muka. Dia mencoba meraih tangan wanitanya dengan pelan dan ragu menyentuh pipi Marissa yang kemudian menuntun wajah itu untuk menatap Arya. Sedetik kemudian keduanya saling bertatap mata menelisik kedalaman pikiran masing-masing.
Bingung dan canggung!
Mereka tidak tau harus berbuat apa! Kebingungan makin terasa ketika hawa panas tiba-tiba menyerang keduanya padahal jelas-jelas sedang di atas bukit dengan udara dingin yang menusuk tulang.
Tapi entah bagaimana rasanya tidak lama dari itu seperti ada yang menuntun mereka.
Sedetik dua detik kemudian dua wajah orang itu semakin mendekat seolah ada yang mendorong dari belakang kepala mereka, hembusan nafas mereka samar-samar makin terasa menyentuh kulit.
Baik Arya maupun Marissa takut kalau detak jantung mereka akan terdengar oleh orang di depan mata saking kencangnya.
Dan tiba-tiba sekali rasanya seperti ada yang menyetrum. Marissa terkejut ketika sebuah daging kenyal menyentuh bibirnya secara utuh. Rasanya manis dan hangat. Entah kenapa dia jadi sedih sekaligus bahagia, tanpa bisa ia tahan air mata pun jatuh begitu saja. Anehnya Arya yang menyadari air mata itu tidak merasa bersalah sama sekali malah dia enggan melepas sentuhan bibir mereka, dia makin memperdalam bibirnya untuk terus masuk ke dalam mulut Marissa.
Suasana di sana begitu hening tapi rasanya baik Arya maupun Marissa seolah mendengar instrumen musik romantis yang mengiang-ngiang di telinga mereka.
Marissa malu bukan main padahal ini bukan ciuman pertama baginya. Tapi ciuman ini benar-benar sesuatu yang berbeda dari yang pernah dia rasakan sebelumnya.
Darah Arya makin mengalir tak karuan. Sisi alaminya sebagai pria makin berontak. Dia berusaha mengontrol emosinya dengan melepas ciuman itu sebelum semakin hilang kendali namun nahas Marissa malah menahan wajahnya agar tidak terlepas. Hal itu malah membuat Arya gelagapan dan sulit bernafas. Dia pun berontak hingga benar-benar menjauh dari wajah Marissa.
"Kamu kok pemaksaan? Itu tidak adil!" protes Arya dengan mata nanar.
__ADS_1
Marissa terkekeh, "Yang gak adil itu elu. Masa main cium-cium orang gitu aja?"
Arya mendelik. "Loh kan kamu sendiri yang membiarkan aku menciummu. Dan akhirnya malah kamu yang ketagihan!"
Marissa membuang muka malu sambil menahan senyum. "Apaan sih! Jelas-jelas yang ngebet ciuman itu elu!"
"Kalau begitu kenapa kamu menahan aku ketika aku ingin melepaskannya?"
Marissa mengangkat bahu. "Tau ah gelap, no comment!" ucapnya bodo amat padahal gak punya jawaban apa-apa untuk dikatakan. Dia juga tidak berani melihat mata Arya sampai tidak sadar memalingkan wajahnya.
Arya berdeham. "Sekarang kamu percaya kan?"
Marissa menoleh, "Maksudnya?"
"Tentang pembuktian yang kamu minta. Aku sudah membuktikannya. Aku bahkan harus merelakan kesucian bibirku ini," ucap Arya polos.
"Loh kok kamu gitu? Ini kan ciuman pertama bagiku!"
"Lah? Bukannya lu bilang ciuman pertama lu itu waktu di kolam dulu? Semua aja lu katain ciuman pertama!" Marissa bete tapi sebenarnya dia gemas. Apalagi ketika melihat wajah Arya yang bingung atas ucapannya sendiri barusan.
"Ya itu.. itu kan ciuman pertama yang hanya aku saja yang sadar. Lagian itu lebih tepatnya cuma nafas buatan untuk tindakan pertolongan pertama. Kalau sekarang kan kita sama-sama sadar melakukannya," jawab Arya dengan wajah tersipu malu.
"Ooohh begituuu.. secara sadar tohh?" goda Marissa.
"Kalau begitu sekarang gue pingsan lagi. Coba lu berikan nafas buatan seperti dulu!" Marissa menjatuhkan kepalanya di bahu Arya sambil memonyongkan bibirnya. Laki-laki itu jadi kikuk dan langsung beranjak begitu saja membuat Marissa terjungkal di kursi taman.
Marissa terkejut kemudian ngomel-ngomel kesal tapi Arya tidak peduli. Sambil memasang wajah panik takut harus berciuman lagi, Arya pun pergi meninggalkan Marissa yang masih menggerutu di tempatnya.
Bagi Arya pergi dari tempat itu adalah keputusan yang tepat. Bahaya kan kalau sampai mereka berciuman lagi, bisa-bisa malah terjadi hal yang tidak diinginkan nantinya.
__ADS_1
Marissa masih saja mengomel sepanjang jalan mengejar Arya bahkan setelah sampai di vila.
Arya melangkahkan kakinya cepat-cepat masuk ke dalam supaya tidak terkejar Marissa namun mendadak berhenti ketika melihat kedua orang tua serta kedua mertuanya sudah menunggu di sofa dengan koper di samping mereka.
"Loh, ada apa ini?" tanya Arya kaget.
"Harusnya kami yang bertanya begitu. Ada apa ini dengan kalian? Kami sebagai orang tua tidak setuju dengan perceraian kalian. Tapi melihat hubungan ini sudah tidak bisa di lanjutkan lagi maka dari itu kami ingin bawa pulang anak kami masing-masing supaya tidak terjadi keributan serta kesalah pahaman dari kedua belah pihak. Biar nanti pengacara kita masing-masing yang mengurus semuanya," jelas Bu Aga dengan wajah kesal.
"Kamu Arya, juga Marissa kemasi barang kalian dan kita pulang sekarang juga!" titah Bu Aga tegas.
"Loh, memangnya siapa yang mau cerai?" tanya Marissa sesampainya di sana. Wajahnya terkejut tapi sangat polos.
Kedua orang tua dan kedua mertua Marissa saling pandang kebingungan.
"Bukannya kamu yang ingin cerai, Nak? Papa tidak suka kalau kamu tidak bahagia. Papa juga tidak mau dianggap sebagai orang tua yang egois, jadi kalau kamu ingin bercerai dari Arya akan Papa dukung. Jadi sekarang kita pulang untuk mengurus semua, lagi pula Papa juga harus istirahat total karena alergi ini," jelas Pak Aga.
"Ta-tapi Rissa gak mau cerai, Pa!"
"Loh, bukannya tadi pagi kamu sendiri yang bilang ingin cerai dan melepaskan Arya? Saya sebagai ibunya juga tidak mau kalau sampai Arya tertekan. Kami juga ingin membawa pulang anak kami!" timpal Mama Arya membuat suasana semakin panas.
Papa Arya tidak banyak bicara, dia hanya melenguh, tapi nafasnya terdengar berat. "Arya, cepat kamu kemasi barang-barang kamu dan kita pulang!"
"Ta-tapi, Pa, kami sudah sepakat tidak akan bercerai," tolak Arya. Dia jadi gemetar, perasaan sukacita yang baru dia rasakan tadi terasa jadi hambar.
Hal yang sulit Arya ungkapan dan pembuktian yang dia lakukan di taman tadi akan menjadi sia-sia belaka kalau mereka jadi bercerai! Mengapa di saat keduanya sudah saling menautkan rasa malah harus berakhir seperti ini sih?
Apa dimana-mana yang namanya cinta memang butuh perjuangan ya? Arya harus menjelaskan bagaimana kepada kedua orang tua dan kedua mertuanya tentang hubungan baru yang ingin mereka mulai ini?
***
__ADS_1