Terpaksa Menikahi Pelakor

Terpaksa Menikahi Pelakor
Kemauan Hidup yang Kuat


__ADS_3

Mama kaget atas kunjungan Arya yang tiba-tiba.


"Loh, kok kamu malah disini bukannya tungguin Marissa?"


"Tadi sewaktu kita sedang telepon, Arya dengar suara keributan. Karena khawatir Arya langsung datang ke sini,"


Arya menoleh bangsal yang ditiduri oleh Bu Aga. Wajah Bu Aga terlihat lelah dan pucat.


Mama menghela nafasnya panjang lalu menceritakan apa yang terjadi tadi pada Arya.


"Tadi beliau histeris sewaktu tau kondisi Marissa. Ngamuk juga minta ketemu sama Marissa, karena ga bisa dikendalikan terpaksa dokter kasih obat penenang akhirnya beliau tertidur, seperti yang kamu lihat sekarang," jelas Mama.


Arya sedih saat mendengarnya tapi dia cukup memaklumi.


Sewaktu bercerita, datanglah seorang dokter menemui mereka guna memberi tahu bahwa kondisi Bu Aga saat ini sedang tidak stabil dan menyarankan untuk dirawat inap saja. Sebelumnya memang Bu Aga hanya mengalami pingsan dan syok biasa maka setelah pulih bisa langsung lepas infusan tapi sekarang kondisinya berbeda, lagipula Bu Aga tadi melakukan keributan sehingga membuat tidak nyaman orang-orang disekitarnya, karena cukup mengganggu pasien lain yang juga sedang sakit jadi alangkah baiknya kalau Bu Aga memiliki kamarnya sendiri untuk saat ini.


Arya pun mengiyakan dan memproses pemindahan kamar tersebut segera.


Selanjutnya Bibi dan seorang perawat mengantarkan Bu Aga ke kamarnya. Sedangkan Mama dan Arya pergi ke ruang tunggu operasi guna melihat kemajuan kondisi Marissa.


Alih-alih melihat kondisi Marissa mereka malah mendapatkan kabar tak terduga. Papanya Arya yang melihat anak dan istrinya dari kejauhan langsung menghampiri mereka dengan gestur tubuh berjalan cepat. Karena dianggap tidak biasa Mama dan Arya jadi khawatir takut sesuatu terjadi pada Marissa, lalu mereka juga sama mempercepat langkah untuk menemui Papa hingga berada di satu titik temu. Tapi wajah Papa yang sudah mendekat tidak menampilkan kekhawatiran yang mereka takutkan. Malah sebaliknya, wajah Papa tampak sumringah.


"Marissa Ma.."


"Kenapa Pa?" tanya Mama panik.


"Marissa sudah berhasil melewati masa kritisnya. Kata dokter, jika keadaannya semakin baik mungkin sebentar lagi mereka bisa memindahkan Marissa ke kamar perawatan," terang Papa senang. Dari kejauhan tampak Pak Aga sedang menundukkan kepalanya di kursi sambil mengepalkan kedua tangan didepan wajahnya. Pak Aga juga terlihat bersyukur sekali.


Mama menutup mulutnya hampir berteriak senang. Air mata jatuh saking terharunya Mama. Arya juga sama merasa lega sekarang. Kekhawatirannya kini luluh lantak, seperti ada es yang mencair di hatinya menyegarkan suasana sesak.


Arya hapal sekali dengan sifat Marissa yang memanglah barbar. Tapi dimata Arya saat ini, Marissa tetaplah perempuan biasa yang bisa merasakan sakit dan terluka. Jujur saja Arya tak tega Melihat Marissa yang galak dan cerewet itu jadi tergolek lemah tak berdaya seperti ini. Melihatnya begini membuat Arya jadi teringat kembali akan Raya yang pernah mengalami hal serupa, masuk rumah sakit karena hal yang sama yaitu kehilangan anaknya.


Entah kebetulan macam apa ini, rasanya mereka yang masing-masing telah merebut laki-laki milik orang lain seperti tak direstui untuk mendapatkan keturunan. Dan bahkan mereka harus merasakan kehilangan yang begitu kejam, seolah pembalasan dari perbuatan mereka yang sudah membuat wanita lain kehilangan pasangannya kini telah terbayarkan. Apakah ini adalah karma? Atau memang hanya kebetulan saja? Entahlah hanya Tuhan yang tahu.


Mama bersyukur sekali sampai mengelus dadanya dan masih meneteskan air mata haru. Pak Aga yang menyadari kehadiran Mama dan Arya kini ikut menghampiri mereka untuk menanyakan perihal kondisi Bu Aga.

__ADS_1


Mendengar bagaimana istrinya sampai seperti itu membuat wajah Pak Aga yang tadi sumringah jadi mengkerut kembali. Pak Aga pun memutuskan untuk meninggalkan Marissa sebentar untuk mengecek keadaan Bu Aga dan akan memberitahunya sendiri tentang kondisi terkini putri mereka.


Setelah Pak Aga pergi menemui istrinya, tiga orang yang tadi bersamanya itu kini menunggui Marissa dengan penuh ketenangan. Rasanya masa-masa sulit sudah dilewati oleh Marissa, perempuan itu seolah menunjukkan kemauan hidup yang kuat. Meskipun dia telah kehilangan banyak darah dan mendapati luka 6 jahitan di kepalanya. Belum lagi dengan luka operasi caesar akibat kegugurannya.


Dalam keheningan ini tiba-tiba sebuah pikiran terlintas dibenak Arya.


"Pa, apakah benar yang menyebabkan semua ini adalah Tio? Lalu bagaimana nasibnya sekarang? Apakah dia akan dipenjarakan?" tanya Arya mengingat kronologi yang disampaikan oleh petugas keamanan kepada mereka. Bahkan untuk memastikan kebenarannya, Pak Aga sampai menyuruh salah satu anak buahnya untuk memeriksa siapa sebenarnya pelaku tersebut dan setelah diselidiki di kantor polisi mereka akhirnya benar-benar yakin kalau itu memanglah Tio. Laki-laki pengecut yang telah meninggalkan Marissa dan bayinya lalu kini mencoba membunuh keduanya.


"Pelakunya memang Tio. Tapi Papa masih belum tau kelanjutannya bagaimana, hanya saja tadi Pak Aga sempat bilang kalau dia tidak mau melepaskan Tio begitu saja untuk ditangani oleh polisi. Pak Aga ingin kalau laki-laki itu di hukum seberatnya, tapi bukan dengan hukuman negara. Tapi entahlah hukuman seperti apa yang beliau maksud itu, Papa juga tidak tahu," terang Papa menjelaskan apa yang diketahuinya.


"Iiih, sumpah ya Mama ga habis pikir deh, tega banget dia gitu ke Marissa padahal kan yang sedang dikandung oleh Rissa itu adalah anaknya sendiri! Gimana sih dia malah celakain anak dan ibunya?! Ga ada tanggung jawabnya banget jadi orang!"


"Kalau laki-laki itu ada tanggung jawabnya, ya ga mungkin lah Ma dia bohongin Marissa sampai bisa hamil kayak gitu. Kalau bukan karena laki-laki brengsek itu, ga mungkin juga Marissa sampai nekat nipu kita demi keuntungan dia, hanya demi menjadikan orang lain sebagai pendamping yang bisa tanggung jawab atas kehamilannya, meskipun dia kasih timbal balik keuntungan untuk kita," jawab Arya tanpa basa-basi namun benar-benar menyatakan kenyataan. Dari nada bicaranya sepertinya Arya masih kesal dengan posisinya saat ini.


"Sudahlah, Ma. Marissa kan sedang kena musibah. Kita tidak boleh menggunjingnya seperti ini," lerai Papa merasa tak enak akan situasi ini. Obrolan mereka rasanya terlontar di waktu yang tidak tepat.


"Kamu juga Arya, jangan ungkit-ungkit hal itu lagi. Kita melalui semua ini kan karena sebelumnya sudah saling sepakat, lagian kalau di pikir-pikir lagi ternyata banyak sekali hikmah yang bisa kita ambil dari pernikahan kalian ini, meskipun hanya pernikahan palsu, tapi banyak hal yang tidak kita tahu akhirnya bisa terungkap begitu saja. Bahkan tanpa perlu kita usik, kebenaran yang terbenam bisa terangkat ke depan mata kita semua" kata Papa lagi tak menampik kalau memang banyak hal terjadi setelah mereka melakukan pernikahan kontrak.


Walau sebenarnya, Papa tak bisa membohongi diri sendiri jika memang ada perasaan bersalah yang bersarang di hatinya karena sudah mengikuti ego dalam diri alih-alih kelancaran perusahaan, Papa malah merelakan kebahagiaan Arya demi mencapai semua keinginannya. Akhir-akhir ini Papa juga jadi sering berpikir bagaimana jika dulu dia tidak setuju dengan pernikahan kontrak ini. Apakah hidupnya akan lebih tenang daripada sekarang? Apakah anaknya akan bahagia? Bahkan Papa juga sering berkhayal bilamana perusahaannya bangkrut sekalipun, sebenarnya tak mengapa jika suatu hari mereka jadi berubah menjalani kehidupan yang sederhana, toh awalnya juga Papa membangun karir bukan karena terlahir jadi anak orang kaya. Meskipun keluarganya memanglah berkecukupan tapi tetap saja Papa merintis usahanya ini dari nol.


Meski Papa merasa bersalah dengan keputusannya ini tapi Papa juga berpikir ini adalah hal yang baik.


Jika kebenaran tentang Raya tidak terungkap apakah Arya akan bahagia? Bukankah Arya akan lebih sakit hatinya jika mengetahui semua ini saat mereka sudah menikah nantinya? Ibarat tinggal menunggu waktu saja yang menjawab. Cepat atau lambat, semua kebohongan Raya akan diketahui juga oleh Arya.


Memikirkan hal rumit ini membuat Papa jadi pusing. Kegalauan dan penyesalannya ini terus saja membuat pikiran Papa terombang-ambing untuk memahami keputusannya saat ini adalah benar atau sesuatu yang salah.


Bagaimana pun dari semua pemikiran itu Papa tidak mau menunjukkannya pada Arya. Papa takut anaknya itu malah jadi sedih dan ikut menyesali semua hal yang telah terjadi. Papa jadi pengecut ketika memikirkan bilamana nanti anak satu-satunya itu malah jadi membenci dirinya.


"Loh, Papa kok ngomong gitu sih? Mama bukan maksud menggunjing Marissa loh, Papaaa.. Tapi hanya menyayangkan aja gitu lohhh. Kalau Mama ada di posisi dia sekarang pun, pasti sakit sekali lah hati Mama, kasihan sekali anak itu kan?"


"Ya sudah, daripada pembicaraan kita malah jadi ke mana-mana dan nantinya terjadi salah paham, lebih baik kita hentikan saja obrolan ini dan sekarang baiknya kita doakan kesembuhan Marissa. Papa ngerti perasaan Mama, jujur saja Papa juga kasihan padanya, tapi apa daya kan? Walau kita sedih tapi kita juga tidak tahu, mungkin saja ini adalah takdir terbaik untuknya, kita bisa apa kan?"


Mama menghela nafas berat. Dia masih kepikiran bagaimana perasaan Marissa nantinya. Apa yang akan Marissa lakukan saat dia sudah sadar?


Sama seperti Arya, Mama juga jadi teringat pada Raya. Bedanya hal yang di ingat oleh Mama adalah sebuah bayangan ketakutan. Mama jadi takut ketika mengingat cerita Arya kalau Raya pernah nekat ingin bunuh diri saat dia tahu sudah keguguran dan kehilangan anaknya. Mama takut sekali kalau Marissa juga akan melakukan hal yang sama nantinya.

__ADS_1


Mama ingin menepis pikiran buruk itu, tapi rasanya sulit. Bagaimanapun dia juga seorang ibu. Mama mengerti sekali perasaan Marissa. Karena ibu mana yang hatinya tak akan hancur bila sudah menaruh cinta yang besar pada buah hatinya bahkan sudah siap mempertaruhkan nyawa untuk anaknya tersebut demi lahirkan ia ke dunia, lalu sekarang siapa sangka tiba-tiba saja harus kehilangan anak yang dinantikannya itu pergi begitu saja bahkan dengan cara yang buruk.


Beberapa saat kemudian Pak Aga kembali untuk menemui mereka. Dia mengabari kalau Bu Aga masih belum sadar juga, mungkin karena efek obat. Dan Pak Aga menjelaskan rencananya nanti Marissa akan ditempatkan di kamar yang sama dengan Bu Aga supaya lebih mudah mengurus keduanya. Apalagi mengingat kondisi Bu Aga yang selalu mengkhawatirkan putrinya. Ini adalah cara terbaik untuk memantau kondisi mereka berdua. Dan menurut informasi, sekarang Marissa akan dipindahkan terlebih dahulu ke ruang transisi guna memantau kondisi fisik Marissa dan bila sudah sadar dan tidak mengalami komplikasi maka dia siap dipindahkan ke kamar perawatan.


Karena kondisi Marissa yang sudah berangsur membaik inilah Pak Aga jadi segan melihat Papa, Mama dan Arya yang rela menunggui putrinya itu kini tampak lelah dan kecapean, dia pun meminta mereka untuk pulang saja terlebih dahulu. Karena bagaimana pun Arya dan kedua orang tuanya juga butuh istirahat.


Setelah obrolan yang cukup panjang, dengan berat hati mereka meninggalkan Marissa yang sebentar lagi akan pindah ke ruangan transisi. Karena hari juga sudah mulai malam, dan jam besuk sudah hampir habis waktunya mereka jadi tidak bisa melihat Marissa saat di pindahkan. Meski begitu mereka sudah di janjikan oleh Pak Aga akan selalu mengabari apapun mengenai Marissa terutama ketika dia sudah sadar.


Arya dan kedua orang tuanya pun pamit dan memastikan lagi agar Pak Aga selalu menghubungi mereka bila ada kabar terbaru.


Pak Aga mengiyakan lalu mereka benar-benar pulang dan akan kembali lagi keesokan harinya.


Pak Aga menatap punggung besannya saat berjalan meninggalkan dia yang berdiri sendirian di sana. Lalu tiba-tiba saja dering telepon berbunyi. Suaranya nyaring menggema di lorong rumah sakit tempatnya berada.


Sebuah nama salah satu anak buahnya terpampang di layar ponselnya.


"Kau sudah menyiapkan tempatnya?" tanya Pak Aga pada seorang diseberang telepon.


"Baiklah. Tempat itu cukup jauh bukan? Lalu bagaimana dengan dokumennya?" tanyanya lagi.


Orang di seberang telepon menjelaskan bahwa dia sudah berhasil menangani dokumen yang sedang mereka bahas. Tinggal merealisasikannya saja.


"Lalu bagaimana dengan pihak kepolisian? Tidak ada masalah bukan?" tanya Pak Aga lagi memastikan hal yang membuatnya gusar.


Lalu anak buahnya menjelaskan lagi keberhasilan yang Pak Aga inginkan. Pak Aga menyunggingkan senyumnya. Dia merasa puas dengan hasil yang diberikan oleh anak buahnya.


"Ya. Kerja bagus! Pastikan manusia brengsek itu membusuk disana tanpa bisa keluar sama sekali apapun alasannya. Lalu pekerjakan beberapa orang untuk menjaganya di tempat itu. Dan terakhir beritakan kepada media apa yang sudah kita bahas tadi," lalu Pak Aga menutup teleponnya.


Pak Aga menggenggam telepon itu kuat-kuat. Dari cara dia memegang ponselnya bisa terlihat seberapa besar dendam yang ia miliki untuk Tio.


"Berani sekali manusia kurang ajar sepertimu mencelakai satu-satunya anakku! Bahkan sebutan manusia saja sudah tidak pantas lagi bagimu! Tunggu saja apa yang akan kamu tuai setelah lancang mencari masalah denganku!" gumam Pak Aga dengan tatapan mata penuh amarah.


"Akan ku pastikan kamu menyesali perbuatanmu selama sisa hidupmu. Bahkan akan ku buat kau merasakan hidup yang tak berguna hingga mati adalah pilihan terbaikmu!"


***

__ADS_1


__ADS_2