
Arista celingak-celinguk di pesta ulang tahun ke 75 kakeknya Indra. Ini satu-satunya pesta termewah yang pernah dia datangi sebelumnya. Hiasan lampu di kiri kanan berkelap-kelip memberikan nuansa seperti sedang berada di dalam negeri dongeng. Alunan musik megah menggelegar seisi ruangan. Tamu-tamu yang hadir pun tampak berlomba-lomba memakai baju-baju cantik dan rapi, belum lagi dengan hiasan lain yang berkilatan di sekujur tubuh mereka. Arista iseng mengamati merk yang dipakai para tamu itu, rupanya merk internasional yang sangat terkenal.
Rasanya aku salah tempat masuk kalangan seperti ini. Udah kayak gembel yang lagi nyamar aja jadinya, pekik Arista dalam hati.
Lagi asyik berbincang dengan dirinya sendiri tiba-tiba Indra menarik lengan Arista membawanya ke depan kakek yang terlihat sibuk dengan para kerabatnya. Melihat Kakek yang berseru pada Indra membuat kerabat kakek itu permisi pergi untuk memberi mereka ruang bicara.
"Ah, cucuku.. Kamu sudah datang? Bawa siapa itu? Calonmu?" tanya Kakek tersenyum riang memperlihatkan giginya yang sudah menguning dan rapuh.
Papa dan Mama Indra mengamati gadis di depannya itu dari ujung kepala sampai ujung kaki. Mereka pikir Arista cukup oke lah untuk dibawa ke pesta ini. Arista cantik, tubuhnya proporsional dan tampak bisa diandalkan.
Arista menunduk ragu juga malu. Dia tidak tahu bagaimana cara menyapa yang benar di kalangan orang kaya.
"Akhirnya kamu bawa juga calonmu ini. Pantas saja kamu selalu menolak gadis-gadis yang sering dijodohkan denganmu, rupanya sudah punya pacar secantik ini ya.. hahahha.." ujar Kakek memuji membuat Arista salah tingkah dan hanya nyengir terpaksa.
Memang seberapa banyak sih perempuan yang di jodohin sama Indra sampai dia memaksa Arista untuk ikut ke acara ini? Coba kalau bukan karena bayar hutang, ga mungkin juga Arista mau di ajak ke tempat seperti ini dan jadi pacar bohongan Indra.
Setelah pulang dari kafe waktu itu, Indra membawa Arista ke sebuah taman dan di sana dia meminta tolong pada Arista. Alih-alih membayar semua hutangnya waktu di rumah sakit, Indra ingin Arista membayar dalam bentuk balas budi saja, dia bahkan mengembalikan uang yang selama ini Arista cicil sebelumnya tanpa kurang sepeserpun. Arista langsung menolak. Mendengar permintaan Indra yang ingin menjadikan Arista pacar bohongan tentu saja Arista tidak mau. Apalagi selama ini dia sudah membayar hutangnya pada Indra walaupun menyicil sedikit demi sedikit. Tapi Indra yang sudah frustasi langsung bersujud dan meminta bantuan Arista dengan wajah putus asa.
Selama ini Indra terus di tekan untuk segera menikah mumpung kakeknya masih sehat, apalagi umur Indra sekarang sudah masuk ke dalam usia dewasa untuk seseorang boleh menikah. Karena terus mendapat tekanan dari keluarga seperti itu membuat Indra pusing yang mana dia masih saja belum punya pacar meski pengagum wanitanya ada banyak dan tersebar di mana-mana, tapi tetap saja tak ada satupun yang menarik hatinya.
Akhirnya orang tua Indra sepakat untuk menjodohkan saja anaknya itu dengan anak dari kerabat maupun klien perusahaannya. Namun usaha seperti itu pun sia-sia karena tak ada satupun yang mampu meluluhkan hati Indra.
Tampangnya yang seperti boyband membuatnya semakin tenar dengan isu suka bermain perempuan padahal nyatanya perempuan-perempuan itulah yang selalu mendekati Indra dan berharap bisa bermain dengannya alias pacaran. Tapi yang namanya gosip kalau sudah tersebar ke satu telinga bisa langsung estafet lagi ke telinga yang lainnya hingga Indra tercap sebagai laki-laki buaya darat yang mempesona. Bahkan tidak sedikit dari para pengagumnya yang berkhayal bahwa dia tidak masalah jika harus jadi salah satu korban kebuaya daratannya Indra.
Tapi ketika melihat Arista, entah mengapa sesuatu menggelitik hatinya. Seperti ada bisikan yang menyuruhnya untuk mendekati gadis tersebut. Indra yang awalnya hanya ingin menuntaskan rasa penasaran malah jadi tertantang karena Arista tidak bisa memenuhi rasa penasaran tersebut. Setiap Indra mendekati bahkan menggodanya, Arista tidak bergeming sama sekali. Bukannya lega, Indra malah makin penasaran padanya.
Indra pernah berpikir kalau Arista adalah perempuan yang tidak punya hati, atau mungkin tidak punya nafsu sama sekali. Bisa-biasanya dia tidak terpesona sama kegantengan Indra yang selalu di puja-puja wanita di luaran sana?
Awalnya Indra tidak kepikiran sama sekali membawa Arista ke pesta ulang tahun kakeknya itu, lagipula mereka tidak punya hubungan spesial yang mengharuskan Indra membawa Arista ke sana tapi ini situasi yang darurat.
Kakeknya bilang, jika setelah ulang tahun yang ke 75 Indra tetap tidak bisa mendapatkan pacar, mau tidak mau dia harus siap di jodohkan!
"Kamu mau lihat Kakek mati terus jadi hantu penasaran gara-gara kamu belum menikah?" ucapan Kakek itu terngiang-ngiang di benak Indra.
__ADS_1
Meski terdengar kepepet tapi bagi Indra ini sangat menguntungkan juga sih, seenggaknya dia bisa modus buat ngedekatin Arista.
Dari hal itulah, Indra bersimpuh supaya Arista mau menerima tawarannya. Tapi Arista tetap menolak.
"Kenapa juga aku harus terima tawaran kamu? Kamu pikir membohongi keluargamu itu sepadan dengan biaya pengobatan yang ngasal kamu berikan waktu di rumah sakit dulu?"
Indra seperti kehilangan nyawanya. Dia makin frustasi. "Bagaimana caranya supaya bisa sepadan? Apa aku harus membayarmu? Kalau kamu mau, aku akan bayar kamu 10 juta! Bukan, 50 juta! Oh, tidak. Kalau begitu 100 juta!" ucap Indra makin putus asa. Baginya apapun akan dia lakukan supaya Arista mau terlibat mengambil peran sebagai pacar bohongan Indra.
Indra tau, Arista bukan wanita matre yang gampangan. Mendengar Indra menyebut nominal-nominal itu Arista pasti akan luluh karena merasa Indra telah melukai harga dirinya hingga akhirnya Arista tertantang dan mau menerima tawaran Indra dengan sukarela.
"Baik!"
Indra mendongak, "Apa?"
"Aku bilang aku mau. Kalau kamu bisa berikan uang sebanyak itu, tentu aku mau. Seenggaknya dengan uang itu nanti aku bisa buka usaha dan gak perlu kerja di kafe lagi kan?"
Hati Indra terasa patah. Hal ini sungguh di luar ekspektasinya. Bisa-biasanya Arista yang tampak sempurna itu mengiyakan hal tak masuk akal demi uang?!
"Kenapa? Kamu mau merubah pikiran?" tanya Arista membuyarkan semua lamunan Indra yang masih belum bisa percaya dengan apa yang didengarnya barusan.
"Aku gak tau pesta orang kaya itu seperti apa. Jadi urusan wardrobe kamu saja yang atur," kata Arista lagi. Dia tidak tau pesta ulang tahun kakek Indra itu seperti apa, tapi dari cerita Indra yang sempat membicarakan kolega dan rekan kerja kakek adalah orang-orang penting, Arista bisa menyimpulkan kalau itu adalah pesta yang mewah.
Setelah mengatakan itu Arista lalu pergi menuju bibir jalan untuk memanggil taxi dan pulang meninggalkan Indra begitu saja yang tampak masih mematung ditempatnya.
Hingga terjadilah hari ini. Di mana Arista datang bersama Indra untuk membohongi semua orang, memperkenalkan diri sebagai pacar Indra.
"Saya dengar kamu sempat tinggal di Singapura?" tanya Kia mamanya Indra yang mencoba mendekati Arista.
"Kuliah? Jurusan apa?"
"Sa-saya kerja di sana, Tante," jawab Arista canggung.
"Oh, kuliah di sini tapi kerja di Singapura?" tampak guratan takjub di wajah Kia. Boleh juga nih calon mantunya. Pasti dia lulusan dari universitas bagus makanya bisa kerja di luar negeri.
__ADS_1
"Saya tidak kuliah, Tante," Arista mengecilkan suaranya. Dia tau akan seperti apa sikap Kia setelah mendengar hal ini. Pasti sangat mengecewakan.
Dan benar saja! "A-apa? Tidak kuliah? Kenapa? Kamu hanya TKI di Singapura?" bentak Kia mengalihkan seluruh pasang mata tertuju pada mereka.
Indra buru-buru menghampiri Arista dan Mamanya. "Ada apa sih, Mam? Kenapa ribut-ribut gini? Sudah tau kita lagi di pestanya Kakek!"
"Ada apa kamu bilang? Bisa-bisanya kamu bawa wanita murahan ke pesta semegah ini?!" tanya Kia geram.
Arista yang diperlakukan dengan kasar begitu hanya bisa menunduk sangat dalam. Sebelumnya baik Arista maupun Indra tidak ada wacana apapun mengenai latar belakang Arista. Apakah dia harus berbohong tentang status keluarga atau status pendidikannya, Indra tidak pernah membicarakan hal itu. Karena itulah Arista juga tidak mengelak dan berusaha mencari jawaban yang harus di utupi kebenarannya. Satu-satunya kebohongan bagi mereka adalah menjadikan Arista sebagai pacar Indra demi menghindari perjodohannya dengan perempuan yang tidak Indra cintai.
"Apakah setiap manusia punya kalung label harga yang mesti disematkan pada diri mereka? Kenapa kamu bilang gadis cantik ini sebagai wanita murahan?" tanya Kakek ikut menengahi mereka. Tentu sebagai pemilik acara Kakek tidak bisa berdiam diri saja menonton keributan yang terjadi tepat di depan matanya. Dari jauh terlihat juga Papa Indra berdeham memberi isyarat agar istrinya itu diam dan mengalah lalu pergi keluar.
"Bukan begitu, Pa. Tapi yang benar saja dong! Bisa-bisanya Indra membawa perempuan bodoh yang gak jelas asal usulnya untuk diperkenalkan sebagai pacar yang nantinya bakal jadi istri Indra?! Coba Papa bayangkan, bagaimana bisa Indra yang seorang dokter spesialis muda memperistri perempuan yang hanya lulusan SMA?" nyinyir Kia tak ada habisnya.
Kakek tersenyum mendengar ucapan menantunya itu kemudian menoleh pada Arista. "Nak, kamu bisa membaca?" tanya Kakek yang di jawab dengan anggukan pelan Arista.
"Bisa menulis?" Arista mengangguk lagi.
"Lihat? Di mana letak kebodohannya? Kalau kamu ribut-ribut seperti ini hanya karena mempermasalahkan status pendidikannya yang hanya lulusan SMA, bukankah sama saja seperti kamu sedang merendahkan saya?" tanya Kakek pada menantu satu-satunya itu.
Kia mendelik, kenapa Papa mertua bicara begitu?
"Ma-maksud Papa apa? Kia tidak mengerti."
"Apakah suamimu tidak pernah bercerita kalau Yopi Hendrawan pemilik produk makanan instan terbesar se-Indonesia ini hanyalah seorang lulusan SMA?"
Kia melotot tak percaya, begitu pula para tamu undangan. Tommy melihat istrinya itu hanya geleng-geleng kepala. Dia meributkan seseorang yang di anggap rendahan dan tidak pantas datang ke pesta ayah mertua tapi tidak berkaca kalau dia sendirilah sumber masalah yang membuat keributan di pesta ayah mertuanya itu. Karena keegoisan dan rasa sok berkuasa Kia membuat dirinya jadi semena-mena pada orang lain tanpa peduli sudah jadi pusat perhatian semua orang di sana.
Yopi Hendrawan atau kakek Indra hanya tertawa menanggapi kegaduhan ini kemudian mengalihkan tubuhnya mengahadap kepada hadirin sekalian.
"Saya selaku pemilik acara memohon maaf sebesarnya kepada para hadirin sekalian atas hiburan sekelebat ini yang mungkin membuat semua orang mereasa sedikit tidak nyaman. Saya mohon keributan kecil ini tidak mengurangi sukacita kita di hari istimewa saya yaitu ulang tahun saya yang sudah menginjak golden Age 75 tahun atau tiga perempat abad ini, sudah sangat tua ya rupanya, hahahaha.." ucap Kakek diakhiri tawa keras yang membehana di seluruh ruangan. Mau tak mau tamu undangan pun ikut tertawa demi mencairkan suasana.
Kia yang merasa dipermalukan itu mengambil tasnya lalu pergi begitu saja dengan langkah-langkah besar meski rok span mewahnya membatasi kaki dan hampir robek dibuatnya. Suara high heels yang berbenturan keras dengan lantai pun ikut mengeluarkan suara saat Kia melangkah seolah sedang mewakili amarah Kia yang membara.
__ADS_1
***