Terpaksa Menikahi Pelakor

Terpaksa Menikahi Pelakor
Penipu


__ADS_3

"Kenapa sayang? Tumben pagi-pagi telepon? Kangen Papa yaaa?" tanya seseorang disebrang sana dengan sumringah.


Marissa tak menjawab godaan Papanya itu. Dia langsung to the point mengutarakan keinginannya tanpa basa-basi terlebih dahulu.


"Pak. Bisa pesankan kamar VIP lagi di sini? Ah! Nggak! Rissa inginkan Papa kirimkan uang saja pada Rissa, bisa kan?"


"Uang untuk apa Nak? Berapa kamu maunya?"


"Ada deh untuk sesuatu. Untuk berapa-berapanya nanti Rissa kabari lagi ya, Pa?"


"Okay, Rissa bilang saja butuh berapa. Mungkin sekarang Rissa tidak mau kasih tahu uang itu untuk apa, tapi Papa pasti akan kirim, asal Rissa pakai uangnya untuk hal yang benar ya."


"Okay Pa. Rissa gak akan pakai untuk hal aneh-aneh kok. Makasih ya Paa.. Love you.."


"Love you too honey!"


Setelah berpamitan hangat telepon pun terputus.


Bibi yang melihat kelakuan Marissa jadi was-was. Sebenarnya untuk apa dia minta uang dan mengapa dia mengungkit soal ingin pesan kamar VIP. Memang siapa yang sakit?


Bibi bingung sekali, apa sih yang sedang dipikirkan oleh Marissa sekarang?


Sore itu secepat kilat Arya sampai diruangan Marissa dengan nafas ngos-ngosan.


"Kamu mau ngapain lagi sih minta uang sebanyak itu? Tadi Papamu cerita dan khawatir uang itu untuk hal...." Setelah membuka pintu kamar, Arya langsung berceloteh panjang lebar namun sesaat berhenti ketika menyadari keberadaan orang lain disana.


"Loo.. lohh.. kok Pak Jono dan Bu Mega ada disini? Ada perlu apa ya Pak?" tanya Arya terbata dan sungkan.


Bu Mega menghampiri Arya dengan wajah sembap, lalu menggenggam tangan Arya dengan penuh rasa syukur yang dalam. "Terimakasih Pak. Saya sangat bersyukur bapak dan ibu mau membantu kami untuk membayar semua biaya rumah sakit dan pengobatan anak kami," isak Bu Mega tetiba.


Tak berselang lama, begitu juga dengan Pak Jono yang ikut menghampiri dan menggenggam tangan Arya satunya.


"Terimakasih pak. Kami benar-benar berterima kasih. Entah bagaimana kami harus membayar semua kebaikan Bapak dan Ibu ini,"


Mendadak Arya pusing. Ini ada apa sih sebenarnya?


Seorang perawat datang masuk ke kamar mereka. "Ya ampun Pak Jono, saya cariin kemana taunya ada yang bilang lagi disini."


"Ke-kenapa ya Mba cari saya? Apa terjadi sesuatu pada anak saya?" tanya Pak Jono panik.


"Tidak Pak. Tapi proses pemindahan anak bapak ke kamar VIP akan segera dilakukan, saya mencari bapak untuk siap-siap. Dan jangan sampai meninggalkan pasien apalagi anak-anak seorang diri." tegur perawat itu.


"Maaf Mba. Tadinya kami hanya pergi sebentar karena anak kami sedang tertidur,"


"Yasudah bapak dan ibu kembali lagi ke kamar untuk temani pasien ya.."


"Baik Mba. Terimakasih sebelumnya.."


"Benar kata perawat tadi. Pak Jono dan Bu Mega kembali saja ke kamar anaknya. Kasian kan kalau ditinggal sendiri nanti bangun bingung gak ada siapa-siapa yang jaga."


"Anu.. saya sebenarnya masih tidak enak hati menerima semua bantuan ini, tapi saya juga tidak bisa beralama-lama meninggalkan anak kami. Jadi, kalau begitu kami permisi dulu ya Bu, Pak.. Sekali lagi kami ucapkan terimakasih sebesar-besarnya atas kemurahan hati Bapak dan Ibu ya. Kami pamit ya, monggo.." kata Pak Jono lagi tersenyum sembari permisi kembali menuju kamar anak mereka. Di ikuti oleh Bu Mega yang masih sesenggukan menahan haru.


"Sebenarnya mereka berterima kasih kenapa sih? Kok Bu Mega sampai nangis begitu? Apa ini ada hubungannya dengan uang yang kamu minta ke Papamu?" Pertanyaan Arya berderet seperti barisan pagar.


Marissa mengangkat kedua alisnya sambil mengerucutkan bibir.


"Ya gitu deh." jawabnya singkat.


"Ya gitu gimana? Jelasin yang benar!"


"Males!" Marissa berbaring lalu menutup seluruh tubuhnya dengan selimut enggan menanggapi pertanyaan Arya yang bertubi.


"Marissa, jelasin dulu.."


"Tadi Kak Rissa bayarin ruangan bapak dan ibu yang baru pergi itu. Mbak Ani sendiri yang anterin Kakak ke bagian administrasi tanpa sepengetahuan mereka. Mungkin karena mau di pindahin anaknya ke kamar VIP bapak ibu itu kaget dan dijelasin sama perawat lalu cepat-cepat datang ke sini." jelas Mbak Ani yang tak di sadari kehadirannya oleh Arya.


"Hah?" Hanya satu kata itu yang sanggup keluar dari mulut Arya.


"Loh bagaimana bisa? Memang Marissa tau dari mana tentang data anak Pak Jono kok bisa-bisanya bayarin kamar tanpa sepengetahuan keluarganya?" tanya Arya heran.


Mbak Ani mengangkat bahu. "Kalau masalah itu Mbak Ani juga kurang paham. Tapi tadi sebelumnya si Kakak sempat berbincang sama seorang dokter. Cowo, ganteng lagi. Hihihi.." kikik Mba Ani, wajahnya merona saat mengingat sosok dokter ganteng yang dibicarakannya barusan.


Pasti itu Indra, pikir Arya.

__ADS_1


"Kamu kemasukan jin apa kok bisa baik gitu sama keluarga Pak Jono? Padahal kan kamu gak kenal mereka?" tanya Arya sambil menyingkap selimut yang menutupi wajah Marissa.


Marissa mendengus kesal. Dia malu pada Arya, juga malu pada dirinya sendiri, entah dorongan dari mana dia ingin berbuat seperti itu.


"Ya.. suka-suka gue lah!" jawab Marissa ambigu saking bingungnya harus menjawab apa.


Saat Marissa hendak menutup lagi wajahnya, Arya sudah menahan lebih dahulu. Tersirat sebuah senyum di bibir Arya. Matanya juga berkaca. Marissa tertegun, baru kali ini dia melihat Arya berwajah seperti itu.


"Aku bangga sama kamu, meskipun kamu aneh. Entah apa alasannya kamu berbuat baik seperti ini. Tapi tindakan kamu saat ini sudah membuktikan kalau kamu memang asli manusia."


Marissa tersentak, dia bangun cepat-cepat. "Gue emang manusia kali dari lahir! Emang selama ini lu anggap gue apa?" tanya Marissa kesal, nafasnya memburu.


Arya bukan takut tapi merasa lucu. "Siluman macan, aummmm.." goda Arya terkekeh sambil mengacak rambut Marissa. Terdengar suara Mbak Ani yang ikut tertawa.


"Aw! Sakit tau!" jerit Marissa saat tangan Arya menyentuh kepalanya yang berbekas luka. Sebenarnya tidak benar-benar sakit, hanya alasan Marissa saja supaya dia tidak terlihat salah tingkah. Tapi nyatanya Arya jadi panik dibuatnya.


"Aduuh.. maaf aku gak sengaja mengenai lukanya," ujar Arya menyesal.


Senyum tengil menghiasi wajah Marissa. "Sakit banget tau ih! Tapi boong! Ahahaha selamat anda kena prankkkk!" lalu tertawa ngakak sekerasnya.


Arya tertegun dengan wajah datar. "Baiklah lain kali akan ku abaikan meski kamu kesakitan."


"Ihhh kok gitu sihh.. idididihhh ngambekkk!" goda Marissa.


Saat itu sebuah ketukan pintu terdengar, lalu masuk seorang dokter muda yang sudah mereka kenal.


"Indra!" pekik Marissa.


Mbak Ani yang sadar kedatangan dokter yang dia sebut ganteng itu jadi memerah pipinya.


"Yoi. Ini saya." jawabnya singkat.


"Ada perlu apa kamu ke sini?" tanya Arya.


"Sebenarnya bukan saya yang perlu, tapi seseorang membuatku bekerja sampingan menjadi seorang post man. Anak Pak Jono menitip sebuah surat ini untuk Marissa," jelasnya sambil memberikan surat yang di maksud.


"Baiklah tugas sudah selesai, saya pamit undur diri dulu dan selamat beristirahat." Dokter Indra melangkah keluar tanpa dicegah oleh siapapun karena baik Marissa maupun Arya penasaran akan isi surat tersebut.


Namun sebelum benar-benar pergi Indra menyampaikan lagi sesuatu.


Arya mendelikkan wajahnya. "Mereka sudah pulang?" tanya Arya terkejut.


"Hmmhh," jawab Indra singkat.


"Kok bisa? Maksudku, kok mereka tidak bilang apapun?"


Indra mengangkat bahu, "Mungkin kamu bukan orang penting bagi mereka makanya tidak bilang-bilang," sebuah senyum menyungging di bibir Indra. Entah apa maksudnya.


"Sudah ya, saya mau bertugas lagi. Kali ini tugas saya kembali menjadi dokter. Dadahh.." Indra melangkah maju lagi, tapi lagi-lagi berbalik dan bicara.


"Oh iya. Satu lagi, ternyata memang benar video kejadian itu ada yang merekam dan sempat viral. Tapi tenang saja, Arista sudah membuat video klarifikasi. Dan.. ehmm.. tentunya dibantu oleh saya." Indra cengengesan.


Arya memicingkan matanya. "Benarkah ada video seperti itu? Marissa kamu tahu?"


Merasa mengangkat sebelah alisnya sambil mengangguk.


"Kenapa kamu tidak beritahu aku?" tanya Arya sedikit kesal.


"Lu kan sibuk kerja. Lagian ngapain segala tahu urusan gituan. Gak penting juga kan!"


Indra tetiba menjentikkan jarinya. "Tepat sekali! Sepertinya itu bukan sebuah hal penting yang harus diketahui olehmu 'Pak Arya'." Lagi-lagi Indra cengengesan.


"Saya pamit lagi yaa.. bye bye.." ucap Indra sambil melambaikan tangannya lalu sosoknya benar-benar hilang setelah menutup pintu.


Di sepanjang perjalanan, Indra masih saja senyum cengengesan. Dia senang melihat ekspresi Arya yang merasa kebingungan. Indra adalah sosok yang bisa membaca ekspresi orang, dia tahu ada sebuah kecanggungan antara Arya dan Arista, mungkin sebuah perasaan terpendam. Indra yang merasa tertarik pada Arista merasa puas melihat sikap Arya yang tak tahu apa-apa. Apalagi saat dia mengingat Arista yang meminta bantuannya untuk membuat video klarifikasi, meski sedikit kecewa saat kejadian penghakiman Bu Mega. Tapi toh nyatanya Arista memang orang baik, buktinya sebelum pulang pun Arista sempat berpamitan dan minta maaf kepada Pak Jono dan istrinya. Dari situ Indra mengerti, perlakuan Arista waktu itu bukan benar-benar keinginannya, hanya saja mungkin sebagai sebuah pelajaran untuk orang yang memulai pertengkaran yang melukai dirinya dan sahabatnya. Dan sebuah cara untuk menjadi 'impas'. Ya kan?


"Lu diem aja sih dari tadi, bolak-balik liatin HP. Kenapa sih? Lu lagi nungguin kabar mantan kekasih lu si Arista itu?" tanya Marissa kesal melihat Arya di sofa hanya melakukan hal yang Marissa sebutkan tadi.


"Dia bukan mantan kekasihku. Jangan bilang seperti itu, bisa-bisa bikin banyak orang jadi salah paham."


Mbak Ani yang sibuk membersihkan lengan Marissa langsung menyibak rambut ke belakang telinganya merasa malu. Omongan Arya seolah menyindir dirinya, karena sesaat sebelumnya memang Mbak Ani sudah berpikir macam-macam karena omongan Marissa barusan.


"Kalau bukan mantan pacar ngapain lu peduli sama dia sampe segitunya?" tanya Marissa lagi, sebal.

__ADS_1


Arya diam saja. Tak lama ponselnya berbunyi. Sebuah nomor tak dikenal muncul di tampilan layarnya. Tak menunggu waktu lama, Arya langsung mengangkatnya dengan riang.


"Halo, Arista?"


"Halo. Selamat sore."


"Iya sore," jawab Arya melemah. Ternyata bukan Arista. Suaranya juga bukan suara cewek tapi cowok bersuara berat.


"Ini dengan siapa ya?"


"Pak, ini adik bapak sedang kritis dirumah sakit. Saya menelepon ke nomor bapak karena ini nomor yang ada di handphone adiknya dinamain abang. Saya harus cari keluarganya agar segera diambil tindakan."


"Oh yah? Adik saya kenapa dan ada dimana?"


Marissa yang mendengar itu mengernyitkan keningnya. "Adik siapa tuh?" tanyanya.


Arya menaruh telunjuk di mulutnya. "Penipu. Penipu," bisik Arya pelan lalu menekan mode loudspeaker di handphonenya.


"Adik bapak keserempet motor tadi, tapi kena kepalanya bocor, dia kehilangan banyak darah dan harus operasi saat ini juga!"


"Gimana bisa Pak? Adik saya kenapa bisa seperti itu? Huuuuuu..." tanya Arya pura-pura menangis.


"Ceritanya panjang Pak. Kami minta bapak untuk segera melakukan penanganan guna menyelamatkan nyawa adik bapak."


"Iya. Iya Pak! Akan saya lakukan apapun untuk menyelamatkannya. Tolong adik sayaa Pakkk. Tolonggg!"


"Baik, baik Pak! Bapak tenang dulu ya. Dengarkan saya baik-baik ya Pak. Jadi adik bapak ini sekarang harus segera operasi tapi butuh biaya banyak Pak. Jadi sekarang bapak catet ya nomor rekening untuk mengirim uangnya. Saya pastikan untuk membayar langsung ke pihak rumah sakit Pak."


"Tidak bisa tunggu saya datang ke sana?"


"Ohh tidak bisa Pak. Ini gawat darurat, akan terlalu lama untuk bapak sampai disini. Bisa-bisa adik bapak tidak tertolong."


"Tapi rumah sakitnya dimana ya Pak? Biar saya segera ke sana sekalian cari ATM buat transfer uangnya sekarang."


"Oh, iya ini rumah sakitnya.. namanya ini rumah sakit Gunung Permata Pak. Bapak bisa ke sini tapi sebelumnya transfer dulu uangnya ya Pak biar adik bapak selamat."


"Baik Pak. Baik! Berapa yang harus saya transfer Pak?"


"30juta Pak untuk biaya operasi."


"Huuuu.. uuuuu.. uuuu gimana ini Pakkk.." teriak Arya histeris. Marissa melihat kelakuan Arya terpingkal-pingkal tertahan.


"Saya gak punya uang sebanyak ituuu! Tolong saya Pak.. Bapak bisa pinjamin dulu uang buat biaya operasinya? Nanti saya ganti setelah cari pinjaman dulu Pak.. HUUUUUUUU.. UUUUU.. HIKS.. HIKS!" isaknya lagi makin keras.


"Waduh saya juga duit dari mana Pak. Saya cuma mau menolong adik bapak saja. Saya tidak punya duit sebanyak itu!"


"Masa sih gak punya? Saya tahu bapak kan banyak duitnya Pakk.. Huuu.. uuuu.. Tolong saya lah Pak.. Hiks..Hiks.."


"Waduh, memangnya anda tahu dari mana saya banyak duitnya Pak? Mending sekarang bapak cepat-cepat cari pinjaman saja nanti langsung transfer ya Pak. Ini sudah tidak ada waktu lagi demi keselamatan adik bapak."


"HUAAAAA.. HUUUUUU... UUU.." jerit Arya histeris sengaja bikin budek si penipu.


"Bapak jangan bohong Pak. Bapak kan banyak uangnya dari hasil nipu kan Pakkk..! Tolongin lah Pakk adik sayaa.. Saya gak punya uaaangg.. huhuuuu.."


Sesaat hening lalu orang si penipu ini berkata lagi. "Anda menuduh saya penipu hah? Keselamatan adik sendiri kok main-main sih. Anda kakak macam apaan yang tidak mau menolong adiknya sendiri?!" bentak si penipu.


"Kalau anda bukan penipu terus siapa nama adik saya? Hayooo.." goda Arya membuat Marissa ketawa tak karuan.


"Ya saya mana tahu! Orang tidak ada identitasnya. Ini juga saya menelepon situ karena ada nama abang di phone book HP adiknya!"


"Ohh gitu, ya sudah lah saya ke sana aja ya Pak sekarang. Biar saya bayar langsung aja di rumah sakitnya. Apa tadi nama rumah sakitnya? Gunung permata ya?"


"Wah lebih baik anda transfer dulu saja Pak. Ini sudah tidak ada waktu Pak. Kasihan adiknya kalau menunggu terlalu lama."


"Tidak apa-apa Pak. Saya ke sana aja ya Pak sekarang."


"Wah anda bener-bener yah adik sendiri loh ini lagi nungguin, dia lagi bertarung dengan nyawa! Tega bener kamu ya!" ucap si penipu frustasi.


"Ya tega lah, orang saya gak punya adik. Memang adik siapa sih yang anda maksud? Lagian dimana rumah sakit Gunung Permata? Kalau saya ke sana bisa mendadak kaya enggak? Kan banyak permatanya tuh gunung, hahahahha,"


Si penipu yang sadar di permainkan langsung mengamuk. "Gobl*k lu! Ngeprank aing! Anying sia janc*k!" lalu telepon pun terputus.


Marissa yang dari tadi menahan tawa kini melepasnya begitu saja, perutnya sampai sakit terpingkal. Begitu juga dengan Mbak Ani.

__ADS_1


Arya yang melihat kedua orang tertawa didepannya hanya tersenyum jenaka mengangkat bahu dan bersikap keren seolah baru saja memberi tontonan yang memuaskan.


***


__ADS_2