
Hari ini cuaca tidak bagus. Gerimis yang tak kunjung henti dari semalam membuat siapapun malas beraktivitas. Tapi mau gimana lagi, Marissa punya jadwal check up dengan dokter kandungannya sekarang. Mau gak mau dia harus pergi kontrol meski cuaca hari ini tidak mendukung.
Untung ada ayang Arya yang siap menemani kemanapun Marissa pergi.
"Mau Mama temenin enggak?" tanya Bu Aga yang pagi-pagi sudah menunjukkan batang hidung di rumah Arya.
"Gak usah, Ma. Ini Arya sengaja sudah kosongkan jadwalnya hari ini bahkan sampai cancel meeting hanya demi temenin Rissa kontrol ke dokter. Kasihan kan dia kalau ujungnya Rissa pergi juga bareng Mama," jawab Marissa meski sebenarnya dia juga terharu sama antusias Mamanya yang rela datang pagi-pagi karena tau hari ini waktunya Marissa untuk cek kondisi kandungan. Tapi masalahnya Marissa sudah buat janji lebih dulu dengan Arya. Lebih tepatnya Arya yang memaksa ingin menemani Marissa sampai rela atur jadwal kerjaannya segala.
Makin larutlah Marissa dalam kenyamanan perlakuan Arya yang penuh perhatian itu. Rasanya tiap hari bawaannya jadi kangen terus sama Arya. Untung hari ini Arya bisa menemaninya untuk cek kandungan bersama.
Yang bikin beda hari ini mereka pergi dengan supir jadi Marissa bisa sender-sender manja di pundak Arya sepanjang perjalanan menuju rumah sakit. Bahkan setelah sampai sekalipum tangannya juga terus saja nempel dipinggang suaminya itu dari saat masuk ke dalam rumah sakit menuju ruangan dokter kandungan.
"Waduhh, udah makin gendut aja ini ibu hamil," sapa Indra dari kejauhan saat berpapasan bertemu di lobby rumah sakit.
Ini bukan pertama kalinya mereka bertemu di sana, sudah sering mereka berpapasan karena Marissa memilih dokter kandungannya di rumah sakit tempat Indra bekerja. Bukan tanpa alasan juga mereka memilih ke sini tapi kurang lebih untuk mempertimbangkan jarak rumah sakit ini yang cukup dekat dari rumah mereka. Jadi jika saat lahiran nanti ketika tiba dalam situasi darurat hampir melahirkan bisa lebih cepat dibawa kemari dan segera ditangani.
Awal mereka bertemu juga sebenarnya Indra sangat terkejut saat tau Marissa dan Arya datang ke rumah sakit itu untuk cek kandungan pertama kali. Rasanya seperti melihat pemandangan langka karena dia pikir Arya dan Marissa tidak saling cinta tapi ternyata pikirannya salah. Perasaan cinta mereka memang tidak terlihat oleh mata tapi bisa ditunjukan dari membesarnya perut Marissa sekarang dimana dalamnya ada sesosok bayi yang menunggu dilahirkan ke dunia.
Indra yang awalnya overthinking karena mengira Arya suka sama Arista rasanya jadi lega. Tapi kelegaan itu pun percuma, karena sampai saat ini Indra tidak tau dimana keberadaan Arista.
Sempat juga Indra bertanya pada Arya maupun Marissa tapi malah kena semprot Marissa karena mengungkit gadis itu di depan mukanya. Entah mengapa Marissa sensi sekali kalau membicarakan Arista. Rasanya ada ketakutan tidak masuk akal, bagaimana kalau nanti Arya direbut perempuan itu. Padahal jelas-jelas Arya bucinnya hanya sama Marissa seorang. Namanya juga wanita, apalagi Marissa pernah punya trauma tersakiti jadi waspadanya berlebihan sekali dan terkesan alay. Yahh, namanya juga cinta mati sama Arya ya mau gimana lagi.
"Eh, Ndra! Waktu itu lu nyari Arista kan?" ucap Marissa teringat kejadian kemarin.
__ADS_1
Indra langsung membulatkan matanya mendengar nama Arista.
Indra mengangguk cepat. "Kamu tau ada di mana dia sekarang? Kamu bertemu dengannya? Kapan?"
Pertanyaan bertubi-tubi menyerang Marissa membuat perempuan itu sadar rupanya Indra ini tipe yang sama dengannya, saat bucin bisa jadi kepo dan tidak sabaran.
"Kemarin gue lihat dia di mall PXX daerah utara. Tapi gak tau bener atau enggak itu dia," jawab Marissa tidak begitu yakin.
Indra mengernyitkan kening. "Kamu gimana sih ngasih info tapi gak jelas gitu!?" ucapnya kesal.
Marissa yang udah berusaha kasih info yang dia punya malah dijawab begitu juga jadi ikut kesal. "Udah syukur gue kasih tau, orang kita ngeliat dia juga cuma sekilas!"
Melihat perdebatan diantara kedua orang itu membuat Arya jadi penengah dan menjelaskan apa yang dia lihat bersama istrinya kemarin.
Setelah mengakhiri percakapan dengan Indra, sepasang suami-istri itu lalu bergegas menuju tujuan mereka begitu pula dengan Indra yang langsung menuju ruang kerjanya.
Berulang kali Indra melirik jam dinding di ruangan tersebut. Setiap ada kesempatan dia selalu gunakan untuk melihat jam. Begitu terus sampai waktu pulang tiba. Untung dia profesional dan masih konsen pada kerjaannya. Coba kalau pikiran buyar dan hanya tertuju pada Arista, bisa-bisa Indra lepas tanggungjawab dan malah memberikan resep serta pengobatan yang salah pada semua pasiennya yang datang hari ini.
"Dok, hari ini jadi kan karaokenya?" tanya seorang perawat masuk ke dalam ruangan Indra lima menit sebelum jam pulang.
Melihat Indra sudah mengganti pakaian kerjanya perawat itu yakin Indra sedang bersiap untuk pergi bersama mereka.
"Maaf ya, kayaknya hari ini saya cancel dulu pergi bareng kalian. Gak apa-apa ya? Hari ini kalian aja yang senang-senang. Healing bareng saya nanti saja kita atur lagi waktunya. Saya janji bakal traktir apapun yang kalian mau, karaoke dan makan, semuanya" ucap Indra dengan senyum indah menghiasi wajahnya.
__ADS_1
"Ih, dokter Indra gimana sih? Padahal saya dan teman-teman yang shift pagi udah sengaja perawatan kulit semalam hanya demi hari ini," ujar perawat itu kecewa namun niatnya hanyalah untuk bercanda karena dia sudah sangat akrab dengan dokter imut satu ini.
Indra yang sudah biasa dikecengi seperti itu hanya tertawa. "Maaf banget ya.. Ada hal penting yang harus saya urus nih," kata Indra lagi sambil merapikan kemejanya.
"Urusan apa sih sampai buru-buru begini? Dokter mau pacaran ya?" tanya perawat muda itu curiga.
Indra tidak menanggapi namun tersenyum memamerkan gigi-giginya yang rapi. Tanpa sepatah kata dan hanya tersenyum seperti itu entah kenapa rasanya malah terasa bagai tertusuk buah durian. Senyuman aneh itu benar-benar bisa mematahkan hati si perawat muda karena dia tau kecurigaannya ini pastilah benar.
Ahhh, padahal si perawat itu udah berkhayal dan berharap hidupnya bakal sama seperti dalam drama dimana dokter muda dan tampan tetiba cinlok dengan perawatnya di tempat kerja. Namun rupanya dokter tampan satu ini malah cinlok sama orang lain diluaran sana.
"Ya sudahlah, Dok gak apa-apa asal kau bahagia, aku ikhlas. Hati-hati ya Dok," ujar perawat itu lagi pasrah yang penting idolanya senang, dia pun akan senang. Masih ada dokter lain di rumah sakit ini meski ga seganteng dan seboyband dokter Indra, huhu~
Mendengar ucapan perawat itu yang penuh ke-alay-an membuat Indra cengengesan dan segera berpamitan. "Saya duluan ya.. Kalian juga hati-hati, dan selamat bersenang-senang. Salam buat yang lainnya yaa," pamit Indra sambil menepuk pundak si perawat.
Perawat yang dapat sentuhan kecil itu langsung meleyot dan pasrah. "Cinta sejati itu emang gak harus memiliki," ucapnya kepada diri sendiri sambil menepuk-nepuk pundak tepat ditempat yang disentuh Indra tadi.
Lagian perawat yang sudah cukup lama bekerja bareng Indra ini lumayan kenal watak dan sikap Indra. Alasan kenapa dia mendukung Indra untuk bahagia meski tak bersamanya adalah karena perawat itu tau ada yang berbeda dari senyum Indra tadi.
Senyum itu senyum yang sangat bersinar. Senyum yang belum pernah dia lihat sebelumnya selama mengenal dan bekerja bersama Indra. Apalagi alasan Indra bisa tersenyum seperti itu kalau bukan karena seseorang yang dia cintai bukan?
Sudahlah, mau gimanapun aku pasrah. Asal kau bahagia aku juga ikut,... bahagia, Dok~
Meski hati potek rasanya, huhu..
__ADS_1
***