Terpaksa Menikahi Pelakor

Terpaksa Menikahi Pelakor
Keciduk Kabur


__ADS_3

Diam-diam Arista pergi mengendap-endap lewat jalur lainnya. Setau dia pintu menuju parkiran masih dibuka sampai semua pegawai mall pulang. Mengandalkan pengetahuan itu dia pergi lewat sana demi menghindari Indra. Betul, Arista pergi dan tidak menepati janjinya untuk bertemu Indra di pintu masuk utama yang sebelumnya telah ia tentukan.


Meski Arista tau Indra pasti mencarinya lagi besok, dan besoknya dan besoknya lagi seperti tapi Arista tidak peduli. Dia jenuh sampai berpikiran pendek gimana nanti aja. Mau Indra datang lagi ya sudah datang saja. Untuk sekarang seenggaknya sekarang dia harus menghindari Indra terlebih dahulu. Dia enggan bicara pada Indra. Rasanya melihat Indra saja bikin mual. Sakit hatinya yang dulu jadi terbayang memenuhi isi kepala Arista hanya dengan melihat Indra saat ini ada di depan matanya.


Saat Arista membuka pintu keluar menuju parkiran tiba-tiba suara seseorang mengejutkannya dan tepat terdengar dibelakang kepala.


"Mau ke mana kamu?"


Arista terperanjat hampir melompat, dia menoleh ke belakang dan makin terkejut saat mengetahui siapa pemilik suara tersebut.


"Tempat janjian kita kan di pintu utama. Tapi kenapa kamu keluar dari pintu ini?" tanya Indra yang tiba-tiba sudah ada dibelakang Arista.


Rupanya Indra menaruh kecurigaan pada Arista dari awal. Dia tidak serta merta percaya begitu saja pada perempuan itu mengingat sebelumnya Arista bisa pergi begitu saja tanpa petunjuk apapun.


Indra yang tak ingin mengulang kesalahan sama itu lantas memutuskan untuk tidak benar-benar pergi ke pintu utama setelah keluar dari restoran melainkan diam berdiri di pagar kaca yang kebetulan bersebelahan dengan tiang kokoh penyangga atap mall. Hal itu menguntungkan Indra supaya bersembunyi di sana.


Jika Arista benar-benar pergi ke pintu utama maka mereka akan bertemu di tempat Indra berdiri ini namun jika sebaliknya ya terjadilah situasi seperti saat ini. Situasi di mana Indra mendapati Arista hendak melarikan diri lagi.


Perempuan plin plan yang katanya tidak merasa perlu melarikan diri itu malah melakukannya lagi dengan seribu alasan yang dia benarkan untuk dirinya sendiri.


Indra merasa beruntung karena bersembunyi di sana. Kalau tadi dia pergi ke pintu utama mungkin dia bakal tetap diam di sana sampai restoran ini buka lagi besoknya. Paling-paling nanti di usir satpam karena berdiam diri di tempat itu saat mall sudah tutup.

__ADS_1


Jangankan satpam yang bakal keheranan. Rekan kerja Arista yang pulang sempat melewati tempat persembunyian Indra saja merasa aneh karena bertemu lagi dengannya. Beberapa orang yang melihat Indra sebelumnya itu berbisik-bisik ngeri bahkan ada yang berpikir buruk dan merasa kalau Indra ini orang yang aneh atau mungkin gak waras. Bisa-bisanya dia berdiri sendiri di situ saat mall sudah sepi dan hampir semua pegawai mall akan pulang.


Arista menggigit bibir bawahnya. Dia malu karena ketahuan tidak menepati janji yang dibuatnya sendiri.


"A-aku.." Indra menarik lengan Arista membawanya ke lift menuju parkiran. Sudah kepalang lewat sana saja sekalian dia bawa Arista menuju mobilnya.


Arista yang merasa bersalah juga tak berkutik untuk menolak apalagi meronta melawan, lagian buat apa juga, toh Indra tidak sedang melakukan tindak kriminal padanya. Ini juga karena Arista tau dia sendiri yang salah karena telah melanggar janji temu mereka.


Tanpa bicara apapun Indra menjalankan mobilnya dan segera pergi dari mall tersebut. Dia mengajak Arista menepi di bahu jalan setelah beberapa kilometer menjauh dari mall.


"Sebenarnya kenapa kamu membenciku? Kenapa tiba-tiba pergi dan enggan menghubungiku lagi? Apa aku melakukan sebuah kesalahan? Jika ya, tolong katakan saja apapun itu tapi ku mohon jangan bersikap seperti ini!" akhirnya amarah Indra meledak. Meski dia berusaha untuk bicara senetral mungkin tapi tetap saja intonasi Indra yang memendam kekesalan masih bisa tertangkap oleh telinga Arista. Bukannya merasa bersalah, hal itu malah membuat Arista balik murka.


"Apa kamu melakukan kesalahan, katamu? Bisa-bisanya ya kamu berpikir begitu setelah semua yang terjadi?!"


"Kamu mencariku hanya di saat kamu butuh! Memaksaku untuk menolongmu dengan imbalan ini itu yang bahkan kamu gak sadar kan kalau itu menyakitiku?"


"Maksud kamu apa? Sebenarnya apa yang sudah aku lakukan sampai kamu berpikiran sakit hati seperti itu?"


"Ck!" Arista mendecak kesal, "memangnya orang sepertimu pernah merasakan sakit hati?"


"Apa?! Aku juga manusia, aku tentu pernah merasakan sakit hati! Kamu mencobai aku untuk berpikir hal apa yang sudah kulakukan sampai melukaimu tapi kamu tidak berpikir sikapmu juga melukaiku?! Jika memang aku menyakitimu setidaknya katakan tentang apa itu, bukan malah pergi begitu saja tanpa jejak sedikitpun!"

__ADS_1


"Sebenarnya kamu tau dari mana aku ada disini?"


"Kamu gak perlu tau itu. Jangan alihkan pembicaraan, jawab saja sebenarnya apa yang mendasari kamu bersikap begini padaku?"


"Siapa juga yang mengalihkan pembicaraan? Bukannya ini saling sambung menyambung? Kamu bisa menemukanku dengan uangmu kan? Apa sih yang gak bisa kamu dapatkan dengan uangmu itu?"


Indra makin bingung. "Kenapa kamu malah membicarakan uang? Sebenarnya apa yang salah disini?"


"Yang salah disini adalah uangmu dan sikapmu! Puas?!"


"Tentu saja aku tidak puas karena aku tidak mengerti. Kenapa kamu marah-marah gak jelas begini dan malah menyalahkan uang?"


"Gak jelas, gak jelas apanya sih? Kamu meminta bantuan padaku dengan imbalan uang yang sangat banyak. Bahkan mengembalikan uang hasil keringatku yang ku dapatkan dengan susah payah begitu saja seolah itu tidak berharga. Sambil beranggapan bahwa hutang budi yang kamu lakukan di rumah sakit tempo lalu itu bisa terbayar dengan suatu hal yang lebih besar dalam bentuk tindakan dengan artian di sini aku harus menolong urusan pribadimu. Kamu memintaku menjadi pacar bohongan sebagai timbal balik hutangku sama kamu, tapi kamu beranggapan aku ini murahan kan sampai kamu rela membayarku dengan uang sebanyak itu! Kamu pikir aku perempuan apaan?! Kamu sudah tau aku akan dipermalukan begitu oleh ibumu makanya kamu berani bayar sebanyak itu, iya? Atau malah bagimu itu hanya uang recehan saja yang bisa kamu dapatkan kapanpun kamu butuh? Atau hanya dengan merengek sedikit pada kakek konglomeratmu itu maka duit segitu bisa kamu dapatkan dengan mudah dibanding aku yang harus kerja pontang panting dulu?! Karena itu kamu meremehkanku dan buat itu sebagai kelemahanku dan menjadikan tawaran yang tidak akan aku tolak bukan?! Kamu kira aku bodoh? Aku sudah tau otak picikmu!"


Indra melenguh sedih. "Ya ampun Arista.. Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu? Asal kamu tau aku bahkan gak punya pikiran seperti yang kamu katakan barusan. Aku memang menawarkan uang dengan tujuan menarik simpatimu. Bukan untuk meremehkan kamu yang harus kerja keras dulu demi mendapatkan uang sebanyak itu. Dan jujur saja.. Kejadian di rumah sakit tentang hutang hutang begitu juga aku hanya bercanda, tapi kamu menanggapinya dengan serius. Aku tidak punya ide untuk mendekatimu. Makanya aku iyakan soal hutang itu demi bisa berhubungan terus denganmu.. Karena.. Karena aku sudah tertarik denganmu dari awal kita bertemu.." ungkap Indra membeberkan isi hatinya.


Ungkapan rasa ini memang tidak terkesan romantis tapi Indra tau ini satu-satunya kesempatan yang dia punya, dan demi meluruskan kesalahpahaman mereka terutama bagi Arista.


Indra menatap Arista dengan sungguh-sungguh, berharap perempuan disampingnya ini mengerti kalau apa yang terjadi pada mereka berdua hanyalah sebuah kesalahpahaman.


Tapi...

__ADS_1


***


__ADS_2