Terpaksa Menikahi Pelakor

Terpaksa Menikahi Pelakor
Suara Horor Dari Dalam Lemari


__ADS_3

Berkat Marissa, sudah 8 jam Arya beraktivitas di luar kamarnya. Mulai dari berenang, ngegym, nonton home theatre, uring-uringan di sofa, bahkan bantuin Mang Jaja siram kebun keluarga.


"Marissa masih belum keluar?" tanya Arya pada Atik saat berpapasan ketemu di dapur. Atik pun memberitahunya kalau Marissa masih ada di kamar Arya.


Dia juga laporan kalau Marissa tidak pernah keluar dari kamar itu, bahkan untuk makan saja minta di antarkan ke sana.


Arya menggaruk belakang kepalanya kesal. Lalu meminta Atik untuk mempersiapkan satu kamar tamu lain yang hendak di tidurinya malam nanti. Arya malas kalau harus berdebat memperebutkan kamarnya dengan Marissa.


Arya pergi ke belakang rumahnya, duduk di sofa panjang depan kolam renang. Dia memutuskan untuk bermain game sebentar. Tiba-tiba mendapat sebuah pesan suara pada ponselnya.


"Arya ganteng, kamu kok gak ke sini sih udah gue tungguin dari tadi! Lu gak kangen apa sama gue?" tanya Marissa manja.


Arya memutar bola matanya. "Kenapa juga aku harus kangen padanya?" pekik Arya pelan.


'Aku bakal ke sana kalau kamu udah keluar dan pindah ke kamarmu sendiri.' setelah mengetik itu Arya memencet tombol kirim.


"Iiiihh jahat! Aku kan mau bobo sama kamuuu.." rengek Marissa masih dengan pesan suara.


Arya geli mendengarnya. Kesal juga. Bingung untuk membalas apa, akhirnya dia mengabaikannya. Tapi satu pesan suara datang lagi.


"Lagian lu gak usah kegeeran deh! Gue cuma minta lu temenin gue doang. Bobo bersama bukan berarti ngapa-ngapain juga kan, mana kondisi gue lagi begini. Tenang aja, santaiii..Gue gak akan apa-apain lu! Sini gak lu! Atau gue bakal bikin kegaduhan satu rumah ini!" ancam Marissa sungguhan.


Arya mengerutkan kening, berpikir.


'Aku sudah minta Mbak Atik buat siapin kamar, kasihan kan kalau gak jadi dipakai. Kamu sendiri aja disana.' Tak menunggu lama pesan ini langsung contreng dua dan berubah warna jadi biru.


'Yaudah kalau itu mau lu.' Jawab Marissa, kali ini dia membalas dalam pesan teks biasa.


Arya lega membaca ini. Akhirnya Marissa menyerah juga. Tak sadar dia menguap lebar-lebar sambil melemaskan otot-otot tangannya yang pegal. Arya beranjak dari duduknya dan pergi menuju kamar yang sudah disiapkan oleh Mbak Atik sebelumnya.


Pintu terbuka, Arya mengamati setiap sudut ruangan. Rapi dan wangi. Dia duduk diatas kasur sambil merasakan kelembutan sprai bersih untuk nanti ditidurinya.


Saat akan berbaring, dia urungkan niatnya tersebut ketika mendengar sesuatu memukul dari dalam sebuah lemari. Entah mengapa, tengkuk Arya terasa dingin tiba-tiba. Apakah ada sesuatu di dalam sana? Meski selalu dibersihkan, tetap saja kamar ini sudah lama tidak pernah terisi oleh orang karena jarang sekali ada tamu dari keluarga Arya yang menginap di kamar ini.


Arya mencoba menghiraukannya. Meski merinding, ia mencoba berpikir positif. Mungkin itu hanya cicak yang sedang kawin. Dengan pikiran seperti itu Arya mulai berbaring, merasakan kenyamanan di atas kasur yang empuk apalagi setelah berbagai kegiatan fisiknya tadi membuat badannya sangat lelah.


Saat mata mulai terpejam, suara itu terdengar lagi. Kali ini begitu kuat seolah ada sesuatu yang besar dan berat mencoba keluar dari dalam sana.


Bruk! Bruk!


Suara itu terdengar ngeri, tentu bagi siapa saja yang ada di kamar ini dan tahu kalau kamar ini selalu kosong.


Arya terduduk tegap. Setiap kali ada suara dia beringsut mundur.


Bruk! Bruk!


Apa itu? Pikir Arya.

__ADS_1


Arya hendak memanggil siapapun di luar sana tapi ia tahan. Bagaimana kalau itu memang cicak? Tapi bagaimana bisa hewan sekecil cicak mengeluarkan suara sebesar itu? Ah! Atau mungkin saja itu tikus! Ya.. ya.. yaa tikusss!


Arya menenangkan diri sendiri lalu mencoba mendekati lemari itu. Dia ingin memastikannya sendiri. Malu kan kalau dia panggil orang jika ternyata didalam sana hanya memeng ada seekor tikus saja. Harga dirinya bisa tercecer berantakan.


Bruk! Bruk!


Arya mendekat dengan langkah kaki berjinjit. Sepelan mungkin agar tak membuat suara. Dia tak ingin sesuatu di dalam lemari itu tau kalau Arya akan meringkusnya. Tangannya kini mencoba meraih gagang lemari hendak membukanya. Namun saat sudah sampai suara itu terdengar lagi membuat Arya menarik tangannya kembali dan melompat mundur.


Aduh, ngagetin aja! Batin Arya dag dig dug.


Tapi rasa penasaran terus menggerogoti hatinya. Tak ada jalan lain selain membukanya dan bersiap bila ada sesuatu yang akan melompat dari dalam sana nanti.


Arya memegang lagi gagang lemari itu dan membukanya dengan perlahan dannn... benar saja ada sesuatu yang melompat keluar!


"Surpriseeeee!!" seru Marissa dari dalam lemari mengejutkan Arya hingga jatuh terduduk di lantai.


"Yeyeye... Surprise lagii!" seru Marissa rame sendiri.


Arya memegang dadanya merasa shock sekali.


"Ka-kamu kenapa bisa ada disitu?" tanya Arya mengeram.


"Ya bisa dong. Kan surprise!" jawab Marissa enteng, menyebalkannya tak pernah hilang.


Arya segera berdiri. "Keterlaluan kamu Marissa! Mau kamu apa sih sebenarnya? Aku pusing ngadepin kamu yang kekanak-kanakan seperti ini! Aku sudah tak peduli jika kamu merebut kamarku, dan sekarang kamu juga ingin merebut kamar ini?"


"Engga tuh. Gue gak ada niat buat rebut kamar ini."


"Ya untuk surprise!" Marissa tersenyum lebar tanpa memperlihatkan gigi, hanya bibir tipis yang melengkung seperti bulan sabit.


Arya menarik nafas berat. "Marissa, apa kamu tahu? Ini sama sekali tidak lucu. Sangaatt tidak lucu! Lebih baik kamu pergi dari sini sekarang. Aku cape." pinta Arya datar.


Marissa manyun dan mengelak manja. "Aaaa~ Gak mau ah.. Gue kan ke sini mau ketemu sama lu. Gue kan bilang mau bobo sama lu Arya.."


Arya diam saja tak peduli.


"Yah yah Arya yah?" tanya Marissa lagi dengan intonasi yang imut.


Melihat Marissa yang seperti itu terlintas sebuah pikiran licik dibenak Arya.


'Inilah waktunya!' pikir Arya.


"Baiklah." Marissa membulatkan bola matanya mendengar sepatah kata akan sebuah harapan.


"Kita bisa tidur bareng di kamar ini. Sekarang kamu tidur duluan saja disana. Aku mau ke toilet dulu sebentar."


"Beneran nih?" goda Marissa tak yakin.

__ADS_1


Arya mengangguk tersenyum.


Melihat senyum Arya yang tulus membuat dia percaya. Marissa pun berjalan menuju tempat tidur di kamar itu. Dia duduk pelan-pelan agar perutnya tidak sakit. Arya berjalan menuju toilet sambil melirik Marissa, tapi ada yang aneh, tatapannya tampak mencurigakan.


Marissa seperti menyadari sesuatu, dan Arya yang melihat Marissa seperti sudah tahu akal liciknya langsung lari berbelok arah menuju pintu keluar dengan kecepatan penuh.


Marissa berdiri dengan sigap sambil mengejar Arya meski tertatih. Terlihat punggung Arya dari belakang berguncang, dia berlari sekuat tenaga menuju kamarnya. Sesampainya di depan pintu, Arya menoleh ke belakang melihat Marissa berlari melambaikan tangan sambil berseru memanggil namanya.


Tak pikir panjang, Arya membuka pintu kamar lalu menutupnya.


BRAK! Dentuman keras menggema. Tak lupa dia mengunci pintunya dari dalam. Arya bernafas lega saat bersender di balik pintu itu.


"Arya! Arya buka woy! Sialan lu nipu gue!" teriak Marissa dari luar sambil berusaha membuka pintu. Gagang pintu kamar itu bergerak-gerak seolah akan copot dari tempatnya. Gedoran Marissa terasa mengguncangkan punggung Arya.


"Arya! Tega ya lu mempermainkan gue kayak gini!" jerit Marissa frustasi.


"Kamu juga sudah mempermainkanku Marissa, anggap saja kita impas!" teriak Arya dari dalam kamarnya.


"Arya.. Akh! Akh! Sakittt..." rintih Marissa. Mendengar itu, Arya tak tergerak sedikitpun untuk membuka pintu. Karena suara yang di dengar sekarang ini sudah tidak asing lagi ditelinga Arya. Suara tipuan yang persis ia dengar pagi tadi, membuatnya harus mengalah dan merelakan kamar tercintanya untuk ditempati oleh Marissa. Tapi kali ini, Arya pastikan bahwa dia tidak akan tertipu lagi.


"Loh loh ada apa Rissa? Kamu kenapa?" Sama-sama terdengar suara Mama mendekat.


"Sa-sakit Ma.." Marissa meringis.


Hmm pasti Marissa akting lagi. Aku tak akan percaya lagi dengannya.


"Arya! Arya! Buka pintunya, Nak! Marissa kesakitan ini!" Kali ini Mama yang menggedor.


Pasti Mama diminta bersekongkol dengn Marissa! Pikir Arya lagi.


"Mau kalian akting apapun aku tak akan peduli. Lebih baik Mama bawa Marissa dari sana, Ma." teriak Arya masih dari dalam kamar.


"Anak ini kenapa sih? Emang akting apa maksudnya?" tanya Mama bingung, suaranya samar namun masih terdengar oleh Arya.


"Arya kamu kenapa sih? Ini Marissa beneran kesakitan loh!" seru Mama lagi. Namun tak ada jawaban dari Arya.


"Mbak! Mbak Atik! Mbak Wiwi! Mbak Mira! Tolong siapapun ke sini Mbak! Bantu saya bawa Marissa! Papaaaa! Paa! Ke sini Pa! Bantuin Mama!" teriak Mama seperti panik karena tak ada seorangpun disana yang membantunya, bahkan Arya sekalipun.


"Huh, pintar sekali ya kalian, sekarang melibatkan semua orang di rumah ini." gerutu Arya menuju kasurnya lalu merebahkan diri begitu saja diatasnya.


Di luar terdengar kegaduhan tapi karena Arya pikir itu hanya rekayasa semata, makanya dia tak ada minat untuk mengecek apa yang terjadi di sana.


Perlahan matanya mulai mengantuk. Arya lelah sekali hari ini, matanya mulai tertutup. Meski begitu, dia menyadari sesuatu. Ada bau lain di kasurnya. Baunya enak, wangi sekali.


Pasti ini bau bekas Marissa, batin Arya.


Entah bagaimana caranya, tapi kini mata Arya benar-benar sudah menutup ketika suasana di balik pintu kamarnya masih riuh, bahkan Papa juga terdengar memanggil dia dari balik pintu tersebut.

__ADS_1


Ah, sudahlah mungkin itu hanya suara halusinasi dalam mimpi. Setelah berpikir begitu, kesadaran Arya benar-benar mulai menghilang. Dia tertidur lelap seperti bayi yang baru dikeloni oleh ibunya.


***


__ADS_2