
Arista gundah. Dia memberanikan diri bertanya pada Arya, daripada nanti dia berpikir macam-macam pada laki-laki dihadapannya yang mana statusnya sudah menjadi suami orang.
"Berarti gimana maksudnya? Jangan bilang kamu suka sama gue? Makanya kamu pakein itu jam sampe buluk, ngaku deh!" tanya Arista maksa.
Lagi. Arya tertawa ngakak.
"Ahahaha, astaga Arista, ga mungkinlah aku suka sama kamu. Kalau aku suka toh kenapa aku ga kejar aja kamu sampai Singapura?"
Arista berdecak pelan sambil mengulum bibirnya. Ia termenung, tatapannya kosong menatap mangkuk sambil memainkan sisa buburnya. "Iya sih, bisa aja kamu susul gue kesana, gue juga percaya kok kalau kamu pasti sanggup, kan duit kamu banyak. Gue hanya aneh aja, kalau emang ga suka ngapain juga kamu pakein sampe kayak gitu? Ga malu apa? Padahal kan kamu bisa beli jam tangan bermerek."
Arya melipat kedua tangannya dan menopang dagunya menatap Arista. "Ya enggalah, ngapain mesti malu, kan ini kenang-kenangan. Lagian jam ini juga ada sejarahnya " kenang Arya.
"Hahh? Sejarah apaan?" tanya Arista mendongak tak mengerti.
"Kamu ga inget ya kenapa kamu sampe kasih jam tangan ini?" tatap Arya lekat, mata mereka bertemu.
Arista mengingat-ingat, ia jadi terkenang kejadian saat remaja dulu.
Saat itu, hari Rabu, ia ingat karena pelajaran olahraga tepat di hari itu. Sama seperti siswa di sekolah manapun mereka menyediakan pakaian olahraga wajibnya.
Namun entah mengapa saat itu Arista lupa membawanya, alhasil mau tidak mau dia harus meminjam pakaian tersebut dari kelas sebelah.
Singkat cerita, dia berhasil mendapatkannya dan mengikuti pelajaran olahraga sebagai mana mestinya. Karena itu baju yang ia pinjam maka ia meminta ijin untuk membawa pulang dan mencucinya dan teman dari kelas sebelahnya pun tak keberatan.
Tapi entah bagaimana, dijalan ia dihadangi geng cowok-cowok nakal yang mana ketua gengnya sudah ditolak mentah-mentah setelah menyatakan cintanya pada Arista. Karena Arista menolak begitu kasar, maka sakit hatilah ia hingga kejadian yang tak terduga ini harus ia alami.
Arista pulang berjalan kaki sendirian, hingga tiba dijalan sepi yang sampingnya sungai, tanpa peringatan, munculah mereka menghadang Arista.
Cowok yang di tolak itu mengungkapkan ketidaksukaannya pada cara Arista yang menolaknya dengan begitu sombong. Tak habis-habisnya dia mengatai Arista, caci maki dan ejekan pun tak elak keluar dari mulutnya dan teman segengnya.
Arista panik, antara takut dan sakit hati ia pun menangis. Cowok itu menyuruh Arista bersujud dan meminta maaf jika ingin dilepaskan. Tapi Arista yang masa mudanya begitu angkuh itu enggan melukai harga dirinya. Ia tak bisa berbuat apa-apa tapi ia juga tak sudi melakukan apa yang cowok itu suruh. Arista hanya berharap akan ada keajaiban, dia berharap akan ada orang yang menolongnya atau misal saja ada orang dewasa yang sekedar lewat dan melihat ia di keroyok lalu mengusir sekelompok berandalan itu. Tapi itu mustahil karena jalanan begitu sepi dan langit siang itu begitu gelap.
Cowok itu memaki Arista dengan kejam, mengatainya miskin berlagak angkuh, sok kecantikan bahkan cowok itu menyamai dirinya dengan perempuan bayaran yang ada di pasar tengah malam.
Arista yang sakit hati mendengarnya semakin bersikeras untuk tidak memohon. Ia tak ingin melukai harga diri setelah hatinya terluka.
Dengan kejam cowok itu menarik tas Arista, melepas paksa hingga talinya putus. Dan tidak hanya itu, dia dengan tega melempar tas itu ke sungai.
Arista menjerit tak karuan, ia teringat buku-buku dan pakaian olahraga yang di pinjaminya.
Dengan cekatan tanpa pikir panjang, ia berlari pergi menuju sungai untuk mengambil tasnya.
Geng cowok itu panik melihat aksi Arista yang nekat nyebur ke sungai, mereka mulai saling menyalahkan dan tutup mata lalu tanpa komando satu persatu kabur meninggalkan tempat.
Ketua geng itu bingung, ia pun ikut panik ketakutan, bagaimana bila terjadi sesuatu pada gadis itu? Tapi ia juga terlalu takut kalau harus ikut masuk ke dalam sungai mana langit sudah mendung sekali, hujan pasti turun sangat besar. Belum juga setetes air mengenai kulitnya tapi dipikirannya sudah mengada-ada, dia takut hanyut di sungai dan terbawa arus entah kemana. Ditambah lagi teman-temannya yang sudah lari kocar-kacir meninggalkannya karena tak ingin ikut disalahkan.
Lalu tiba-tiba sebuah teriakan mengagetkannya. "Woi, apa yang kalian lakukan?!"
Ketua geng itu terkejut bukan main, ia bahkan sudah tak ambil pusing lagi. Tanpa menoleh ia pergi terbirit-birit seperti di kejar anjing gila. Sedangkan Arista yang sedang berjuang sudah sampai ditengah sungai untuk mengambil tasnya.
"Arista, apa yang kamu lakukan?!" jerit orang yang teriak tadi.
"Tas aku. Aku mau ambil tas aku!" jawab Arista setelah menoleh dan mendapati Arya sudah di bibir sungai.
"Ya ampun, kamu ngapain sih! Kok tas kamu bisa ada disana?" tanya Arya panik.
__ADS_1
Lalu tanpa aba-aba hujan turun begitu derasnya.
Kepala Arista mulai memanas, bagaimana tidak, dia panik maksimal. Dia takut sungai meluap dan menyeretnya. Sebelum semua itu terjadi, dengan sekuat tenaga ia meraih tasnya, tapi entah apa yang ia injak, ia terpeleset dan jatuh. Air yang tadi hanya sepinggangya kini melahap seluruh badan Arista.
Arya yang melihat kejadian itu sangat panik. Ia pun melempar tasnya ke rerumputan dan tanpa pikir panjang ia masuk ke dalam sungai, dengan cekatan ia mendapatkan Arista yang napasnya megap-megap.
Seluruh tubuh Arya ikut basah setelah masuk sungai dan terkena hujan.
Dengan sigap ia meraih tas Arista, lalu menggendong Arista di punggungnya. Dan membawa gadis itu ke tepian bersama tas yang ia kaitkan di lehernya. Rasanya mual sekali karena tali tas itu putus ia terpaksa melilitkannya di leher dan menggigit ujung talinya agar tidak terjatuh kembali. Belum lagi ia harus mendongak agar dapat melihat jalan alhasil wajahnya kesakitan tertimpa air hujan yang tajam karena saking derasnya.
Ia berhati-hati agar tidak terpeleset hingga sampailah mereka berdua ditepian dengan selamat.
Arista turun dari punggung Arya. Wajahnya tampak pucat. Ia pasti syok karena terjatuh tadi.
"Kamu ga apa-apa? Ada yang luka?" tanya Arya sambil mengecek tubuh Arista.
Arista menggeleng lemah. "Lu juga ga apa-apa, kan?" tanya Arista tak enak hati. Karena kalau bukan karena Arya, entah bagaimana nasibnya sekarang.
Arya menggeleng sambil menggoyangkan kakinya agar air keluar dari sepatunya.
"Ayok kita pulang, hujan semakin deras," ajak Arya.
Arya pun memberikan tas dilehernya tadi pada Arista, lalu mengambil tasnya sendiri yang ia lemparkan ke rerumputan. Saat ia mengambil tas itu, betapa terkejutnya Arya melihat jam tangannya tak lagi berdetak.
"Aduuhh mati aku!" jerit Arya membuat Arista terkejut.
"Kenapa? Lu ada yang terluka, ya?" tanya Arista khawatir.
"Bukan, ini.. Jam tanganku mati aarrgghhh.." jawab Arya frustasi. "Padahal ini kado ulang tahun dari papaku kemarin," katanya lagi. Mendengar itu ditambah melihat wajah Arya yang kacau membuat Arista merasa bersalah.
Arista menunduk begitu dalam. "Maaf ya gara-gara nolongin gue, lu harus masuk sungai dan bikin jam tangan lu jadi rusak," kata Arista sedih.
"Gak apa-apa kok. Bukan salah kamu, kan ini juga atas kehendak aku sendiri mau masuk ke sungai," ujar Arya mencoba menenangkan.
Tapi yang ada Arista menangis dan berteriak membuat terkejut Arya.
"Yaiya emang salah lu sendiri kenapa harus masuk ke sungai segala! Makanya jadi orang jangan suka ikut campur!" bentak Arista sesenggukan dengan air mata yang mengalir bercampur dengan air hujan.
Setelah berkata seperti itu, Arista lari mendaki ke atas menuju jalan raya. Dia pergi begitu saja meninggalkan Arya yang terpaku ditempatnya karena bingung mengapa jadi gadis itu yang marah.
Esoknya. Arya pergi ke sekolah seperti biasa, tapi dia tidak dapat menemukan Arista di mejanya. Apakah dia sakit karena kehujanan kemarin? Tapi aneh tidak ada keterangan sama sekali. Bahkan surat sakit ataupun ijin dari Arista tak ada yang menerimanya. Karena itu jadinya petugas absensi menyatakan alpa di buku kehadirannya.
Aneh, pikir Arya.
Kalau ga sakit, terus kemana ya dia sampai ga masuk sekolah?
Apa dia malu ketemu sama aku karena kejadian kemarin? Harusnya dia khawatir bukannya malu, jelas-jelas dia pergi gitu aja tanpa liat aku udah naik ke jalan atau belum. Gimana kalau air sungainya tiba-tiba besar sebelum aku naik dan terjadi apa-apa padaku?
Terus kenapa juga malah dia yang marah sama aku? Ah, ga beres emang itu anak!
Tunggu. Ataukah.. apa mungkin dia takut kalau aku bakal minta ganti rugi jam tangannku yang rusak itu ya?
Tunggu sebentar!
Astagaaa.. Apa mungkin dia pindah sekolah gara-gara di bully cowok-cowok kemarin? Ah, malang sekali gadis itu.
__ADS_1
Semua pertanyaan tumpang tindih dibenak Arya, membuatnya tidak fokus satu hari itu.
Hingga akhirnya semua pertanyaan itupun terjawab keesokan harinya.
Arista masuk kelas dengan wajah yang terpasang seperti biasanya. Ga murung, ga sedih, ga bahagia. Ya, biasa-biasa aja.
Tapi setelah melewati pintu dia tidak langsung pergi ke mejanya, namun ke meja Arya.
Arya yang bingung memasang senyum canggung. "Kamu kenapa kemarin ga masuk?" tanya Arya basa-basi walau sebenarnya ia penasaran sekali. Dalam hati ia bersyukur, rupanya Arista tidak pindah.
"Gu-gue.." kata Arista terbata "nih!" gadis itu menaruh sesuatu diatas meja Arya. Sebuah kotak hitam. Teman-teman sekelas mereka yang sedari tadi curi-curi pandang penuh kecurigaan pada kedua orang itu mulai bersorak ga karusan.
Kebisingan dari bisik-bisik angin membahana ke seluruh kelas. Bahkan orang-orang dari kelas lain ikut kepo dan mengintip dari jendela. Mereka mulai menyebar gosip kalau Arya ditolak oleh Arista, dan nasibnya sama seperti Rikaz, ketua geng anak nakal yang kemarin membully Arista. Bahkan mereka berasumsi kalau isi dalam kotak itu adalah cincin atau kalung emas.
"maaf soal yang kemarin karena gue rusakin jam elu, maksud gue.. ekhmm.." Arista berdeham "jam kamu," ujarnya hati-hati membetulkan cara panggilannya pada Arya. Jantungnya berdegup kencang seperti orang yang sedang menyatakan cinta, tapi degup ini bukan karena perasaan seperti itu, melainkan karena ia takut kalau Arya akan marah dan menolak pemberiaannya karena Arista tidak sanggup memberikan jam tangan yang sama untuk ganti rugi pada Arya.
"Walau harganya ga sepadan sama jam tangan kamu yang kemarin rusak, tapi seenggaknya aku bisa kasih yang mirip," ucapnya pelan tanpa melihat wajah Arya. Arista tak ingin Arya mendapati wajahnya yang ia yakini sedang memerah saat ini. Karena ini kali pertama ia memberikan sesuatu pada cowok meskipun Arya bukan pacarnya.
Dan dia pun tak tau apakah perasaan malunya ini sama kalau ia kasih sesuatu pada pacarnya, karena dia belum pernah berpacaran sama sekali
Arya yang diam-diam menyembunyikan senyumnya itu lantas membuka kotak pemberian Arista.
Teman-temannya yang kepo berebutan melihat isi kotak yang ternyata jam itu lalu serempak mengubah asumsi. Mereka mengalihkan topik kalau ternyata Arya bukan ditolak Arista. Tapi justru Arista lah yang sedang nembak Arya dengan jam tangan.
Suasana riuh, Arya yang menyadari hal tersebut langsung mengambil jamnya dan memakai benda itu di lengannya.
"Kebetulan banget, karena jamku masih dibenerin jadi bisa pake ini. Makasih ya Ar!" kata Arya sambil tersenyum.
"I..iya sama-sama, Ar!" kawab Arista, ia terkejut saat mengatakan itu. Seruan nama mereka sama-sama AR!
Aduhh pikiran apa ini?! Pikiran Arista membahana ditambah melihat senyum Arya. Senyumnya manis sekali membuat mata Arista terpaku seolah waktu berhenti berdetak namun kesadarannya segera cair kala riuh sorakan membahana dalam seisi kelas itu.
"Ulala.. ada yang jadian nihh.. PJ! PJ woy buat sekelas," teriak Maya si tukang gosip.
"Uhh cewek miskin pacaran sama anak orkay nih yee!" ejek yang lainnya.
"Ciee.. ciee Arya love Arista, prikitiw!" sambung anak lain lagi.
Arista menganga, tak yakin dengan apa yang didengarnya. Ia membahasakan tubuhnya bertanya pada Arya. Tapi Arya hanya mengangkat bahunya tak tahu.
Arista mengepal tangannya geram.
"Udah jangan didengerin, balik sana ke meja kamu bentar lagi guru datang," ujar Arya tenang walau sebenarnya wajahnya memerah.
Benar saja, belum sempat Arista bicara lagi ternyata guru mata pelajaran pertama datang. Murid-murid yang tadi berkeliaran dan berkerumun langsung sibuk menuju meja masing-masing. Dan juga, murid dari kelas lainnya ikut kocar-kacir menuju kelasnya sendiri.
Walau sudah duduk di meja masing-masing tapi mereka tetap berbisik-bisik dengan teman sebangkunya sambil sesekali melirik pada Arya dan Arista.
Hal itu membuat Arista risih, ingin sekali ia punya telinga panjang yang bisa mendengar apa yang sedang mereka omongin tentangnya. Kadang Arista berpikir untuk memelihara tuyul saja.
Ett, tapi bukan untuk nyupang nyari uang, melainkan agar jadi suruhan buat dengerin apa yang mereka bicarakan sambil sedikit menjahili mereka karena saking kesalnya.
Gue jadiin anak buah juga tuh para tuyul buat jadi mata-mata kayak Detective Conan. Pikir Arista.
Arista melirik teman sebangkunya, tapi temannya pun sama. Dia tampak sengaja cepat-cepat membuang muka lalu pura-pura memperhatikan guru di depan kelas seolah tak ingin ditanya.
__ADS_1
Mereka kenapa sih? Aneh deh.
***