Terpaksa Menikahi Pelakor

Terpaksa Menikahi Pelakor
Bu Aga Marah-Marah


__ADS_3

Mama Arya buru-buru memeluk Marissa lalu mengecek keadaannya satu persatu, dimana yang luka dimana yang sakit. Tapi Marissa hanya menjawab canggung karena bagi dia harusnya Mama tidak perlu berlebihan seperti ini, yang ada Marissa malu pada Mama karena sudah memakai duit anaknya sebesar 3 Miliar untuk membebaskan dirinya sendiri.


"Dia tidak apa-apa, hanya saja sedikit gila, Ma. Tapi nanti juga waras lagi, kok!" jawab Arya ngasal karena masih mengingat halusinasi Marissa saat di ketemukan tadi.


"Hush, kamu itu kalau bicara, ya!" hardik Mama.


Mendengar percakapan itu Papa hanya tertawa lalu menjelaskan kejadian yang membuat Arya bicara seperti itu. Marissa sebagai tokoh yang dibicarakan hanya manyun-manyun malu.


"Tapi kan Papa juga tadi nangis, ya kaann," goda Marissa tak mau kalah.


"Yaiyalah Nak. Kamu kan sudah Papa anggap sebagai anak sendiri, bagaimana ceritanya tidak sedih saat tau kamu di culik dan akhirnya kita bisa dipertemukan kembali," jawab Papa dengan berlinang air mata. Tampak wajahnya yang menahan kesedihan itu membuat Marissa jadi merasa bersalah sudah mengatakan hal seperti tadi.


"Tapi kamu benar tidak apa-apa kan, Rissa?" tanya Mama lagi memastikan.


Belum juga Marissa menjawab tapi Mama sudah mulai heboh lagi. "Ya ampun, Nak. Ini tangan kamu sampai begini! Kok bisa memar sih, ini tergores juga ya ampuunnnn," seru Mama khawatir melihat bekas tali di pergelangan tangan Marissa.


"Tidak apa-apa, Ma. Ini bisa sembuh kok, tinggal tunggu waktu aja," jawab Marissa.


"Iya Ma. Dia kuat loh, cuma masalah luka gitu mah gak akan berasa, buktinya nyampe sini bukan minta di sembuhin lukanya tapi malah langsung minta makan, abis 2 porsi nasi kare coba, Ma. Bayangin 2 porsi nasi karee!" ucap Arya penuh penekanan saat menceritakan hal itu pada Mama karena baginya hal tersebut merupakan sesuatu yang lucu. Mama yang tadinya panik pun raut wajahnya kini mulai melemas, karena kekhawatirannya kini telah berganti menjadi rasa penuh syukur.


Marissa jadi makin tidak enak hati pada mereka, bagaimana bisa keluarga ini memperlakukan dia dengan baik, bahkan tidak ada satu pun dari mereka yang mempermasalahkan uang 3M tersebut. Apa karena itu uang yang kecil bagi mereka atau karena Marissa sudah berjanji akan mengembalikannya nanti jadi mereka tidak risau?

__ADS_1


"Ma, Pa, Arya. Seusai apa yang Rissa katakan sebelumnya soal uang yang.."


"Sudah Rissa, jangan kamu bicarakan lagi hal itu. Itu bukan hal yang penting sekarang, yang terpenting adalah keselamatan kamu, Nak. Kita bisa bahas itu nanti. Papa dan Arya juga pasti setuju dengan ucapan Mama ini, iya kan Pa, Arya?" tanya Mama yang tadi langsung menyela omongan Marissa tanpa dia selesaikan terlebih dahulu.


Marissa jadi terharu sekaligus merasa bersalah karena selama ini dia pikir Mama mertuanya kurang suka padanya. Tapi sekarang Marissa semakin yakin bahwa kekhawatirannya selama ini sangatlah tidak berdasar, toh buktinya Mama mertua ada disini sekarang langsung datang setelah di kabari oleh Arya.


"Gila, nasi kare dua porsi," sindir Arya meledek untuk mencairkan suasana dan benar saja mereka tertawa karena hal itu.


Besoknya Bu Aga diberitahukan situasi dan kondisi yang telah di alami oleh Marissa via telepon. Tak lama kemudian beliau datang ke rumah sakit langsung menuju kamar Marissa sambil marah-marah. Air mata membanjiri pipinya, dia menangis terisak memeluk Marissa.


"Kalian itu ya kurang ajar sekali! Hal penting seperti itu tidak kalian beritahukan pada saya! Marissa ini anak saya! Bagaimana jika terjadi sesuatu yang buruk padanya! Kalian mau bungkam saja sampai hal itu terjadi, hah!" teriak Bu Aga tak karuan.


"Kamu itu ya bela terus mereka! Terus kalaupun kamu yang minta masa iya mereka tega gak beritahu Mama! Pikir saja pakai logika!"


Melihat Mama dan Arya diam saja membuat Papa jadi Marissa bertanggung jawab. Apalagi malam sebelumnya istrinya itu kekeh sekali ingin memberi tahu pihak keluarga Marissa tapi di cegah terus olehnya.


"Maafkan kami, Bu Aga. Itu saya sendiri yang tidak mengijinkan untuk memberi tahu ibu karena kami takut ibu syok dan cemas. Mungkin ini terdengar seperti sebuah alasan tapi saya sendiri merasa bertanggungjawab atas keselamatan Marissa, maka dari itu sebelum saya mengabarkan hal ini saya berjanji harus membawa Marissa terlebih dahulu dengan keadaan selamat seperti saat ini."


"Ah, sudahlah. Memang iya itu kan alasanmu saja! Saya sudah beritahu hal ini pada suami saya, dan beliau akan memajukan jadwal untuk pulang hari ini juga. Ingat ya, hal ini tidak bisa di biarkan begitu saja, saya akan minta suami saya untuk menuntut kalian sekeluarga karena lalai menjaga anak saya satu-satunya ini!"


"Mama!" bentak Marissa tak sadar yang mengejutkan Bu Aga dan lainnya.

__ADS_1


"Menuntut apa maksud Mama? Bukan Mama yang harusnya menuntut mereka, yang ada Marissa yang di tuntut oleh keluarga Arya karena sudah meminta uang tebusan 3 Miliar untuk menyelamatkan Rissa, Ma!"


Tampak raut syok pada wajah Bu Aga, bahkan tubuhnya terasa lunglai sambil memegang dadanya yang mendadak sakit saat mendengar jumlah uang yang tadi Marissa sebutkan. Bukan berarti dia tidak punya uang sebanyak itu, hanya saja Bu Aga kaget karena tidak habis pikir dengan penjahat yang memeras putrinya dengan tidak tanggung juga tidak tahu malu dan gila!


"Gila ya! Penculik macam apaan yang minta uang sebanyak itu? Lalu bagaimana dengan orang itu, apakah kini sudah tertangkap?"


Marissa menggeleng lemah. "Marissa juga yang minta untuk tidak menangkapnya. Uang sebanyak itu adalah kesepakatan supaya Marissa terbebas dari orang itu."


"Maksud kamu apa, Nak?" tanya Bu Aga tak paham.


"Maksud Rissa adalah, itu seperti uang jaminan supaya Rissa bisa bebas dari wanita gila itu sehingga dia tidak bisa mengganggu Rissa lagi, Ma. Karena yang menculik Rissa itu adalah Mika. Mantan istrinya Tio," jelas Marissa.


"Tio si bajingan itu? Luar biasa! Ada apa dengan mereka berdua?! Suami istri bekerja sama menghancurkan hidup anak saya! Ini tidak bisa di biarkan! Mama harus suruh orang buat tangkap wanita itu!"


"Jangan Ma, Rissa mohon. Jika Mama lakukan itu yang ada keselamatan Rissa akan kembali terancam. Rissa hanya ingin lepas dan bebas dari masa lalu. Lagian itu uang sebagai bentuk pertanggungjawaban Rissa kepada anak-anak mereka. Meskipun Rissa korban, tapi di sisi lain Rissa juga adalah pelaku yang menghancurkan rumah tangga mereka. Jadi Rissa mohon supaya Mama tidak melakukan hal tersebut, ya?"


"Bagaimana bisa kamu jadi pelaku perusak rumah tangga wanita gila itu? Nak, kamu itu kan di jebak oleh pasangan tersebut. Jika mereka hidup susah itu bukan urusan kamu, begitu juga dengan kehidupan anak mereka itu bukan tanggung jawab kamu."


"Tapi hidup anak mereka hancur karena Rissa masuk ke dalam kehidupan mereka. Maka dari itu, Rissa harus bertanggung jawab, Ma." Wajah Marissa begitu memelas, dia tidak ingin masalah yang sekiranya sudah selesai malah kembali panjang.


***

__ADS_1


__ADS_2