
Indra menyetir mobil dalam diam. Sesekali dia melirik ke arah Arista yang duduk disebelahnya.
Indra ingin ajak bicara tapi dia sungkan karena tau apa yang ada dipikiran Arista sekarang. Rasanya pasti sulit jika harus bicara, sampai-sampai sepanjang perjalanan Arista hanya diam sambil membuang muka dan hanya melihat jalanan di kaca sampingnya.
"Aku minta maaf atas nama Mamiku. Biasanya Mami tidak seperti itu, dia orang yang baik hati tapi entah mengapa hari ini Mami malah bersikap seperti itu padahal kalian baru pertama kali bertemu," ucap Indra dengan tulus penuh penyesalan.
Arista menolehkan wajahnya dan menatap Indra lekat-lekat lalu tertawa terbahak, dia bahkan hampir terjungkal ke belakang jika tidak ada sandaran di punggungnya.
Indra bolak balik menoleh jalanan kemudian ke arah Arista. Merasa bingung, apanya yang lucu sampai Arista tertawa seperti itu?
"Kamu kenapa minta maaf segala sih? Kamu kira aku sakit hati atas perlakuan mamamu tadi? Ya enggaklah! Aku kan di bayar untuk pekerjaan ini. Kejadian tadi hanya salah satu dari banyaknya resiko yang harus ku tanggung saja. Jadi kamu tenang, tidak perlu tidak enak hati seperti itu. Lagipula apa hubungannya dengan pertama kali bertemu, seolah-olah aku memang pacar aslimu saja," ujar Arista yang dilanjutkan dengan masih tertawa, "aduh.. aduh.. ada-ada aja!" sambungnya lagi, merasa geli.
Indra menelan ludah. Wajahnya memerah. Dia benar-benar salah menilai Arista. Indra sudah kepikiran semenjak pesta itu harus bersikap seperti apa pada Arista. Tapi ternyata orang yang dia khawatirkan malah bersikap sebaliknya dan menganggap apa yang terjadi tadi seolah lelucon semata. Apa katanya? Bagian dari resiko pekerjaan? Ck! Bisa-bisanya dia bilang seperti itu. Dan lagi-lagi Indra sakit hati dengan sikap Arista yang jauh dari ekspektasinya.
"Aku turun di jalan depan saja," pinta Arista sambil menunjuk ujung jalan sebelum lampu merah.
"Rumahmu di sana?" tanya Indra berusaha menepi.
"Ya. Hanya sedikit lagi saja masuk ke dalam sana," ujar Arista kali ini menunjuk sebuah belokan jalan raya besar di sebalah kiri tepat Indra menghentikan mobilnya.
Arista turun tanpa banyak bicara. Berpamitan pun tidak. Dia malah melambaikan tangannya seperti mengusir supaya Indra terus menjalankan mobilnya.
__ADS_1
Indra pun mulai melaju meninggalkan Arista yang berdiri sendiri. Tepat di lampu merah ada belokan untuk jalan memutar dan Indra memutarkan mobilnya di sana. Tapi setelah memutar, Indra mengehentikan mobilnya di bahu jalan. Sengaja untuk mengamati Arista karena rupanya gadis itu masih berdiri tepat di tempatnya tadi dia diturunkan. Dan betapa terkejutnya Indra karena sebuah taxi berhenti di tempat Arista berdiri itu yang kemudian gadis tersebut masuk ke dalam taxi.
Indra sadar Arista sedang membohonginya. Dia berusaha menyembunyikan tempat tinggalnya dari Indra. Semakin kecewa dan sakit hati Indra rasakan. Kenapa Arista bersikap begitu padanya?
Meski begitu taxi tersebut melaju lurus setelah melewati lampu merah. Setidaknya Arista tidak bohong mengenai arah pulangnya.
Melihat taxi yang dinaiki Arista sudah hilang dari pandangan, Indra pun menancapkan gas untuk lanjut pulang ke rumah.
Di dalam taxi yang ditumpangi Arista, tampak gadis itu menitikan air mata.
Rasa sakit yang dia tahan bahkan sebelum pesta sudah membucah dan meracuni seisi hatinya. Bisa-bisanya dia di remehkan oleh Indra beserta keluarganya.
Hanya karena sebuah kesalah pahaman yang membuat Indra bisa bermulut besar sampai membuat Arista akhirnya terkesan memiliki hutang, Arista harus rela menyisihkan sebagian gajinya untuk menyicil hutang tersebut pada Indra, padahal dari uang itu dia bermaksud untuk memulai hidup baru. Bahkan kursus yang dia idamkan saja harus tertunda lagi karenanya.
Arista tau Indra sadar kalau Arista memang semiskin itu. Hanya karena permintaannya di tolak jadi Indra dengan seenaknya menawarkan uang begitu saja? Apa Indra tidak memikirkan harga dirinya sama sekali? Dia kira bisa membeli apapun dengan uang yang dia punya? Bagi Indra uang segitu mungkin recehan, tapi Indra pasti tau kalau uang itu sangat berarti bagi Arista jadi Indra memanfaatkan hal itu untuk membeli persetujuan Arista?
Karena merasa terinjak-injak begitulah akhirnya Arista mengiyakan permintaan Indra dengan syarat bayaran berupa uang. Dia kira Arista sebaik itu untuk bisa diremehkan?
Bahkan ada fase di mana Arista berpikir licik kalau ucapan Indra ini hanya sesumbar. Hanya karena dia seorang dokter, apa masuk akal mau mengeluarkan uang sebanyak itu untuk hal aneh seperti menjadikan Arista sebagai kekasih bohongan? Karena itu Arista jadinya berani balik menantang Indra dan mengiyakan hal tersebut.
Lihat kan bagaimana wajah bodoh Indra yang terkejut dengan persetujuan Arista waktu dulu? Dia pasti menyesal sudah ucapkan nominal sebesar itu! Baru saja Arista merasa menang tapi dia jadi kesal lagi ketika menerima notif di ponselnya kalau uang sebesar 100 juta sudah masuk ke rekeningnya. Dan makin marah lah Arista saat tau dari mana uang tersebut. Pantas saja Indra gampang sekali mengeluarkan uang sebanyak itu, orang dia cucu konglomerat. Harga diri Arista semakin tercabik kala mengetahui kenyataan di hadapannya itu.
__ADS_1
Kurang ajar sekali laki-laki ini! Hanya karena kamu kaya jadi bisa seenaknya padaku?! bentak Arista dalam hati. Tangis Arista pecah mengingat-ingat hal tersebut.
Hanya karena aku miskin jadi bisa seenaknya mempermainkanku? jeritnya lagi masih dalam hati.
Karena Arista merasa Indra benar-benar merendahkannya, sekalian saja dia bersikap seperti apa yang Indra mau. Biar saja Indra berpikir kalau Arista itu matre. Dia sudah tak peduli.
Jujur saja, awalnya Arista sendiri pun mulai tertarik pada Indra. Apalagi selama ini Indra sering sekali menemuinya dan tidak sedikit dia berikan perhatian yang selama ini Arista idamkan. Tapi Arista tau sekarang kalau semua perhatian Indra itu hanyalah kebohongan belaka yang sudah disiapkannya untuk hari ini. Demi meminta Arista jadi pacar bohongan dan memuaskan kakek beserta keluarga besarnya, Indra merampas kepercayaan Arista padanya.
Yang mana tujuan itu pun terdengar sangat memuakkan, Indra berkata kalau bantuan Aatista ini bisa membebaskan Indra dari segala tekanan untuk memiliki calon istri yang selalu keluarganya tanyakan. Dan jika sudah pada hari mendekati obrolan tentang seputar pernikahan, Indra akan berpura-pura putus dengan Arista. Sesimple itu. Tapi hal simple itu amat sangat menyakiti Arista.
Dia pikir dia siapa sampai bisa bermain-main denganku? Belum cukup menyakiti dengan permintaan konyolnya itu kini ibunya pun ikut merendahkan dan mempermalukanku di muka umum? Hanya karena aku miskin mereka jadi seenaknya menginjak-injakku?
Tangis Arista pecah bahkan sampai sesegukan. Dia bahkan tidak sadar ketika supir meliriknya dari kaca spion dan bertanya apakah dia baik-baik saja?
Tidak mendapati jawaban yang diinginkan, si supir itu berinisiatif memberikan tisu pada Arista. Baru saat itulah Arista sadar kalau dia sedang menangis sambil ditonton orang lain. Betapa memalukan sekali rasanya.
"Ma-maaf, Pak. Bikin.. gak nyaman ya, hiks," ucap Arista terbata.
"Tidak apa-apa, Mbak. Tidak masalah menangis saat sedih, tidak usah pedulikan saya jika merasa malu atau risih. Semua orang pasti punya masalahnya masing-masing. Nanti bilang saja kalau sekiranya sudah dekat ya," ujar supir itu ramah berusaha memberikan privasi pada Arista yang mana hal itu tidak mungkin lagi dia dapatkan karena Arista sudah tersadar kalau dia tidak sendiri di sana.
Sepanjang jalan Arista sibuk membersihkan ingus di hidungnya sambil menyenderkan kepala di kaca dan melihat jalanan di samping jendela. Sesekali dia masih menyeka air mata yang jatuh begitu saja tanpa bisa dia kendalikan. Bedanya hanya pada isak tangis yang tidak terdengar memilukan seperti sebelumnya.
__ADS_1
***