Terpaksa Menikahi Pelakor

Terpaksa Menikahi Pelakor
GOSIP


__ADS_3

Pak Aga kembali ke kamarnya untuk istirahat, sedangkan Papa dan Mama Arya juga Bu Aga berencana untuk jalan-jalan pagi keliling komplek vila.


"Rissa mau rebahan aja Mah. Mager banget mesti jalan kaki," jawab Rissa ketika di ajak Bu Aga untuk pergi bersama.


Marissa kembali ke kamar untuk mandi. Di lihatnya Arya yang masih tertidur pulas. Tidak ingin mengganggu, Marissa sampai berjinjit menuju kamar mandi.


Selesai mandi pun dia masih berjinjit. Dan ketika akan keluar kamar lagi buat bersantai di ruang tengah, Marissa melihat sesuatu yang aneh di wajah Arya. Kok dia berkeringat banyak banget meski AC nyala, di tambah wajahnya tampak pucat.


Ada perasaan aneh di hati Marissa yang mendorongnya untuk memberanikan diri bangunkan Arya.


"Arya, bangun woi! Si Cimol udah balik ke pemiliknya loh!" ucap Marissa membuat topik bicaraan karena tidak tau mau bilang apa lagi untuk bangunkan Arya.


Arya hanya mengigau, "Iyaa.. iyaa.."


Marissa heran, ada yang salah nih! Kemudian dia cek suhu tubuh Arya, dia pun menaruh lengannya di kening dan leher Arya sampai terloncat.


"Gila! Ini jidat apa pantat panci? Panas amat!"


Marissa mendesah kebingungan. Para orang tua sedang tidak di vila. Mau bilang Pak Aga juga tak enak karena sedang istirahat akibat terserang alergi kucing tadi.


Buru-buru Marissa turun ke bawah mencari Mbak Ani dan Mbak Dina.


"Gawat Mbak, gawat Mbak, gawaattt!" seru Marissa sambil berlari-lari menuju dapur.


Mbak Dina yang latah jadi ikut panik. "Gawat gawat gawat apa gawat gawat?" ucap Mbak Dina tanpa sadar.


"Kenapa sih Kak Marissa lari-lari begitu? Di kamar Kakak ada dinosaurus terus Kakak lari ke sini buat minta tumpangan kamar lagi sama kita? Sowryy yah Kakak, no waayyy! Kita tidak akan kasih, apapun alasannya!" ucap Mbak Ani judes. Dalam hati dia bangga pada diri sendiri karena aktingnya akan berguna lagi, dengan begitu bulan depan bisa dong minta kenaikan gaji sama boss atas usaha kerja kerasnya ini? Uhuyyy aseeekkkk... pikir Mbak Ani hatinya jadi ngiler.


"Apaan sih Mbak Ani no way no wey no way no wey!" balas Marissa garang membuat Mbak Ani tersentak, "ini tuh gawat betulan tau gak!"


"Ya memang nya ada masalah apa sih Kak sampai segitunya?" tanya Mbak Ani mulai serius.


"Itu, tadi Rissa pegang badannya Arya terus rasanya panas banget!"


Mbak Ani dan Mbak Dina saling pandang sambil senyum-senyum sendiri.


"Kakak mau pamer ya sama kita yang jomblo ini? Sepanas apa sih Kakak badannya Kak Arya..?" Mbak Ani menggoda malu-malu sambil sikut Mbak Dina.

__ADS_1


"Tau ih Kakak, kita yang jomblo kan jadi pengen panas-panasan juga," kali ini Mbak Dina yang ikut menggoda sambil senyum tersipu malu.


"Iya, mana udaranya dingin begini, mantap banget lah pokoknya kalau bisa panas-panasan. Duh, bisa aja nih kalian cari-cari kesempatan saat orang-orang pada pergi," timpal Mbak Ani lagi.


"Eh, eh, Ni! Itu artinya kita ini jadi saksi bisu mereka dong?!"


"Iya Din! Kamu bener! Tumben Kak Rissa mau bagi rahasianya ke kita ya?" Mbak Ani girang, Mbak Dina juga gak ada bedanya.


"Ho-oh, Ni. Uhh, berasa spesial begini kan kita jadinya?!"


Kuping Marissa panas. Mukanya merah. Mbak Ani dan Mbak Dina yang melihatnya malah menyangka kalau Marissa malu di goda seperti itu, padahal Marissa hanyalah menahan amarah sebab kedua orang yang ingin dia mintai pertolongan malah bicara yang gak nyambung.


"Kalian ngomongin apaan sih?! Udah ah minggir! Emang gak ada yang bisa di andelin banget!" Marissa tak pedulikan mereka lagi lalu beranjak mengambil sebuah baskom kecil berisi air dan es lalu kembali ke kamar untuk mengompres Arya. Tidak peduli kedua orang yang di ajak ngomongnya tadi bergosip ria di belakangnya atau pun membicarakan isu yang tidak benar, Marissa tidak ada waktu untuk mengurusi itu. Di pikirannya sekarang dia harus kembali ke kamar untuk merawat Arya.


"Ampun deh, lu pake sakit segala sih! Ngerepotin orang aja!" oceh Marissa sambil mengompres kening Arya pelan-pelan.


"Udah mah gak ada handuk kecil, terpaksa gue pake handuk buat muka gue! Gantiin nanti handuk gue sama yang baru! Gak mau tau gue pokoknya mesti yang branded *limited editio*n!"


"Iyaa.. nanti aku ganti, makasih yaa.." Marissa terkejut karena Arya membalas omelannya. Marissa pikir Arya sedang tidur atau mungkin pingsan gara-gara mengigau tadi.


"Kok lu bisa sakit sih? Lagi liburan gini malah sakit!" oceh Marissa masih berlanjut.


"Pasti gara-gara lu gak langsung mandi ya waktu kecebur semalam? Kata gue juga apa! Langsung mandi, ganti baju! Ini malah di biarin kering di badan gitu!"


Arya menelan ludah, sungguh dia ingin jawab tapi hatinya tidak enak. Marissa tau sebab Arya sakit itu karena apa. Tapi dia tidak sadar penyebab dari sebab Arya sakit itu apa. Itu kan karena Marissa mandinya lama sama si Cimol.


Marissa meletakkan handuk basah di kening Arya lagi, tapi air di handuk itu menetes di pelipis bahkan masuk ke matanya.


"Kamu gak peras dulu handuknya ya? Ini masuk mataku semua loh," Arya protes, tapi yang di lakukan Marissa bukannya memeras kembali melainkan menepuk handuk di kening Arya itu sehingga airnya makin merembes ke seluruh area wajah dan kepala.


"Cerewet amat sih lu! Orang sakit ga usah banyak protes, diem aja udah!"


Arya tak bisa mengelak, kalau makin protes pasti kelakuan Marissa padanya malah makin menjadi. Lebih baik Arya cari aman saja daripada handuk basah itu pindah dari kening ke mulutnya.


Marissa bergegas menyediakan obat yang sudah dia bawa dalam kopernya, hal ini selalu dia lakukan sebagai persiapan jika ada situasi macam ini terjadi di luar perkiraannya seperti saat ini.


Marissa masih sibuk merawat Arya, samar-samar mereka mendengar kehebohan di lantai bawah.

__ADS_1


Arya bilang dia penasaran jadinya mendorong Marissa yang awalnya cuek jadi ikutan penasaran. Dia pun pergi ke bawah yang ternyata di sana sudah ada Mama dan Papa Arya juga Bu Aga yang terlihat mendengarkan seksama penuturan Mbak Ani dan Mbak Dina yang rame sendiri.


"Bener, Bu! Si Kak Rissa main panas-panasan aduuuhhh.." ucap Mbak Ani menahan malu.


"Iihh ga sabar deh kalau Ibu punya cucu pasti lucu kayak aku.." timpal Mbak Dina genit.


"Hush! Amit-amit mirip kamu Din! Jangan sampee.. jangan sampeee!" ledek Mbak Ani.


"Coba, coba, pelan-pelan ceritanya. Maksudnya panas-panasan itu apa?" tanya Bu Aga tak sabar.


"Itu lohh, Bu.. itu.." bisik Mbak Ani sambil menyatukan kedua ujung telunjuknya.


"Oohhh, begitu, begitu?" tanya Papa Arya menirukan gerakan Mbak Ani dan di angguki senang oleh kedua asisten rumah tangganya itu.


"Waduuhh luar biasa! Kabar bagus ini sih namanya, besanku mesti tau ini!" kata Papa Arya lagi memberi kode pada Bu Aga supaya menginformasikan hal ini pada suaminya kalau sebentar lagi mereka bakaln punya cucu karena menurut penilaian mereka saat ini kisah cinta Arya dan Marissa sudah sampai tahap ekhm-ekhm, artinya kedua anak itu sudah tidak ragu untuk saling mencintai hingga akhirnya punya bayi kan?


Gila, kesalah pahaman macam apa ini? sungut Marissa kesal.


"Kalian berdua bisa-bisanya ya bikin gosip murahan! Jangan asal bicara kalau gak tau apa-apa!" tegur Marissa marah.


"Tenang, Rissa! Kamu datang-datang kok marah-marah gini sih?!" Marissa medengus kesal di tegur oleh Mamanya sendiri.


Marissa melipat kedua tangan di depan dada dengan tampang cemberut.


"Mereka tuh! Bikin gosip gak jelas! Udah mah tel-mi banget jadi orang eh malah berani bikin cerita asal!" hardik Marissa membuat Mbak Ani dan Mbak Dina menunduk tak karuan bahkan sampai sikut-sikutan.


"Tel-mi apaan, Mbak?" bisik Mbak Dina di telinga Mbak Ani.


"Tel-mi itu telat mikir! Kayak kamu, Din!" hardik Mbak Ani membuat Mbak Dina manyun.


"Sabar, Nak. Memangnya apa yang terjadi? Kenapa kamu bilang mereka buat gosip?" tanya Mama Arya akhirnya mencoba menengahi.


"Arya tuh lagi demam. Badannya panas, tadi Rissa mau minta bantuan mereka tapi mereka malah telmi dan menyangka hal lain yang nggak-nggak. Dan gara-gara kelamaan kalau mesti jelasin jadinya Rissa sendiri yang rawat Arya! Dan sekarang Arya lagi berbaring istirahat di kamar! Ini dua orang malah ngarang cerita yang gak jelas!" ungkap Marissa kesal seolah ada api di ubun-ubunnya.


Mbak Ani dan Mbak Dina kembali sikut-sikutan saling menyalahkan.


Mama Arya dan Bu Aga hanya geleng kepala. Sedangkan tersirat kekecewaan di wajah Papa mertuanya. Sirna sudah harapan memiliki cucu, gagal deh kasih berita baik sama besan. -_-

__ADS_1


***


__ADS_2