Terpaksa Menikahi Pelakor

Terpaksa Menikahi Pelakor
Mengungkap Isi Hati Arista


__ADS_3

"Kenapa Chicha? Kamu kan masih sakit! Apa karena tadi kamu dengar omongan aku dengan Arya? Karena itu kamu ingin pulang?" tanya Arista.


Chicha ragu untuk menjawab tapi akhirnya dia mengangguk lemah. "Aku tidak ingin merepotkan kamu. Aku merasa tidak enak karena aku sudah membuat kalian jadi berantem seperti ini,"


Arista menggenggam lengan Chicha. "Maafin aku ya kalau aku sudah melukai hati kamu. Aku ga bermaksud begitu, kamu tidak merepotkanku sama sekali, kok. Dan kami juga nggak berantem. Hanya saja aku tadi ga suka sama tindakan Arya yang mengambil keputusan sendiri tanpa bertanya dulu padaku. Aku malah ingin kamu dirawat disini supaya cepat sembuh, jadi kamu jangan minta pulang ya.."


"Iya Chicha. Maafin aku juga. Aku gak tahu kalau upayaku memasukkan kamu ke kamar ini malah menimbulkan kesalahpahaman, yang dikatakan oleh Arista itu benar. Kamu harus dirawat disini supaya kamu cepat sembuh," timpal Arya.


Arista menoleh pada Arya lalu menegapkan badannya. "Oke Arya. Gue ga mau perdebatan kita ini makin panjang apalagi sampai membuat Chicha salah paham begini. Untuk saat ini gue terima kamu masukin Chicha ke kamar ini. Tapi untuk tagihannya tetap berjalan ya, gue pasti akan bayar kamu tapi nanti boleh dicicil ya! Oke?" Arista menjulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Arya.


Arya terdiam sejenak tapi menyambut uluran tangan Arista, daripada urusan makin panjang karena Arya paham sekali dengan sifat keras kepalanya Arista yang sulit di beri pengertian. Jika dia memang ingin membayar, Arya tak akan melarang karena itu memang keinginan Arista sendiri. Akhirnya mereka pun bersalaman untuk sebuah kesepakatan yang tadi di bicarakan oleh Arista.


"Chicha, tadi kan dokter bilang kamu harus di isi dulu perutnya dan hanya boleh makan yang lembut-lembut. Sekarang aku mau ke depan dulu ya cari bubur untuk kamu makan. Soalnya jadwal makan pasien kan masih lama. Kamu tunggu disini sendiri tidak apa-apa ya?" tanya Arista memastikan Chicha baik-baik saja kalau di tinggal sendirian.


"Lah, kan ada aku disini bisa tungguin kamu bentar," ujar Arya.


"Yakin? Kamu ga akan dicariin sama istri kamu?" tanya Arista memicingkan mata.


"Aku udah bilang sama dia sebelum ke sini tadi,"


"Memang kamu bilang apa ke dia?"


"Aku bilang ada teman yang sakit dan aku mau berkunjung melihatnya,"


"Teman? Kamu ga akan masalah kalau dia tau ternyata teman kamu itu aku? Dan kamu ga merasa bersalah malah datang ke sini sedangkan istri kamu sedang sakit terbaring lemah di kamarnya?" tanya Arista memicingkan matanya, lagi.


"Kamu tau darimana dia sedang terbaring lemah? Aku kan ga bilang kalau aku ada di sini karena istriku sakit. Kok bisa tau sih? Kamu peramal ya kayaknya?" tanya Arya bercanda.


"Yeee.. kalau gue peramal mah ga akan mungkin gue bawa Chicha ke rumah sakit ini biar gak kebetulan ketemu sama kamu,"


"Loh, emang apa masalahnya kalau kebetulan ketemu sama aku," umpat Arya setengah berbisik.


"Arya, asal kamu tau aja ya semua warga negara ini tuh tahu kalau Marissa sedang dirawat! Kamu lupa ya kalau berita tentang istri kamu Marissa itu lagi viral?" terang Arista mengingatkan Arya sampai dia kembali tersadar.


"Aku ga mau ya kalau istri kamu mikir macem-macem atas keberadaan kamu disini. Aku kan sudah pernah bilang, aku ga mau jadi bagian drama hidup dalam masalah kamu dan istri kamu. Itu juga berlaku untuk Chicha. Aku tidak ingin meninggalkan kalian berdua disini, apa kata orang nanti! Kasihan dia tidak tahu apa-apa tapi ujungnya malah harus ikut terseret dalam masalah rumah tangga kamu," ucap Arista.


"Ihh Arista cemburu yaa kalau aku sama Arya berdua disini.." goda Chicha tak mengerti situasi.


Arya melirik Arista. "Bu-bukan cemburu kok!" jawab Arista terkejut mengapa tiba-tiba Chicha berkata seperti itu padahal baru saja dia menjelaskan maksud omongannya tapi Chicha tidak juga paham, "aku cuma ga mau nanti ada berita aneh-aneh yang melibatkan kita! Lagipula Arya ini kan sudah menikah, jadi untuk apa aku cemburu,"


"Jadi dari tadi kalian sedang membicarakan istri Arya? Arya sudah menikah? Kapan?" tanya Chicha baru sadar dan terkejut karena Arista belum menceritakan sama sekali status Arya sekarang beserta dengan berita keviralan hubungannya beserta istrinya.


"Oohh maafkan aku Arya, aku tadi godain kamu sama Arista. Ternyata kamu sudah menikah ya rupanya. Aku sungguh tidak tahu soal itu," ucap Chicha tak enak hati.


Arya tersenyum maklum. "Tidak apa-apa kok Chicha. Kamu tidak perlu minta maaf segala. Kamu kan memang tidak tahu tentangku karena kita baru kenal hari ini," ujar Arya lalu dia kembali menatap Arista.


"Tunggu apa lagi? Sana pulang!" usir Arista jutek.


Arya memutar bola matanya. "Iya ampun bawel banget. Aku pulang ya, kalau ada apa-apa kamu bisa hubungi aku! Cepat sembuh ya Chicha! Dan kamu juga Arista jaga kesehatan jangan sampai ikutan sakit!" pesan Arya penuh perhatian.

__ADS_1


"Iya makasih atas perhatiannya!" ucap Arista dingin.


Arya pun pergi meninggalkan mereka berdua. Tak lama dari itu Arista juga pergi ke depan rumah sakit untuk mencari buburnya Chicha.


"Aku gak akan lama kok, kamu gak apa-apa kan disini sendiri?"


"Aku tidak apa-apa kok Arista, jangan khawatirkan aku. Kamu juga belikan makanan untuk diri kamu sendiri ya,"


Arista mengiyakan kemudian pergi meninggalkan Chicha yang hanya sendirian disana.


Di tempat lain, Arya berjalan kembali menuju ruangan Marissa. Namun ditengah jalan dia malah teringat akan sesuatu.


Tadi kan dia berpesan pada Arista harus menghubunginya jikalau butuh sesuatu. Tapi bagaimana mereka bisa berhubungan kalau nomor telepon pun tak punya. Menyadari hal itu Arya berinisiatif kembali ke kamar Chicha untuk meminta nomor telepon Arista. Tapi tanpa disadari ternyata mereka berselisih jalan. Arya tak melihat Arista yang sudah berebelok menuju lobby saat dia menuju kamar Chicha.


Sesampainya di kamar Chicha Arya jadi canggung karena tak mendapati Arista disana.


"Kamu kok balik lagi ke sini? Apa ada yang ketinggalan?" tanya Chicha.


"Ah, itu anu. Aku tadi lupa minta nomor Arista. Tadi kan aku bilang supaya dia menghubungiku jika butuh sesuatu. Tapi kami tidak menyimpan nomor masing-masing, jadi gimana bisa dia menghubungiku kan?" jelas Arya.


"Tapi Arista sudah pergi, baru saja keluar. Apa kalian tidak saling bertemu?"


Arya menggelengkan kepala. "Ya sudah, aku akan meninggalkan nomorku saja sama kamu ya. Nanti tolong kamu berikan pada Arista."


Chicha memilin bibirnya heran. "Tunggu sebentar, aku heran. Memangnya kenapa dia harus menghubungi kamu? Kan yang sakit itu aku. Dan aku tidak ada hubungannya denganmu. Kita bahkan tidak saling mengenal tapi kenapa kamu mau membantuku?"


"Itu.. aku hanya kebetulan saja melihat kalian kesulitan makanya aku ingin membantu," jawab Arya seadanya karena memang benar apa kata Chicha. Dia tak punya alasan lain untuk menolongnya kalau bukan karena ada Arista.


"Itu karena kamu peduli pada Arista kan? Kamu tidak kenal aku yang lagi sakit, tapi kenal pada Arista yang saat ini membantuku. Dan itu membuatmu tanpa sadar ingin membantunya karena kamu peduli padanya. Iya kan?" tanya Chicha penuh selidik.


"Tentu saja aku peduli padanya.. Kita kan berteman."


"Hmmm begitu ternyata hanya karena alasan berteman saja. Sayang sekali.." Chicha seolah menyayangkan apa yang baru saja didengarnya.


"Kenapa sayang sekali? Apa ada yang salah dengan pertemanan kami?" tanya Arya merasa aneh.


"Bukan ada yang salah. Hanya saja menurutku ini sangat disayangkan. Andai saja Arista lebih cepat mengutarakan perasaannya saat kamu belum menikah, kupikir mungkin kalian akan lebih dari sekedar teman tidak seperti sekarang hihi.." kikik Chicha yang malah membuat bingung Arya ke mana arah pembicaraan ini sebenarnya.


Chicha yang mengenali situasi canggung ini kemudian langsung menjelaskan ucapannya tadi. Dan mulai menceritakan apa yang dia tahu mengenai Arya dari sudut pandang Arista.


"Sebenarnya dulu Arista sering membicarakan tentang kamu," Chicha mulai membuka obrolan.


"Maksudnya, membicarakan tentang aku? Tentang apa?" Arya mulai terpancing dan perlahan masuk dalam obrolan Chicha.


"Katanya kamu dulu satu sekolah dengannya dan menjadi satu-satunya orang yang mau berteman dengan Arista. Awalnya dia pikir kamu hanya merasa kasihan padanya, tetapi semakin lama kedekatan kalian membuat dia jadi nyaman. Mungkin karena kesepian akibat tak ada satupun yang ingin berteman dengannya, hal itu membuatnya mulai menaruh perasaan padamu, tapi.. Arista malu, dia juga sadar diri kalau dia tidak mungkin menyukaimu Arya, karena dia tidak mau kalau kalian ada ikatan hubungan nanti kamu juga akan kena bully dari teman-teman lainnya yang sudah membully dia. Selain menceritakan kamu, dia juga suka menceritakan kehidupannya waktu sekolah serta situasi ketika dia dikucilkan oleh teman-temannya waktu itu. Lalu ada juga alasan lainnya yaitu karena Arista takut kalau ternyata hanya dia saja yang merasakan perasaan suka, dia takut kamu tidak punya perasaan yang sama seperti itu. Dia takut kamu hanya mengganggap Arista sebagai teman baiknya saja."


Arya terkejut mendengar cerita Chicha. Jadi dulu Arista memendam perasaan suka juga? Arya yang hanya mengagumi dan merasa suka hanya sepihak pada Arista ternyata itu salah? Arya hanya tidak berani saja mengutarakan perasaannya. Arya malah mengungkapkan perasaan itu pada Mama dan Papanya hingga dia sering diejek dan digoda kedua orang tuanya jika sedang bercerita mengenai Arista. Papa dan Mamanya dulu sebenarnya mendukung Arya untuk mengatakan perasaannya, apalagi sebelum Arista pergi ke luar negeri.


Tapi karena alasan kepergian itulah yang membuat Arya urung untuk tak memberitahu Arista, karena Arya takut malah membuat Arista malah jadi membencinya. Mengungkapkan perasaannya hanyalah sebuah kelakuan egois bagi Arya. Dia tidak mau Arista menganggap dirinya seolah sedang menahan kepergian Arista dengan mengutarakan perasaan itu apalagi saat melihat betapa bahagianya Arista saat tahu keterimanya dia di salah satu universitas terbaik di Singapura. Arya jadi tak tega, dia ingin selalu mendukung Arista, maka ia putuskan untuk memendam perasaannya sendiri saja. Bilapun mereka berpacaran, Arya juga tidak mau dia menjadi beban pikiran Arista jika hubungan mereka dilakukan jarak jauh nanti.

__ADS_1


Jadi selama ini Arista juga pernah suka sama aku? Kenapa dia tidak pernah bilang yang sejujurnya. Akankah jalan hidupnya akan berubah apabila mereka berpacaran saat itu?


Apakah Arista tidak akan tersiksa di Singapura karena gagal kuliah?! Dan mungkinkah Arya tidak akan membuka hati untuk Raya sehingga dia dengan bodohnya malah mencintai Raya yang sudah menipunya! Dan mungkinkah Arya tidak akan menikah dengan Marissa dan menjalani hidup penuh sandiwara seperti ini? Sebenarnya di mana awal kesalahan semua ini? Apakah karena dulu Arya tidak mengutarakan saja isi hatinya pada Arista saat itu?


Lalu sekarang, ketika kehidupan mereka sudah ada di alur masing-masing dengan ajaibnya mereka bertemu lagi secara kebetulan atau mungkin ini adalah rencana Tuhan?


Lalu saat ini, apakah Arista masih memendam perasaan tersebut?


Chicha membaca pikiran rumit pada wajah Arya. "Ma-maaf sebelumnya kalau aku bicara seperti ini. Aku hanya ingin cerita saja apalagi setelah melihat sikap kalian satu sama lain yang seperti itu. Aku juga minta maaf karena menceritakan ini padahal sudah tau kamu telah menikah,"


"Memang apa yang kamu maksud tadi dengan ucapan 'satu sama lain yang seperti itu'?" tanya Arya penasaran.


"Mmhh.. maksud ucapanku adalah karena aku lihat kalian itu seperti saling peduli satu sama lain. Sebelum aku tahu kamu sudah menikah, aku pikir kalian itu terlihat saling menyukai. Padahal harusnya aku tidak boleh ya berpikir seperti itu, kamu kan sudah menikah hahaha," Chicha tertawa canggung.


Arya tersenyum tipis. Namun kepalanya yang sedang dipenuhi banyak pertanyaan lantas bertanya lagi pada Chicha.


"Tapi, kalau memang dia suka padaku mengapa dia tidak pernah mengatakan perasaannya dulu? Maksudku bila dia takut aku ikut kena bully, bukankah dia bisa mengatakannya setelah lulus dan sebelum berangkat ke Singapura?"


Chicha menempelkan telunjuknya di dagu. "Seingatku, Arista pernah bilang kalau dia merasa tidak pantas untukmu. Dia tahu kamu ini orang berada sedangkan dia sebaliknya. Apalagi ternyata saat di Singapura dia gagal kuliah..." Chicha tersentak oleh omongannya sendiri. Dia sadar sudah keceplosan, mengatakan apa yang seharusnya tidak boleh dia katakan.


"Ma-maksudku ituu Arista.."


"Aku sudah tahu, kok. Kamu tidak perlu panik begitu. Aku sudah tahu kalau dia tidak berkuliah disana,"


"Hah kamu sudah tahu? Tapi bagaimana kamu bisa tahu? Terus mengapa kamu tidak pernah memberitahu Arista kalau ternyata kamu tahu dia tidak kuliah disana? Kan kasihan dia jadinya harus pura-pura terus seperti itu, apalagi dia harus bela-belain foto didepan universitas tempat dia harusnya belajar waktu itu." Chicha memasang muka murung.


"Sebenarnya aku kasihan pada Arista, aku juga merasa bersalah karena tidak bisa memberitahunya. Tapi bukankah lebih kasihan lagi kalau bukan dia duluan yang mengatakannya? Aku hanya memberinya waktu agar dia yang memberitahukan sendiri suatu saat nanti, agar dia tidak merasa malu,"


"Tapi bagaimana kamu bisa tahu? Sedangkan dia tidak pernah memberitahu siapapun. Dan juga dia tidak punya akses komunikasi waktu itu sebelum adanya media sosial,"


"Akuu.. Diam-diam aku mencari tahu tentang dia, aku juga tahu bagaimana kondisinya saat itu,"


"Kamu tahu kondisinya yang diperbudak oleh Bibinya dan tak bisa pulang ke Indonesia?" Chicha ternganga tak percaya.


"Ya.. aku tahu juga masalah itu tapi.."


"Tapi kamu tidak membantunya? Kamu hanya membiarkannya begitu saja? Apakah kamu senang melihat dia berbohong seperti ini?" Chicha terlihat emosi mendengar ucapan Arya.


"Sudah! Aku sudah berusaha membantunya. Tapi aku dan Papaku malah mendapat ancaman dari Bibi Arista. Kami takut sesuatu yang buruk terjadi pada Arista kalau kami makin ikut mencampuri urusannya, karena itu kami tak bisa melakukan apa-apa lagi selain mengikuti keinginan Bibi Arista. Tapi kami tidak sepenuhnya lepas tangan karena kami meminta orang untuk mengawasi Arista selama disana," Arya menunduk lemah. "aku bukan senang melihat dia berbohong seperti ini, tapi aku tidak punya pilihan selain berpura-pura."


Chicha tercangang mendengar kejujuran Arya lalu melepaskan nafas berat. "Benar sih katamu. Kalau aku jadi kamu yang sudah membantunya tapi malah dapat ancaman, aku juga lebih baik tutup mulut dan berpura-pura. Lagipula ku pikir Arista juga salah, kenapa dia harus berbohong tentang dia kuliah di Singapura? Bukankah lebih baik jikalau dia bersikap biasa saja dan mau menerima keadaan, tapi dia malah bertindak seolah-olah jadi mahasiswa disana, bahkan mengambil foto-foto di sekitar universitas!"


Blam! Mendengar omongan Chicha membuat Arya mengernyitkan dahinya.


Entah mengapa Chicha malah berbicara seperti orang tak memiliki empati! Dia jadi terlihat seperti orang yang memiliki dua sisi kepribadian.


Orang seperti apakah sebenarnya Chicha?


***

__ADS_1


__ADS_2