
Semua saling pandang lagi merasa ada yang tidak biasa dari omongan Arya. "Kenapa? Bukannya selama ini kamu terus yang selalu membicarakan perceraian kalian?" tanya Papa Arya penasaran.
"I-itu kan dulu, Pa. Sekarang enggak," jawab Arya gugup.
"Memangnya kenapa? Apa ada sesuatu yang sudah terjadi?" kali ini wajah Papa Arya berbinar, rasanya sudah tidak bisa disembunyikan lagi.
Arya mengangguk. "Sebenarnya Arya tidak mau bercerai karena Arya merasa sudah jatuh cinta dengan Marissa."
Empat orang tua itu terbelalak lalu kemudian meleyot di atas sofa. Rasanya seperti beban mereka terlepas setelah mendengar pengakuan Arya. Seolah ada perasaan lega dan plong yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
"Jadi kalian masing-masing sudah saling mengutarakan rasa?" tanya Bu Aga memastikan.
"Iya, Ma!" Marissa merangkul lengan Arya, "jadi jangan ada lagi yang membicarakan tentang perceraian antara kami! Karena itu tidak akan pernah terjadi!" Marissa mendengus kesal sambil menyeret Arya untuk pergi ke kamar mereka.
"Ayo sayang!" ajak Marissa. Arya merasa serba salah, mau ikut tapi rasanya tidak sopan meninggalkan orang tua dan mertuanya begitu saja. Dia juga belum sepenuhnya betul-betul menjelaskan situasi serta alasan pembatalan perceraian ini. Tapi diam-diam Arya melihat lengan Papanya yang mengayun-ayun menyuruhnya untuk segera pergi dengan senyum menghias lebar di sana.
Kali ini Arya yang merasa lega. Dia yang sebelumnya takut untuk menjelaskan detail tentang hubungan mereka dan merasa cinta butuh perjuangan itu langsung ditepis oleh sikap Marissa yang blak-blakan.
Para orang tua itu saling berpandangan satu sama lain sambil memberikan kode. Setelah di lihat Arya dan Marissa benar-benar sudah naik ke atas mereka baru mengungkapkan kelegaan mereka.
__ADS_1
"Uh, pantes aja si Mbak Ani sama Mbak Dina gak mau di ajak akting sama kita. Benar kata mereka, paling Arya sama Marissa bakal balikan lagi. Kok bisa ya mereka lebih tau dari pada kita orang tuanya?" tanya Bu Aga heran.
Rupanya mereka sudah merencanakan ini sebelumnya seolah sedang menunggu Arya dan Marissa pulang dan sengaja menaruh koper yang tersampir di sekitar mereka hanya untuk berpura-pura memanasi keduanya supaya mereka merasa kehilangan dan menyesal karena ingin bercerai. Maksud hati ingin mendekatkan lagi keduanya, tapi sudah keduluan oleh dua orang yang sudah di mabuk asmara itu. Arya dan Marissa bisa mengatasi masalah percintaan mereka sendiri tanpa butuh bantuan orang tua. Hanya dengan satu pengakuan saja keduanya bisa menunjukkan perasaan masing-masing dan merubah keputusan yang sudah mereka buat sebelumnya.
"Iya ya, besan! Kalau tau gitu kita gak usah akting gini. Mana gak ada sutradaranya lagi," ujar Papa Arya bercanda. Semuanya jadi tertawa.
"Untung aja tadi Mama gak bener-bener masukin baju ke koper, Pa," timpal Mama Arya bersyukur karena dia berakting dengan koper kosong.
"Hahaha, saya juga sampai harus turun tangan padahal badan masih bentol-bentol," curhat Pak Aga tidak mau kalah dengan masalah alerginya yang belum kunjung sembuh.
"Ahahaha, itulah perjuangan kita sebagai orang tua untuk anak-anak kita, yang penting keduanya kini sudah tau dengan perasaan mereka masing-masing dan saling mencintai satu sama lain!" seru Papa Arya senang.
"Betul, besan! Sebentar lagi kita bisa punya cucu!" timpal Pak Aga semangat.
"Loh, ya gak apa-apa toh, Ma. Papa kan gak sabar kalau Rissa punya anak," jawab Pak Aga sambil ketawa-ketawa.
"Betul itu besan, betul! Saya juga gak sabar, pasti ganteng atau cantiknya nanti nurun dari saya, hahahha," tawa Papa Arya narsis.
"Ohh tidak bisa, itu pasti bakal diturunkan dari saya! Ahahhaha.." tolak Pak Aga tak mau kalah. Keduanya masih berdebat sambil tertawa-tawa. Suasana tersebut dinikmati juga oleh istri-istri mereka yang ikut tertawa.
__ADS_1
Mbak Ani dan Mbak Dina yang mengintip para orang tua itu saling sikut menyikut. "Mana Din 100 ribu! Kamu kan kalah taruhan! Kata aku juga apa, Kak Arya sama Kak Rissa pasti bakal balikan! Kamu sih gak percaya!" tukas Mbak Ani meminta haknya sebagai pemenang taruhan yang mereka perdebatkan pagi tadi.
"Ih apaan sih, Mbak, kan tadi aku dulu yang pilih mereka bakal balikan! Tapi kamu kekeuh suruh aku milih taruhan mereka bercerai. Ogah ah aku kasih kamu duit segitu, mending buat beli sabun cuci mukaku!" tolak Mbak Dina mentah-mentah.
"Ih ini bocah ya! Udah kalah taruhan juga malah gak mau bayar!"
"Ah, gak mau pokoknya! Eman banget duitku harus ku kasih ke kamu!" Mbak Dina beranjak dari sana untuk pergi ke kamar namun di kejar oleh Mbak Ani.
"Lah kan kamu kalah taruhan kok kabur sih!" ucap Mbak Ani geram menarik lengan Mbak Dina.
Mbak Dina menoleh. "Oke aku bakal kasih kamu 100 ribu bahkan kalau perlu aku gandain uangnya. Tapi kamu nantinya aku laporin ke Kak Marissa kalau kamu ajak main taruhan masalah perceraian mereka. Gimana? Kamu tau sendiri kan Mbak kalau Kak Rissa marah galaknya kayak singa lagi kesurupan?"
Mbak Ani terperanjat mematung di tempatnya. Dia gelagapan jadi serba salah. Mau nagih takut majikan, gak nagih tapi dia menang taruhan! "Dasar kutu kupret beraninya ngadu lu!" gerutu Mbak Ani kesal hendak menjitak Mbak Dina namun dirinya berhasil menghindar.
Mbak Dina setengah berlari sampai agak jauhan lalu berhenti kemudian membalikan badan sambil menjulurkan lidahnya keluar dengan jari-jari tangan bergerak di atas kepala meledek Mbak Ani.
Mbak Ani yang sudah habis kesabarannya lantas melempar sendal rumahnya ke arah Mbak Dina namun tidak kena. Dan hal itu dimanfaatkan lagi oleh Mbak Dina untuk menjulurkan lidahnya kembali dan meledek Mbak Ani. Bahkan ketika Mbak Ani tetap mengejar sampai kamar, Mbak Dina sampai hati menutup pintu begitu saja membuat Mbak Ani yang terlambat mengerem kakinya terjedot pintu kamar. Dari dalam kamar terdengar suara Mbak Dina yang puas sambil bersorak "Double Kill!" lalu tertawa terbahak-bahak.
Andai dia sedang tidak bekerja mungkin saat ini Mbak Ani sudah mengeluarkan ultimatumnya lalu menjambak Mbak Dina sepuas hati.
__ADS_1
Mbak Ani yang sadar sedang dalam dunia kerja hanya bisa mengelus dada sambil satu tangannya mengelus jidat mengusap sakit yang dia rasa. "Sabarr.. sabarr.." ucapnya menenangkan diri.
***